Anindirra

Anindirra
Chapter 42



"Alhamdulillah Mbak... Kita sudah masuk Desa Kemuning." Bagas mengalihkan pertanyaan ketika Anin terdiam dengan pikirannya.


"Iya, Mas. Alhamdulillah..." Anin merespon ucapan Bagas.


Udara sejuk sudah mulai terasa saat memasuki Desa Kemuning Ngargoyoso. Kondisi jalan yang cenderung berliku dan menanjak memacu adrenalin Anin.


Suasana pedesaan yang nyaman dengan orang-orang yang ramah sudah terasa. Sepanjang jalan masuk Dusun Jlono. Bagas menurunkan kaca mobilnya sehingga memudahkan untuk bertegur sapa.


Hamparan kebun teh memberi keindahan bagi siapa saja yang melihatnya. Dan makin lama suhu udara semakin meninggi dinginnya sampai masuk ke pori-pori.


Senyum bahagia tersungging di bibir merah Anin dan itu tak lepas dari pandangan Bagas.


"Uuh... Sejuknya." Anin mengeluarkan kepalanya sedikit melalui jendela.


"Mbak Dirra kalau mau jalan-jalan menikmati wisata di daerah sini bisa hubungi saya Mbak. Saya siap." Bagas menawarkan jasa yang pastinya gratis.


"Iya, Mas. Pasti." Anin mengangguk mengiyakan.


"Mas Bagas panggil saya Anin saja, sepertinya kita seumuran.


"Iya Mbak.. tapi saya bolehkan memanggil dengan pangilan Dirra?


"Ya terserah Mas Bagas saja dehh..."


Bagas menyodorkan ponselnya.


"Mbak, di catat nomornya." Bagas tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Anin mencatat nomor kontaknya dan menyerahkan ponsenya kembali.


Rumah Joglo berdiri dengan kokoh di tengah-tengah rumah lainnya. Rumah yang memiliki halaman luas itu terlihat sangat indah dengan ukiran kayu jati asli. Tidak menghilangkan sedikit pun khasnya sebagai rumah asli Jawa Tengah.


Tidak semua penduduk memiliki Rumah seperti ini walau desainnya sama. Konon katanya hanya para bangsawan lah yang dulunya mampu mendirikan dan memiliki bangunan rumah seperti ini.


Dan Budenya menjadi salah satu wanita yang beruntung mempunyai suami yang masih berdarah ningrat juga memiliki kekayaan yang berlebih. Hanya saja Budenya tidak memiliki keturunan. Hingga sebagian hartanya di berikan kepada saudara sekandung suaminya.


Bagas membantu Anin menurunkan kopernya dari bagsai mobil. Ia juga menolak uang yang seharusnya menjadi bayarannya dari Anin.


"Mas, terimakasih yaa.. saya sudah di bantu loh."


"Ya, Mbak. sama-sama... tidak usah sungkan kalau membutuhkan bantuan saya."


"Mamaaaaaa..." teriakan Alea terdengar di telinga. Gadis kecil itu muncul dari dalam rumah dan berlari menghampiri Anin.


Anin berbalik ke arah datangnya Alea.


"Jangan lari Alea." Anin ikut melangkah menghampiri Alea.


Anin langsung mengangkat tubuh kecil itu dan memeluknya.


"Alea... Mama sudah bilang, jangan lari." Anin mengkhawatirkan kondisinya pasca menjalani operasi.


"Hihihi... " Alea terkikik menjawabnya.


Matanya mengarah ke Bagas yang masih berdiri di belakang Anin.


"Tu, capa Ma?" Alea bertanya dengan bibir di arahkan ke Bagas. Alea nampak lucu dengan bibir yang mengerucut.


"Alea mau kenalan?" Anin menawarkan.


"No, Ma..." Alea terlihat malu dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anin.


Bagas tersenyum melihat interaksi Ibu dan Anak itu. Tidak mau mengganggu Bagas segera pamit kepada Anin.


"Terimakasih ya, Mas."


Setelah mobil yang kendarai Bagas menjauh Anin mengajak Alea masuk.


"Ayo, Sayang. Kita masuk."


Tapi Alea menggelengkan kepalanya. Ia menatap jalanan dengan mata sendu.


Anin mengikuti arah mata Alea mencari tau apa yang di carinya.


"Alea lihat apa?"


"Papi, mana Ma?" Alea menanyakan keberadaan Dirga.


"Papi mana Ma?" Alea bertanya kembali ketika tidak ada jawaban dari Anin.


"Pa-Papi, kerja Sayang." terlihat gurat kekecewaan dari wajah Alea saat mengetahui tidak adanya keberadaan Dirga.


"Ea, mau Papi Ma..." wajahnya terlihat sedih.


"Kan, sudah ada Mama. Sama Mama dulu ya." Anin membujuknya.


"No Ma... Alea mau Papi." Mata kecilnya mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergerak terangkat kesamping menahan tangis.


Hingga ia tidak bisa menahannya Alea terisak karna keinginannya tidak terpenuhi.


Anin bingung harus bicara apa. Ia tidak mungkin menjanjikan kehadiran Dirga.


"Sayang... Jangan menangis ya." Anin mengusap air mata yang mengalir di pipi Alea dengan ibu jempolnya.


"Nanti Mama ajak Alea jalan-jalan gimana? Mau?" Anin mencoba menghiburnya. Dan Alea menggelengkan kepalanya.


"An... Suara Bu Rahma terdengar memamnggil dari teras rumah.


Anin berjalan menyeret koper dengan satu tangannya masih menggendong Alea.


"Bu," Anin mencium tangan Bu Rahma.


"Loh, cucu Nenek kenapa menangis?" Bu Rahma bertanya. Ia heran melihat Alea yang berderai air mata.


Saat menyongsong kedatangan Anin Alea masih dalam keadaan ceria.


Bu Rahma mengambil alih Alea yang berada dalam gendongan Anin.


"Ea mau Papi Nek..." tangisnya makin membesar. Ia mengadu kepada Bu Rahma.


"Papi?" Bu Rahma bertanya.


"Ea lindu Papi..." Dengan menarik hidungnya yang berisikan cairan bening.


"Sruuutt..."


Mata Bu Rahma melirik ke Anin.


"Mas Dirga, sibuk Bu. Anin kemari sendiri."


Bu Rahma dapat menangkap sesuatu yang tutupi Anin.


"Cucu Nenek kan pintar... Sudah jangan menangis. Alea lanjutkan lagi nonton kartunnya yaa.." Bu rahma merayu Alea.


Alea menganggukkan kepalanya.


"Ayo masuk An, Budemu ada di dalam kamar."


"Ya, Bu. Anin masuk ke dalam rumah di ikuti Alea dan Bu rahma.


*


*


Sudah berulang kali Dirga menghubungi nomor Anin tetapi masih belum bisa terhubung. Jawaban dari operator menandakan ponselnya dalam keadaan mati.


Dirga meraup wajahnya hingga ke kepala. Entah kenapa hatinya semakin resah. Perasaannya tidak tenang berbalut kerinduan yang menghantam dadanya.


Sosok Anin mengisi penuh kepala dan pikirannya. Ia juga merindukan sosok gadis kecil yang sedari tadi melintas di matanya. Telinganya seakan mendengar Alea memangginya.


"Aaarrggggrrrr..." Dirga mengeram frustasi.


Tidak sulit untuknya mengetahui keberadaan Anin. ia sudah memerintahkan orang-orangnya yang berada di Solo untuk mengecek dan memastikan Anin berada di Desa Kemuning. Dan sudah hampir satu jam ia belum menerima laporan.


Dirga mengeluarkan ponselnya dari saku jas saat terdengar suara dering telfon memanggil. Tertera nama Bayu yang menghubungi.


****


Bersambung❤️


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🤗🤗