Anindirra

Anindirra
Chapter 98



Memilih rumah makan padang yang terkenal akan cita rasanya. Dengan lahap Anin menyantap nasi beserta gulai kepala kakap dengan menggunakan kelima jarinya. Rasa lapar yang menderanya semakin bertambah saat kalori dalam tubuhnya terkuras oleh kegiatan yang menguras tenaga.


Seperti genderang mau perang ( udah sama kaya lagu ya ) perutnya keroncongan sedari tadi. Di tambah bawaan hamil yang sedikit meningkat nafsu makannya.


Senyum bahagia Dirga tunjukkan saat melihat belahan jiwanya menambah satu porsi lagi nasi ke piringnya. Selain masih lapar, porsi nasi yang di sajikan di rumah makan ini memang sedikit, membuat wanita hamil itu merasa kurang.


"Sepertinya aku sudah membuat Babby-ku sangat kelaparan."


"He`em." Anin mengangguk dengan mulut penuh makanan.


"Kamu harus banyak mengkonsumsi daging." tangannya meletakkan rendang daging ke piring Anin. "Tapi tidak boleh terlalu banyak dengan sambal hijaunya."


"Kenapa ?" Anin bertanya setelah menelan makanan yang di kunyahnya.


"Nanti Babby-ku akan kepedasan."


Sungguh alasan yang tidak masuk akal bukan? Tapi begitulah pria posesif itu, ia akan bersikap protektif terhadap istrinya.


"Tidak seru Mas makan tanpa sambal." wanita hamil itu protes saat pria itu menjauhkan piring berisi sambal.


"Sudah cukup, Sayang. Kamu sudah cukup banyak memakan sambal. Makan lauk yang lain saja. Ok."


*


*


*


Meninggalkan rumah makan padang dengan perut kenyang, Dirga membawa Anin ke rumah sakit dimana Dokter Arum sore ini bertugas. Selain cek kandungan, pria itu harus memastikan lagi kesehatan Anin dan bayinya karena dalam waktu waktu dekat ini mereka akan terbang ke singapura untuk menghadiri pernikahkan Bayu dan Stella.


Tanpa perlu mengantri, sepasang suami istri itu sudah berada di dalam ruangan. Sebelumnya, sewaktu dalam perjalanan Dirga sudah menghubungi Dokter kandungan itu untuk di majukan satu jam sebelum waktu tugasnya, supaya tidak bersamaan dengan pasien yang lainnya. Tentunya dengan harga yang berbeda dengan mendapatkan pelayanan yang special.


"Selamat sore Nyonya Dirga." Dokter Arum menyambut pasangan itu dengan ramah, dengan di dampingi perawat sebagai asistennya.


"Selamat sore Dokter." Anin membalasnya dengan tersenyum hangat.


Mengikuti prosedur perawat akan menimbang berat badan dan mengecek tekanan darah Anin.


"Bagaimana? Apa masih mengeluarkan flex?" Dokter Arum bertanya setelah ketiganya duduk bersama-sama di kursi periksa dengan meja sebagai pembatas.


"Alhamdulillah tidak Dok. Hanya beberapa hari ini saya sering merasa gelisah dan juga cemas. Apa faktor dari kehamilan Dok?"


"Sayang, kenapa tidak bicara kepadaku?" Dirga nampak cemas menatap wajah istrinya.


"Tidak apa-apa tuan, itu hal yang wajar. Hormon wanita hamil itu akan ber-ubah-ubah, setiap ibu hamil pasti akan mengalaminya dengan efek yang berbeda-beda, ada yang lebih sensitif, ada yang sedih, bahagia, emosional tanpa ada penyebabnya, ada juga yang seperti Nyonya Anin rasakan. Perasaan cemas terkadang gelisah." Dokter Arum menjelaskan sebelum Anin menjawab pertanyaan suaminya.


"Berikan obat yang terbaik Dok?" Dirga sudah mulai khawair. Inilah mengapa ia menutup rapat apa yang di lakukan orang tua Andre. Ia tidak menceritakan karena ia tidak mau istrinya akan terbebani. Sebisa mungkin ia akan melakukan apapun untuk kenyamanan istri dan putrinya.


"Saya akan memberikan vitamin Tuan. Untuk masalah kecemasan, yang terpenting moodnya harus selalu di jaga. Dan jangan lupa, Nyonya harus mengkonsumsi makanan sehat, selalu bahagia, tidak boleh banyak pikiran. Saya sarankan juga anda mulai mengikuti senam hamil. Bisa di lakukan di rumah bisa juga datang ke klinik ibu dan anak milik saya."


"Baik Nyonya... Kita mulai memerika Babbynya ya."


Anin sudah terbaring di brankar dengan di dampingi Dirga berdiri di sampingnya. Pria itu terlalu antusias untuk segera mengetahui jenis kelaminnya.


"Bagaimana kalau perempuan?" Anin terlihat cemas. Ia khawatir akan membuat suaminya kecewa.


"Does not matter. ( tidak masalah ) kita akan memproduksinya lagi samapai mendapatkan laki-laki." ia teringat ucapan Dokter Arum. Ia tidak ingin membebani pikiran Anin dan mengganggu kesehatannya.


Sudah memasuki trimester kedua, Dirga memilih USG 4D. Ia menginginkan hasil gambar dengan kualitas lebih detail dan jelas. Ia ingin melihat perkembangan janin di dalam rahim agar lebih mudah terdeteksi dan akurat jika terjadi kelainan.


Menginggat Anin mempunyai riwayat melahirkan bayi dengan jantung bawaan. Berbeda pada saat USG di trimester pertama ( 0-13 minggu ) yang hanya ingin mengetahui usai kehamilan.


Dokter Arum mulai menggerakkan alat yang berputar di perut bawah pusar. Dokter itu mulai mengidentifikasi kondisi bayi jika terjadi kelainan ataw cacat, memantau pergerakan dan denyut jantung bayi, dan mengevaluasi pergerakan kondisi plasenta dan cairan ketuban.


"Alhamdulillah semuanya baik Tuan Dirga, Babby Boy anda sehat."


Rasa haru meyeruak di hati pria itu. Ia dapat melihat jelas makhluk kecil yang tengah meringkuk dalam rahim sang istri. Tangan terus menggenggam tangan Anin dan tak henti mengecupnya.


"Sayang, anak kita... Lihatlah, ia sedang tertidur nyaman. Wajahnya sangat tampan sepertiku." matanya tak lepas dari layar monitor.


"Benarkah laki-laki Dok?" Anin memastikan apa yang baru saja di dengarnya.


"99 % akurat Nyonya. Selebihnya, sang maha kuasa yang menentukan. Selamat Nyonya, Tuan. Semoga seterusnya akan selalu sehat. Sampai persalinan."


*


*


*


Memilih Garden By the Bay sebagai tempat melakukan sesi pemotretan prewdding. Bayu dan Stella mengangkat tema pernikahan magis di tengah-tengah lampu berkeli-kelip dengan pencahayaan ambient romantis saat lampu menyala di malam hari.



Dan keesokan harinya berganti nuansa dengan menambahkan Singapore Flyer sebagai latar belakang pemotretan. Berpose di depan roda observasi terbesar di dunia. Struktur raksasa itu menambahkan sentuhan mewah dan glamor.



Dan yang terakhir mencuri dengan alami dan candid saat kedua pasangan itu sedang berinteraksi ketika berjalan di LOUIS VUITTON.


Tampak wajah bahagia dari keduanya. Rasa lelah tidak di rasakan saat kepuasan di dapatkan, melihat hasi tangan sang fotografer. Tidak menggunakan jasa WO Stella sangat antusias mempersiapkan pernikahan yang hanya akan di hadiri oleh keluarga dan para sahabat.


Mulai dari gaun, pernak pernik, bunga dan hotel tempat berlangsungnya pernikahan. Di bantu sahabatnya Chatrin dan karyawannya.


"Periksa lagi Ste, jangan sampai ada yang terlewat. Pria itu tengah mengganti pakaian setelah pemotretan selesai.


"Sepertinya sudah semua, coba kamu cek lagi. kamu tinggal menambahkan teman-temanmu di daftar undangan." Stella menyodorkan buku catatan kecil kepada Bayu.


"Selebihnya biarkan pihak WO yang mengurusnya. Aku masih sanggup membayarnya, dan aku tidak ingin kamu kelelahan. Jangan sampai aku terabaikan."


Stella tersenyum mendengar ucapan pria yang sudah sangat sehat pasca operasi.


Stella memeluk pria tinggi itu dari belakang dengan menyandarkan kepalanya.


"Aku tidak akan mengabaikanmu. Aku akan menyiapkan stamina untuk selalu siap melayanimu."


"Sepertinya kamu sudah semakin berani Ste.." Bayu tersenyum di depan kaca, ia bisa melihat Stella bersandar di belakang punggungnya dari pantulan cermin yang mengarah kepadanya.


Keduanya masih di dalam ruangan untuk berganti pakaian. Mengurai tangan putih yang membelit pinggangnya. Bayu berbalik menghadap wanita yang seminggu lagi akan resmi menjadi istrinya.


Memandang wajah yang selalu merona. Ia tidak menyangka cinta yang bersemi di saat masih remaja terbalaskan walaupun dengan perjalanan yang berurai air mata.


I love you so much Stella.


****


Bersambung ❤️


Maaf teman teman untuk beberapa hari hanya bisa kasih 1 UP. Ada urusan negara yang harus di selesaikan 🙏 😁 InsyAllah kalau sudah selesai aku kasih dobel dobel dobel 🤗


Terimakasih 😘