
Sudah empat hari berlalu dari mulai ia menempati rumah baru. Selama itu pula Dirga di sibukkan dengan pekerjaannya di kantor. Pulang larut malam, terkadang Anin ketiduran menunggunya.
Rencana ingin konsultasi ke dokter kandungan pun masih tertunda. Terkendala jadwal Dirga yang padat. Yang mengharuskan ia mengkesampingkan keinginannya.
Seperti pagi ini, mendadak ia harus pergi ke luar kota. Ada masalah di pengiriman barang, untuk salah satu swalayan miliknya. Ia harus mengadakan rapat dadakan dengan para kepala cabang.
"Apa, Mas akan menginap?" Anin bertanya sambil mengancingkan kemejanya. Aktifitas itu rutin ia kerjakan saat Dirga mengenakan pakaian di pagi hari. Pria itu akan bermanja-manja, selalu minta di perhatikan dan di layani segala keperluannya. Dengan tangan, tidak lepas dari pinggang istrinya.
"Lepaskan tanganmu Mas, aku tidak bisa bekerja dengan cepat. Nanti Mas kesiangan."
Bukannya melepaskan, tangannya semakin erat melingkar di pinggang wanita cantik yang selalu ingin di makannya.
"Maaf, sudah beberapa hari ini, aku pulang larut malam. Waktuku lebih banyak mengurus pekerjaanku. Dan hari ini aku harus meninggalkanmu ke luar kota." ia menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu, Sayang." ia menghirup aroma tubuh yang selalu di rindukannya.
"Sudah 4 hari ini aku tidak mendapatkan jatahku. Sepertinya aku harus memintamu agar lebih sering mengunjungiku di kantor."
Anin mengurai pelukannya, menatap dalam wajah suaminya. "Ide yang bagus, aku akan membawakan makan siang. Dan aku akan menunggumu suamiku." melingkarkan tangan di leher, kakinya berjinjit agar bisa meraih bibir pria yang di rindukannya juga.
Di sambut dengan penuh damba oleh Dirga. Ia membalas ciuman itu lebih semangat, lebih dalam lagi. Seperti sedang kehausan, ia terus mengabsen setiap titik rongga yang ada dengan lidahnya. Hingga suara panggilan dan ketukan pintu menghentikan kegiatannya.
Tok... Tok... Tok...
"Maaf Nona, Pak Bayu sudah menungu Tuan di bawah."
Anin tertawa melihat wajah Dirga yang tertekuk kesal. "Mengganggu saja." pria itu bersungut-sungut mendapat gangguan dari luar.
"Bersiaplah, Sayang. Kamu harus segera berangkat kerja. Asistenmu sudah menunggu di bawah."
"Kumpulkan uang yang banyak untukku. Istrimu ini pengangguran, dan hari ini istri Tuan Dirga itu sepertinya ingin belanja, menjalani perannya menjadi Nyonya dengan memborong seluruh isi toko." Anin tersenyum manja menggoda suaminya.
"Baiklah Nyonya, habiskanlah uang suamimu itu. Dia butuh bantuanmu untuk menghabiskannya. Nikmati kesenanganmu hari ini. Bawa Lia, agar ia bisa menjagamu. Dan jangan lupa, setiap jam mengabariku." Cup, Dirga mengecup bibir merah yang membengak akibat ulahnya.
"Mas tidak sarapan dulu" Anin bertanya saat keduanya menuruni anak tangga, bergelayut manja, dengan penuh kemesraan.
"Maaf, Sayang. waktunya tidak sempat. Aku harus sudah berada di sana sekitar pukul 10."
"Hati-hati di jalan. Dan jangan nakal."
Aninnya mengantarnya sampai pintu
"Siap, Nyonya … aku milikmu." Dirga kembali mengecup keningnya, sebelum ia masuk ke dalam mobil milik Bayu yang sudah menunggunya.
*
*
*
Anin sudah berada di mall, tepatnya di dalam swalayan terbesar Hiromart. Membaca dengan teliti catatan belanjaan yang akan di belinya. Mencari barang satu persatu di rak sesuai dengan yang di inginkannya.
"Apa masih ada yang kurang ya?" Anin bertanya kepada Lia yang mengekor di belakang sambil mendorong troly.
"Sudah cukup Non, pesanan kebutuhan dapur dari Bik Asih juga sudah ada semua." Lia memperlihatkan beberapa jenis ikan dari dalam troly.
Troly itu sudah penuh dengan barang belanjaan mingguan yang di butuhkan.
Pegawai swalayan laki-laki datang mendekat. "Selamat siang Nona. Mari saya antarkan barang belanjaan Nona ke kasir. Setelah kami cek, kami akan mengantarnya langsung ke alamat. Apa semuanya sudah selesai Nona. Tidak ada yang kurang?"
"Sudah. Tapi biarkan kami saja Pak, terimakasih bantuannya."
"Tidak, Nona. Ini udah menjadi tugas kami." Pria berseragam itu mendorong, mengambil alih troly yang di dorong Lia.
"Lia, kenapa kamu biarkan? Belanjaan kita mau di bawa ke mana?"
"Di bawa ke kasir Nona. Jangan khawatir. Belanjaan kita akan sampai dengan selamat." Lia mengacungkan jempolnya seraya memperlihatkan gigi gingsulnya.
"Kog bisa? Kamu ini aneh deh?" masih di liputi banyak pertanyaan dan kebingungan, Anin masih belum ingat kalau swalayan ini salah satu usaha yang di milik oleh Wijaya Grup.
"Nona lupa ya? Swalayan inikan milik Tuan."
"Kenapa kamu lebih tau Lia?"
"Maaf, Nona. Tiba-tiba saja saya ingat ." Dengan khas senyumannya Lia nyengir memberi jawaban kepada istri Tuannya.
"Oh ya?" Anin menatap curiga
"Iya Nona." Lia membuang pandangannya ke rak, melihat-lihat beberapa produk.
"Tetap saja kita harus mmbayarnya Lia."
Anin segera menyusul pegawai swalayan yang membawa troly berisiskan barang belanjannya ke meja kasir.
Keluar dari dalam swalayan. Anin mulai mengitari beberapa toko pakaian. Ia memasuki sebuah toko pakaian dalam dengan brand ternama.
"Selamat datang. Silahakan Nona, banyak koleksi terbaru untuk bulan ini." pelayan toko wanita menyambutnya dengan ramah.
Terimakasih Mbak." di balas senyuman ramah oleh Anin.
Saat asik memilih-milih baju tidur yang tergantung. Matanya tertuju Chemise berwarna pich dengan tali tipis di bagian pundak yang di pakaikan di manekin.
Tangannya menyentuh gaun tidur itu bersamaan dengan suara seorang wanita.
"Hei Nona! Aku menginginkan gaun tidur itu."
Anin menengok ke arah datangnya suara. Seorang wanita dengan rambut berwarna blonde datang mendekat. Wanita itu langsung menjauhkan manekin dari Anin.
"Maaf, Nona. Tetapi saya yang lebih dulu menyentuhnya." Anin sedikit kesal melihat arogannya wanita itu.
"Aku menginginkannya. Dan gaun itu lebih cocok untukku." wanita berambut pirang itu bicara dengan tangan bersedekap sambil memperhatikan penampilan Anin.
"Ada apa Non?" Lia datang mendekat, mendengar perdebatan Nonanya.
"Tidak apa-apa Lia. Hanya masalah gaun."
Pelayan toko yang menyambut kedatangan Anin tadi datang mendekat.
"Anda bisa memilih koleksi yang lain Nona. Ia menawarkan pilihan kepada wanita itu.
"Gaun ini sudah di pilih duluan oleh Nona itu..."
"Kamu tau! Gedung ini milik kekasihku. Apa kamu mau toko ini aku tutup!" wanita itu tampak tidak suka mendengar ucapan pelayan toko itu.
"Ma-maaf Nona, baiklah akan saya bungkus." pelayan itu memilih membawa gaun itu ke meja kasir.
"Eh, Mbak. Tapi Nona saya yang lebih dulu memegangnya." Lia tidak terima saat pelyan itu lebih memilih wanita yang di anggapnya sombong.
"Sudah Lia. Tidak apa-apa, aku bisa memilih model yang lain." Anin tidak mau memperpanjang masalah gaun yang ia pilih. Ia pun mengerti akan ketakutan pelayan toko itu.
"Bukan seperti itu Nona. Saya tidak suka caranya. Sombong sekali dia, mengaku-ngaku kekasih dari pemilik gedung ini. Dia tidak tau saja siapa Nona." Lia terus bersungut-sungut.
Deg.
"Bukankah pemilik gedung ini Tuan Dirga ? Lia baru menyadari ucapan wanita tadi. "Tidak mungkin." Lia mengelengkan kepalanya. "Tuan kan sudah menikahi Nona." Lia bertanya-tanya dalam hatinya.
Moodnya rusak, Anin memilih keluar dari dalam toko itu. Ia ingin mencari gaun tidur di tempat lainnya.
"Maaf, Nona. Apa tidak ingin mencoba koleksi yang lainnya. Masih banyak keluaran terbaru dari brand kami." pelayan toko itu merasa tidak enak hati dengan Anin karna ia lebih menuruti keinginan wanita yang mengancamnya.
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya teman-teman 🤗
Semoga ikhlas memberikannya 🙏
Terimakasih 😘