
Dengan gemas Dirga mengigit dagunya hingga membuat wanita itu mengaduh manja, membuat gejolak nafsu yang berusaha di redamnya naik tak terelakkan. Ia tidak bisa menahan ketika gairah itu semakin tersulut, kala mendengar suara manja itu bak lenguhan.
Tidak puas hanya mengigit dagu, pria itu me**mat bibirnya dengan napas yang mulai berat, wanita hamil itu bukan hanya menggoda, tetapi berhasil membangunkan sesuatu yang sudah lama di jinakkan-nya.
Tangannya bukan hanya mengusap perut, tetapi merambah naik ke atas, meremat dua gundukan ranum yang semakin padat dan bertambah ukurannya karena efek kehamilan.
"Sayang, please …aku tidak sanggup harus menunggu sampai malam." Dirga bicar di sela-sela cumbuannya.
"Ahh, Mas..., wanita itu men**sah kala sapuan bibir itu berganti turun ke bawah, menelusupkan wajahnya ke ceruk leher jenjang sampai tulang selangka yang indah menggoda.
Masih dalam posisi di pangkuannya, Anin berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sudah mulai tergerus arus gairah.
"Mas.., ini di kantor." ia menyentuh kedua sisi pipi suaminya, memandang wajah yang sudah memerah dengan sorot mata sayu berharap segera mendapatkan kepuasan.
"Aku ingin menjenguknya sekarang." sorot mata itu penuh harap.
"Apa masalahnya kalau kita melakukannya di kantor? Ini akan berbeda, Sayang.. Mau mencoba?"
"Mau dimana?" seakan menantang singa yang sedang kelaparan.
"Aku ingin melakukan di sini." Dirga menekan remot control yang tersambung ke pintu. Ia tidak mau aktifitasnya terganggu. Walaupun ada kamar tersembunyi di balik rak buku, keduanya memilih melakukan dengan sensasi berbeda.
Dirga melanjutkan aksinya dengan kembali mecium bibir yang semakin memerah. Membelit lidah saling bertukar saliva. Ciuman itu terputus saat Dirga melepaskan pakaian yang di kenakan Anin hanya dengan menyisakan kain bertali tipis dengan brand ternama.
Menghirup aroma tubuh wanitanya mulai dari leher turun ke belahan dada, ia mulai menggigit tali pengait, menurunkannya tanpa menggunakan tangan, menambah sensasi yang terasa berbeda, ia mengecup pundaknya istrinya dengan mesra.
Merasakan desirah halus masuk ke dalam sendi-sendinya. Membuat ia pasrah menerima, ia tidak sanggup menolak ketika mulut Dirga mulai mensesap pucuk bulatan berwarna pink kecoklatan yang telah mencuat, duduk memangku Anin saling berhadapan, pria itu bak bayi kehausan. Anin meremat rambut di kepala Dirga sebagai pegangan, saat sesapan itu terasa semakin kuat.
"Nghhh... Mas, ahh..." wanita itu menggesek sesuatu yang terasa semakin keras di balik celana. Bokongnya terus bergerak hingga membuat sang pria menyerah.
"Aku sudah tidak kuat, Sayang." dengan suara semakin berat, ia menenggadahkan kepala ke atas, Dirga memandang wajah cantik itu dari bawah dengan hasrat yang sudah tak terbendung.
"Lakukan Mas, aku juga menginginkannya." suara halus itu semakin seksi di telinga, wanita itu sudah siap menerima dengan suka cita.
Menyingkirkan tumpukan berkas hingga terjatuh, pria itu merebahkan tubuh indah di atas pangkuannya ke atas meja kerjanya yang luas. Dengan nafsu memburu Dirga melepaskan kemeja dan celana yang masih membungkus tubuhnya hinga tak tersisa. Tubuh kokoh yang selalu terawat itu terpampang jelas di depan mata.
Dengan otot yang membentuk, semakin menambah kesempurnaan pria berumur 40 tahun itu. Menciumi kaki jenjang sampai pangkal paha, membuat si wanita memejamkan matanya merasakan desiran hebat tiada terkira.
"Aku janji tidak akan menyakitinya." membuka kain segitiga ia berdiri di antara kedua ke-langkangnya, pria itu menekan perlahan miliknya membenam menyelesak masuk sampai menembus batas. Mendiami sesaat dengan mata terpejam mulut terbuka, meresapi rasa hangat yang mulai menjalar dengan cepat di aliran darah.
Suara des**han dan erangan memenuhi ruangan, wanita itu meliuk indah di bawah kendalinya, terlentang pasrah di atas meja kaca dengan kedua telapak kaki betumpu di sandaran lengan kursi, kadang berganti di pundak kokoh yang terus bergerak dengan ritme yang di sesuaikan, menjaga makhluk kecil di dalam rahim sang istri.
Tapi tak mengurangi rasa nikmat yang di dapat. Rasa dahaga selama 4 bulan itu terbayar di siang hari ini. keduannya saling memberi saling menerima, menumpahkan rasa cinta dengan berbagai macam cara. Saling mendamba tiada habisnya. Hingga sampai di titik yang akan membawa keduanya terbang lepas dengan sayap yang mengepak kencang menuju ketinggian dan terjun bebas menuju pelepasan.
"Ohh cintaku... Me femme preferee." ( wanita kesayanganku ) dengan terbata, Pria itu mengerang puas dengan memuja sang wanita. Ketika cairan kental, menyembur, melesat keluar dengan kencang.
Kedua tangan kokoh itu meraup tubuh yang tergeletak lemas, mengangkatnya dalam rengkuhan dan membawanya ke dalam pelukan. Dirga menghempaskan tubuh di kursi hitam singgasananya.
Masih dengan posisi saling memeluk dengan tubuh polos tanpa sehelai benang. Nafas keduanya tersengal tak beraturan. Wanita itu masih meringkuk dalam dekapan. "Merci, Sayang... Terimakasih." Dirga mengecup sayang kening Anin yang berkeringat. Hingga terdengar suara perut yang meminta untuk di perhatikan. Membuat pria itu tersadar, mereka telah melewati jam makan siang.
"Mas.. Babby-mu lapar."
*
*
*
"Sis, sedang apa?" seorang pria datang mendekat, menegurnya saat melihat wanita tengah berdiri di depan pintu dengan tangan mengepal menyentuh daun pintu.
"Pak Radit? Ini Pak, ada dokumen yang harus segera di tandatangani Tuan Dirga. Tetapi pintunya terkunci, saya memanggil beberapa kali tidak ada jawaban dari dalam."
"Ada siapa di dalam?" Radit bertanya
"Tadi sih ada Pak Anwar, setelah itu … Nona Anin datang Pak." Siska menjelaskan siapa saja tamu yang masuk ke dalam ruangan Bosnya
"Ya sudah, mana dokumennya." Radit mengulurkan telapak tangan agar Siska menyerahkan map berwarna biru yang di dekapnya.
"Kamu lanjutkan pekerjaanmu. Jangan mengetuk pintu lagi."
"Memangnya kenap Pak?" dengan polosnya sekretaris itu bertanya.
Radit menelisik Siska dari ujung rambut sampai ujung kaki. Membuat Siska ikut memperhatikan juga penampilannya seperti yang di lakukan pria itu.
"Ada apa Pak?" Siska bertanya heran, ia takut ada sesuatu yang aneh dan merusak penampilannya.
"Kamu sudah menikah?" Radit memastikan
"Belum Pak." Siska menggelengkan kepalanya.
"Oh pantas!" Balik badan, Radit meninggalkan Siska yang masih kebingungan, dengan bibir mengkerut menahan tawa. "Dasar jomblo tua."
"Apa hubungannya dengan aku yang belum menikah sama pintu terkunci? Dia juga sama saja belum menikah? Dasar asisten baru super aneh!!" Siska menggerutu melangkah kembali ke meja kerjanya.
Wanita itu sudah selesai membersihkan diri. Anin merias wajahnya dengan memoles bibirnya dengan lipstik berwarna cerah. Sambil menunggu suaminya berganti pakaian.
Berdua dalam satu kamar mandi. Dirga harus kembali menahan hasratnya, saat membantu menyabuni tubuh indah berisi itu. Ia tidak mau membuat Anin kelelahan dan mengganggu ketenangan bayinya dengan menggaulinya lagi.
Mengganti pakaian, Dirga memilih sweater halus berkerah tinggi yang tersimpan di lemari kantor sebagai baju ganti. Menyampirkan jasnya di lengan, tangan kirinya, ia membelit pinggang wanita hamil yang sudah menunggunya.
"Ayo, Sayang.. Babbyku sudah kelaparan."
Keduanya keluar dari dalam ruangan sudah dalam keadaan segar karena hasrat yang sudah di tuntaskan. Saling merangkul engan mesra, dua insan yang baru saja bercinta itu masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lobi dengan tujuan rumah makan padang.
****
Puas puas 😂😂 aku yang nulis deg-degan takut di tolak NT 🙊
Dari awal membuat part Hottt tetapi selalu di tolak. Alhamdulillah kalau sampai ini lolos 🙏
Bersambung 😘