
Semuanya tengah berkumpul bersama di taman yang cukup luas, dengan cuaca yang cukup mendukung. Saling bercengkrama, bercerita, sambil menikmati sate daging yang di bakar oleh para pekerja bersama-sama.
Makanan lezat itu di sajikan dengan nasi dan lontong sebagai pilihan. Sop iga dengan uap panas juga tersedia di atas meja, dengan bawang goreng yang renyah, kerupuk udang, tidak ketinggalan sambal pedas, yang siap membakar lidah bagi siapa saja yang mencobanya siap-siap berkeringat.
Sama halnya dengan pesta kebun, salah satu aktivitas menarik untuk menyatukan anggota keluarga, sambil menyantap makan malam bersama. Alfred dan Amanda yang sudah seminggu berada di Indonesia pun datang ikut berkumpul.
Berbincang-bincang dengan Bastian, Mustafa, dan Pak Dadang. Para pria berumur itu membuat kelompoknya sendiri membahas pemenang dari perlombaan golf yang di adakan saat berada di Singapura.
Karena kepergian Dirga yang mendadak meninggalkan lapangan membuat pertandingan di menangkan oleh pihak Bastian, yaitu Diego. Pria itu akan mendapatkan kunci mobil keluaran terbaru dan cicin bermatakan permata.
Amanda juga membawakan pesanan Alyne berupa kalung dengan batu rubi yang berwarna merah meyala. Karena suatu kejadian, Alyne tidak sempat mengajak Anin ke toko berlian milik temannya yang lain. Ahirnya ia memesan kepada Amanda dan Stella yang memiliki jewelery emas dan permata.
Emas yang di pasok dari perusahaan Wijaya. Dan saat ini, pengelolahan perusahaan permata milik Alfred sudah di kelola di bawah naungan Wijaya Grup. Dengan kepemilikan saham sebesar 50% khusus yang menyangkup pengolahan batu permata.
Sambil makan di barengi obrolan santai. Dirga, Bayu, Radit dan Siska sedang membahas persiapan familiy gathering yang sedang di persiapkan, Radit memberikan laporan kalau persiapan sudah berjalan 70 % tinggal menyisakan 30 % di bagian transfortasi, pihak lapangan sedang mengurus, mempersiapkan Bus untuk seluruh karyawan yang berada di kantor pusat.
Sedangkan tempat dan susunan acara telah siap. Untuk cabang yang berada di luar negri dan luar kota hanya para kepala cabang dan para petinggi yang akan hadir sebagai perwakilan.
Bertempat di puncak bogor, dengan ruang terbuka hijau dan bernuansa petualangan panitia penyelenggara menambahkan aktivitas offroad, setelah acara inti selesai, seluruh karyawan akan di bebaskan menikmati permainan paintball, memanah, ataupun menjelajah air terjun. Sehingga event gathering akan sarat dengan pengalaman dan pembelajaran serta berdampak nilai-nilai kebersamaan sesama para pekerja.
Sebuah resort dengan fasilitas lengkap sudah di siapkan untuk keluarga Wijaya sebagai pemilik tertinggi, para pemegang saham, dan client penting sebagai tamu undangan.
"Siska.. Jangan malu-malu.. Ayok di nikmati makanannya.. Aku saja sudah tak terhitung berapa tusuk sate yang aku habiskan." Anin menegur Sekertaris itu, saat di lihatnya wanita itu terlihat sungkan dan malu.
"Buang jauh-jauh dulu dietnya.. Malam ini kamu harus mencoba sop iga buatan Bik Asih yang rasanya tidak kalah dengan restoran.. Aku yakin sekalinya kamu mencoba kamu akan ketagihan dan tak ingin berhenti."
"Benar yang di katakan Anin, Nak? Kamu harus mencobanya." Alyne menyodorkan mangkuk ke tangan Siska agar mencoba.
"Ya, Nyonya.." Siska merasa seperti tidak ada perbedaan dan jarak, berada di tengah wanita-wanita hebat itu, ia tidak menyangka sosok Anin ternyata lebih ramah, humble, dari apa yang di bayangkan-nya selama berinteraksi di perusahaan. Dan baru kali ini juga ia datang ke kediaman Bosnya.
Sedangkan Stella. Ia tengah menikmati, menghabiskan banyak sate ayam dengan bumbu kacang kesukaannya. Dan meminta Bayu menghabiskan 10 tusuk sate kambing dengan irisan cabai yang banyak. Dengan mengatas namakan ngidam, wanita hamil muda itu senang sekali ketika melihat suaminya makan dengan kepedasan.
Untung cinta, kalau tidak.. Bayu tak akan memakannya karena pria itu sama seperti Dirga tak kuat pedas.
Sambil menikmati tusukan demi tusukan, seorang pria bernama Diego mencuri-curi pandang memperhatian gadis eksotic incarannya yang sedang asik bercanda dengan sesama rekannya, Agus menyadari akan tatapan seorang pria yang sedari tadi memperhatikan Lia yang tengah berdiri di sampingnya sambil menikmati sate ayam bersama Alea.
"Hati-hati Bro.. Jangan sampai tusuk sate itu salah masuk, bukannya masuk ke dalam mulut, tetapi menusuk matamu."
Hendra meledek, menggoda Diego yang sedari tadi matanya tak lepas dari wanita bersetatus pengasuh Alea.
"Haiss.. Kau ini, tidak bisa melihat teman senang. Bukannya mendukung malah mengejekku."
"Jangan macam-macam, dia tidak sama dengan koleksi wanitamu. Jangan kau rusak gadis polos sepertia dia." Hendra memperingatkan.
"Ckk.. Kau itu selalu berpikiran buruk kepada temanmu ini." Diego berdecak sebal.
"Apa harus aku tuliskan 'TOBAT' di jidad agar kau percaya kepadaku, kalau aku sudah lama tak menyentuh wanita-wanitaku semenjak aku melihat gadis itu."
"Wow... Perubahan yang mengejutkan Tuan Diego. Ku harap benar adanya." Hendra mencibir tak percaya
"Akan aku buktikan. Jangan panggil nama ku Galiano Diego Manengkey kalau aku tak bisa mendapatkannya."
"Ada apa ini ?" Dirga datang bergabung setelah pembicaraannya mengenai perusahaan selesai.
"Pria di hadapanmu ini sedang menyiapkan pancing untuk menangkap buruannya." Hendra menjawab pertanyaan Dirga dengan tertawa dan mendapatkan pukulan dari pria yang sedang menyusun banyak rencana.
"Siapa mangsanya?" tiba-tiba Bayu datang dan bertanya.
Petualang cinta.
©©©©©
Semua sudah kembali pulang.. Makan malam ini terasa sangat berbeda, kehangatan dan keakraban di warnai dengan penuh tawa bersama, dan mempererat hubungan keluarga dan persahabatan.
Meninggalkan rasa lelah dan ngantuk kepada wanita hamil yang sedari tadi sudah berulang kali menguap. Ia hampir saja ketiduran di kamar Alea saat menidurkan putri kecilnya, kalau Dirga tidak datang menyusul meminta Anin segera pindah ke kamar mereka. Mungkin ia sudah terlelap.
"Sayang... Kenapa lama sekali?"
Dirga menyusul sudah berganti pakaian, lebih tepatnya berganti celana, pria itu hanya mengenakan bokser dengan bertelanjang dada.
"Aku hampir saja ketiduran, Mas." suara maskulin suaminya, mampu membangunkannya.
Mengulurkan tangan, Dirga membantu Anin beranjak bangun dari tempat tidur Alea. Wanita dengan perut besar itu sudah mulai kesulitan saat akan bangun.
"Mas, aku sudah mengantuk.. Mataku berat sekali rasanya."
"Mau aku angkat?" Dirga sudah bersiap melingkarkan tangannya.
"Tidak, tidak, biarkan aku jalan Mas, aku hanya ingin cepat tidur. Apa mungkin ini efek karena aku terlalu banyak makan sate kambing?"
"Tidak, Sayang.. Kamu hanya lelah. Karena perjalanan."
"Efeknya sekarang meyerangku."
Karena terlalu mengantuk, Anin tak memperhatikan ucapan suaminya.
Keluar dari kamar Alea, matanya semakin lima wat dan berat.
"Sudah ku siapkan baju tidur yang nyaman untuk-mu.., tidak perlu mandi."
"Ya, Mas.., tapi aku ingin gosok gigi dulu."
Anin masuk kamar mandi sesampainya di kamar mereka, dengan di temani Dirga. Setelah selesai, Ibu hamil itu terlihat lucu saat berjalan, matanya terpejam dengan bergelayut di lengan suaminya. Rasa kantuk benar-benar menyerangnya.
"Tidurlah, aku akan mengganti pakaianmu.." Dirga merebahkan tubuh Anin di tempat tidur, dengan telaten, tangannya melepas dress yang di kenakannya istrinya, ia menggantinya dengan gaun tidur yang tipis, lembut dan nyaman.
Mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Dirinya pun ikut masuk ke dalam selimut, merebahkan tubuh di atas peraduan dengan membawa sang wanita tercinta masuk ke dalam pelukannya.
Berharap akan memasuki indahnya alam mimpi bersama.
****
Bersambung ❤️
Untuk Diego nanti ya.. Mungkin ada di Ekstra part setelah tamat.
Maaf, beberapa hari cuma up 1. Badan lagi kurang enak.
Dukungannya jangan lupa yaa...
Terimakasih 😘