Anindirra

Anindirra
Chapter 71



Anin terbangun ketika merasakan tangan kokoh membelit pinggangnya. Hembusan napas menyapu hangat tengkuknya. Dari wanginya ia sudah bisa menebak siapa orang yang tengah memeluknya dengan posesef dari belakang.


Dengan menahan ngantuk, semalam ia menunggu kepulangannya sampai larut malam di depan TV. Dan pagi ini, ia sudah berada di dalam kamar di atas tempat tidurnya.


Dengan gerakan pelan tidak ingin membangunkan-nya, Anin berbalik menghadap pria yang telah membuatnya khawair. Mendongakkan wajahnya dari bawah ketiak, ia memperhatikan wajahnya. Ada perasaan lega saat mendapati pagi ini Dirga dalam keadaan baik-baik saja. Walaupun masih ada yang mengganjal dalam hatinya.


**


Semalam, CR V milik Bayu sampai di halaman rumah tepat pukul 2 malam.


Bik Asih yang membukakan pintu. Sebelum naik ke lantai dua, ia meminta Bik Asih menyiapkan kamar untuk Bayu.


Hari ini, ia terlalu sibuk hingga tidak sempat menghubungi Anin. Setelah membaca pesan yang di kirim oleh Anin, ponselnya mati karna terjatuh saat ia berada dalam gudang untuk memeriksa logistik.


Mendengar suara TV yang masih menyala, ia melihat Anin tertidur dengan posisi duduk bersandar di sofa saat akan menuju kamar. Pelan dan hati-hati, ia mengangkat tubuh itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Setelah membersikan diri sebentar, ia ikut menyusup masuk ke dalam selimut hanya dengan menggunakan bokser hitam dan bertelanjang dada. Menarik tubuh kurus itu ke dalam pelukannya, menciumi pipi, sebelum ahirnya ia ikut terlelap.


**


Memandang wajahnya dengan lekat, jemarinya mulai membelai wajah dengan rahang tegas. Hatinya berdebar setiap berdekatan, seakan baru kemarin ia mengenalnya. Meraba lembut seluruh wajahnya, dari mulai pipi, beralih ke hidung mancungnya dan turun ke bibir.


"Apakah kamu akan setia kepadaku Mas?" Anin bertanya dengan suara pelan setengan berbisik.


Sebelum menjauhkan jemarinya, tangannya tiba-tiba di tahan oleh Dirga.


"Kamu meragukanku, Sayang?" Dirga bicara dengan mata masih tertutup dan suara serak khas bangun tidur.


"Mas, sudah bangun?" Anin tidak menyangka suaminya akan mendengar ucapannya.


"Heemmm … cukup lama aku menikmati jemari halus ini." membuka mata, Dirga meraih jemari Anin dan mengecupnya.


"Kamu tidak ingin memberikan ciuman untukku, Sayang..."


"Ayolah Nyonya, aku menunggunya."


Saat merasakan tidak ada pergerakan dari Anin.


Anin merubah posisinya, ia menaikkan tubuhnya mendekatkan bibirnya ke wajah Dirga dan mengecup keningnya.


Tidak puas hanya mendapatkan kecupan, Dirga menarik tubuh Anin ke atas tubuhnya. Hingga posisi wanita itu berada di atas tubuhnya.


Belum sempat protes, bibirnya sudah di bungkam dengan ciuman hangat dari Dirga.


"Ada apa?" Dirga bertanya setelah melepaskan ciumannya. Ia merasakan Anin tidak seperti biasanya. Wanita itu menyambut ciumannya dengan dingin, tidak sehangat biasanya.


"Apa ada yang menganggu pikiranmu?" Dirga menelisik wajah Anin dari bawah.


Anin ingin melepaskan diri dari rengkuhan Dirga, tetapi tangan kokoh itu tidak melepaskannya.


"Katakan, ada apa? Jangan memendam sesuatu apa lagi menyembunyikannya.


"Ada apa, hemmm?" …


Anin merebahkan kepalanya di atas dada bidang Dirga. ia ragu-ragu harus menceritakannya apa tidak. "Apa, aku tidak terlalu berlebihan?" ia bertanya dalam hatinya.


Tidak seharusnya ia mencurigai suaminya. Ia ingin memberi kepercayaan seperti janji yang pernah terucap. Karna ia pun pernah meminta Dirga mempercayainya ketika pria itu cemburu.


Ia tersadar akan pikiran buruknya. Entah kenapa tiba-tiba, ia begitu sensitif dari semalam.


"Maaf, Mas. Maafkan aku, aku sempat meragukanmu." masih dengan posisi kepala menempel di dada polos Dirga.


"Aku mencemburuimu semalam."


Dirga terkekeh mendengarya. Ada rasa senang mendengar ungkapkan cemburu keluar dari mulutnya. Bukan hanya tubuhnya saja, tapi rasa cinta yang besar dari wanita itu yang di harapkan-nya.


"Apa karna aku tidak mengabarimu kemarin?" tangannya membelai rambut turun ke punggung. Menarik tali gaun yang berada di pundak mulus istrinya.


"Salah satunya?" Anin mulai merasa nyaman dengan usapan tangan Dirga.


"Apa ada yang lain?"


"Tidak, tidak ada. Mungkin dia hanya wanita gila yang mengaku-ngaku kekasih Mas."


"Kekasih? Maksudnya?" tangannya membalikkan kepala Anin agar menatapnya.


Anin menceritakan kejadian saat di mall kemarin siang. Yang membuat moodnya rusak dan hatinya curiga.


Meraup lagi bibir merah itu yang selalu menggodanya. Menyesapnya dengan kuat. Tidak perduli Anin memukul pelan dadanya agar melepas ciumannya.


"Hah.." Anin menghirup napas sebanyak-banyaknya, memasok udara memenuhi paru-parunya setelah ciuman itu terlepas.


"Mas, nghh... Ia mulai melenguh menerima serangan dari Dirga.


Pria itu mulai mencumbunya lagi. Menciumi seluruh wajah, turun ke leher sampai ke dada yang menjadi tempat paforitnya. Melahap habis pucuk yang seakan menantangnya.


Tanpa aba-aba ia membenamkan sesuatu yang telah menegang, ia sudah tidak bisa menahannya, empat hari tidak mendapatkan asupan, pagi ini ia kembali seperti singa kelaparan. Membuat wanita itu kewalahan mengimbanginya.


Cukup lama menghujamnya tanpa henti. "Aku milikmu, Sayang. Jangan ragukan kesetiaanku." dengan suara berat pria itu berucap di tengah pacuannya yang semakin cepat, mengejar titik kenikmatan yang akan segera di gapainya.


Suara bunyi telfon sedari tadi berteriak memanggil, meminta di angkat oleh pemiliknya. Dan tidak di perdulikannya. Keduanya fokus terbang ke nirwana menuju kayangan.


"Ahh, Sayang."


Tubuh kokoh itu ambruk dengan wajah terbenam di belahan dada. Di sambut rematan jemari lentik di rambutnya. Rasa lelah bekerja yang mendera Dirga beberapa hari ini, seakan lepas dan hilang. Bersamaan lepasnya lahar dari dalam tubuhnya.


"Terimakasih, Sayang." dengan mengecup kening, ucapan itu menjadi sesuatu yang wajib di lakukan Dirga sebagai penutup aktifitasnya.


Membuka ponsel nama Bu Rahma tertera di layar pangilan tak terjawab.


"Mas, Ibu.." Anin menunjukkan ponselnya.


Keduanya segera mengunakan pakaian sebelum menghubungi nomor itu kembali.


"Mamaaa … lama benel cihhh..." teriakan suara Alea terdengar melalui speaker ponsel. Wajah menggemaskan dengan bibir mengerucut itu memenuhi layar ponsel.


"Ya sayang … maaf yaa, Mama tadi belum sempat angkat."


"Mana Papih aku?"


"Hai girld.." Dirga ikut menimbruk duduk di sofa di samping Anin setelah memakai kaos oblongnya.


"Papiiihhh... Ea lindu, Ea mau ke Jakalta Pih.." dengan manja, gadis mungil itu mulai merajuk.


"Yes girl, Alea akan ke Jakarta tidak lama lagi. Anak Papi harus sabar, ok.."


"Ok, Pih.."


"Papih napa lehelna ada melahnya?" Gadis mungil itu bertanya saat matanya melihat warna merah di leher Dirga. Belum sempat memberikan jawaban, gadis mungil itu bertanya lagi.


"Di lehel Mama juga ada melahna."


Anin reflek menutup tanda itu dengan telapak tangannya. Ia benar-benar kaget mendengar pertanyaan Alea. Ia juga melihat tanda merah di leher Dirga. Saat pria itu menyerangnya tanpa ampun ia membalas dengan mengigit balik leher suaminya.


"Tadi ada burung dara terbang mematuk leher papi sayang." Dirga meringis saat mendapat cubitan dari Anin di pinggangnya.


"Telus bulungna mana Pih?"


"Papih simpan girl."


"Telbangin aja Pih, bulung dalana kan nakal."


"Ya cantiknya Papih … burung daranya nakal. Tapi sudah Papih kurung."


"Napa di kulung Pih?"


"Buat teman tarung burung gagak Papih."


"Masss.." Anin melototkan matanya.


"Papi puna bulung gagak? iihhh... Syeleemmm..." gadis mungil itu bicara tanpa mengerti apa yang di maksud Dirga.


Dirga mengulum senyum menahan gelak tawa yang hampir keluar.


****


Bersambung ❤️


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya teman-teman 🤗


Terimakasih 🙏 Met malam minggu 😘