
Untuk kedua kalinya Stella menginjakkan kakinya ke unit apartemen nomor 207 lantai 20. Ia kembali masuk ke dalam apartemen milik pria yang sudah berubah status menjadi suaminya.
Ia mengingat dan hanya sekedar mengenang, saat pertamakali datang kesini sebagai wanita yang mengejar cinta pria, yang ternyata bukan cinta yang sebenarnya.
Mengitari setiap sudut kamar dengan decak kagum akan dekorasi dan penataan ruang. Aroma khas pria nampak kental di dalam kamar berukuran besar dan luas. Tata letak barang dan pakaian yang tersusun, tergantung rapih di dalam lemari pakaian, dapat menjelaskan kalau suaminya itu, pria yang sangat menjaga kerapihan.
Ia tersenyum saat matanya menemukan bingkai foto berukuran sedang di atas nakas di samping tempat tidur. Foto seorang pria remaja yang masih berumur belasan tahun mengenakan seragam SMU dengan kacamata tebalnya.
Dengan seorang gadis yang juga masih remaja di sampingnya. Gadis remaja itu tak lain adalah dirinya. Rasa haru dan senang meyeruak dalam hati Stella, mengetahui Bayu menyimpan fotonya.
Dan sekarang, pria itu sudah bertransformasi menjadi pria matang dengan segala pesona dan ketampanannya.
Dua tangan melingkar di pinggangnya dari belakang. "Sepertinya kamu sangat mengagumi dua remaja itu?" Bayu bicara dengan menjatuhkan dagunya di pundak Stella.
"Heem... Sangat." Stella menaruh kembali bingkai foto itu ke tempat semula.
Aku tidak menyangka kamu menyimpan fofoku Bay.." Mengurai belitan, ia berbalik menghadap Bayu dengan menggantungkan kedua tangannya di leher bayu.
"Aku menyimpan wanita itu hatiku."
"Kamu banyak berubah Bay."
"Aku berubah karenamu Ste. Untuk bisa mendapatkanmu, aku harus berubah."
"Ku harap tidak dengan hatimu."
"Hatiku tidak pernah berubah. Hatiku selalu terisi namamu. Aku masih sama, lelaki remaja yang mencintaimu dalam diam."
"Apa pernah ada wanita lain yang singgah di hatimu?"
"Apa kamu sedang mengintrogasiku Nona Stella?"
"Anggap saja iya. Lebih tepatnya, aku akan cemburu kalau sampai benar adanya. Aku akan mencabik-cabik wanita yang menyukaimu."
"Kamu sangat menakutkan Ste,.." Bayu semakin merapatkan tubuhnya. "Dan aku senang mendengarnya.." Bayu bicara dengan wajah semakin mendekat.
Sebelum bibir pria itu sampai, Stella menempelkan telunjuknya.
"Hari ink, anda belum beruntung suamiku. Cherymu sedang berwarna merah."
Stella berbisik di telinga Bayu sebelum ia berlari masuk ke dalam kamar mandi dengan tertawa. Meninggalkan Bayu yang berubah lemas dengan berteriak.
Stellaaaaa...
*
*
*
Sampai di rumah mewah yang beberapa hari di tinggalkan. Rumah yang selalu memberikan kehangatan untuk seluruh penghuninya. Beberapa hari berada di negri orang, membuat semua pekerja sangat merindukan tempat tinggal dan kembali dengan penuh kebahagiaan.
Ibarat pepatah, dari pada hujan emas di negri orang lebih baik hujan batu di negri sendiri. Sudah sangat mirip dengan apa yang di rasakan semua pekerja, se-nyaman dan se-empuk kasur yang mereka tempati, tetap terasa lebih nyaman kasur sendiri. Dan seperti kata Agus, bau iler dan keringat selalu membuat dia merindukan kamarnya.
"Yeee... Itu sih kamar kamu Gus." Lia tak setuju ucapan Agus mengenai bau. "
"Kamarku selalu rapih dan wangi beraroma parfum melati."
"Nyenengin hatiku sebentar kenapa sih Neng Lia? Bilang aja iya, gitu.." Agus tersenyum manis, sangat manis tanpa ada rasa kecut, hingga yang melihatnya di khawatirkan akan terserang diabetes.
Para pekerja, sedang berkumpul duduk bersama menghilangkan lelah sejenak di bangku teras paviliun belakang rumah tempat mereka tinggal sambil menikmati teh hangat dan kopi panas sebelum melanjutkan aktifitasnya masing-masing.
"Gus. Jangan lupa, sore nanti segera pesan sate kambing di rumah makan H. Romli sesuai pesanan Nyonya besar. Di tambah juga sate ayam buat Nona kecil."
"Siap, Bik. Laksanankan." Agus bicara setelah menyeruput kopi panasnya.
"Neng Lia, ikut Abang Agus yukkk.. Sekalian kita jalan.." Agus mulai memberikan tanda-tanda.
"Ogahhh.." Lia menjawab dengan cuek, sambil matanya fokus melihat ponselnya. Ia sedang berselancar di sosmednya karena ada notif pemberitahuan yang memfolownya dari pria yang masih menjadi tanda tanya. Pria dengan foto profile bertuliskan dua hurup dengan inisial ' DC '
"Iihh... Neng Lia mah tega... Udah gak soulmate sama Bang Agus." Agus merajuk dengan wajah di buat memelas.
"Biarin.. Emang Lia pikirin. Minta anter sono sama Budi."
"Dihhh.. Males Neeeng.. Masa jeruk makan jeruk." Agus mencibir ke arah Budi yang sedang asik memberi makan burung kesayangan Alea.
"Jeruk ane manis Agus.. Emang punya ente kecut bin asyemmm.." Budi terkekeh sambl meng-elus elus sayap hitam sang gagak yang sudah kekenyangan.
"Masih mending kecut tapi asli.. Dari pada manis karbitan." Agus tak mau kalah, ia membalas ejekan rekannya.
"Berisik.. DIAM!" Bik Asih yang sedang menerima telfon melototkan matanya.
"Sukurin! Di marahin ibu ketua." Lia terkikik mendapati Agus dan Budi yang langsung menutup mulutnya.
Bik Asih sedang berkomunikasi dengan kerabatnya yang berada di kampung halaman, satu keponakannya sudah lama menganggur dan meminta agar di bantu mencarikannya pekerjaan. Hanya dengan ijasah pas-pasan, keponakannya itu kesulitan mendapatkan penghasilan.
Bik Asih, sedang mendengarkan rayuan manis dari mulut saudara kandungnya yang menginginkan anaknya bergabung, ikut bekerja dengannya di rumah Tuannya.
*
*
*
Kembali ke Singapura.
Di dalam apartemen yang berada di kawasan elit Negara Singapura. Seorang pria asing tengah duduk sambil memandang foto seorang wanita, yang ia ambil secara diam-diam. Meneguk kembali minuman yang ada di gelas kristal di tangannya, ia tak bosan terus memandang dan menganguminya.
Datang ke negri singa dengan niat membalas dendam, tetapi langkahnya langsung tercekal, karena lawan yang tidak seimbang dan tidak bisa di remehkan. Seminggu berada di negara singapura, ia mencari tau hingga mengetahui banyak seluk beluk siapa keluarga Wijaya. Pria dengan nama besar di dunia perbisnisan, seseorang yang memiliki nama besar dan para pengikut yang kuat dan setia di belakangnya, baik di luar dan di dalam pemerintahan.
Belum beraksi, seorang utusan datang menemuinya dua hari yang lalu. Yang memperingatkan akan segala tindakan dan tujuannya. Menelisik dalam kasus yang sedang menimpa adiknya, Edward ahirnya memilih mundur.
Berbeda dengan Steven. Edward masih memiliki hati nurani, dan mau berpikir panjang, sebelum ia memutuskan masuk ke dalam masalah yang di lakukan adiknya. Bukan soal kalah sebelum berperang. Tetapi ia tidak ingin ikut hancur karena suatu kesalahan. Apa lagi setelah ia mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ia memutuskan akan kembali ke negaranya dan menyerahkan sepenuhnya kasus Steven kepada pengecaranya.
Hanya saja, hatinya saat ini sedang galau dan resah. Hatinya telah menganga karna luka. Hatinya terbawa arus oleh sang wanita yang tengah hamil dan bersuami bernama Anindirra. Wanita yang telah berhasil mengusik hatinya.
Ia tak mampu menyangkal, kalau wanita itu telah mencuri hatinya, wanita itu telah berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertama kali bertemu saat di pesa.
Ia melihat sosok Anin yang berbeda, yang memiliki sisi kelembuatan apa adanya. Ia harus jujur kalau ia tergoda dan sangat menyukainya. Dan saat ini, ia kehilangan jejaknya.
Kita pasti akan bertemu lagi Anindirra.
****
Bersambung ❤️
Kasih dukungan semangat buat Anin dan Dirga yaa...
Terimakasih 😘