
Bertempat di ballroom hotel milik pribadi. Pesta pernikahan seorang pengusaha bernama Dirgantara Damar Wijaya dan seorang gadis sederhana di gelar dengan sangat tertutup tapi tidak mengurangi kesan mewah untuk sebuah pesta.
Hanya beberapa wartawan sebagai perwakilan dari media elektronik dan media cetak yang mendapatkan undangan yang hanya di ijinkan masuk.
Sore ini tepat pukul 4 acara akad nikah akan di laksanakan. Dirga harus mengulang kembali mengucapakan salah satu syarat pernikahan secara sah di mata hukum dan negara.
Menggunakan baju pengantin serba putih, pria itu sudah siap duduk di kursi dengan meja yang telah di dekorasi untuk di persiapkan sebagai tempat mengucapkan janji. Duduk di depan penghulu dan saksi, dengan wali hakim sebagai wali nikah dari pihak perempuan. Beberapa khalayak yang datang turut menyaksikan momen sakral itu.
Hanya pihak keluarga, orang-orang terdekat, para colega, beberapa patner bisnis dan para petinggi perusahaan yang di undang.
Mengangkat tema romantis bertabur dengan bunga mawar merah dan putih, ballroom itu di sulap menjadi sangat indah, dekorasi itu sangat megah. Dirga memilih bunga mawar sebagai ungkapan dan makna rasa cinta yang menggebu terhadap pasangannya. Sedangkan bunga mawar putih melambangkan cinta yang suci.
Memakai kebaya modern dengan di padu padankan dengan kain sasirangan yang merupakan kain adat dari suku banjar kalimantan selatan. Anin nampak terlihat sangat cantik duduk di samping Dirga dengan hati berdebar. Menunggu sesuatu yang akan di dengarnya. Momen ini lebih mendebarkan dari akad nikah sewaktu di solo.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Anindirra binti Diryawan dengan mas kawin cincin berlian 310 karat di bayar tunai!!" keluar dari mulut Dirga dengan lancar dan tegas.
"SAH?" Penghulu bertanya.
"Saaaahhhh..." serempak para saksi mengucapkan bersamaan.
Ucapan penuh syukur dan doa di ucapkan bersama-sama dengan perasaan gembira oleh kedua mempelai dan keluarga.
Untuk kesekian kalinya Bu Rahma menitikkan air mata. Ia merasa lega dan tidak salah ketika menyetujui pinangan Dirga. laki-laki yang mendadak menikahi sirih putrinya dan menepati janji membawa pernikahan itu menjadi sah secara hukum dan negara.
Selesai acara ijab kabul, ada jeda selama 3 jam untuk beristirahat sejenak menunggu pukul 7 untuk melanjutkan pesta pernikahan.
*
*
*
Alea duduk di samping Anin di depan meja rias. Gadis mungil itu sangat semangat mengikuti acara pernikahan yang ia ketahui sebagai pesta ulang tahunnya. Ia minta di rias dan menggunakan gaun yang sama dengan Anin. A-Line Dress berwarna putih itu menjuntai indah hingga ke lantai.
Hanya saja untuk gaun Alea, Anin memilihnya hanya sebatas lutut.
"Ea cudah sepelti plincess Elsa kan Ma?" Alea memutar tubuhnya di depan kaca.
"Ya, sayang, sama seperti princess Elsa. Cantik..."
"Bagaimana Mbak, sudah siap pengantinnya?" Bu Rahma masuk ke ruang make-up, bertanya kepada MA yang bertanggung jawab merias Anin.
Karna acara akan segera di mulai.
"Sudah Bu. Sudah oke." pihak MA menautkan ibu jempol dengan ujung telunjuk membentuk bulatan.
"Mas Dirga ada dimana Bu?"
"Suamimu dan kedua orangtuanya sudah berada di ballroom sedang menyambut beberapa tamu penting."
Di bantu Bu Rahma dan Arleta, Anin berjalan menuju kursi pelaminan dengan menggengam tangan Alea yang berada di sampingnya. Sedangkan Lia membantu mengangkat gaun yang terseret di lantai.
Dirga tak berkedip ketika Anin muncul dari pintu. Sungguh wanita itu berubah berkali-kali lipat cantiknya malam ini. bibirnya tersenyum mendapati wanita kecil berjalan di samping permaisurinya.
Tanpa menunggu lagi, ia segera menyambut kedatangan dua wanita bak putri kerajaan.
"Kamu sangat cantik, Sayang." Dirga meraih jemarinya.
"Ea juga cantikkan pih?"
"Oh, iya sayang. Putri papi yang paling cantik." Dirga mencium kedua pipi mungil itu.
"Tapi Ea gak mau duduk di kulsi. Ea mau jagain kue besalnya Ea, boleh ndak?"
"Boleh, tapi janji, tunggunya sambil duduk ya." Anin memberi kode kepada Lia agar mengawasinya.
Para colega, patner kerja dari Dirga maupun Tuan Bastian, serta para petinggi perusahaan satu persatu mulai naik untuk mengucapkan selamat. Wajah ramah mereka tunjukkan untuk kedua mempelai.
Bu Ranti tampak tak percaya, mengetahui Anin yang pernah menjadi bawahannya sebagai karyawan kontrak berdiri sebagai mempelai wanita.
Tak berselang lama, Anin di buat terkejut saat matanya melihat kehadiran seorang wanita yang pernah di lihatnya di mall. Wanita yang merebut paksa gaun pilihannya. Otaknya langsung mengingat akan pengakuannya sebagai kekasih pemilik gedung, yang tak lain adalah Dirga.
Menggunakan gaun pesta model Corset Long Dress dengan belahan kaki sampai ke paha, wanita itu sangat terlihat seksi. Tak di pungkiri akan kecantikannya yang memiliki wajah blasteran. Dengan anggun dan gemulai Stella naik ke pelaminan. Di susul oleh bayu berada di belakangnya.
Untuk menjaga hubungan baik persahabatan kedua orang tuanya, Dirga memberikannya undangan.
Berjalan mendekat ke sepasang pengantin, Stella memilih memeluk tubuh Dirga dengan erat. "Kamu tega Ga." ia membisikkannya di telinga Dirga. "Tapi, selamat untukmu."
Sebelum terjadi hal yang tidak di inginkan. Bayu segera menarik tangannya untuk segera menjauh dari kedua pengantin.
"Aku turun dulu. Aku ingin mencari minuman dingin." Anin memilih turun sebentar dari pelaminan saat tamu undangan sudah mulai berkurang. Selain ingin meredakan rasa cemburunya, ia juga melihat kedatangan Dewi dan Aldi teman kerjanya.
Dewi memeluknya dengan mengucapkan banyak ucapan selamat.
"Aku tidak menyangka An, jodohmu ternyata Tuan Dirga. Aku sampai harus mengulangnya lagi, memastikan nama pengantin wanitanya di kartu undangan." luapan kaget bercampur gembira di tunjukkan oleh Dewi malam ini.
"Ya Wi, maaf. Aku belum sempat menghubungimu kembali."
"Aku paham Nyonya Presdir. Aku memaklumi kesibukanmu." Dewi menggoda temannya.
"Selamat ya An." Aldi ikut menimpali.
Di sambung dengan kehadiran Mira yang membawa Adi sebagai teman pasangannya.
"Selamat ya An, ini benar-benar surprise An.." setelah memberikan selamat, Mira mundur memberikan ruang untuk Adi.
Adi mengulurkan tangannya, Ada rasa kecewa di hatinya saat mengetahui wanita incarannya telah menikah secepat ini. Tetapi ia tetap berusaha tersenyum menutupi rasa di hatinya.
"Kamu belum sempat membalas tawaranku An, dan aku sudah mendengar kabar pernikahanmu dari Mira. Untuk membuktikannya. Aku harus mendampingi Mira ke pesta ini." Adi tertawa hambar.
"Terimakasih Kak Adi. Maaf aku belum memberi kabar … aku..."
"Sayang, kamu meninggalkanku terlalu lama. Aku menunggumu dari tadi." Pria posesif itu merangkul, membelitkan tangan kokohnya di pinggang Anin.
"Selamat Tuan Dirga." Adi kembali mengulurkan tangannya.
"Ya, maaf. Kalau istriku tidak memberikan jawaban tawaranmu. Istriku tidak membutuhkan pekerjaan. Saya harap anda paham dengan statusnya saat ini."
Dirga menekan kata 'status' ia menunjukkan kepada pria di hadapannya bahwa Anin adalah Istrinya. Dan tidak akan kekurangan segala macam bentuk materi setelah menjadi istrinya.
Melihat susana yang mulai tidak kondusif. Anin memutuskan segera menarik tangan Dirga untuk kembali ke atas.
"Maaf kak, aku tinggal. Di nikmati sajiannya."
Sebelumnya.
Di atas pelaminan Dirga sangat resah ketika Anin berlama-lama di bawah menyambut kedatangan teman-temannya. Pria itu sadar istrinya sedang merajuk cemburu karna Stella. Lebih tepatnya, ia tidak bisa menghindar saat Stella memeluk dan mengecup pipinya.
Seperti terbalaskan, hatinya balik terbakar cemburu ketika Anin di kelilingi beberapa lelaki. Ikut meninggalkan kursi pelaminan ia mengambil langkah seribu menjemput wanitanya.
****
Bersambung ❤️
Aku kasih satu bab lagi. Kasian noh para pembaca yang udah siap-siap mau kondangan. Ampe pesen baju seragam 😁😁 Jam 7 di harap datang yah..
Jangan lupa like komen hadiah dan votenya sebagai angpao 🙏
Terimakasih 😘