Anindirra

Anindirra
Chapter 59



Tanpa di ketahui Andre, Ratna membuntutinya dari mulai ia meninggalkan cafe menuju tempat tinggal Anin.


Ratna masih berada di dalam mobil di parkiran moon cafe. Ia merasa yakin Andre akan mendatangi rumah Anin seoarng diri tanpa memberitahunya.


Berada beberapa meter dari mobil Andre, ia memantau dari balik kaca hitam mobilnya. Dari mulai Andre turun dari mobil dan mengetuk pintu kayu rumah sederhana itu. mpai


Seorang wanita muncul membukakan pintu yang ia ketahui, wanita itu simpanan Dirga. Merasa tidak puas melihatnya dari jauh, Ratna turun dari mobil. Ia mengendap-endap mendengarkan pembicaraan mereka dari awal hingga ahir di balik dinding dekat jendela.


"Sial!!" ternyata wanita itu sudah di nikahi oleh Dirga. Wajahnya berubah kesal dengan tangan mengepal.


"Dasar pria lemah!" ia mengumpat saat mendengar Andre memohon supaya Anin kembali kepadanya.


Ia segera kembali ke mobil sebelum keberadaannya di ketahui keduanya. Ia sempat mengambil beberapa pose Anin dan Andre melalui kamera fotonya.


"Tunggu saja! Dirga akan mendepakmu seperti ia membuangku." umpatan itu ia tujukan untuk Anin.


"Brengsek kamu Dirga! Aaghhrrr.." dengan berteriak, beberapa kali Ratna memukul stir mobil dan menjambak rambutnya sendiri. Hatinya sangat panas mengetahui Dirga sudah menikah kembali.


"Aku harus mencari cara lain. Lelaki bodoh itu tidak bisa aku manfaatkan!" Dengan membawa kegagalan ia pergi meninggal Andre yang masih berada di dalam rumah. Tapi ia masih memiliki foto sebagai alat untuk menghasut Dirga.


"Pulanglah Ndre. Aku tidak mau mendapatkan masalah. Bukan hanya suamiku yang akan salah paham, tapi Mama-mu pun akan marah jika mengetahui kamu berada di rumahku.


Yang ku katakan benar adanya. Aku sudah bersuami."


"Aku masih belum percaya An. Apa ini hanya alasan agar aku tidak menemui lagi. Dan aku tidak melihat cincin pernikahan di jari manismu." Arah matanya memperhatikan jari Anin yang masih kosong.


"Aku tidak memaksamu untuk percaya. Tidak juga dengan cincin untuk membuktikannya. Pulanglah, Ndre." Anin meminta untuk kedua kalinya.


*


*


*


Waktu terus berputar. Setelah rapat Dirga masih di sibukkan dengan pekerjaannya hingga menjelang sore. Langit berwarna oranye tanda matahari mulai terbenam menunjukan bahwa kehidupan akan berganti malam.


Sebagian karyawan sudah kembali pulang meninggalkan gedung kokoh yang menjulang. Hanya menyisakan beberapa karyawan yang masih berkutat menambah jam kerja menyelesaikan tugasnya.


Bayu masuk dengan membawa kabar yang kurang menyenangkan.


Ia duduk berhadapan di sofa besar yang berada di tengah ruang kerja.


"Berapa lama laki-laki itu berada di dalam rumah bersama istriku?" dengan wajah datar Dirga mulai bertanya setelah mendengar banyak laporan. Dan beberapa foto yang ia lihat melalui ponsel miliknya.


"Sekitar 30 menit Tuan. Sebelumnya Andre sempat bicara dengan Ratna di moon cafe. Orang kita masih berada tidak jauh dari rumah Nona Anin. Anda jangan khawatir."


Duduk menyilangkan kaki di atas pahanya. Dirga menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia membuka berkas laporan. Membaca isinya yang menjelaskan data perusahaan tour & travel milik Andre.


Dari semenjak ia melihatnya bersama Anin berada di dalam kamar penginapan. Dirga langsung mencari tau siapa sosok laki-laki itu. Tidak ada yang lepas dari jangkauannya.


"Besok. Bawa laki-laki itu ke hadapanku. Aku harus turun tangan langsung."


"Baik. Akan saya siapkan tempatnya."


Tanpa di ketahui Ratna. Bayu mengutus orang untuk mengikuti langkahnya kemana pun sampai ia menandatangi surat perceraian.


"Bagai mana dengan suratnya? Kenapa lama?"


"Pengecara Hadi akan segera mengurus secepatnya. Hari ini, ia mengutus asistennya bernama Johan tapi tidak berhasil."


"Bukankah asisten itu yang bersama Ratna di Bandung?"


"Ya, Tuan. Setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi. Saya pastikan dia tidak ikut terlibat."


"Hadi Darma meminta waktu sampai besok, ia memastikan Ratna akan segera menandatanganinya. Dan untuk urusan surat-surat dan hak asuh Nona Anin sudah saya kirimkan lewat Email. Dan akan segera di proses secepatnya."


Dirga mengeluarkan ponsel berwarna silver miliknya. Menghubungi Pak Dadang yang berada di lobi.


Setelah mendapatkan jawaban dari sebrang Dirga memutuskan panggilan.


"Jam berapa kita bertemu dengan Mr Leon?"


"Jam 7 di Botanica Restoran. Siska sudah mereservasi. Satu jam lagi." Bayu melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 6 pas.


*


*


*


Setelah kepergian Andre, Anin langsung menutup pintu dan menguncinya.


Meringkuk memeluk tubuhnya di atas sajadah masih mengenakan mukena.


Ia menangis mengingat kembali ucapan Andre. Menginggatkannya lagi, keputusan yang ia sepakati saat menemui Dirga di hotel xx untuk mendapatkan uang dan menyerahkan tubuhnya.


Ingatan itu tengah berputar-putar memenuhi kepalanya. Tempat itu membuatnya trauma. Ia tidak tau harus menyesalinya atau tidak. Kejadian itu berdampak buruk juga baik untuk kehidupannya.


Pak Dadang mengendarai mercy itu dengan kecepatan maksimal di tengah hiruk pikuknya kota Jakarta menjelang petang. Ia harus menjemput wanita yang sudah menjadi istri sah Tuannya itu sebelum Anin mengiriminya pesan.


"Pasti terjadi sesuatu." batin Pak Dadang.


Walau tidak ada kemacetan, jalanan petang ini terlihat ramai dengan banyaknya kendaraan yang akan kembali pulang. Tempat tinggal Anin dari gedung perusahaan terbilang cukup jauh membutuhkan waktu 30 menit karna berada di pinggiran kota.


Melesat dengan cepat mercy itu sudah berhenti tepat di depan rumah.


Anin yang baru keluar dari dalam kamar mendengar suara mobil yang sudah tidak asing di telinganya. Mengintip lewat jendela ia melihat Pak Dadang turun dari mobil berjalan menuju pintu.


Sebelum di ketuk, pintu itu ia buka.


"Malam Non." Pak Dadang menyapa sopan.


Anin tersenyum menyambutnya.


"Masuk Pak." Anin mempersilahkan Pak Dadang untuk masuk ke dalam ruang tamu. Sebagai supir Dirga, Anin sangat menghormatinya, ia menganggap Pak Dadang sebagai orang yang ia tuakan.


"Terimakasih Nona. Saya menunggu di luar saja. Tuan meminta saya segera menjemput Nona dan membawa Nona pulang ke hotel."


Anin menarik napas panjang. "Pak, tolong sampaikan kepada Tuan Dirga, malam ini saya akan tidur di sini. Saya tidak ingin kembali ke hotel itu."


"Tapi Nona, kalau Tuan marah bagaimana?" raut wajah Pak Dadang berubah cemas. Seorang Dirga tidak bisa di bantah. Apa lagi saat ia mendengar suaranya melalui telfon. Terdengar dingin dan tegas.


Dan Anin dapat melihat kecemasan di raut wajah Pak Dadang.


"Saya akan menghubungi Tuan Dirga Pak, saya akan menjelaskannya. Bapak jangan khawatir. Bapak hanya perlu menyampaikan saja."


"Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi." Pria tua itu berbalik melangkah ke mobil yang terparkir.


Masih dengan kebingungan dan tanda tanya. Tadi pagi saat ia menjemput di bandara keduanya terlihat sangat bahagia. Tapi malam ini, keduanya terlihat berbeda. "Mungkin hanya perasaan saya saja." menggelengkan kepala, Pak Dadang membuang jauh pikiran buruknya.


"Semoga Tuan dan Nona baik-baik saja."


Menghidupkan mesin ia kembali melaju ke jalan raya. Tanpa membawa Anin sesuai perintah Tuannya. Ia harus siap dengan segala resiko yang di terimanya.


Tidak seperti saat berangkat, saat ini ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju Botanica Restoran dimana Dirga dan Bayu berada.


****


Bersambung ❤️


JANGAN LUPAKAN LIKE -NYA YAA 🙏


TERIMAKASIH 😘