
Bayu melajukan kendaraannya menuju night club milik sahabatnya yang bernama Diego. Dari siang sepulang dari lapangan golf, ia terus menghubungi Dirga tetapi tidak ada jawaban. Saat akan menemui Bastian dan Alfred di kedai kopi yang berada tak jauh dari area lapangan. Tak sengaja ia mendengar pembicaraan kedua pria yang tengah duduk membelakanginya.
Ada ganjalan, beban rasa bersalah dan kesal, bercampur menjadi satu. Kenapa ia tidak di libatkan. Ia merasa menjadi tidak berguna kala Dirga menyelesaikan masalah sendiri. Tak ingin Alfred dan Bastian tau, ia lebih memilih berbalik badan dan segera mencari Dirga.
Ia sempat menyusul ke VivoCitiy mall. Tapi ia tak menemukan keberadaan pria itu, begitupun Mommy Alyne dan Anin. Hanya ada Stella dan yang lainnya.
Hingga ahirnya, ia harus menemani Stella yang mengajaknya mengunjungi beberapa tempat hiburan dan tongkrongan yang romantis untuk menghabiskan waktu berdua hingga matahari mulai terbenam.
Karena Mommy Amanda memilih untuk pulang, begitupun dengan Arleta dan Chatrin yang memisahkan diri. Sedangkan Mayang harus segera kembali ke hotel untuk berkemas, petang nanti ia dan Hendra harus terbang, kembali ke Indonesia karena besok pagi ada jadwal operasi yang tidak bisa di abaikan.
°°°°°
Sedangkan di Night Club
Anindirra...
Dirga mengira wanita yang berada di sampingnya adalah Anin istrinya, wine itu mulai menurunkan kesadarannya. Ia berulang kali mengelengkan kepalanya yang terasa berat dan memicingkan matanya agar penglihatannya jelas. Di tambah, lampu Club yang gelap.
Hanya lampu lighting yang berpendar memberikan penerangan. "Kenapa menyusulku kesini, Sayang?" ia mengira wanita itu benar-benar Anin. "Jangan mengkhawatirkanku, sebentar lagi aku akan pulang.. Aku hanya ingin menghilangkan amarahku. Karena aku tak ingin menyakitimu."
"Pulanglah bersamaku tampan, aku pastikan kamu puas malam ini." wanita itu mulai meraba dada Dirga dan semakin semangat mengodanya. Jemarinya mulai naik meraba wajah Dirga.
"Ya, Sayang.. kamu memang selalu membuatku puas. Dan kamu selalu membuatku ketagihan." Dirga terkekeh pelan, menenggak minuman terahir yang di tuangkan.
"Tuan. Anda mabuk, apa ada yang bisa saya hubungi?" bartender itu bertanya kepada Dirga yang menjatuhkan lagi kepalanya di meja bar.
"Pria ini akan pulang bersamaku." wanita malam itu bicara kepada pria yang berprofesi sebagai bartender peracik minuman.
"Apa anda mengenalnya?"
"Anggap saja dia tamuku malam ini." wanita itu tersenyum manis dengan mengedipkan matanya.
"Mari tampan.." wanita itu berusaha memapah Dirga tapi kesulitan, dengan postur tubuh Dirga yang tinggi dan berisi membuatnya tak kuat membawa pria itu keluar dari dalam club.
"Jangan memaksaku, Sayangku …aku belum ingin pulang." Dirga menepis tangan wanita itu yang akan melingkarkan tangannya di pinggang Dirga.
"Kita harus keluar tampan, bukankah kamu ingin mendapatkan kepuasan? Aku Anindirramu.." wanita itu menggunakan nama yang di sebut Dirga agar pria itu mengikuti ajakannya.
"Kamu Anindirraku? Ya.. Kamu Anindirraku.. Aku mencintaimu, Sayang …jangan tinggalkan aku."
Dengan sempoyongan, wanita malam itu mulai memapah tubuh tegap Dirga walau dengan kesusahan. Bibirnya tersenyum karena telah berhasil membawa pria itu turun ke lantai dasar bawah tanah, area basement tempat parkiran.
"Tolong bantu saya." wanita itu melambaikan tangan memanggil petugas parkir saat keluar dari pintu keluar.
"Ya miss.." penjaga parkiran itu ikut memapah tubuh Dirga.
Beberapa meter lagi sampai ke mobil yang di tujunya. Suara pria membuat dua orang yang tengah memapah Dirga berhenti dan menengok.
"Hei..Hei.. Miss, anda akan membawa kemana teman saya?"
Selesai mengantar Hendra dan istrinya ke Changi Airport, Diego melajukan kendaraannya menuju night club miliknya yang berada di negri ini. Barus saja ia memarkirkan kendaraannya, ia melihat seorang wanita berpakain terbuka tengah memapah seorang pria yang tengah mabuk, ia belum menyadari pria yang bersama wanita itu. Baru ketika wanita itu memanggil petugas parkir untuk membantunya, ia bisa melihat jelas wajah pria yan berjalan sempoyongan ternyata Dirga sahabatny.
"Oh, Good.." ia segera turun dari mobilnya.
"Hei.. Hei.. Miss, anda akan membawa teman saya kemana?"
"Pria ini pelanggan saya Sir. Jadi jangan ikut campur."
"No.. No.. Berikan pria itu kepadaku."
"What..!!" Diego terkejut saat wanita itu mengiranya seorang G*y yang membutuhkan teman kencan.
"Hei.!! Diam di situ.!" Diego memilih menghubungi Bayu dari pada harus berdebat denga wanita yang tidak mau melepaskan Dirga. Bahkan wanita itu tidak percaya saat Diego mengatakan kalau ia pemilik dari club tempatnya mencari pelanggan.
Dan petugas parkir itu memilih menjauh dan tidak ingin ikut campur perdebatan pria dan wanit yang sedang memperebutkan seorang pria mabuk.
Wanita itu melepaskan rangkulannya di pinggang Dirga ketika pria mabuk itu mengotori bajunya dengan muntahan minuman yang keluar dari mulut dan menguras isi lambungnya.
Hoek.. Cairan merah keunguan itu menyembur ke bagian dada si wanita.
"Aagghrrr..." wanita itu berteriak sangat kesal. Ia menjauhkan diri dari Dirga.
Kejadian itu membuat Diego tertawa terbahak-bahak dengan bertolak pinggang. Ia sangat senang dengan apa yang di saksikannya.
Wanita itu menyambar handuk kecil yang tersampir di pundak petugas parkir. Wajahnya kesal, karena rencananya gagal mendapatkan tangkapan besar.
Suara decitan mobil terdengar kencang dari arah datangnya masuk kendaraan. Mobil itu berhenti dengan sorot lampu mengarah ke Dirga yang tengah berjongkok mengeluarkan isi perutnya.
Turun dari mobil, Bayu meraih ember berisi air tampungan tetesan dari selang kompresor yang menempel di dinding.
Byurrr...
Ia meyiramkan air dingin itu ke kepala Dirga, hingga membuat pria itu gelagapan karena suhu dinginnya. Ia melakukan itu semata-mata untuk menyadarkan Dirga yang di anggap bodoh dalam menyelesaikan masalah hatinya.
"Bangun bodoh!! Bayu berteriak di hadapan Dirga yang masih berjongkok, pria itu mengusap wajahnya yang basah oleh guyuran air. Yang membuat pria itu mulai sedikit sadar dari mabuknya.
"Bangun!" Bayu berteriak lagi. Bayu mencengkram kerah kemeja Dirga agar pria itu terbangun. Dan,
Buggg..
Bayu memukul wajah Dirga hingga membuat pria itu terhuyung kebelakang. Tidak berhenti di situ, Bayu menarik lagi kerahnya dengan kuat.
Diego yang menyaksikan apa yang di lakukan kedua sahabatnya hanya bisa mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala. Ia tidak melerai karena menyadari pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Apa kamu sudah tidak membutuhkanku lagi hah!? Apa kamu tidak menganggapku ada?? Apa aku sudah tidak layak berada di sampingmu Tuan. Katakan!? Katakan Tuan !?"
"Kenapa menanggungnya sendiri, hingga istrimu yang terkena imbasnya? Aku tau bebanmu sangat berat! Kenapa tidak memintaku membantumu? Aku masih pelayanmu Tuan. Pernikahanku dengan Stella Hugo tidak lantas membuatku lupa akan tanggung jawabku. Jangan meragukan kesetiaanku." Bayu terus berteriak mengungkapkan kekesalannya, ia mendorong tubuh Dirga yang terdiam tak melawan hingga punggungnya membentur kap mobil.
Dirga terduduk di lantai dengan kedua tangan menyanggah kepala. Ia sudah mulai sadar walaupun pusing masih meyerangnya. Bayu ikut duduk di samping Dirga dengan bersandar di kap mobil milik pengunjung club ini. Di susul Diego, pria itu ikut duduk di depan kedua sahabatnya yang tampak kacau.
Sedangkan tiga orang petugas parkir dan wanita tadi tampak syok menyaksikan apa yang barusan terjadi. Wanita itu menghentakkan kakinya menuju mobil miliknya. Malam ini bukan tangkapan besar yang di dapatnya, malah semburan muntahan yang membanjiri bajunya.
"Bisa jelaskan kepadaku? Ada apa ini?" Diego bertanya setelah keheningan menyelimuti ketiganya.
"Aku sudah mengetahuinya. Bayu mulai membuka suara. Tanpa menjawab pertanyaan Diego. "Aku mendengar pembicaraan Daddy Bastian dan Daddy Hugo."
Kita akan bersama-sama mencari tau siapa lelaki itu. Dan kita akan selalu menjadi patner sampai kapanpun.
Camkan itu Tuan.
****
Ada salam dari Alea.. Jangan malahin Papih akuhhh yaa 😊😊
Bersambung ❤️