Anindirra

Anindirra
Chapter 79



Anin terkesiap melihat Dirga menghabiskan dua bungkus bakso yang di bawanya. Satu bungkus yang harusnya menjadi jatah Bayu di sikatnya juga. Pria itu makan dengan lahap, menggunakan sambal setengah sendok sudah membuatnya berkeringat kepedasan.


"Mas, pelan-pelan makannya." mengambil tissue, Anin mengelap keringat di dahi suaminya.


"Makanan ini enak." Dirga bicara dengan mulut penuh.


"Sejak kapan Mas suka bakso?" sudah beberapa hari ini, Anin merasa tingkah suaminya aneh. Tetapi ia tidak mencurigai apapun. Hanya manjanya saja yang semakin bertambah. Dan, Dirga sudah mau mencoba banyak makanan yang menjadi kesukaannya.


Dirga hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban. Pria itu asik melahap satu suapan terahir ke dalam mulutnya.


"Minum dulu." memberikan sebotol air mineral sebagai penutup makan siangnya.


**


"Mas aku boleh bertanya sesuatu?" seraya tangannya membelai rambut hitam Dirga yang sudah mulai memanjang.


Setelah makan, pria itu merebahkan kepalanya di pangkuan Anin dengan mengahadapkan wajahnya ke perut Anin.


"Hemmm..." Dirga tak henti-henti menduselkan hidungnya ke perut Anin. Entah kenapa ia sangat menginginkan menciumi perut istrinya.


"Siapa Stella?


Menghentikan apa yang di lakukannya, Dirga menenggadahkan wajahnya menatap Anin dari bawah. Ia hawatir, istrinya itu masih cemburu. Dan kalau sampai itu terjadi, bisa membahayakan dunia perkasuran. Bisa-bisa jatahnya akan tersendat lagi.


"Sayang, kenapa bertanya soal wanita itu? Kamu masih belum percaya?" hatinya mulai cemas.


"Aku percaya kepadamu Mas, hanya saja aku ingin mendengar kisah kalian." Anin membungkukkan punggung mendekatkan wajah, ia mengecup sayang kening suaminya.


"Kurang." Dirga memajukan bibirnya.


"Cerita dulu, nanti aku kasih lebih." Anin tersenyum menggoda.


"Aku pastikan akan menagihnya Nyonya."


Bangun dari pangkuan Anin, Dirga duduk bersandar di sampingnya. Membawa wanita itu agar menyandarkan kepala di dadanya. Merangkul pundak sang wanita dengan posesif.


"Dia Stella Hugo, anak tunggal dari Alfred Hugo seorang pengusaha batu permata. Orang tua Stella bersahabat dengan Daddy dan Mommy. Daddy pernah menjalin kerja sama dengan perusahaannya sebelum aku yang memegang kendali."


"Kami pernah satu sekolah sewaktu aku di Singapore. Kami berlima berteman."


"Berilma?" Anin mengangkat dagunya menatap Dirga.


"Cup." Dirga mengecup bibir Anin sekilas.


"Teruskan ceritanya." Anin menurunkan kembali tatapannya. Menelusupkan masuk, memposisikan kepalanya dengan nyaman di dada bidang itu.


"Kami satu sekolah, Stella dan Bayu, mereka dua tingkat di bawahku. Mereka juga satu kelas. Aku tidak menyadari kalau Stella menaruh suka kepadaku. Setiap hari dia selalu membawakan bekal untukku dan menitipkannya melalaui Bayu. Sampai suatu hari, Bayu meberikan sepucuk surat darinya."


"Surat cinta?"


"Ya. Dan bayu yang membacanya atas perintahku. Begitu juga dengan semua bekal yang dia berikan. Aku meminta Bayu menghabiskannya."


"Apa Mas juga menyukainya?"


"Tidak, aku tidak menyukainya. Aku hanya menganggapnya sebatas teman."


"Stella akan berpikir Mas menyukainya. Bukankah Mas tidak pernah menolak segala pemberiannya?"


"Aku tidak menolak karna tidak ingin melukai hatinya. Aku akui caraku salah, membuatnya jadi salah mengartikan." hingga ia mengetahui kebenarannya. Ia melihat Bayu sedang memakan bekalnya.


Dirga terkekeh pelan.


"Ishh... Mas itu tega." Anin memukul pelan dada Dirga.


"Bukan tega, Sayang. tapi aku tau kalau Bayu menyukainya."


"Apa karna itu Mas menolaknya? Seandainya Bayu tidak menyukainya, Mas pasti akan membalas segala bentuk perhatiannya." menunjukkan wajah cemburu, ia menarik kepalanya menjauh.


Entah kenapa ia menjadi lebih sensitif.


"Oh good! Sepertinya aku salah bicara." Dirga membatin.


"Bukan seperti itu, Sayang …aku tetap tidak akan menyukainya."


Merengkuh, menarik tubuhnya kembali ke dalam pelukannya.


"Itu masa lalu remajaku, tidak ada yang istimewa dan tidak ada yang perlu di hawatirkan." Dirga mengecup pelipis Anin, memberikan ketenangan untuk wanitanya.


"Jangan bicara seperti itu Mas, aku akan meminta agar kita pergi bersama. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu." Anin menitikkan air mata. Ia semakin dalam membenamkan kepalanya.


"Maafkan aku Mas, aku terlalu mencintaimu."


"Aku yang lebih mencintaimu, Sayang."


"Tapi aku lebih banyak." Anin tidak mau kalah.


"Banyakku berkali-kali lipat. Sehingga kamu tidak mampu melampauinya."


Keduanya saling menatap. Menumpahkan cinta lewat mata yang tersirat.


"I love you Anindirra." Dirga ******* bibir merah itu dengan rasa haru di balut kebahagiaan yang membuncah. Rasa berdebar itu akan selalu ada.


"Tetaplah seperti ini, jangan pernah berubah My Angel." saling memuja penuh damba. Dan atas nama cinta keduanya saling menguatkan ketika sudah menemukan cinta yang sesungguhnya.


*


*


*


Di luar dari Negara Indonesia.


Malam ini Stella tidak merasa happy di tengah hingar bingarnya acara party temannya. Ia datang sebagai tamu undangan di salah satu night club terbesar di Negri Singa yang berada di kawasan hiburan malam. Marina Bay Sands.


Tidak seperti biasanya, Stella akan tertawa bahagia dan meliukkan tubuhnya mengikuti musik electro yang di mainkan oleh DJ ternama dengan pencahayan remang di dance foor.


Biasanya ia sangat menikmati Lighting dan soun yang memekakkan telinga. Dengan beteriak setelah menenggak Bourboun yang sudah di racik sebagai penghangat tubuhnya agar ON.


Dua orang wanita blasteran yang juga temannya, menarik tangannya untuk turun ke lantai bawah.


"I'm Sorry... Aku sedang tidak menginginkannya." Stella menolak, memilih duduk di sofa sets.


"Kemana Stella si ratu pesta? Ada apa denganmu malam ini?" salah satu temannya bertanya dengan berteriak agar terdengar.


"You, Ok.?"


"Yahh... I'm Ok. Nikmati malam kalian girl." Stella balas mengencangkan suaranya.


Stella duduk dengan menikmati orange juice yang di pesannya. Pikirannya melayang, menginggat pria yang sudah dua hari ini tidak menanyakan kabarnya.


"Hai Darling.." seorang pria dengan penampilan rapih duduk di samping Stella tanpa permisi.


Stella terkejut melihat siapa laki-laki itu.


"Hentikan Stev, jangan memanggilku seperti itu." Stella nampak tidak suka dengan kehadirannya.


"Why? Kamu akan menjadi istriku." Pria itu dengan santai bicara sambil menenggak whisky di tangannya.


"Itu tidak akan terjadi Stev, berhenti mempengaruhi Papa." Stella akan beranjak bangun dari duduknya, tetapi tangannya di tahan oleh pria yang benama Steven.


"Papamu yang menginginkanku. Apa kamu tidak mengetahuinya?" Steven tersenyum mengerikan.


"Jangan libatkan aku dengan urusan bisnis, aku mohon." Stella nampak putus asa. Ia sangat mengenal Steven. Pengusaha kaya dengan segala ambisinya. Memiliki wajah tampan tak cukup membuat Stella menyukainya.


Ia menginggat ucapan orang tuanya saat ia kembali dari Indonesia.


"Papa akan menikahkanmu dengan Steven partner bisnis Papa. Papa tidak ingin mendengar kamu menolaknya. Kamu sudah dewasa, sudah waktunya memiliki pasangan. Berhenti bermain-main Stella. Papa sudah cukup bersabar mengikuti keingianmu untuk menunggu Dirga. Pria itu sudah menikah, dia bahkan menolakmu. Papa sudah memilihkan pria terbaik untuk menjadi suamimu."


"Aku menginginkanmu Stella. Berhentilah bersikap seperti ini." pria itu semakin mendekat dan menyentuh wajah Stella.


"Stop it Stev!! Menjauh dariku." Stella berusaha melepaskan tangan Steven dari wajahnya.


"Jangan jual mahal Stella. Banyak wanita yang datang mendekat kepadaku. Dan aku bisa memilikinya tanpa aku minta."


"Kalau begitu lepaskan aku! Pergilah bersenang-senang dengan wanitamu."


****


Bersambung ❤️


Mohon dukungannya ya 🤗 like komen hadiah dan votenya 🙏 Terimakasih 😘