Anindirra

Anindirra
Chapter 74



Rumah baru itu nampak ramai dengan penghuninya. Sehari setelah kedatangan Tuan Bastian Dan Alyne. Keesokan harinya Bu Rahma dan Alea tiba di Jakarta dengan selamat.


Lengkap sudah kebahagiaan Anin. Ia tidak menyangka Dirga telah mempersiapkan pesta pernikahan yang akan di gelar 2 hari lagi. Pria dengan cepat mempersiapkan segala sesuatunya.


Hari ini akan ada orang dari Ros Butiq yang akan fitting baju pengantin dan pakaian seragam untuk seluruh keluarga. Sedari pagi Alyne sangat-sangat antusias mempersiapan pernikahan putranya.


Souvenir dan kue pernikahan pun wanita anggun itu yang ikut membantu memilihkan jenis dan modelnya.


Artea wedding organizer yang di pilih Dirga sangat bekerja keras untuk mewujudkan konsep pernikahan sesuai keinginan pria berkuasa itu dalam waktu seminggu.


Artea wanita yang umurnya lebih tua dua tahun dari Dirga itu tidak bisa menolak ketika sepupunya memintanya menyiapkan pesta dalam waktu seminggu. Ia menggerakkan seluruh kekuatannya dan pekerjanya agar tidak mengecewakan lelaki pemaksa itu.


Sebagai pemilik wedding organizer, namanya sudah sangat terkenal di kalangan artis. Artea salah satu WO yang sering menangani pernikahan para artis terkenal tanah air.


Bu Rahma dan Alyne sedang membahas banyak hal di dapur sambil membuat kudapan. Kedua wanita itu sudah sangat akrab dari pertama mereka bertemu. Keduanya sama-sama cocok karna memiliki hobi yang sama , apalagi kalau bukan membuat berbagai macam kue tradisional yang menjadi kegemarannya.


Saat ini Alyne memperkenalkan kue khas melayu dari negaranya. 'Popiah' lumpia khas singapura berisikan sayuran, buncis, dan campuran daging. Popiah termasuk jajanan yang populer di Singapura.


Hampir sama. Mirip dengan lumpia khas Indonesia. Yang membedakannya adalah di isiannya. Di Indonesia lumpia di kenal sebagai jajanan khas semarang dengan tata cara pembuatan dan bahan-bahan yang telah di sesuaikan dengan tradisi setempat. Pada umumnya di isi dengan rebung, telur, sayuran segar, daging atau makanan laut.


Sedangkan Dirga sedari pagi, di pusingkan dengan banyak pertanyaan dari Alea tentang burung dara dan burung gagak. ( senjata makan tuan ) gadis mungil itu merengek minta di hadirkan kedua burung itu.


"Bulungna mana pih.. Ea mau lihat." dengan bibir mengerucut.


"Sebentar sayang. Tunggu yaa … burungnya lagi di jemput supaya mau pulang. Anak cantik gak boleh cemberut."


Pagi-pagi sekali Dirga sudah memerintahkan agus untuk membeli kedua burung itu. Dirga tidak mau tau. Laki-laki itu kembali harus dengan membawa pesanannya.


"Si Tuan ada-ada saja, pagi-pagi suruh cari burung. Burung dara banyak, lah burung gagak saya harus cari kemana?"


Pria itu kebinggungan tetapi tak urung tetap di laksanakan atau ia akan kehilangan pekerjaannya.


Mendengar Alea merengek Tuan Bastian mendekat dan ikut bertanya.


"Alea menginginkan apa Dirga? kenapa tidak kamu turuti?"


"Agus sedang membelinya Dad." mengusap tengkuknya, ia tidak mungkin menceritakannya kepada Orang tua itu.


"Sini, sama opa Nak." dengan hati-hati ia mendudukkan bokongnya di gazebo beralaskan spon empuk yang berada di pinggir kolam renang.


"Kaki opa napa itu?" rengekkan-nya teralihkan saat melihat Tuan Bastian berjalan menggunakan kruk alat bantu jalan.


"Kaki opa sedang sakit Nak."


"Makana Opaaa … jangan lali-lalian. Ea juga gak boleh lali-lali sama Mama."


Tuan Bastian tersenyum lebar mendengar celotehan anak kecil yang cepat mengakrabkan diri dengannya. Rasa sayang seakan cepat tertanam di hati orang tua itu. Sudah lama sekali, ia menginginkan seorang cucu.


"Ya, opa janji gak lali-lalian lagi." Bastian menirukan ucapan cucunya.


"Opa bukan lali-lailan sayang. Tapi kebut-kebutan." Dirga menimpali dengan tersenyum jail.


"Anak tidak tau diri." pria tua itu mengangkat kruknya dengan maksud hendak memukul putranya. Tapi dengan cepat Dirga menghindar.


"Kebutan? Opa naik cepedahnya jangan kentcang-kentcang. Sepelti Ea opa … kalo naik cepada tu pelan-pelan." gadis mungil itu mempergakan cara menggoes sepeda.


Sehingga membuat ayah dan anak itu tertawa melihat tingkah lucunya.


"Kenapa Ale menginginkan burung dara dan burung gagak?" Bastian bertanya karna penasaran, ia heran kenapa anak sekecil itu menginginkan burung gagak yang terbiasa hidup di hutan bebas.


"Kalenaaa..." sebelum alea menjawab pertanyaan Daddynya, Dirga segera mengangkat tubuh kecil itu.


"Ayo sayang, main sama Mbak Lia dulu ya. Papi ada ada tamu."


Meninggalkan Tuan Bastian sendirian dengan pertanyaan yang masih menjadi misteri.


*


*


*


"Halo Ros." Alyne menyapa seorang desainer ternama yang di percaya untuk menyiapkan baju pengantin dan pakaian seluruh keluarga. Rosa adalah ibu kandung Llingga Hanunggara pemilik Kabar Pos perusahaan media cetak.


( InsyAllah di karya berikutnya aku akan menampilkan tokoh utama dengan nama Lingga Hanunggara. Dan semoga masih bisa di tempatkan di NT )


"Hai Lyne lama tidak berjumpa." Rosa menyambut hangat salah satu temannya semasa kuliah.


"Suatu kehormatan buat aku Lyne, di percaya untuk membuatkan gaun pengantin dan pakaian untuk keluarga Wijaya. Menantumu sangat cantik.


Aku turut bahagia. Selamat ya Lyne."


"Terimakasih Rosa... Oh, ya. Maaf, aku tidak bisa hadir di acara pernikan putramu." Alyne menceritakan kecelakaan yang menimpa suaminya bertepatan dengan tanggal pernikahan di undangan.


Raut wajah Rosa tiba-tiba berubah sedih, tetapi wanita itu segera merubahnya dengan tersenyum.


"Tidak masalah Lyne … apa keadaannya sudah membaik?"


"Alhamdulilah. Sudah lebih baik."


Seorang wanita dewasa masuk ke dalam ruangan yang di persiapkan untuk kepentingan fitting baju dan lainnya. Wanita itu sedikit cemberut mengadu ke Alyne.


"Putramu itu benar-benar pemaksa Mommy, Dalam waktu seminggu ia meminta semuanya harus siap dengan sempurna." Matanya berputar dengan berkacak pinggang. Dan di balas senyuman hangat oleh Alyne.


"Kamu datang apa hanya ingin marah-marah sayang. Kenapa tidak menyapa Mommy-mu dulu?"


Arleta menghambur memeluk adik dari papanya. Yang biasa ia panggil Mommy.


"Aku ikut senang Mom, mendengar kabar pernikahan anak nakal itu."


"Ya, kita semua bahagia. Doakan yang terbaik untuk mereka."


Dirga terpesona memandang Anin saat mencoba mengenakan kebaya dan gaun pengantin. Wanita itu terlihat berbeda. 'Cantik' satu kata yang keluar dari mulutnya. Kata itu juga yang terucap saat pertama kali ia melihat sosok Anin berada di dalam lift.


"Hei Tuan! Tutup mulutmu. Jangan sampai air liur itu membasahai lantai ini."


Suara Arleta mengganggu pandangan Dirga.


"Sedang apa kau disini?" Dirga memasang wajah kesal kapada sepupunya yang terkenal sangat cerewet menurutnya.


"Aku ingin menyapa Mommy Daddy. Dan juga aku ingin mengenal adik iparku. Ahh... Ahirnya kamu terbangun dari tidur panjangmu Dirga."


Kau mengangguku saja. Lebih baik kau


"Jangan bahas masalah itu lagi, lebih baik selesaikan pekerjaanmu. Jangan sampai ada yang terlewat."


"Tenang saja, bocah nakal. Aku jamin semuanya beres." Arleta mengacungkan dua jempol di depan wajah Dirga.


"Kau sama saja dengan Mommy. Minggir! kau merusak pemandanganku."


"Setiap hari kau memandangnya, masih saja tidak puas." Arleta mencibir Dirga.


"Dirga, kemana Bayu? Dari kemarin Mommy tidak melihatnya. Anak itu juga tak ikut menjemput Mommy?" Alyne baru menyadari ketidak hadiran Bayu di tengah-tengan mereka.


"Bayu sedang mengurus sesuatu Mom. Sebentar lagi dia akan datang kemari."


****


Bersambung ❤️


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🤗


Terimakasih 🙏😘