Anindirra

Anindirra
Chapter 48



Dirga tertawa puas bisa membuat Daddy-nya kesal.


Dan itu menjadi tontonan yang menghangatkan untuk Alyne. Karna sudah melebihi seratus purnama, hubungan keduanya memburuk. Dan saat ini kehangatan itu meluap.


Walaupun baik Bastian maupun Dirga mengungkapkannya dengan cara mereka sendiri.


"Kabari aku ataw Bayu jika terjadi sesuatu Mom."...


"Jangan khawatir putraku." … Alyne memeluk tubuh tinggi itu dengan sayang.


"Ada Pak Mus, dan para Maid yang setia membantu Mommy dan Daddy."


"Pergilah, …ataw Mommy semakin tidak rela melepasmu. Mommy menunggu kabar baik darimu."


Dengan menggunakan Mercedes Benz E-Class milik Bastian. Pak Mus mengantarkan Dirga menuju ke Changi Airport. Di sana para kru pesawat jet pribadinya sudah siap dan menunggunya.


*


*


Anin memutuskan membalas pesan Bagas. Ia meminta di temani ke kebun teh yang jaraknya tidak terlalu jauh dan masih berada di desa ini. Sejenak ia ingin menghilangkan penatnya pikiran.


Tidak lupa Anin mengenakan baju hangat. Karna di luar suhu udaranya cukup dingin. Pilihannya jatuh pada high waist jeans, yang memperlihatkan dengan jelas kaki jenjangnya. Dan ia padu padankan dengan cardingan panjang model hoodie rajut. Penampilannya sangat sederhana tapi terlihat menarik tanpa bedak dan riasan.


"Bu, Anin keluar dulu ya... Mas Bagas sudah menunggu di depan." Anin mendatangi Bu Rahma yang sedang berada di dapur membantu pekerja menyiapkan bahan makanan untuk di masak.


"Bu, pamitkan ke Bude."


"Iya, akan ibu sampaikan." Bu Rahma ikut mengantar Anin kedepan menemui laki-laki yang menjemput anaknya.


"Assalamuallaikum, Bu." dengan sopan Bagas menyapa.


"Wa’allaikumsalam... Ibu, titip Anin ya Nak Bagas, dia tidak hapal daerah sini."


"Ya, Bu... Saya akan menjaganya. Di jamin aman." Bagas bicara dengan Ibu jempol dan ujung telunjuk membentuk bulatan.


"Satu lagi, jangan terlalu sore pulangnya." Bu Rahma mewanti-wanti. Sebelum kedunya masuk ke dalam mobil.


Sesekali Bagas melirik wanita yang duduk di sampingnya. Ia tepesona dengan penampilan Anin saat ini. Dari pertama kali ia melihatnya keluar dari lobi bandara perasaannya mengatakan kalau wanita ini berbeda dari wanita lainnya. Kepolosan wajahnya menjadi daya tarik sendiri.


"Cantik." Satu kata yang ia ucap dalam hatinya.


Mobil yang di kendarainya sudah masuk dataran tinggi perkebunan teh. Angin segar masuk melalui celah jendela, Anin fokus memperhatikan suasana di sepanjang jalan. Sunguh, ia sangat menikmati perjalanannya.


Tidak lama, mereka telah sampai ke tempat yang di inginkan. Salah satu tempat pariwisata yang berada di Desa Kemuning. Hamparan kebun teh tampak indah sepanjang mata memandang. Di tambah udara yang begitu sejuk.


Sebelum masuk ke area perkebunan, di sepanjang jalan berjejer para penjual makanan dan minuman. Ada beberapa Cafe kecil beratapkan tenda. Ada juga pedagang yang menggelar lesehan untuk para pembeli yang datang walau hanya sekedar membeli minuman.


Terlihat ramai karna ahir pekan. Banyak muda mudi yang membawa pasangannya masing-masing.


"Kita cari minuman hangat dulu, ya Mbak..." Bagas menawarkan.


"Ya, Mas... Anin menyahut ajakan Bagas.


"Mbak Dirra, harus coba wedang Asle disini. Rasanya beda dari tempat yang lainnya."


"Oh, ya..." Anin tampak sangat bersemangat.


Turun Dari mobil Bagas mengajaknya ke salah satu lesehan langganannya, yang menyediakan minuman hangat tersebut.


"Yu, wedang asle kaleh nggeh..." ( Mbak minuman asle dua ya )


"Nggeh Mas,… monggo lenggah rumiyin." ( Iya Mas, silahkan duduk dulu )


Mereka duduk di lantai beralaskan terpal pelastik. Dengan pemandangan hamparan daun teh berwarna hijau yang tumbuh subur.


Siang ini angin cukup kencang, membuat rambut Anin berterbangan menutup sebagian wajahnya.


Aduh dek ingin rasanya tangan ini menyelipkan rambut ke belakang telingamu.


"Mas! kog bengong?" teguran Anin, membuyarkan pikiran Bagas yang tengah menatapnya.


"Ya dek, ehh... Mbak maksudnya. Tanya apa tadi?" wajah Bagas tampak memerah. Ia malu dengan pikirannya sendiri.


"Ish... Mas melamun ya? Mbak penjualnya bilang apa tadi?" Anin bertanya kembali.


"Ohh... Yu, itu..., sama seperti Mbak, itu panggilan untuk seseorang yang lebih tua dari kita. Dan Mbakyu tadi, mempersilahkan kita untuk duduk." Bagas menjelaskan.


Yen kowe dadi bojoku dek. ( ngarep )


Bagas lalu mengusap tengkuknya.


"Monggo Mas, Mbak," penjual itu meletakkan dua minuman hangat sesuai pesanan.


Wedang asle yang terbuat dari ketan putih di tambah potongan agar-agar dan roti tawar dengan santan hangat itu sedikit demi sedikit berpindah ke dalam perut Anin. Seketika rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Anin sangat menyukai rasanya yang pas di mulut, tidak terlalu berlebihan rasa manisnya.


"Mbak Dirra suka ya?" Bagas bertanya saat minuman itu sudah tidak tersisa di dalam mangkuknya.


"Iya Mas, enak sih..., di Jakarta juga banyak yang jual tapi tidak pernah mencobanya. Dan ternyata rasanya mantap." Anin menunjukkan ibu jempolnya.


Di sela-sela obrolan, di selingi tawa lepas Anin, saat Bagas bercerita hal-hal yang lucu. Selain itu, obrolan mereka lebih banyak dengan saling bertanya hobinya masing-masing. Sedikit, ada pertanyaan yang menyerempet tentang kehidupan pribadi masing-masing.


Ahirnya Anin sedikit banyaknya tau siapa Bagas. Laki-laki itu pernah kecewa karna di tinggal nikah oleh pacarnya 4 tahun yang lalu. Karna, pada saat itu Bagas belum menjadi PNS seperti sekarang ini.


"Kenapa, status sosial selalu menjadi ukuran ya Mas?"


"Itulah manusia Mbak, selalu ingin mendapatkan yang lebih dari apa yang sudah di terimanya. Intinya kita harus banyak bersyukur."


Hingga di ahir pertanyaan. Anin bertanya hubungan kekerabatan antara kluarga Bagas dengan Suami budenya.


"Ayo... Aku akan ceritakan sambil kita berjalan di perkebunan.


*


*


Berada dalam pesawat di ketinggian 43 ribu kaki Dirga duduk dengan hati gelisah, sesekali ia melihat jam rolex yacht master yang melingkar di pergelangan tangannya.


Penerbangan ini terasa lama baginya. Seandainya, ia mempunyai kostum bersayap superhero, pastinya ia akan terbang melesat tajam tanpa menggunakan pesawat. Ia ingin segera sampai, ia tidak tenang kala matanya di suguhi keberadaan sesosok pria sedang bersama Anin.


20 menit sebelum lepas landas. Ia menerima banyak laporan berupa foto dari orang yang di tugaskan mengawasi Anin.


Rahangnya sedari tadi mengeras. Matanya terpejam seraya menyandarkan kepalanya. Dengan mengetuk-ngetukkan jarinya ke sisi kursi sebagai sandaran tangan. Hatinya saat ini sedang di landa cemburu. Dan ia sedang meredamnya.


Ia bahkan bertanya kepada Co-pilot melalui intercom. Berapa jam lagi pesawat akan landing di landasan Bandara Adi Sumarmo.


Co-pilot tersebut menjelaskan kalau, sekitar 2 jam lagi pesawat akan tiba. Karna penerbangan baru terjadi sekitar 40 menit dari lepas landas.


****


Bersambung ❤️


Bagi komennya donkk... Juga like, hadiah dan votenya ya 🤗


Jangan lupa simpan dalam faporit buku kalian ❤️


👇


Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, itu hanya kebetulan saja.tidak di sengaja dan tidak ada maksud apapun. Jadi mohon di maafken yaa...


Dan jika berkenan folow akun IG aku nih... @non.see


Tengkiyuuuuhhhh. Salam sayang 😘


Wedang Asle