Anindirra

Anindirra
Chapter 46



Kota Jakarta.


Di dalam kamar Ratna berteriak menangis. Matanya memerah sambil mulutnya tidak berhenti menyebut nama Dirga dengan memakinya. Ia melemparkan barang apa saja yang ada dalam kamar.


Hatinya sedang di landa amarah tak berkesudahan. Ia meraung, menangisi keputusan yang tidak bisa ia terima. Sungguh ia tidak menyangka akan berahir seperti ini. Keputusan Dirga menceraikannya jauh dari pikirannya. Karna yang ia tau Dirga sangat mencintainya.


Setelah puas berteriak dan mengobrak abrik seisi kamarnya. Tubuhnya luruh ke lantai. Ia menatap nyalang map yang tergeletak di lantai yang juga ia lemparkan.


Tangannya bergetar kala ia menyentuh map yang berisikan kertas putih berstempel pengadilan agama. Di kertas itu tertulis bahwa, di mulai dari tanggal dimana Dirga menjatuhkan talak dan melepaskannya. Ia sudah bukan lagi sebagai Istri dari Dirga Damar Wijaya.


Selain uang dan kekuasaan. Bukti-bukti pun memberatkannya sehingga dari pihak penggugat tidak menginginkan adanya mediasi. Dimana biasanya mediasi ini akan di lakukan sebagai prosedur dan akan di jembatani oleh hakim ataw mediator.


Ratna hanya di minta untuk menandatangani surat keputusan yang telah di setujui oleh pengadilan agama. Dan itu semua di kabulkan.


Flashback


Tok... Tok... Tok...


"Nyonya..., terdengar suara Bik Asih memanggilnya dari luar.


Ratna yang sedak asik berchat ria dengan teman sesama sosialitanya merasa terganggu. Sejak memutuskan untuk tidak lagi berpura-pura lumpuh, ia masuk lagi ke dalam grup arisannya. Ia kembali menjalani kegiatannya seperti dulu.


"Mengganggu saja!" ia berjalan dan membuka pintu.


"Ada apa Bik?"


"Anu, Nyah. Di bawah ada tamu mencari Nyonya."


"Siapa?" Ratna bertanya karna merasa tidak mempunyai janji dengan siapapun.


"Dua orang laki-laki Nyah..., dan sudah menunggu di ruang tamu."


Setelah mengganti pakaian. Ratna segera turun ke bawah. Ia berjalan menuruni anak tangga sambil berpikir kira-kira siapa tamu yang datang menemuinya sian ini.


Saat sudah berada di ruang tamu.


"Johan?" Ia mengenali salah satu pria yang tengah duduk tertunduk. Sedangkan pria yang berada di samping Johan ia belum pernah melihatnya.


"Selamat siang Nyonya Ratna." Hadi Darma berdiri sebagai bentuk kesopanannya saat kehadiran Ratna di ruangan itu.


"Iya. Anda siapa?"


"Perkenalkan, saya Hadi Darma. Pengecara dari Tuan Dirga Darma Wijaya."


Ratna menatap Johan yang ia kenal sebagai sahabatnya denga penuh tandatanya? Tetapi laki-laki itu bungkam tidak mengucapkan sepatah katapun.


"Saya datang kemari, mewakili Tuan Dirga sebagai Client saya." seraya memberikan berkas kepada Ratna.


"Anda cukup menandatanganinya. Di surat ini di jelaskan beberapa poin yang akan menjadi hak anda. Bukan sebagai harta gono gini tetapi harta atas pemberian dari Client kami."


Kedua bola matanya melebar dengan raut wajah berubah tegang. Kemarahan muncul tanpa bisa ia tahan. Ratna sangat tidak terima dengan poin-poin yang tertulis di dalamnya. Selain itu juga ia belum siap menerima perpisahaan dengan Dirga.


"Saya tidak terima! Ini sangat merugikan saya! Dan saya tidak akan menandatanginya!" melempar map itu ke atas meja.


"Bukti-bukti memberatkan anda Nyonya. Jangan mempersulit keadaan. Apa yang anda terima saya rasa cukup adil mengingat anda tidak membawa harta apapun ke dalam pernikahan."


"Saya tidak perduli!!" Ratna berteriak dan menatap tajam Hadi Darma dan Johan yang sedari tadi terdiam.


"Saya ingin mengajukan syarat."


"Syarat?" Hadi Darma menautkan alisnya.


"Anda ingin banding?"


"Tidak! Saya mau saham Wijaya Grup sebesar 15 %. Dan saya akan menandatanganinya."


Hadi Darma tertawa dengan menggelengkan kepalanya.


"Anda terlalu berani mengajukan syarat yang akan berbalik merugikan anda Nyonya! Tapi baiklah akan saya sampaikan kepada Tuan Dirga. Saya rasa tidak ada yang perlu saya sampaikan lagi. Saya akan kembali dan terimakasih untuk waktunya."


"Ratna! Jangan gila lo!" Johan bicara setelah dari tadi terdiam.


"Gua memang udah gila! Puas lo! Lo senengkan? Liat gua hancur!" Ratna meneriaki Johan.


"Gua mohon Rat... Lo pikirin lagi... Gua, tau. Saat ini lo lagi emosi. Tapi tolong, jangan mempersulit diri lo sendiri."


"Peduli apa lo sama gua hah!! Harusnya sebagai teman lo bantu gua! Bukan malah menekan gua!"


"Ratna, kita akan akan bicarakan lagi nanti. Gua akan hubungi lo. Maafin gua."


Johan kembali ke ruang tamu menemui Hadi Darma sebagai seniornya sekaligus pemilik Firma hukum tempat ia memulai karirnya sebagai pengecara.


*


*


"Kamu kenal Ratna?" Hadi Darma bertanya. Saat ia melihat Johan sebagai pendampingnya berinteraksi dengan Ratna sebagai pihak tergugat. Kedekatan nampak jelas di keduanya.


Saat ini meraka sudah berada di dalam mobil menuju kantor. Johan terdiam di balik kemudinya. Ia masih tidak menyangka akan di hadapkan dengan kasus perceraian Ratna.


Belum lama ini jenjang karirnya meningkat. Selain menjadi salah satu orang terdekat dan di percaya. Kemampuannya dalam menyelesaikan beberapa kasus hukum dengan cepat dan rapih. Menjadi salah satu poin dan pertimbangan seorang Hadi Darma.


Johan masuk dalam Associates di Firma Hukum milik Hadi Darma di bawah kepemimpinannya juga.


"Saya hanya mengingatkan kamu Johan. Karirmu baru menanjak, jangan korbankan demi sesuatu yang akan merugikanmu.


Selain pengusaha sukses Tuan Dirga memiliki jaringan yang luas dalam hukum dan di dalam pemerintahan. Belum lagi dengan orang-orangnya. Yang setia berada di belakangnya."


Menjadi pengecara sukses bukankah impianmu selama ini.


Johan menyadari seorang Hadi Darma akan terjun langsung mengurus masalah orang-orang berpengaruh di Negri ini.


*


*


Desa Kemuning


Baru saja Anin akan merebahkan tubuhnya di samping Alea yang sedang tertidur. Ponselnya kembali mengeluarkan bunyi nyaring. Dengan malas ia berjalan keluar kamar mengambil benda pipih yang tertinggal di atas meja kursi berbahan jati yang berada di ruang TV.


Berjalan kembali masuk kamar. Ia menempelkan benda pipih itu ke sisi telinganya.


"Waโ€™alaikum salam Kak."


"Akan Anin pikirkan."


"Apa, Anin bisa?"


"Kakak tidak salah menawarkan jabatan itu untuk Anin?" Ia sedikit tertawa.


"Ya, terimaksih Kak. secepatnya akan Anin kabari."


Anin bicara dengan lelaki bernama Adi. Ia pemilik Moon Cafe. Anin pernah mengunjungi Cafe-nya saat hadir di perayaan ulang tahun Mira teman sekantornya.


Pria itu menawarkan pekerjaan di Cafe miliknya. Ia mendapatkan kabar dari Mira kalau Anin telah mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja. Selain menawarkan pekerjaan ia juga memberikan posisi sebagai Meneger di Cafe-nya yang baru di bukanya di Bali.


****


Bersambung โค๏ธ


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya ๐Ÿค—


Jangan lupa simpan dalam favorit yaa...


Jika bersedia folow akun Intagram aku yaa... Supaya tau Up tiap harinya @non.esee


Terimakasih ๐Ÿ˜˜ teman-teman baruku. Ini BAB terpanjang khusus untuk kalian.


Selamat tahun baru ๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰



Anindirra