Anindirra

Anindirra
Chapter 86



Alfred Hugo menatap tajam sosok pria yang terlihat tenang. Saling berhadapan dengan posisi berdiri, pria berdarah Eropa itu bertanya dengan suara tegas.


"Apa maksudmu mendekati putriku? Jangan bilang kalian tidak memiliki hubungan." Alfred dapat melihat tatapan berbeda yang di berikan putrinya kepada pria yang ada di hadapannya.


"Aku mencintanya. Dan aku akan meminta restumu untuk menikahinya." Tanpa ragu dan rasa takut Bayu mengucapkannya tidak kalah tegas.


Tuan Alfred tertawa mengejek. Dia tidak menyangka anak dari seorang bawahan tanpa nama besar di belakangnya dengan berani melamar putri kesayangannya.


"Kamu terlalu berani meminta restuku. Kamu menyandang nama Lemana, bukan Bastian Wijaya."


"Anda benar Tuan. Aku hanya menyandang nama Lesmana. Aku tidak akan membawa nama Wijaya untuk menjadi layak. Tetapi akan ku buktikan kalau aku pantas mendampingi putrimu dengan hasil kerja kerasku."


"Jangan kurang ajar kamu. Keberadaan Bastian Wijaya di belakangmu tidak akan bisa merubah keputusanku. Aku ingin putriku mendapatkan yang terbaik. Aku sudah memutuskan akan menikahkannya dengan Steven. Dia dari keluar yang memiliki nama besar dengan kekayaan yang akan mampu membuat putriku terhormat."


"Anda yakin kalau pria itu mampu memberikan kebahagiaan untuk putrimu? Bagaimana kalau ternyata pria itu tidak memiliki apa-apa selain kebohongan. Anda terlalu cepat menyimpulkan Tuan. Jangan sampai anda menyesal karna telah menyerahkan putri anda yang berharga ke tangan yang salah. Dan... Satu lagi.." Bayu mendekat ke hadapan Alfred, ia membisikkan sesuatu ke telinga Alfred.


"Jika anda ingin mengetahui kebenarannya, datanglah ke alamat ini besok malam tepat pukul 2 malam."


Bayu menyerahkan alamat ke tangan Alfred Hugo sebelum melangkah keluar meninggalkan Pria yang masih syok dengan ucapan Bayu.


*


*


*


Alfred Hugo tampak gelisah di dalam ruang kerjanya. Pria itu teringat ucapan yang di dengarnya semalam, sebelum pria muda itu meninggalkannya di ruang tamu.


Ia menimbang-nimbang akan datang atau tidak ke alamat yang saat ini berada di tangannya. Berulang-ulang ia membaca kertas bertuliskan alamat pelabuhan yang menjadi pembatas negara Singapore dengan negara lain.


Ia tidak ingin mempercayai apa yang di dengarnya. Ia yakin Steven pria yang tepat untuk putrinya. Apa lagi ia sudah mentransfer sejumlah uang yang tidak sedikit nominalnya ke rekening perusahaan milik Steven sebagai awal kerjasama mereka.


Ia terlalu mempercayai pria itu. Ia membaca kembali dokumen kerjasama yang di berikan Steven. Di dalam perjanjian kerja itu tidak ada yang mencurigakan. Alfred mengelontorkan dana untuk pembangunan apartemen di daerah batam yang masuk wilayah Idonesia.


"Tidak mungkin, tidak mungkin Steven akan berbuat curang. Dia pengusaha sukses di negara ini. Aku yakin anak itu hanya ingin mempengaruhiku karna dia menginginkan Stella." Alfred terus meyakinkan dirinya.


Ia bangun dari kursinya. Berjalan ke arah jendela, menatap keluar dengan pikiran yang terus mengganggunya. Ia menolak ucapan Bayu tetapi hatinya tidak bisa berbohong, hatinya seakan membenarkan.


Bayu memang anak dari seorang bawahan, tapi ia tidak bisa menutup mata akan kemampuan pria muda itu. Bayu ikut andil dalam kesuksesan Wijaya Grup. Kecerdasannya tidak bisa di remehkan, dan Alfred mengakui itu.


"Aku harus membuktikannya nanti malam. Awas saja kalau yang dia ucapkan hanya bualan belaka. Aku akan meminta Bastian agar memecatnya."


Sedangkan Stella yang berada di dalam kamar juga ikut merasakan gelisah. Dari semalam nomor Bayu tidak bia di hubungi. Saat daddy-nya menyusul ke meja makan. Steven membahas tentang rencana pernikahaannya. Pria itu meminta di percepat. Dan pagi ini, ia tidak di beri ijin untuk keluar rumah.


Masih jelas di ingatnnya saat ia memohon kepada kedua orangtuanya agar tidak menikahkan-nya dengan Steven.


"Aku tidak mencintainya Dad, aku mohon. Dia lelaki yang kasar, aku tidak ingin menikah dengannya."


"Sudah Daddy katakan dan Daddy putuskan. Kamu akan tetap menikah dengan Steven. Berjalannya waktu kamu akan mencintainya dan menerimanya sebagai suamimu. Daddy tidak ingin mendengar apapun lagi Stella!"


"Aku mencintai Bayu Dadd."


"Dia bukan keluarga Wijaya. Jadi jangan berharap Daddy akan memberikan restu." Pria itu masuk ke ruang kerjanya meninggal Amanda dan Stella di lantai bawah.


*


*


*


Da rencananya, ia akan beroperasi nanti malam. Barangnya akan segera keluar setelah ia melakukan transaksi. Memuluskan jalannya dengan membungkam beberapa orang penting dengan uang yang tidak sedikit.


"Ohhh, kamu hebat honey... Kamu sangat pintar memuaskanku. Seraya mengangkat kepala dengan mulut terbuka Steven tengah menikmati servis yang di berikan si wanita dengan cara yang berbeda.


Tangannya ikut meremas rambut di kepala yang tengah berjongkok di antara kedua pahanya. Mulut wanita itu bergerak lincah memundur majukan gerakannya. Seolah sedang menjilati permen lolipop, ujung lidahnya memainkan sesuatu yang berada di bawah pusat sang pria.


"Faster honey, aku sudah tidak tahan." Steven terus meracau hingga sesuatu yang terasa hangat menyembur masuk ke dalam mulut sang wanita.


"Aku menunggumu Stev. Puaskan aku saat kamu berkunjung ke indonesia. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Suamiku bisa curiga nanti." Wanita itu merapihkan kembali riasannya, memoles lipstik yang sudah terhapus akibat permainannya. Bersamaan dengan Steven yang mengaitkan kembali celana panjangnya.


"Aku masih merindukanmu honey.." Steven menarik tubuh seksi itu agar kembali duduk di pangkuannya. Ia menciumnya bibirnya lagi sebelum wanita itu pergi.


"Stop Steven, kamu merusak riasanku lagi.."


"Aku benci dengan waktumu yang selalu terburu-buru." Steven nampak tidak suka.


"Aku janji akan selalu menyempatkan datang menemuimu di sela-sela pekerjaanku. Saat ini, Tim-ku sudah menunggu di bawah." Cup, wanita itu mengecup bibir Steven sekilas dan meninggalkannya.


*


*


*


Arah jarum jam sudah berdiri tegak di angka 12 malam pas. Dua jarum lagi untuk sampai di jam dua. Sesuai yang di katakan Bayu, ia harus sampai tepat jam 2 di pelabuhan.


Dengan perlahan Alfred bangun dari tempat tidur, meninggalkan Amanda yang sudah tidur terlelap dengan mimpinya. Ia tidak memberitahukan kepergiannya agar istrinya itu tidak khawatir.


Alfred memutuskan datang ke alamat yang sudah ia ketahui tempatnya. Memakai jaket, karna udara malam cukup dingin. Tubuh Pria tua itu sudah rentan dengan angin malam. Tanpa di temani supir ia memutuskan datang sendiri.


Perlahan menuruni anak tangga dengan penerangan yang yang seadanya. Karna semua lampu memang sengaja di matikan. Hanya lampu taman yang berpendar menyebar masuk ke dalam ruangan.


Berjalan pelan, ia tidak menyadari keberadaan Stella yang memperhatikannya dari sudut ruangan. Wanita itu baru saja turun ke dapur untuk mengambil segelas air dingin.


Menuju garasi, Alfred mulai menghidupkan mesin mobil. Ia melajukan kendaraannya keluar meninggalkan mansionnya.


Masih menggunakan piyama tidurnya. Stella secepat mungkin menyambar kunci mobilnya. Ia segera masuk ke dalam mobil dan mulai menyusul dari belakang.


Ia mengikuti kemana arah mobil Daddynya melaju. Ia harus mengetahui kemana tujuan Daddy-nya yang keluar di tengah malam buta ini. Tanpa di temani supir, siapa orang yang akan di temuinya.


****


Bersambung ❤️


Setelah membaca sempatkan memberi like yaa 🙏 terimakasih 😘


Besok kita Kangen-kangenan sama yang lagi ngidam yaa ~ Dirga