
Berada di dalam mobil ambulance, Stella tak berhenti menangis. Piyama yang di kenakan-nya pun berganti warna merah darah. Duduk di samping Bayu yang terbaring menuju rumah sakit,
Tidak ingin berada jauh dari pria yang sedang tak sadarkan diri, Stella terus mengenggam tangannya, mengecupnya dan menempelkan di pipinya.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku Bay. Aku mohon.." dengan suara lirih, Stella tak hentinya meminta dan memohon. Ia merintih, menghiba supaya pria itu bisa bertahan dengan segala rasa sakitnya yang menderanya.
"Aku berjanji, setelah ini aku akan mengabulkan segala keinginanmu." aku sangat mencintaimu Bay, maaf, aku belum sempat mengucapkannya. Aku harap tidak terlambat."
Di belakang mobil ambulance, mobil silver Daddy-nya mengikuti dengan di supiri salah satu anak buah Bayu. Karna pria itu juga mengalami memar di tengkuk kepalanya. Kejadian ini terlalu cepat baginya.
Baru kemarin malam ia mengundang Steven untuk makan malam, bersamaan dengan ia menolak memberikan restu kepada pria yang telah menolongnya. Pria yang rela berkorban demi nyawanya.
Hanya selang satu hari, kejadian yang tak di sangka-sangkanya terjadi di hadapannya, mampu membuka matanya yang tertutup, ia buta dan tuli akan keinginan putrinya, ia silau akan drajat, tahta, dan kekayaan.
Ia tak sanggup berkata-kata, ia ikut terpuruk dan menangis layaknya seperti seorang wanita. Ia tidak membayangkan jika, Bayu tidak membongkar kebusukan pria yang akan ia nikahkan dengan putrinya. Akan seperti apa kehidupan Stella nantinya.
Ia menyesali ke-egoisannya, Keputusan yang ia buat, hampir saja menghancurkan masa depan putrinya.
Sampai di rumah sakit, paramedis telah bersiap menyambut kedatangan ambulance yang membawa pasien korban tembakan. Para Dokter telah siap membawanya ke ruang operasi. Setelah mendapatkan telfon dari pihak kepolisian dan keluarga Wijaya.
Sebelumnya.
Keluarga Wijaya yang mendapatkan kabar dari anak buah Bayu langsung bergerak cepat. Bastian memerintahkan kepala rumah sakit mempersiapkan Dokter bedah terbaik yang akan menangani Bayu. Dan tentunya membuat Ayah kandungnya, Mustafa Lesmana syok.
Sudah 2 minggu, pria muda itu berada di Negara Singapore. Kedatangan dan tujuannya ke negri singa, sudah di ketahui oleh Bastian. Sebagai orang tua, ia ikut memantau apa yang sedang di lakukan putra keduanya itu.
Tetapi pria muda itu terlalu keras kepala, dia tidak menerima bantuan yang Bastian tawarkan. Kegigihannya dalam memperjuangkan seorang wanita serta ingin memantaskan diri, membuat Bastian mengalah, ia ingin melihat sampai dimana Bayu mampu berdiri sendiri dan mampu di anggap pantas oleh Alfred Hugo sahabatnya.
Duduk bersama dalam satu mobil, Bastian di dampingi Alyne di kursi belakang dan Mustafa duduk di depan di samping kemudi supir. Bastian meminta supir yang lain untuk mengendarai mobil, membawa mereka menuju rumah sakit di mana Bayu di larikan.
Sesampainya mereka di unit gawat darurat, beberapa pria dari Wijaya Grup yang mendampingi Bayu sedang berjaga-jaga. Melihat kedatangan Bastian Wijaya mereka langsung memberikan laporan sedetail-detailnya.
"Stella." Alyne menyapa sesosok wanita yang di kenalnya sedang terduduk lemas dengan kaki tertekuk menyanggah wajahnya, wanita itu menunggu di depan pintu ruang operasi. Penampilannya sangat kacau dengan bercak darah di piyama yang di kenakannya.
"Aunt.." dengan suara serak, ia mengangkat wajahnya. Matanya terlihat sembab karna tak berhenti mengeluarkan airmata.
"Oh sayang... Kemarilah." Alyne merentangkan tangannya agar wanita itu balas memeluknya. Wanita anggun itu berusaha memberikan kekuataan dan ketenangan untuk wanita yang sedang kacau.
Alyne sudah mengetahui hubungannya dengan Bayu. Tentu saja kabar itu membuatnya senang dan tenang. Karna Stella tak berlarut-larut merasakan kekecewaaan terhadap putranya.
"Aunt, aku tidak mau kehilangannya.." dengan suara tersendat. "Tolong katakan pada Dokter agar menyelamatkannya. Tolong Aunt.." Stella kembali menangis.
"Sabar sayang …semunya akan akan baik-baik saja. Bayu pasti mampu melewatinya." membawanya duduk di kursi besi, Alyne mengusap punggung Stella yang sedikit mulai tenang.
"Dimana Daddy-mu, Nak?
Stella menggelengkan kepalanya. Karna sesampainya di rumah sakit, Stella hanya fokus kepada Bayu.
"Di ruang IGD Nyonya." satu pria dengan seragam ber-TAG 'WG' memberitahukan.
"Apa Hugo terluka?" Alyne bertanya, dan mendapat anggukan dari Bastian.
Bastian melangkah ke ruang IGD untuk menemui Alfred dengan di dampingi Mustafa dan dua orang pria dari WG.
Sesampainya di ruang perawatan. Pria yang sedang dalam perawatan di tengkuknya itu terkejut mendapati kedatangan sahabatnya.
"STUPID!!"
*
*
*
Di Indonesia.
Selama dua minggu, Anin menjadi tawanan Dirga. Pria posesif itu menjaganya sangat ketat. Menjadi penghuni kamar berfasilitas mewah di sebuah rumah sakit, tak lantas membuatnya nyaman. Suaminya itu tidak meninggalkan-nya walau seharipun.
Pria itu tidak menginjakkan kakinya ke gedung perusahaan Wijaya Grup. Ia benar-benar fokus dengan pemulihan Anin dan perkembangan Baby-nya yang kini sudah menginjak 6 minggu.
Bahkan sewaktu-waktu, ia meminta kepada Dokter Arum untuk memasang alat pendeteksi jantung hanya karna ingin mendengar suara jantung Babyinya. Sebelas dua belas dengan Alea, pria tua dan gadis kecil itu berebut saling mendekat untuk mendengarkan suara janin yang ada di dalam rahim Istri dan Mamanya.
Hari ini Dokter Arum sudah mengijinkannya untuk pulang, karna kondisi Anin yang sudah membaik dan tidak ada masalah. Ibu dan anak telah di nyatakan sehat olehnya.
Dirga berulang kali bertanya dan memastikan kalau kesehatan keduanya sudah benar-benar pulih.
"Sudah Tuan, kondisi keduanya sudah sangat sehat. Perkembangan janinnya pun baik. Anda tidak perlu khawatir." Dokter Arum meyakinkan.
Anin hanya bisa tersenyum kepada Dokter Arum, ia merasa sungkan akan kelakuan suaminya. Dengan di bantu Bik Asih, pagi ini Anin tengah mengemas pakaian dan barang-barang yang akan di bawanya pulang.
Sedangkan Dirga tengah berada di luar kamar. Pria itu mendapatkan telfon dari nomor kode Singapore.Tak lama, pria itu masuk dengan wajah datar.
"Ada apa, Mas?" mendekat ke hadapan suaminya, Anin menyentuh kedua sisi pipinya. "Apa ada masalah?" Anin bisa membaca perubahan di wajah Dirga.
"Sayang, kita berangkat ke Singapore."
Setelah menjalani pemerikasaan kembali dan mengantongi surat ijin dari Dokter Arum untuk melakukan perjalanan penerbangan. Keduanya saat ini sudah berada di dalam pesawat jet pribadi yang akan membawanya ke negara Singapore.
Berada di ketinggian beribu-ribu kaki, sebenarnya Dirga sangat mengkhawatirkan Anin dan juga janinnya. Ia sadar akan sangat beresiko di usia kehamilannya yang terbilang sangat muda. Tetapi ia tidak bisa berada jauh dari istrinya di masa-masa ngidamnya.
Anin menyandarkan kepalanya di pundak Dirga karna mengantuk. Tetapi pria itu langsung bereaksi lain.
"Apa ada yang sakit? Bilang kepadaku kalau ada yang sakit? Seharusnya aku membawa Dokter Arum untuk berjaga-jaga." wajahnya terlihat cemas.
"I'm Ok papi, dia akan kuat, seperti Papinya." Anin merubah posisinya masuk menyusupkan kepala ke bawah lengan Dirga mencari posoisi ternyamannya.
"Ya, dia harus kuat, Sayang." Dirga menyentuh perut Anin. Menempelkan telapak tangannya di atas perut seraya mengusapnya pelan.
"Kamu harus kuat Boy. Tidak boleh lemah, penerus Wijaya harus mampu menjadi pria pemberani yang akan menjaga nama besar Datu Damar Wijaya. Papi akan mempersiapkannya dari sekarang."
****
Bersambung ❤️
Datu di khususkan untuk panggilan kakek buyut dari pulau sumatra dan kalimantan. Sebagian Ada juga yang memanggilanya dengan sebutan ' KAI '
Kalau salah mohon maaf 🙏
Jangan lupa komen dan likenya yaa 🙏🤗 terimakasih 😘😘