Anindirra

Anindirra
Bonchap 08



Seakan mengerti kebutuhan sang Papi. Bayi tampan itu tertidur nyenyak saat kedua orangtua sedang berpetualang. Melewati lembah mendaki gunung peru bersalju yang tampak putih bersih tanpa penghalang.


Pria posesif itu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.. Keinginannya untuk segera bercinta terlaksana. Petualangan ini untuk yang kedua kalinya dari babak pertama. Pria itu bergerak bebas di atas tubuh sang kekasih hatinya.


"Ahhh.. Sayang.. Kamu membuatku tidak ingin berhenti." Dirga bicara dengan nafas beratnya. Pinggulnya terus mendayung. Memacu, menghentak dengan ritme yang sedang.


Ia sengaja ingin berlama-lama, mengulur waktu dengan menikmati sensasi yang di dapatnya.. Rasanya semakin membuat pria itu tak ingin berhenti dan tak cukup hanya sekali. Bibirnya terus mengecupi kulit putih di area leher hingga dada yang semakin kencang. Berganti mel*mat bibir sang wanita dengan rakusnya.


"Mas, aku ingin di atas.. Aku ingin memecut kudaku agar berlari dengan kencang.. Tangannya membelai wajah, dengan suara mend*sah Anin berbisik di telinga dengan menjilatnya..


Membuat sang pria tak kuasa untuk menolak, kenikmatan yang akan bertambah berkali-kali lipat.


Wanita itu bersiasat. Ia harus segera menyelesaikan, ia khawatir Boy akan terbangun di tengah permainan.


"Kita pindah di sofa, Sayang.. Supaya tidak mengganggu Baby Boy.."


Mencabut miliknya, Dirga mengangkat tubuh Anin.. Kedua melanjutkan lagi petualangan yang terhenti sesaat. Berganti dengan permainan balapan kuda. Bak joki profesional.. Wanita itu terus bergerak di atas kuda jantan yang memiliki sayap kokoh sang gagak berparuh tajam.


Keduanya tengah berada di hamparan tanah lepas.. Di atas rumput hijau sebagai pijakan.. Memecut kuda agar berlari kencang.. Mengejar sesuatu yang akan menerobos.. Menyembur keluar..


Mas.. Aku akan sam …phai..


Aku juga, Sayaang... Cepat, Sayang.. Ceh.. Paaattt... Akhhhhh....


Dirga mengerang.. Dengan merangkul dan mendekap tubuh berkeringat yang berada di atas pangkuannya.. Menatap wajah kelelahan dengan senyum kepuasan yang terlihat jelas.. di iringi nafas yang masih terengah..


"Terimakasih, Sayaang... Terimakasih.. Aku mencintaimu.. Selalu dan untuk selamanya..." Dirga mengecum kening sang istri yang terkulai lemas masih dalam pelukannya.


*


*


*


Berbeda dengan keadaan di sebuah kamar. Tepatnya di dalam ruangan bersalin sebuah rumah sakit. Malam hari ini, disaat sepasang suami istri yang baru memiliki Bayi sedang berteriak mereguk nikmatnya dunia di atas sofa kamar.


Sepasang suami istri yang sedang berjuang menahan rasa sakit tengah berteriak juga. Bayu sedang mendampingi Stella yang tengah berjuang melahirkan sang buah hati yang sudah waktunya hadir di dunia. Pria itu harus menahan rasa sakit akibat jambakan di rambut dari tangan sang istri yang sedang terbaring di atas brankar. Stella sedang berusaha mengeluarkan sang Bayi dengan segala upaya.


"Sakit Bayyyy...." Stella semakin kuat mencengkrang rambut Bayu.. Pria itu pasrah mengikuti gerak tangan yang berputar mengikuti kemana arah tangan itu bergerak hingga membuat kepalanya juga ikut bergerak.


"Sedikit lagi Bu Stella... Sudah kelihatan kepalanya.. Tarik nafas dari hidung.., hembuskan perlahan melalui mulut.. Kumpulkan lagi tenaganya.. Kita ulangi yaa.. Ikuti aba-aba dari saya.. Kalau saya bilang mulai.. Bu Stella baru mulai mengejan..."


"Tarik nafaaaasss... Hembuskan dengan pelan.. Kita ulangi lagi ya.."


Bukan hanya Stella yang melakukan, Bayu pun ikut mengikuti arahan sang Dokter kandungan dan Bidan yang menangani istrinya... Pria yang mengenakan piyama tidur itu berulang kali menarik nafas dan mengembuskannya.. Wajahnya tampak kacau.. Penampilannya berantakan dengan rambut acak-acakan


"Terusss... Hembuskan..... Ya... Sudah kelihatan... Sedikit lagi.. Jangan terpejam Bu Stella... Buka matanya.. Mulai Bu Stella.. Sekarang waktunya."


Dengan sekuat tenaga. Stella mengejan dengan kepala Bayu sebagai pegangan. Pria itu menjadi pelampiasan dari rasa sakitnya. Dengan sisa tenaga yang ada.. Stella terus mendorong.. Hingga..


Suara tangis Bayi yang terdengar nyaring memenuhi seisi ruangan.. Membuat rasa sakit seakan hilang seketika.. Berganti dengan senyuman dan kepuasan. Bayu tak berkedip melihat buah hatinya yang masih dalam rengkuhan tangan sang Dokter.. Bayi itu terus menangis kencang memberi tanda kalau ia terlahir ke dunia dengan sehat dan selamat.


"Selamat Pak, Bayinya laki-laki.. Dan, sempurna..."


"Terimakasih.. Kamu telah memberikanku Bayi laki-laki.." penerus keluarga Lesmana, tombak yang akan memperkokoh perusahaan Wijaya Grup. Putra yang akan Bayu persiapkan untuk mendampingi sang pewaris kerajaan.


"Dia pasti tampan sepertimu Bay.."


"Ya, Ste.. Putraku sangat tampan.. Putra yang ku beri nama ' Biru Lesmana ' Dia akan mengimbangi warna terang dari sang matahari.. Sebagai penyejuk sang cakrawala.."


*


*


*


Anin dan Dirga bersiap-siap akan berkunjung ke rumah sakit saat mendengar kabar akan kelahiran Stella. Merekapun menyambut gembira kedatangan anggota baru dari keluarga Lesmana.. Putra dari Bayu Lesmana.


Kedua pria dewasa itu telah berhasil memilik sang pewaris dan sang penerus kerajaan bisnisnya.. Terasa lengkap kesuksesan yang Dirga dan Bayu dapatkan.. Mereka mendapatkan arti keluarga yang sesungguhnya di usia matang..


Membawa Boy yang Anin rebahkan di dalam stroller dan Alea dalam gengaman Dirga.. Mereka berjalan bersisian di sepanjang koridor rumah sakit menuju kamar vvip. Tak lupa Anin membawa kado spesial dan tiga balon berbentuk bintang, bulan dan matahari yang berada dalam gengaman Alea...


"Selamat Ste.. Akhirnya Bayi tampanmu hadir di tengah-tengah kita.. Aku ikut bahagia. Ijinkan aku menganggapnya sebagai putraku juga." Anin bicara setelah merangkul dan mencium kedua sisi pipi Stella bergantian. Wanita yang baru melahirkan itu bersandar di brankar dengan wajah tak lepas dari senyuman.


"Terimakasih An.. Anggaplah ia putramu. Seperti aku mengganggap Alea dan Boy juga anak-anakku.." keduanya saling merangkul kembali meluapkan rasa kebahagiaan.


"Selamat Aunt.. Ea punya dedek balu lagi. Sama tampannya dengan dedek Boy.." Alea menyerahkan Kado dan tiga balon yang di bawanya.


"Oh, thank you cantiknya Aunt.. Balonnya sangat indah.."


"Apa ada artinya?" Stella bertanya


"Matahari dan Bintang buat dedek Boy dan dedek Bilu yang akan selalu beldampingan. Dan bulan itu punya Ea." Tiga perisai langit yang akan selalu membelikan walna untuk bumi dan semesta alam.."


"Ohhhh... Sungguh indah sayang." Stella mencium kedua pipi Alea.


"Selamat Bay.." Dirga merangkul pundak Bayu.. Dengan bahasa tubuh keduanya mengungkapkan rasa.


Bayu, pria pemberani yang memiliki banyak julukan. Sebagai keluarga, sebagai sahabat, sebagai patner kerja, pendamping yang setia di dalam situasi apapun. Yang mampu merubah dirinya menjadi pria kuat dan terhormat.


Mengkokohkan nama Lesmana dengan segala kemampuan dan perjuangan.. Pria itu berhasil keluar dari bayang-bayang Wijaya. Bayu dapat membuktikan pada dunia bahwa ia berhasil karena kinerja, kegigihan dan kuwalitasnya.


Menunjukkan kalau anak dari seorang supir dapat meraih impiannya. Hingga siapapun yang memandangnya akan menunduk hormat kepada keluarganya.


"Persiapkan putraku dengan sebaik-baiknya untuk Wijaya Grup." ucap Dirga setelah melepas pelukannya.


"Baik Tuan.."


****


Bersambung ❤️


Untuk Maya sabar ya.. Kemarin setelah up pertama.. Up lagi selalu di tolak, gak tau apa masalahnya... Bikin Lierrrr...