Anindirra

Anindirra
Bonchap 04



Dari mulai jam 8 sekertaris itu sudah tidak sabar menunggu kedatangan Bosnya. Baru sekitar jm 10 pria itu sampai, muncul keluar dari dalam lift. Pria tampan pemimpin perusahaan itu, tampak semakin bersinar wajahnya setiap hari. Mungkin efek kelahiran Baby Boy atau sesuatu yang di tahannya sudah berhasil menyembur keluar.


Tak lama setelah Bosnya masuk ke dalam ruangan, Siska bangun dari kursinya, segera menyusul Dirga ke dalam ruangan dengan membawa tumpukan map untuk di serahkan. Banyak berkas dan laporan yang membutuhkan tanda tangan Dirga.


Belum lagi Siska harus segera melaporkan akan kedatangan clientnya dari perusahaan lain yang sedang mengajukan kerjasama dengan perusahaan Wijaya Grup.


Siska masuk setelah ia mengetuk pintu. Sekertaris itu bingung harus mengucapkan selamat pagi atau selamat siang. Akhirnya.


"Selamat pagi menjelang siang Tuan." Wanita itu meletakkan tumpukan berkas di atas meja kerja Dirga.


"Pagi Sis." Apa saja jadwal saya hari ini?" Dirga bertanya setelah duduk di singgasananya.


"Para kepala bagian departemen menunggu laporan yang mereka serahkan dua hari yang lalau, agar segera di tanda tangani Tuan."


"Dan satu jam lagi, perwakilan dari perusahaan Sumber Food Tbk akan datang untuk berkunjung."


"Apa Bayu ada di ruangannya?"


"Ya, Pak."


"Apa Bayu juga sudah mengetahuinya?"


"Sudah, Pak."


"Terimakasih Sis." Pria itu bicara sambil menggenakan kacamata bacanya untuk mengecek laporan yang telah di siapakan di mejanya, dengan Siska yang segera keluar kembali ke mejanya.


Belum sampai satu jam seperti yang di ucapkannya, seorang wanita dengan pakaian kantornya yang cukup modis terkesan glamor dan seksi, keluar dari lift khusus pemimpin perusahan. Suara langkan di iringi ketukan helsnya, membuat Siska mengalihkan matanya dari layar komputer dan beralih menatap dua wanita yang berjalan menuju kemejanya.


"Apa wanita itu perwakilan dari Sumber Fodd ya?" Siska bertanya dalam hati sebelum langkah kaki jenjang wanita itu sampai ke mejanya.


"Siang." wanita dengan tas brended melingkar di pergelangan tangannya itu menyapa Siska. Dengan di dampingi yang juga sama-sama wanita yang Siska tebak sebagai sekertarisnya.


"Siang Bu." Siska bangun dari kursinya.


"Saya ada janji dengan Dirga."


"Apa ibu dari Sumber Food. Ibu Misca Pratiwi?" Siska bertanya memastikan.


"Ya, saya Misca Pratiwi."


"Baik, mari Bu." Siska mengajak wanita itu untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangan Dirga. Di ikuti juga dengan wanita satunya.


Mengetuk pintu, Siska masuk ke dalam di ikuti wanita itu, di lihatnya Dirga tengah serius dengan laporan yang di bacanya.


"Maaf, Tuan. Perwakilan dari.." belum selesai Siska bicara, wanita bernama Misca itu ikut bicara memutus ucapan Siska.


"Hai Ga, masih ingat aku?"


Wanita itu memberikan senyum termanisnya kepada Dirga.


Dirga melepaskan kacamatanya sedikit mengingat wanita di hadapannya.


"Misca?"


"Ya, aku Misca.. Aku senang kamu masih mengingatku Ga. Apa kabarmu?" wanita itu mendekat, mengulurkan tangannya.


Dirga menghindar saat Misca akan mencium pipinya. Dan di saksikan oleh Siska yang terkejut.


"Silahkan duduk Misca.." Dirga mengarahkannya agar duduk di sofa. Di ikuti sekertarisnya.


Sedikit kecewa saat ciumannya di tolak, wanita itu mengalah, duduk di sofa dengan melipat kaki satu di atas pahanya.


"Siska, panggilkan Bayu untuk ikut bergabung."


"Baik pak."


*


*


*


Selesai menyusui Boy, dan menidurkannya. Anin berencana ingin ke kantor membawakan makan siang. Hari ini ia meminta Bik Asih memasak menu kesukaan Dirga. Ayam goreng mentega, tak lupa kukusan sayuran hijau.


Merias diri berganti pakaian, tak lupa ia menitipkan Babynya kepada Mommy Alyne dan Bu Rahma.


"Mom, titip Boy.. Anin akan ke kantor Mas Dirga dulu."


"Pergilah, Nak.. Biarkan Boy bersama kami."


Terimakasih Mom, Anin sudah menstok susu. Tinggal di hangatkan saja."


Menenteng tas dan rantang bekal, ia sudah duduk manis di kursi belakang. Anin sudah berani keluar dari rumah, seminggu yang lalu acara aqiqah Boy Mehrdad Wijaya sudah di laksanakan.


Mengundang para tetangga, serta orang-orang terdekat. Mengadakan syukuran dengan memanggil Pak ustadz yang bertempat tinggal di lingkungannya. Anin Dan Dirga telah melaksanakan kewajiban srbagai orangtua dengan memotong 2 hewan sebagai aqiqah putranya.


40 hari lebih berada di dalam rumah, membuat ia rindu akan udara luar. Sebenarnya ia ingin sekali membawa Babynya tapi ia harus bersabar menunggu sampai dua bulan. Mungkin lain waktu ia akan mengajak Boy dan juga Alea.


"Baik, Nona.."


Tak lama, mobil yang kendarai Agus sampai di gedung Wijaya Grup. Cukup lama ia tak berkunjung ke kantor setelah acara familiy gathering di adakan.


Anin melangkahkan kakinya masuk lobby menuju lift khusus.


"Selamat siang Nyonya." kepala security menyapanya dengan ramah dan mengantar Anin sampai masuk Lift.


"Duhh.. Istrinya Tuan Bos, sehabis melahirkan semakin cantik saja." sudah menjadi kebiasaan pria berseragam itu, ia akan selalu berkomentar jika Anin berkunjung ke kantor.


Anin keluar dari lift yang membawanya. Di lihatnya Siska sedang duduk di meja kerjanya dengan beberapa lembar kertas yang sedang di telitinya.


"Hai Siska." Anin menyapa duluan


"Nona Anin!!" terpekik histeris, dengan wajah gembira, Siska menyambut kedatangan istri Bosnya.


"Kangen deh sama Nona.. Maaf ya, Non. Saya tidak bisa hadir di acara Tuan kecil."


"Tidak apa-apa Sis, yang penting doanya."


"Nona tambah cantik saja." dengan tulus Siska memuji Anin.


"Tambah cantik apa tambah berisi?"


"Beneran cantik Nona, dan tambah seksi."


Keduanya tertawa bersamaan.


"Suamiku ada di dalam?" Anin bertanya.


"Ya, Nona.. Sedang ada tamu dari perusahaan lain. Tapi.."


"Tapi apa?"


Siska mengingat kejadian sebelumnya, sikap wanita itu, terlihat angkuh kepadanya. Dan sepertinya wanita itu berusaha mencari perhatian Dirga. Dari cara ia bicara, bersikap dan duduknya. Sebagai wanita, apalagi ia sudah sangat dekat dan mengenal Anin. Jiwa tidak terimanya tiba-tiba meronta tidak terima.


"Siska?" Anin menggoyang pundak Siska.


"Ya, Non." Siska tersadar dari pikirannya


"Nona masuk saja. Di dalam juga ada Pak Bayu."


Meninggalkan Siska, Anin melangkah ke arah pintu ruangan Dirga yang tidak tertutup rapat. Ia juga bisa mendengar pembicaraan 4 orang yang berada di dalam ruangan.


"Kita harus makan siang bersama Ga? Sekertarisku sudah mereservasi tempat."


Suara gemulai dari seorang wanita yang tengah duduk berhadapan dengan Dirga.


"Mas.." Anin segera masuk ke dalam ruangan di saat melihat gelagat yang kurang baik dari client suaminya.


"Sayang.." Dirga menengok ke arah datangnya suara. Ia meihat wanitanya datang dengan membawa rantang bekal.


Begitupun dengan Bayu, pria itu tersenyum penuh arti saat melihat Anin tiba serasa tepat waktu.


Dirga segera beranjak menyambut sang istri. Sang penguasa hatinya.


"Kenapa tidak mengabariku, kalau mau datang?"


"Apa aku menganggumu?" dengan lembut, Anin tersenyum dan bertanya.


"Tidak, Sayang.. Aku malah senang kamu berkunjung. Apa itu makan siangku?"


Matanya mengarah ke rantang yang masih di pegang Anin.


"Ya, aku meminta Bik Asih memasak ayam goreng mentega kesukaanmu."


"Kamu sangat tau yang aku inginkan, Sayang.." Dirga mengecup kening Anin.


Interaksi keduanya tidak lepas dari pantauan Lika. Hingga membuat wanita itu tidak tahan untuk tidak bersuara.


"Tapi Dirga akan makan siang denganku, Nona." wanita itu menatap Anin dari rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang beda.


"Oh, yaa? Apa benar Mas?" Anin bertanya dengan bibir tersenyum dan sorot mata yang membuat Dirga bergidik.


"Tidak, Sayang.. Sepertinya makanan yang kamu bawa lebih menggoda."


****


Bersambung ❤️


Galau.. Galau.. hehehe


Maaf lagi yaakk.. Untuk cerita Lia dan Diego aku skip. Kemungkinan pindah buku. Kalau di gabung disini, aku kurang puas. Kurang bisa mengeksplorasi dan kurang bisa mengangkat cerita yang ada. Berasa kurang greget gitu.


Di Anindirra aku fokuskan keseruan-keseruan dan bumbu rumah tangganya saja. Sesekali di selipi rumah tangga Bayu. Untuk kabar Andre.. sabar yaa, akan ada waktunya. Lopeee dahh 😍