
Senam hamil yang di jalani Anin berlangsung selama 30 menit. Keringat mulai membanjiri tubuhnya. Ia mulai melakukannya diawali dengan gerakan yang paling ringan, karena selain baru permulaan, ia jarang melakukan olah raga.
Sebenarnya Dirga sudah memfasilitasi ruang Gym di rumahnya, hanya saja belum sempat ia mencoba semua peralatan. Kehamilan datang menganugrahinya.
Bik Asih menyodorkan botol berisikan air putih yang sengaja di bawanya dari rumah. Pekerja rumah tangga itu dengan telaten melayani Nyonya-nya
"Non istirahat dulu." Bik Asih meminta wanita hamil itu agar duduk di bangku besi agar lelahnya hilang.
"Nona lapar? Bibik bawa cemilan." wanita itu membuka kotak bekal yang di dalamnya ada kue cubit hasil buatannya.
Anin mengambil satu kue, memasukkan ke dalam mulutnya. "Enak Bik." ternyata benar, suaminya itu mengingatkannya untuk membawa makanan. Setelah mengikuti senam, selain badanya terasa lebih segar, perutnya pun semakin lapar.
"Oh, suamiku kamu memang yang terbaik." Anin tersenyum mengingat proteknya Dirga akan banyak hal, apalagi yang berurusan dengan perut.
****
Menuju gedung Wijaya Grup menuruti keinginan Dirga yang memintanya agar datang ke kantornya.
"Apa perlu saya antar sampai atas Non?" Agus bertanya sebelum Anin turun dari mobil.
Tidah usah Gus, langsung pulang saja dengan Bik Asih, saya akan pulang dengan Tuan."
"Siap, Non."
"Ini Non, di bawa saja bekalnya." Bik Asih menyerahkan kotak bekal kepada Anin agar di bawanya.
"Selamat siang Nyonya." seperti biasa security gedung itu akan menyapa Anin dengan ramah. Pria berseragam itu akan selalu membantu membukakan pintu lift menuju lantai 17 dimana ruangan Bosnya berada.
"Si Neng teh Sudah hamil, wahhh... sebentar lagi pasti ada bonus ini mah..! Si Bos sebentar lagi mau punya anak. Hebat euy.!" seperti yang sudah-sudah, pria berpangkat kepala security itu akan selalu berkomentar setelah pintu tertutup.
Keluar dari lift Anin tak menemukan Siska sang sekertaris di meja kerjanya, biasanya wanita itu sedang serius menatap layar komputer. Anin melangkah ke arah pintu ruangan suaminya, ia dapat melihat pintu itu tidak tertutup rapat dan ada celah sedikit.
"Apa Siska ada di dalam?" Anin bertanya sambil melangkah terus mendekat. Ia mendengar pembicaraan dua orang pria yang ia kenal suaranya. Cukup lama wanita hamil itu berdiri di balik pintu, hingga ia mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di belakangnya.
Anin membeku beberapa saat, kenapa suaminya tak berterus terang kepadanya. Tiba-tiba suara Siska mengejutkannya.
"Nona Anin."
"Brakk..!" terlalu serius mendengarkan pembicaraan membuat kotak bekal yang di pegangnya terjatuh karena terkejut.
"Ya ampun Sis! Kamu mengagetkan saya."
"Maaf, maaf Nona..." Siska berjongkok mengambil kotak makan yang terjatuh di lantai, begitu juga dengan dua pria yang berada di dalam. Dirga menyadari kehadiran istrinya. Pria itu langsung beranjak dari kursi menuju pintu.
"Sayang, kenapa tidak masuk? Sudah dari tadi?" Dirga bertanya-tanya dalam hatinya, apakah istrinya mendengar pembicaraannya dengan Andre yang datang menemuinya.
"Tidak Mas, aku baru datang." Anin bicara dengan tidak menatap wajah suaminya.
Andre yang sedang duduk pun ikut beranjak menuju pintu, ia pun menyadari kehadiran mantan istrinya. Dan ia berniat akan segera undur diri.
"Maaf Tuan Dirga, saya akan kembali. Terimakasih untuk semuanya." Andre menatap sekilas kepada wanita yang semakin cantik dan seksi dengan kehamilannya. Apa lagi saat Anin menguncir rambutnya, ia sangat mengaguminya, dulu saat masih bersama, ia sering meminta wanita itu mengikat rambut hitamnya.
Tatapannya kepada Anin, tak lepas dari pantauan Dirga, dan pria itu sangat tidak menyukainya.
"Silahkan keluar." suara tegas dan sorot mata tajam menyadarkan Andre.
Dirga membawa Anin agar duduk di sofa. Wanita hamil itu masih terdiam tak mengeluarkan kata. Ia tak menyangka suaminya menyembunyikan sesuatu yang berurusan dengan keluarga Andre.
"Siska, tolong buatkan teh hangat."
"Baik Tuan."
Dirga berlutut di hadapan istrinya yang tengah duduk tertunduk. Pria itu meraih keduan tangan istrinya dan menempelkan di kedua pipinya. Sesekali pria itu mengecup telapak tangan Anin.
"Maaf, aku tidak bermaksud tidak jujur kepadamu. Aku hanya tidak ingin membebani masalah yang masih sanggup aku tangani. Apa lagi dengan kondisimu sekarang."
"Kamu harus fokus dengan Babby kita. Kesehatan dan perkembangannya lebih penting." meletakkan kedua tangan Anin di paha, tangannya berganti meraup kedua sisi pipi Anin.
"Lihat aku, jangan menunduk."
"Apa mereka akan mengambil Alea Mas?" Anin menatap mata Dirga dengan sendu.
"Hei... Jangan khawatir, Sayang β¦itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik keluargaku, menganggu ketenanganmu dan juga putriku. Aku akan menghancurkannya bila perlu. Tidak perduli walau aku hanya ayah sambung bagi Alea.
Dia tetap putriku dan sampai kapanpun akan tetap menjadi putriku. Darah bukan menjadi alasan untukku untuk tidak memberikan nama belakangku kepada Alea.
Flashback
Andre memutuskan datang ke gedung Wijaya Grup untuk menemui Dirga.
Saat ia bicara dengan Diana, Jaya Herlambang ternyata mendengar pembicaraan mereka berdua. Di satu sisi ia bahagia mengetahui cucunya sudah tumbuh besar dengan keadaan sehat. Dan di sisi lainnya, hatinya ikut sedih, bukan karena perusahaannya yang terkena Block. Akan tetapi ia tidak bisa menemui dan mengenal cucunya.
Sebagai suami ia merasa gagal dan kalah, ia terlalu menuruti keinginan istrinya. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, di olah seperti apapun tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula.
Di masa tuanya, seharusnya ia sedang bermain dengan cucunya. Menarik nafas panjang, pria tua itu bicara kepada putranya.
"Cobalah menemui Tuan Dirga Ndre. Bicarakan dengan kepala dingin dengannya, Papa yakin pria itu mau mengerti. Mengalahlah demi untuk kebaikan. Kita harus mengakui kesalahan yang telah kita buat. Papa hanya menginginkan bisa bertemu dengan cucu Papa. Itu saja. Masalah nama belakang, Papa serahkan semuanya kepadamu. Bila perlu papa yang akan menemui Tuan Dirga."
"Tapi pa ! Alea itu cucu kita."
"Diam!" Jaya nampak tak suka mendengar ucapan istrinya. "Ini semua karena keinginanmu Diana. Berhenti berbuat semaumu. Aku sudah cukup diam dan mengalah selama ini.!"
Disinilah Andre sekarang duduk di kursi berhadapan dengan Dirga. "Saya mohon Tuan Dirga. Demi orang tuaku, ijinkan kami bertemu Alea. kami tidak akan mengusiknya, walau tanpa surat perjanjian, saya berjanji tidak akan mengambil Alea dari anda dan Anindirra.
Kami hanya ingin Alea mengenal kami."
"Kalau harus menunggu sampai dia dewasa, umur tidak akan ada yang tau Tuan, aku hanya memikirkan Papa yang sudah mulai sakit-sakitan. Kami mengakui kesalahan kami.
Kami juga sadar pasti akan berat untuk Alea mengetahui yang sebenarnya dengan umurnya saat ini. Alea masih sangat muda untuk mengetahui kebenarannya. Saya pastikan, kami tidak akan menemuinya tanpa seijin dan sepengetahuan Anda.
****
Dirga membawa tubuh Anin ke dalam pelukannya. Wanita hamil itu tengah menangis, mengingatkan-nya lagi kejadian 3 tahun yang lalu, perlakuan Diana kepadanya, kepada Alea. Dari mulai putrinya terlahir ke dunia, seorang Nenek yang seharusnya menyambut gembira kehadiran cucunya, malah sama sekali tidak datang walau hanya sekedar menengok dan mengenal keturunannya.
"Jangan menangis, Sayang.. Kita akan konsultasi ke psikilogi anak. Kamu tidak boleh berpikiran macam-macam. Kamu hanya boleh memikirkanku dan anak-anak kita. Yang lainnya biarkan aku yang mengurusnya." Dirga mengusap pipi yang basah oleh airmata.
"Bagai mana kalau hari ini kita ke.."
"ROSS BUTIQ ?"
"BUTIQ ?"
"Ya, bukankah kamu belum membeli gaun untuk acara pesta Bayu dan Stella. Aku ingin istriku tampil cantik mengalahkan pengantinnya."
"Ayo... Aku akan menemani kemanapun kamu inginkan hari ini."
"Kuberikan free waktu. Khusus untuk wanita tercantik belahan jiwaku."
****
Bersambung β€οΈ
Mohon dukungannya teman teman π€ cuma like saja pun tak apa, aku sangat berterimakasih ππ