Anindirra

Anindirra
Chapter 129



Waktu berjalan dengan cepat. Dari waktu perayaan ulang tahun Alea yang di rayakan bersamaan dengan ulang tahun perusahaan. Dan saat ini, kehamilan Anin sudah menginjak bulan ke sembilan.


Membuat ibu hamil itu semakin sulit untuk tidur di waktu malam hari. Bersyukurnya Anin memiliki suami siaga yang dengan rela dan telaten bersedia mengusap-usap pinggang sang istri yang terasa pegal setiap malam menjelang tidur.


Tumpukan bantal sudah di susunnya sebagai penyanggah punggung sang istri supaya merasa lebih nyaman, pria itu juga dengan setia menemaninya tidur dengan posisi duduk dan bersandar di headboard tempat tidur demi menemani sang istri tertidur hingga pulas.


Menurut perkiraan Dokter sekitar 2 minggu waktu yang di prediksi menjelang kelahiran. Berkali-kali Dirga meminta kepastian dari mulai hari, tanggal, sampai jam melahirkan.


Tetapi Dokter hanya bisa memberikan rentang due date atau hari perkiraan lahir ( HPL ), tapi tidak bisa memberikan hari maupun jam yang pasti. Para tim Dokter yang telah di persiapkan Dirga, berusaha memberikan pengertian kepada pria yang teramat mengkhawatirkan kondisi istrinya itu, bahwa waktu melahirkan bisa maju lebih awal, mundur, atau tepat di rentang waktu yang diperkirakan.


Dirga sudah meminta pihak rumah sakit agar menyiapkan satu lantai sebagai kamar perawatan dan kamar untuk para orang tua menginap dan para sahabat, dan relasi bisnisnya agar nyaman saat menjenguk.


Malam ini saat akan menjelang tidur, terjadi perdebatan kecil dengan pasangan itu, Anin yang tetap menginginkan melahirkan secara normal, sedang Dirga menginginkan Anin melahirkan secara caesar karena tidak ingin menyaksikan Anin harus merasakan kesakitan.


"Aku ingin normal, Mas.. Memang sakit, tapi rasa sakit itu akan terbayarkan dengan kehadiran dan suara tangisannya." Anin mengelus perutnya yang semakin kencang dan sudah mulai turun.


"Caesar saja, Sayang.. Aku tidak akan tega melihatmu menahan rasa sakit." Dirga kekeh dengan keinginannya.


"Tidak mau! Aku tetap ingin melahirkan normal. Kalau Mas tidak tega jangan di lihat, biarkan ibu yang menemaniku."


"Tidak, aku yang harus menemanimu. Dia anakku. BabyBoy harus melihat wajahku dulu."


"Mas, melahirkan itu tidak semenakutkan seperti yang Mas lihat di NewTube."


Anin berusaha memberikan pengertian kepada suaminya yang sedang mencemaskannya.


"Bukankah Mas sudah banyak bertanya dan mendapatkan penjelasan dari Dokter Hendra yang sudah berpengalaman?"


"Iya, tapi dia tidak bisa mengabulkan apa yang aku minta. Pria itu meyebalkan." Dirga tampak kesal dan menggerutu


"Memangnya Mas meminta Dokter Hendra melakukan apa?"


Flashback


Dua hari sebelumnya. Sesuai undangan, lebih tepatnya pemaksaan. Siang itu Dokter Hendra harus mengundur jadwal operasinya hanya demi menuruti keinginan Dirga yang meminta bertemu di salah satu restoran sambil menikmati makan siang saat itu juga dengan alasan, ingin membahas sesuatu yang sangat penting. Tanpa berpikir dua kali Hendra langsung meluncur ke alamat yang di berikan. Sang Dokter itu berpikir pasti ada sesuatu yang memang sangat penting dan mendesak.


Sesampainya di restoran, Dokter Hendra langsung di arahkan oleh pelayan restoran menuju meja dimana Dirga sudah mulai menikmati makanannya.


"Apa yang ingin kau bahas, Tuan?" Hendra bertanya setelah ia mendudukkan bokongnya di kursi dengan nyaman.


"Makanlah dulu, jangan terburu-buru.. Pembahasan kita akan panjang." Pria yang sedang memotong steak di atas piring itu menjawab dengan santai.


"Katakan, ada masalah apa?" Hendra bertanya lagi saat steak yang ada di piringnya sudah setengah, masuk kedalam perutnya.


"Bagaimana rasanya melahirkan?"


"What?"


Hendra hampir saja tersedak mendengar pertanyaan temannya. Dengan tergesa-gesa ia datang ke restoran dan mengundurkan waktu operasi hanya untuk mendengarkan pertanyaan konyol dari pria yang sedang cemas menunggu waktu kelahiran putranya.


"Kamu pikir aku wanita hamil? Mana aku tau rasanya bagaimana?" Hendra bicara dengan mata membulat.


"Ckk... Yang aku tanyakan itu saat kamu mendampingi istrimu melahirkan joey?"


"Pertanyaanmu itu keliru Tuan, harusnya bukan seperti itu pertanyaannya?" ternyata di luar dari urusan bisnis kau itu bodoh. Sahabatnya itu semakin kesal di buatnya.


"Jangan sampai rumah sakitmu itu ku ratakan dengan tanah dan saham perusahaanmu ku anjlokkan."


"Haisss.. Sebagai sahabat kau itu tega sekali selalu mengancamku.. Baiklah, apa yang ingin kau ketahui Tuan Besar?"


Dengan penuh kesabaran Hendra sebagai Dokter spesialis jantung dan sebagai pria beristri yang sudah berpengalaman mendampingi sang istri saat melahirkan, memberikan penjelasan pentingnya peran suami dalam mendampingi istri melahirkan, berada di samping istri saat ia sedang berjuang untuk memberikan kehidupan pada buah hati dapat memberikan semangat dan dukungan yang sangat berarti yang akan membawa dampak positif bagi istri dan bayinya yang akan lahir. Tetapi penjelasannya terpotong dengan sebuah petanyaan.


"Tidak ada.." Hendra dengan tegas menjawabnya. "Dan jangan memintaku untuk membuatkan obat penghilang rasa nyeri untuk ibu melahirkan." Hendra sudah sangat paham kemana arah jalan pikiran pria pemaksa di hadapannya.


"Rasa sakit itu sesuatu hal yang alami yang Tuhan berikan kepada seluruh wanita hamil di muka bumi ini Tuan." Titik


*


*


*


Para orang tua, Bastian, Alyne, Bu Rahma masih stay di Jakarta, mereka juga sudah tidak sabar menunggu kelahiran cucunya, mereka ingin ikut mendampingi anak menantu itu melahirkan. Menyambut cucu laki-laki penerus keluarga Wijaya.


Pagi ini seluruh penghuni rumah seperti biasanya, akan sibuk dengan rutinitas dan tanggung jawabnya masing-masing. Bik Asih tengah membantu Alyne menyiapkan menu nasi kandar khas negri jiran sebagai menu sarapan hasil olahan tangan Alyne.


Nasi yang berisi berbagai macam lauk, nasi yang bisa di bilang mirip dengan nasi rames dari Indonesia. Sedangkan Bu Rahma sedang mempersiapkan segala kebutuhan Alea untuk di bawa ke sekolah masih dengan di antar oleh Lia.


Sedangkan Bastian, sehari tiga kali pria itu rutin memberikan makan dua burung piaraan Alea yang berada di dalam sangkar. Kerukunan dan kehangatan tercipta dari rumah mewah ini sesuai dengan keinginan dan impian Dirga saat membelinya.


Rumah yang akan menjadi awal kebahagiaan, rumah yang memiliki pondasi yang kuat untuk membangun mahligai rumah tangganya, rumah yang akan menjadi tempat dan titik keluarganya berkumpul. Dan rumah yang mampu memberikan kenyamanan dan kehangatan untuk istri dan anak-anaknya.


"Molning Opa.." gadis kecil dengan seragam sekolahnya menyapa Bastian saat baru turun dari anak tangga.


"Morning cucu Opa yang cantik."


"Blunonya sudah salapan ya?"


Alea menyempatkan berlari ke taman sebelum duduk di meja makan.


"Sudah Tuan Putri.. Sekarang giliran princess Alea yang harus sarapan." mencuci tangan di wastafel yang di sediakan di taman. Bastian mengajak Alea ke ruang makan.


"Dada Blunoo … jangan nakal yaa.. Ea salapan dulu telus belangkat sekolah.. Mmuuahh.." Alea memberikan kecupan kiss bye melalui tangannya..


"Apa Dirga dan Anin belum turun?" Bu Rahma bertanya saat semuanya sudah kumpul di meja makan.


Sedangkan di kamar.


"Mas tidak berangkat kerja?" Anin bertanya saat melihat Dirga mengenakan pakaian santai sehabis mandi.


"Tidak, aku cuti melahirkan?"


"Cuti melahirkan?" Ani nampak terheran-heran


"Aku meliburkan diri, Sayang.. Aku harus siap-siap kalau sewaktu-waktu Baby-ku akan mengajak keluar."


"Ya, ampun Mas.. Kan masih 2 mingguan lagi.. Di rumah ada Daddy, ada Mommy, ada Ibu.. Mas jangan khawatir.."


"Mereka itu para orang tua, gerakannya pasti akan lambat.. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu. Urusan pekerjaan bisa aku lakukan dari rumah.. Ada Bayu, ada Radit yang bisa menghendle segala urusan."


"Tapi para orang tua itu lebih berpengalaman darimu Mas.." dan Anin hanya bisa bicara dalam hatinya, pria itu sungguh tidak bisa di tolak apa lagi di bantah.


"Ayo, Sayang.. Kita turun, bukankah kamu sudah sangat lapar? Kamu harus makan yang banyak agar tenagamu kuat saat persalinan nanti."


****


Bersambung ❤️


Terimakasih dukungannya teman-teman. Di detik-detik terakhir, yang belum pernah komen, komen yukkkk satu kata saja. Sebagai penghargaan untuk Anin dan Dirga..


Hehehe pissss ahh ✌️✌️maksa