
Anin membuka lima kantung kresek berwarna putih berisikan lauk pauk sudah satu paket dengan nasinya. Jangan lupakan, 3 cup minuman dengan variant berbeda. Di keluarkannya satu persatu, Ia heran kenapa harus sebanyak ini memesan makanan.
Perutnya tidak akan bisa menampung dan menghabiskan semuanya. Pilihannya jatuh di cumi saos padang, dengan porsi yang tidak terlalu banyak sebagai menu makan siangnya. Warna dari bumbunya menggugah seleranya.
Menyeruput satu cap Manggo thai. Anin memasukkan makanan yang lainnya ke dalam lemari pendingin.
Sedari kecil di ajarkan untuk tidak membuang-buang makanan. Ia berniat tetap menghabiskan mie yang sudah di buatnya. "Mubazir, gak baik buang-buang makanan." ucapanya,
Ia teringat saat masa-masa sulit, jangankan makan enak. Hanya sekedar untuk membeli mie saja, ia harus menunggu dagangannya terjual.
Kembali ke meja makan, ia akan melanjutkan lagi menyantap makan siangnya.
Belum sampai makanan itu ke dalam mulutnya. Ketukan pintu kembali terdengar di telinganya.
"Siapa ya? Apa Bapak gosrek itu kembali lagi?" masih dalam keadaan bertanya di pikirannya, ketukan itu terdengar lagi bahkan lebih kencang.
Dengan terpaksa ia harus kembali meninggalkan makanannya dengan mie yang sudah mulai mengembang.
"Ya sebentar." ia berjalan meninggalkan ruang makan melangkah ke depan.
Klek. Knop pintu di tariknya.
"Andre!" ia terkejut, saat melihat siapa laki-laki yang berdiri di hadapannya.
*
*
Saat berada di cafe Andre memikirkan lagi semua ucapan Ratna. Ia sempat terhasut dan tersulut emosi. Tetapi ia masih berusaha menggunakan akal sehatnya setelah rasa bimbang menderanya. Ia akan bertindak sendiri tanpa melibatkan Ratna apa lagi menghubunginya.
Dengan caranya sendiri ia akan mencari tahu kebenarannya.
Andre mengenal Anin mulai dari masa-masa kuliah. Selain cantik Anin terkenal ramah dan supel, dia bisa berbaur dengan siapa saja. Dan juga pekerja keras.
Dia bahkan tidak malu saat menjajakan kue jualannya kepada mahasiswa di kampus. Dengan segala kelebihannya membuat Andre jatuh cinta hingga ahirnya mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Dua tingkat di atas Anin, Andre lebih dulu menyelesaikan kuliah. Ia mulai di serahkan tanggung jawab untuk mengelola tour & travel milik orang tuanya. Mereka menikah 6 bulan setelah Anin lulus dan dengan tanpa restu orangtua.
*
*
Anin masih menatap tidak percaya kedatangan Andre ke rumahnya.
"Kamu tidak menyuruhku masuk?" Andre memulai bicara dengan wajah menegang.
"Untuk apa? Urusan kita sudah selesai. Aku sudah mengatakannya saat kita bertemu di bandara." Anin hendak menutup pintu tetapi dengan cepat Andre menahannya.
"Tidak! Urusan kita belum selesai An. Biarkan aku bicara di dalam." Andre memaksa dan menerobos masuk.
Anin membiarkan pintu tetap terbuka. Hatinya tiba-tiba di landa kekhawatiran. Apa lagi statusnya yang sudah menjadi istri Dirga. Tak seharusnya ia menerima tamu laki-laki di rumahnya.
"Apa kamu tetap akan berdiri di pintu?" Andre bertanya saat ia sudah mendudukkan bokongnya di sofa.
"Ada apa? Kalau tentang Alea, beri aku waktu untuk mempertemukannya denganmu. Sedari bayi ia samasekali tidak mengenalmu." Anin masih tidak bergerak dari tempatnya.
Ketika sudah tidak bisa lagi menahan gemuruh hati yang di balut amarah. Andre bangkit dari duduknya, ia mencekal lengan Anin menariknya dan menjatuhkannya di sofa.
"Aw !" Anin memekik kaget dengan apa yang di lakukan Andre. Tubuhnya hampir saja terlentang. Anin langsung menarik cekalan tangannya dan beringsut mundur sedikit menjauh.
"Apa kamu harus merayu suami orang untuk mendapatkan biaya pengobatan putriku?!" Andre mencengkram bahu Anin dan meninggikan suaranya.
"Apa maksudmu? Suami siapa yang kamu maksud?" Anin berusaha melepaskan diri.
"Sudah berapa lama kamu menjadi simpanan pria beristri? Hina sekali kamu An! Demi uang kamu rela menjual diri! kemana Anin yang pernah aku kenal?"
Urat-urat di wajahnya terlihat menegang dengan sorot mata memerah.
"Kamu menyembunyikan penyakit Alea kepadaku. Kamu bahkan tidak memberitahuku saat Alea harus menjalankan operasi. Aku tetap Papanya An! jangan lupakan itu."
"Seorang wanita baru saja menyampaikan berita kalau Alea belum lama ini menjalani operasi. Dia wanita dari pria itu. Pria yang membayarmu."
"Kalau aku tidak bertemu dengan wanita itu mungkin sampai kapanpun aku tidak akan pernah tau."
"Aku memang salah telah menjatuhkan talak. Tapi haruskah kamu membalasnya dengan menyembunyikan kebenaran itu kepadaku? Jawab Anindirra!"
Menarik napas. Anin mulai bersuara
"Jika kamu memandang aku hina karna menjual diri. Lalu bagaimana denganmu?"
"Saat ini kamu berteriak di hadapanku seolah-olah kamu manusia yang sempurna dan sudah menjadi ayah yang baik untuk putrinya." Anin tertawa sedih dengan menitikkan airmata. Dadanya terasa sakit harus mengingat kembali kejadian 4 tahun lalu.
"Apa perlu aku ingatkan lagi? Tubuhku belum pulih dari rasa sakit pasca melahirkan, bayimu baru saja hadir ke dunia saat kamu pergi meninggalkanku. Tanpa bicara apapun."
"Aku terpukul saat Dokter menyatakan Alea memiliki penyakit jantung bawaan. Kamu pergi bukan hanya meninggalkanku, tapi kamu juga meninggalkan putrimu tanpa sempat mengazaninya."
"Di rumah yang kamu sewakan untukku, aku tetap bertahan menunggumu, berharap kamu akan kembali menemui kami. Dengan sisa uang yang ada aku coba bertahan dengan segala kebutuhan."
"Bahkan, aku tidak sanggup membawa bayi yang masih berumur satu bulan ke rumah sakit saat karna penyakitnya."
Anin mengusap airmata yang membasahi pipinya.
"Aku menunggumu Andre. Sampai Alea berumur 3 bulan, kamu datang hanya untuk menjatuhkan talak kepadaku. Kamu masih ingat? Bagaiman aku mengejar dan bersujud di kakimu agar kamu tidak meninggalkan aku."
"Aku berjuang membesarkannya dengan segala kemampuanku. Saat Alea pingsan, aku membawanya ke rumah sakit. Dokter menyarankan harus segera menjalani operasi."
"Apa aku harus mencarimu di seluruh sudut kota Surabaya? sedangkan aku tidak memiliki alamat dan nomor kontakmu. Apa aku harus memohon bantuan kepada orangtuamu sedangkan mereka menolak keberadaanku?!"
"Aku tidak menyesal harus menjual diri demi menyelamatkan nyawa putriku. Tapi aku tidak terima kamu menuduhku merayu suami orang dan menjadi simpanannya."
Andre terduduk di samping Anin. ia meremat rambutnya dengan frustasi. Saat mengetahui yang sebenarnya. Ia merasa menjadi pria yang sangat berdosa.
"Aku meninggalkanmu saat itu karna mendapatkan kabar Mama masuk rumah sakit An. Dan aku tidak bisa meninggalkannya karna Mama mengancam akan melukai dirinya jika aku menemuimu."
"Aku tidak bisa menolak keinginan Mama. Saat itu kondisi Mama memburuk, Mama mau menjalani operasi dengan syarat aku harus meninggalkanmu dan menikahi Sinta." dengan suara lirih Andre menjelaskan.
"Maaf Ndre, aku tidak bisa menerima alasanmu. Terlalu sakit untukku."
"Tolong berikan aku kesempatan kedua An. Aku akan memperjuangkanmu dan meyakinkan Mama. Aku akan membahagiakanmu An."
"Aku sudah tidak bisa, aku.."
"Pikirkan lagi An, aku mohon." dengan suara melemah.
"Tidak Ndre, kita jalani kehidupan kita masing-masing. Berbahagialah dengan keputusanmu. Yang harus kamu bahagiakan adalah istrimu. Bukan aku."
"Aku sudah bukan lagi menjadi bagianmu. Hubungan kita hanya sebatas Alea."
"Maafkan aku An, aku mohon. Maafkan aku." Andre mencoba meraih tangan Anin tetapi segera di tepisnya.
"Kembalilah bersamaku An, tinggalkan pria beristri itu."
"Dia suamiku. Dia bukan pria beristri seperti yang di sampaikan wanita itu." aku sudah menikah.
"Suami? Kamu bohongkan An ?"
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungan like, komen, hadiah dan votenya ya 🤗
Paling tidak like 👍
Terimakasih 🙏