
Menunggu kurang lebih 4 jam di depan pintu ruang operasi Stella tak sedikit pun beranjak meninggalkan kursi yang di dudukinya sampai menjelang pagi. Ia harus memastikan operasinya berhasil dan berjalan dengan baik.
Bastian memesan satu kamar yang cukup luas untuk mereka semua beristirahat. Amanda segera datang menyusul ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar dari Alyne. Wanita itu membawakan makanan serta baju ganti untuk Stella.
Sedangkan Bastian dan Mustafa, membantu mendampingi Alfred untuk di mintai keterangan sebagai saksi. Pria itu harus menjawab beberapa pertanyaan yang di ajukan pihak penyidik.
Karna kondisi Alfred yang sedang dalam keadaan terluka, Bastian meminta introgasi itu di lakukan di rumah sakit tanpa harus datang ke kantor kepolisian. Dengan nama besar yang di milikinya tentunya pihak berwajib mengabulkannya.
**
Setelah mengganti pakaian Stella tidak bisa beristirahat barang sebentar pun. Wanita itu ingin kembali ke ruangan dimana Bayu sedang menjalani observasi pasca operasi.
Operasinya berjalan dengan baik dan setelah tindakan di lakukan oleh tim medis di dalam ruang operasi, Bayu di pindahkan ke ruang transisi. Kondisi fisik Bayu masih harus di pantau karena pria itu belum sadar setelah melewati masa kristisnya.
Dua peluru yang menyasar perutnya, kemungkinan akan membutuhkan waktu lama untuknya benar-benar pulih. Bila tidak terjadi komplikasi dan telah sadar sepenuhnya, maka tim medis akan memindahkanya ke ruang perawatan.
"Makanlah dulu Stella, setelah itu baru ke ruang ICU." Amanda memberikan roti isi daging, agar kondisi fisik putrinya tidak ikut drop. Sejak semalam, wanita itu belum mengistirahatkan tubuhnya.
"Aku tidak lapar Momm …bagaimana aku bisa makan, sedangkan aku belum mengetahui perkembangan Bayu." wajah cantik itu terlihat murung.
"Maafkan Mommy Stella, Mommy dan Daddy membuat keputusan yang salah. Kami terlalu menginginkanmu segera menikah di umurmu yang sudah tidak muda lagi …mengenal Steven, membuat kami lupa dan memaksakan keinginan kami.."
"Semuanya sudah terjadi Mom... Saat ini, aku hanya menginginkan kesembuhan Bayu. Aku mencintaimu Bayu Mom."
**
Di luar ruangan, Alyne sedang menghubungi seseorang. Sudah berapa kali panggilan, tetapi nomor kontak putranya masih belum bisa di hubungi.
Wanita itu mencemaskan kondisi kehamilan menantunya, setelah ia menghubungi Bik Asih dan mendapatkan kabar kalau Dirga membawa Anin ikut serta ke negri ini.
Bukan tanpa alasan ia begitu cemas, menantunya itu baru saja selesai menjalani perawatan karna kondisi kehamilannya yang lemah. "Mungkin mereka masih berada dalam pesawat." Alyne mengambil kesimpulan.
Ia dan suaminya menyambut gembira saat mendengar kabar kehamilan Anin. Hanya saja, mereka belum sempat berkunjung ke indonesia ketika Anin harus di larikan ke rumah sakit. Melalui sambungan telfon dan video call mertua dan menantu itu saling memberi kabar.
*
*
*
Keluar dari Changi airport, Dirga dan Anin langsung menuju rumah sakit. Mereka di jemput oleh mobil perusahaan dan tengah dalam perjalanan. Mengirim Bayu ke Singapore membuat pria itu merasa bersalah.
Ia tidak ada bersamanya di saat asisten sekaligus best friend itu berjuang untuk mendapatkan cinta sejatinya dan membongkar kebusukan lelaki yang menjadi saingannya.
Anin sudah mendengar ceritanya dengan jelas saat berada di dalam pesawat.
"Jangan menyalahkan dirimu, Mas." mengusap lembut lengan suaminya.
Anin mengerti apa yang di rasakan Dirga saat ini. Dari mulai remaja sampai berumur dewasa. Dirga dan Bayu selalu bersama-sama dalam menyelesaikan masalah baik pribadi maupun di perusahaan. Dua sifat yang saling berbeda tetapi memiliki keterikatan yang kuat.
Tidak banyak yang tau di balik ke-profesionalan kerja yang mereka jalani, keduanya saling bahu membahu dalam hal apapun. Masih jelas di ingatan saat dirinya tertarik dengan Anin, Bayu bergerak dengan cepat mencari info wanita yang di inginkannya, begitu juga saat Ratna banyak membuat ulah. Bayu dengan sabar mengurusnya tanpa ada masalah yang melebar.
"Keadaan ini sudah menjadi jalan untuknya ( Bayu )." Anin membuka suara lagi. "Tidak mudah baginya, tetapi ahirnya dia mendapatkan cinta yang ia tunggu selama hampir 20 tahun. Bayu telah memilih jalannya. Kita hanya harus lebih kuat agar dapat mensupportnya."
Anin terus menguatkan Dirga yang sebenarnya terpuruk. Hanya saja, pria itu tidak menunjukkan-nya.
"Terimaksih, Sayang. Kamu membuatku lebih tenang." mungkin efek dari kehamilan istrinya, hatinya sedikit sensitif dan terbawa perasaan sedih.
"Cup..." Anin mengecup bibirnya, menyalurkan kehangatan kepada Dirga agar pria itu semangat dan kembali tersenyum.
"Sayang, dia bangun …apa belum boleh?" wajahnya terlihat memelas
Anin terkikik geli, melihat wajah Dirga yang berubah memerah. "Belum Mas, kamu harus menjinakkan-nya lagi. Gagak itu belum di ijinkan keluar dari sarangnya."
"Kamu menyiksaku, Sayang. Sudah dua minggu lebih." obrolan suami istri itu benar-benar tidak mengenal tempat. Menganggap sang supir tuli, keduanya asik membicarakan soal burung dan membuat supir itu bertanya-tanya.
Kasihan sekali gagaknya tidak bisa terbang bebas. Itulah isi hati pria di balik kemudi.
"Apa aku harus bertanya lagi ke Dokter Arum? Jangan-jangan Dokter itu membohongiku. Kenapa harus menunggu sampai 4 bulan?" Pria itu mulai mengeluarkan ocehannya.
"Sudah, jangan ngambek Mas. Nanti aku bantu dengan cara yang lain, supaya kepala Mas tidak pusing."
Apa hubungannya gagak dengan kepala pusing. Ternyata orang Indonesia itu aneh aneh ya. Pria di depan itu terheran-heran.
"Kamu janji." wajah melas itu berubah sumringah mendengar ucapan istrinya.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat, Sayang. Anggap saja perjalanan kita ke sini sebagai gladi resik bulan madu kita yang masih tertunda."
"Aku senang mendengarnya Papi Boy." Dengan suara manja, ia mengedipkan matanya. Semenjak kehamilannya, Anin berubah lebih agresif, wanita yang biasanya kalem itu, sekarang mulai senang menggoda suaminya.
"Kalau tidak karna keselamatan bayiku, habis kamu disini." Dirga memencet hidung Anin sembari mengoyangkannya.
**
Mobil sudah sampai di area depan rumah sakit. Mereka turun dari mobil dan sudah siap orang dari Wijaya Grup yang menunggunya. Sebelum sampai, Dirga menyempatkan memberi kabar kepada Daddy-nya.
"Selamat datang Tuan Dirga." lelaki itu membungkuk hormat.
"Mari Tuan, Tuan besar sedang berada di paviliun."
Dengan merangkul pinggang Anin yang berjalan di sisinya, Dirga mengikuti langkah lelaki itu yang akan mengantarkannya bertemu dengan keluarganya.
"Apa kamu lelah, Sayang?"
Karna jarak dari pintu masuk ke dalam ruangan lumayan cukup panjang membuat Dirga ingin mengangkatnya.
"Tidak, Mas …aku cukup kuat. Sudah lama aku tidak berjalan karna Mas mengangkatku terus selama di rumah sakit." Anin bicara seraya tersenyum. Ia akan menunjukkan kalau ia memang kuat.
"Apapun untukmu, Sayang." Dirga mengecup pelipisnya, siapapun yang melihat pasangan itu akan iri di buatnya. Begitupun dengan pengawal yang berjalan di belakangnya. Hatinya mendadak cenat cenut.
Sesampainya di paviliun.
"Mom, Dadd." Dirga menyapa para orangtua yang tengah berkumpul.
"Dirga.." Alyne beranjak bangun menyambut kedatangan dua orang yang sedang di tunggunya.
Setelah memeluk putranya, wanita anggun itu beralih memeluk menantunya.
"Bagaimana perkembang cucuku Nak? Dia sehat? Dia baik-baik saja kan?" tangan halusnya meraba perut Anin dengan penuh kebahagiaan.
"Ya Mom, dia sehat, perkembangannya sangat baik." Anin meyakinkan Ibu mertuanya.
Menjunjung tinggi budaya ketimuran. Anin menyalami semua para orang tua yang berada di dalam ruangan. Termasuk Alfred Hugo dan Amanda.
"Selamat untukmu Anindirra. Mommy ikut senang dengan kehamilanmu."
Wanita melayu yang bernama Amanda itu menyambut ramah kedatangan anak dan menantu sahabatanya.
"Terimakasih Nyonya Hugo." Anin tersenyum hangat.
"Panggil Mommy Nak, sama seperti kamu memanggil Mommy Alyne."
"Ya Mom, dengan senang hati."
"Dimana Stella?" Anin bertanya saat matanya tidak melihat sosok wanita berambut pirang.
****
Bersambung ❤️
Mohon bantuannya like komen hadiah dan votenya ya 🤗 terimakasih 🙏😘