
Dirga langsung meninggalkan rapat yang baru akan di mulai setelah Pak Dadang menerobos masuk ke dalam ruangan. Pria tua itu datang memberi kabar sesuai yang di sampaikan Bik Asih.
Ia memilih naik ke atas dari pada harus menghubungi Dirga yang belum tentu terangkat panggilannya.
Dirga segera memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dasar dimana mobilnya berada. Lift yang membawanya terasa lambat baginya. Ia sampai memukul tombol agar cepat tebuka sampai lobi.
Pikirannya sudah tidak tenang. Berkali-kali ia harus menarik napas untuk mengurai ketakutannya. Mengingkatkannya kembali kejadian 7 tahun yang lalu saat Bayu memberi kabar kecelakaan yang menimpa Ratna.
Saat ini ia kembali mendapatkan kabar Anin di larikan ke klinik dan ia belum tau seperti apa keadaannya. Ia menyesal kenapa harus meninggalkan Anin dalam kondisi kurang sehat.
"Lebih cepat lagi Pak."
"Baik, Tuan."
Dengan kecepatan maksimal mobil itu melaju dengan kencang menuju alamat klinik yang di kirimkan oleh Bik Asih.
Dengan langkah panjang Dirga masuk ke klinik Ibu dan anak. Menanyakan pasien dengan nama Anindira, seorang perawat dengan seragam putihnya memberitahukan ruang IGD dimana pasien sedang di tangani.
Terlihat Bik Asih dan Agus sedang menunggu di depan pintu ruangan.
"Tuan.." dengan wajah pias, Bik Asih melihat kedatangan Dirga. Sebelum mendapatkan pertanyaan, Bik Asih lebih dulu menceritakan kejadian yang menimpa Anin.
Dirga meremat rambutnya frustasi. Rasa bersalah menghantam dadanya. seandainya waktu bisa di putar kembali, ia tidak akan meninggalkan istrinya, membiarkannya merasa kesakitan tanpa ada dirinya di sampingnya.
Ia segera ke arah pintu ketika seorang Dokter wanita keluar dari dalam ruangan.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"
"Mari, saya jelaskan di ruangan saya."
"Tidak. Saya ingin bertemu istri saya dulu."
"Baiklah, akan saya jelaskan di dalam."
"Sayang.." Dirga mengecup seluruh wajah Anin yang tampak pucat, tanpa perduli ada Dokter sedang berdiri di dekatnya. Wanita itu masih terpejam dengan kondisi lemah.
"Istri anda sudah dalam kondisi lebih baik dari sebelumnya Tuan. Alhamdulillah.. Janin masih berada di dalam kandungan hingga masih bisa di selamatkan. Satu jam saja telat, mungkin tidak akan terselamatkan."
"Janin?!" Dirga terkejut mendengar ucapan Dokter.
"Ya, istri anda sedang hamil. Sesuai analisa saya, kehamilan baru menginjak minggu ke empat. Tetapi untuk lebih jelasnya saya harus melakukan USG."
"Apa mereka akan baik-baik saja? lakukan yang terbaik Dok."
"Pasti,Tuan. Tindakan sudah di lakukan untuk menyumbat pendarahan yang keluar, dan saya sudah memberi obat hormon untuk menguatkan kandungan. Setelah itu tentunya istri anda harus beristirahat total di tempat tidur. Selain di picu kelelahan kandungannya juga lemah."
"Istri saya benar-benar hamil Dok?" serasa tidak percaya tetapi berharap 'iya' Dirga memastikan lagi
"Benar, Istri anda hamil Tuan, saya ucapkan selamat ya."
Rasa bahagia membuncah tiada terkira saat mendengar ucapan sang Dokter. Di usianya yang sudah menginjak kepala 4. Tuhan mengabulkan doa dan keinginannya.
Selama empat puluh tahun menjadi pria yang kuat. Hari ini ia kalah, ia menitikkan air mata karna bahagia. Kalau boleh, ia akan melompat berteriak sebagai bentuk Euphoria. Rasa gembira yang muncul ia tunjukkan dengan ungkapan rasa syukur tidak ada hentinya karna mendapatkan sesuatu yang tak ternilai harganya.
"Baiklah, saya tunggu di ruangan saya Tuan." Dokter itu meninggalkan pria yang tengah di liputi rasa haru dengan kembali menciumi istrinya.
"Sayang, kita akan punya anak." dengan suara gemetar menahan tangis.
Mungkin untuk sebagian orang, ini hal yang biasa. Tetapi untuk Dirga ini sesuatu yang sangat luar biasa membahagiakan. Mengingat dari pertama menjalani rumah tangga dengan Ratna, ia sudah menginginkan seorang anak. 12 tahun sibuk dengan dunia, hingga di titik, dimana ia di tuntut harus segera mempunyai penerus di umurnya yang sudah tidak lagi muda.
Tangannya menelusup masuk ke dalam pakain Anin. Ia mengusap pelan, perut yang masih terlihat rata dengan hati yang tidak bisa di ungkapkan. Ada kontak batin yang kuat yang ia rasakan.
"Mas..." Anin terjaga meraskan usapan di perutnya.
"Kenapa menangis?" Anin bertanya saat melihat mata suaminya memerah.
"Terimakasih, Sayang. Terimakasih." Dirga menatap wajah Anin dengan penuh rasa haru berselimut bahagia.
"Terimakasih untuk apa Mas?" Anin mengusap setitik air mata dari sudut mata Dirga
"Anak? Aku hamil Mas?" bibirnya terangkat ke atas. Wajah pucat itu terlihat bahagia.
"Ya, anak kita, sudah hadir disini." Tangannya mengusap perut Anin. "Alea akan punya adik."
*
*
*
Anin sudah terbaring di ranjang pemeriksaan untuk melakukan USG. Dokter itu memperlihatkan dan menjelaskan secara terperinci kondisi Anin dengan memegang alat yang di gerakkannya memutar di area bawah perut.
Dirga tampak serius menyimak apa yang di ucapkan Dokter Arum tentang perkembangan janinnya yang masih berbentuk bulatan kecil.
Ia juga baru mengetahui ternyata Dokter itu bernama Arum, Dokter yang di rekomendasikan oleh Dokter Hendra. Selain bekerja di rumah sakit besar, Dokter Arum memiliki klinik Ibu dan Anak.
"Detak jantung mulai akan terdengar lebih baik saat usia kehamilan 7 minggu dan embrio akan terbentuk dengan sempurna. Saat ini usia kehamilan Nona Anin baru 4 minggu memasuki trimester pertama." Dokter arum menjelaskan lagi.
Dengan wajah bahagia matanya tak lepas dari layar monitor.
"Jadi saya harus menunggu 3 minggu lagi untuk bisa mendengar detak jantungnya Dok?" Dirga nampak antusias, dia lebih banyak bertanya.
"Ya Tuan, dalam trimester ini struktur tubuh dan organ janin berkembang. Terjadi perubahan besar pada tubuh ibunya yang kerap menimbulkan berbagai gejala, seperti mua-mual, muntah, mudah lelah serta emosional, sering berkemih dan nyeri pada payudara."
"Tapi kalau yang mengalami papinya giman Dok?" Anin bertanya karna beberapa tanda yang di sebutkan oleh Dokter Dirga yang mengalaminya.
"Berarti anda mengalami sindrom couvade atau biasa di sebut kehamilan simpatik Tuan."
Anin tersenyum menatap suaminya.
*
*
*
Masih dalam pengawasan Dokter Arum, Dirga memutuskan memindahkan Anin ke rumah sakit milik Hendra dengan fasilitas yang lengkap. Karna ia tidak mungkin meninggalkan Anin selama dalam perawatan. Ia membutuhkan kamar yang luas dengan pelayanan terbaik.
Di ruangan ini-lah mereka sekarang. Setelah Dirga menghubungi Hendra untuk di siapkan kamar sesuai keinginannya. Kamar rawat inap yang sudah menyamai President Suite dengan harga fantastis permalamnya.
Selain AC, satu bed besar yang bisa di tiduri dua orang, sofa besar yang pastinya nyaman dan empuk. Di tambah dengan air panas dan dingin, tidak ketiggalan kulkas dan TV sebagai pelengkap.
Anin hanya bisa mengelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya. Ia tidak punya kuasa untuk menolaknya. Ia pasrah saat di perlakukan seperti sedang sakit parah. Pria itu sama sekali tidak mengijinkannya kakinya menyentuh lantai.
"Mas, jangan mengangkatku lagi. Dudukkan saja aku di kursi roda kalau tidak boleh berjalan. Aku tidak ingin Mas kelehan."
Aku akan tetap akan mengangkatmu. Aku tidak mau perutmu sakit."
"Tidak akan membuat perutku sakit Mas.. Ya kan Dokter?" Anin bertanya ke Dokter Hendra dengan maksud, agar suaminya tidak khawair berlebihan.
"Dia itu Dokter Jantung, Sayang. Mana mengerti tentang kehamilan."
Hendra mengusap tengkuknya melihat kelakuan temannya. Pria itu bersikap sangat protektif dan posesif.
Turuti saja Nona Anin. Jangan sampai rumah sakit ini di tutup oleh suamimu yang sok tau itu !! Hendra tidak megiyakan juga tidak membantahnya.
****
Bersambung ❤️
Likenya donkk 🙏
Terimakasih untuk segala bentuk dukungannya ya 🤗 Jempolku sebagai balasan dan respon di semua komentar.
Lupuyuuuu buat semuanya 😘😘