
Hai... Anin menyapa sesosok wanita yang tengah berdiri memandang pria yang sedang terbaring lemah dalam ruangan ICU di balik kaca bening. Dokter belum mengijinkan siapapun masuk ke dalam sampai kondisi pasien di nyatakan aman.
Stella menengok ke samping mendengar suara wanita yang menyapanya.
"Anindirra." berkata pelan, ia merasa ragu untuk mendekat dan menyambut kehadiran wanita yang pernah membuatnya cemburu. Sebelum hatinya benar-benar jatuh terenggut Bayu.
Anin mengambil inisiatif lebih dulu memeluknya, ia menyadari kecanggungan Stella yang tertunduk, tak ingin menatapnya.
"Semua akan baik-baik saja Stella. Bayu pasti bisa melewatinya." Anin mengelus punggungnya, memberikan kekuatan kepada wanita yang sedang rapuh.
"Thank you Nyonya Dirga." ucapnya setelah pelukan itu terurai. Stella menyematkan senyuman untuk wanita cantik di hadapannya.
"Selamat untuk hadirnya keponakanku." Stella mulai tertular aura kebahagiaan yang Anin berikan.
"Kata Mommy, Aunt Stella belum memakan apapun sedari pagi. Bagai mana kalau Aunt menemani keponakannya mencari makanan di kantin." menirukan suara anak kecil, Anin berusaha menghibur dan merayu Stella, wajahnya terlihat pucat karena kurang istirahat dan juga belum terisi makanan.
"Aku.." Stella tampak ragu meninggalkan ruangan Bayu.
"Ayolah Aunt. Keponakanmu ini sudah sangat lapar. ia ingin mencicipi makanan negara ini."
Wajah Anin terlihat lucu saat memintanya, mampu membuat Stella tersenyum dan tidak sanggup menolak keinginan wanita hamil itu.
Tanpa sadar Stella meraba perutnya. Ia pun ingin segera menyusul Anin, memiliki anak dari pria yang sedang terbaring lemah.
Dengan di kawal dua orang pengawal, dua wanita itu melangkah ke bistro 24 jam yang berada di lingkungan rumah sakit mewah ini.
Bastian semakin memperketat penjagaan untuk seluruh keluarganya di karenakan keberadan Steven yang belum di temukan. Pria itu lolos saat dalam pengejaran.
*
*
*
Dirga memaksa Dokter untuk mengijinkannya masuk ke ruangan tempat perawatan intensif. Para tim medis memberikan perhatian yang serius, dan selalu harus mengawasi.
Suara monitoring yang terpasang untuk memantau denyut nadi , jantung, dan pernafasan itu terlihat menyedihkan. Juga selang infus yang tertanam di lengan kirinya, berfungsi untuk memasukkan bahan nutrisi serta selang untuk mengeluarkan urine, cairan lambung atau cairan dari bagian tubuh lainnya. Menambah suasana menjadi semakin tak biasa sehingga suasana di dalam ruangan itu terasa mencekam.
Dengan menggunakan pakaian khusus berwarna biru polos yang di sediakan oleh pihak rumah sakit. Dirga berdiri di samping brankar.
"Hi Brother. Aku di sini, Bangunlah. Aku tidak mengijinkanmu tidur terlalu lama." suara Dirga bergetar menahan kesedihan. Tubuh energik itu kini sedang terbaring lemah tak berdaya.
"Cepatlah menyusulku. Cepat nikahi wanita itu, kamu sudah menunggunya sampai umurmu tua. Kalau tidak aku akan mengambilnya darimu." ( tanpa ia sadari ucapannya barusan akan menjadi masalah nantinya. siap-siap Dirga 😁 )
"Aku ingin kita memiliki anak bersama-sama. Pewaris Wijaya akan berkolaborasi dengan putramu. Bukankah itu terlihat keren, kawan." tertawa sedih, Pria gagah itu terus saja bicara. Sampai batas waktu yang di berikan Dokter telah habis. Walaupun belum merasa puas ia harus mentaati peraturan keluar dari dalam ruangan.
*
*
*
"Maafkan aku." Stella membuka obrolan, pertemuan pertama kita, aku sangat menyebalkan." Stella tertawa lirih.
"Aku sudah tidak mengingatnya lagi Stella. Tidak masalah dengan cara apa kita bertemu dan mengenal, yang terpenting, sekarang kita sudah sama-sama menyadari siapa sebenarnya lelaki yang kita cintai."
"Aku menyukai gayamu Nona Stella." Anin menggoda Stella dengan mengajaknya bercanda, ia mengingatkan lagi saat Stella merebut gaun pilihannya. Hingga membuat keduanya tertawa.
Sambil menikmati minuman dan kudapan yang di pesannya. Anin dan Stella duduk dalam satu meja. Keduanya cepat mengakrabkan diri. Wanita hamil itu memesan Chwee kueh yang di sediakan di bistro rumah sakit ini. Anin mencicipi dan menyukai jajanan Singapura yang baru pertama di cobanya.
Sejenis kue kukus penggabungan cita rasa tionghoa dan melayu, di makan dengan garnish lobak yang telah di awetkan.
"Bagaimana? Enak?" Stella bertanya.
"Umm.. Enak." Anin menganguk, menjawab dengan mulut penuh.
Semenjak kehamilannya, ia lebih suka mengemil. Begitupun dengan suaminya, Dirga sampai ingin mempekerjakan seorang chef untuk memenuhi keinginan ngidamnya saat tengah malam.
"Hei.. Jangan bersedih. Tenang saja, aku akan menagihnya saat aku kembali lagi ke sini. Aku pastikan kamu dan Bayu akan kerepotan memenuhi keinginan keponakanmu." sambil menghabiskan kue terahir di atas piringnya.
"Siap Nyonya Dirga." Stella tersenyum lebar mendengar ucapan Anin. Ia tidak menyangka, wanita yang berstatus istri temannya itu sangat menyenangkan.
*
*
*
Alyne tidak bisa melarang ketika Dirga memutuskan membawa Anin pulang ke hotelnya untuk beristirahat. Wanita itu memahami keinginan putranya untuk menikmati waktu berdua dengan nuansa berbeda.
Dirga segera pamit setelah obrolannya dengan Bastian Daddy-nya selesai. Mereka membahas tentang Steven yang menjadi buronan. Alfred lebih banyak diam, pria itu masih di bebani dengan kejadian yang menimpanya.
Uang miliknya, harus di sita pihak kepolisian untuk di jadikan barang bukti sebagai transaksi. Sedangkan Mustafa, pria itu juga tak banyak bicara, tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Selain pendiam, ia telah meyerahkan segala urusan dan masalah Bayu ke keluarga Wijaya. Sebagai Ayah kandung, ia hanya berharap anaknya segera pulih dan sehat kembali.
*
*
*
Sepanjang jalan Anin memperhatikan megri singa itu dengan mata berbinar. Untuk pertama kalinya, Anin menginjakkan kaki di luar dari negara Indonesia. Menjadi istri pria berstatus sultan membawanya sampai ke negara maju ini.
Membuka ponsel, ia mulai browsing destinasi tempat-tempat yang wajib di kunjungi. Salah satunya Merlion Park, patung dengan kepala singa dan berbadan ikan itu yang ingin sekali di sentuhnya. Belum lagi Universal Studios, sebuah taman hiburan yang sama seperti Dufan. Ia membayangkan akan mengajak Alea untuk mengunjunginya.
Membuka mulutnya saat membaca harga tiket masuk, ia tak menyangka mencapai 1 juta untuk satu orang.
"Ishh... Ishhh... Kenapa mahal sekali." ia masih belum menyadari kalau uang 1 juta bukan lah masalah untuk suaminya. Terbiasa hidup sederhana ia lupa akan kekayaan yang di miliki Dirga.
Jangankan untuk satu dua orang, kertas yang berada di dalam rekening pria itu bahkan mampu untuk mentraktir tiket kepada seluruh pembaca plus dengan tiket pesawatnya.
( makan bawa bekel masing-masing 😁 )
Apa yang lakukan Anin di ponselnya, tidak lepas dari perhatian Dirga. Ia mengerti apa yang di inginkan istrinya.
"Aku akan membawamu ke tempat yang lebih indah dari ini, Sayang. Tunggu sampai kehamilanmu benar-benar kuat."
"Janji.." Anin memberikan jari kelingkingnya.
Dirga tesenyum sambil menyambut, ikut membelitkan jari kelingkingnya.
"Tapi aku akan menagih janjimu dulu." senyum simpulnya berubah menjadi senyum penuh arti.
Dengan pemandangan hamparan laut lepas di balik kaca besar dengan tirai terbuka lebar. Udara pantai menerobos masuk ke dalam kamar mewah itu, menambah suasana semakin syahdu dan romantis.
Menuntaskan dahaga suaminya. Anin meraba turunkan tangannya. Membelai indah dengan sapuan lembut penuh arti.
Rasa itu menghasilakan getaran yang membuat Dirga mengerang nikmat. Matanya terpejam meresapi yang di dapatnya. Bibir merah itu terus bergerak sebagai kendali, ia memenuhi kewajibannya dengan cara lain.
Dirga tak berhenti memanggil namanya dengan penuh cinta.
"Ohh, mon amour.." ( cintaku ) sorot mata elang itu berubah sayu, menandakan sang raja telah mendapatkan kepuasannya. Wanita kesayangannya berhasil mempersembahkan yang terindah di atas peraduan.
Dengan kekuatan cinta yang membuncah, semakin hari cinta itu semakin bertambah kadarnya. ❤️
****
Bersambung ❤️
Yang lembut-lembut dulu yaa 😊 kasian Baby Boynya kalau mendapat serangan langsung 😁 Haiissss... Bener gak yaa Baby Boy ??
Met Maljum gaesss 😘😘