Anindirra

Anindirra
Chapter 70



Keluar dari toko, Anin mengurungkan niatnya, ia tidak jadi mencari gaun yang di inginkannya. Naik tangga eskalator ia menuju lantai lima dimana area food court berada.


Di jam makan siang, tempat itu terlihat sangat ramai, selain pengunjung mall, para pekerja kantoran yang gedungnya berada tidak jauh dengan mall, menggunakan waktu istirahatnya untuk bersantap siang di sini.


Mungkin selain cuci mata, banyak gerai makanan yang menjadi pilihan dengan menawarkan menu beraneka ragam. Hampir semua kursi terisi, tidak ada yang kosong. Matanya terus mengitari setiap sudut kalau-kalau masih ada tempat kosong untuk di duduki.


"Non, itu … di sana ada yang kosong." Lia menunjuk ke arah kursi dekat dengan salah satu gerai, kursi itu baru saja di tinggal oleh sepasang muda mudi yang baru saja makan.


"Ahirnya, dapat tempat duduk juga kita." Anin mendudukkan bokongnya di kursi besi dengan meja masih berserakan piring bekas makanan.


Banyak gerai makanan yang menjadi pilihan, mulai dari makanan berat sampai makanan ringan. Tetapi Anin belum menemukan makanan yang membuatnya selera. Masih berada di area yang sama, matanya tertuju ke outlet bakmi GM. Bakmie dengan toping jamur dan ayam itu mampu membuat air liurnya membasahi lidah.


"Lia, kita pindah yuk' saya ingin makan bakmie itu." telunjuknya menunjuk gambar bakmie di pintu masuk outlet.


Di sinilah mereka saat ini. Duduk dekat jendela kaca dengan spot pemandangan jalan raya yang sesak dengan kendaraan.


Setelah memesan makanan yang di inginkan. Anin mengeluarkan ponselnya.


Ia mengirim pesan sesuai permintaan Dirga yang mengharuskannya mengabari satu jam sekali.


“Aku sedang di food court untuk makan, apa Mas sudah makan siang?" tak lama, pesannya terbaca. Tetapi nomor itu belum membalas pesannya.


"Mungkin dia sibuk." bicara sendiri ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Nona tidak jadi belanja pakaian?" Lia memperhatikan wajah Anin yang berubah sendu.


"Tidak, Lia. Lain kali saja. Lebih baik kita mengisi perut."


Di tengah asik menyantap bakmie, Anin bertanya sesuatu yang mengganjal hatinya.


"Lia..."


"Ya, Nona..."


"Siapa pemilik gedung ini?" Anin bertanya seolah-olah ia tidak tau pemilikya.


"Tuan Nona. Gedung inikan milik Wijaya Grup. Berarti, milik Tuan."


"Aduh apa Nona Anin sadar dengan ucapan wanita pirang tadi ya?" Lia bertanya dalam hatinya.


"Ada apa Nona?"


"Tidak, tidak ada apa-apa Lia. Ayok, lanjutkan makannya."


*


*


*


Di lantai tiga. Wanita dengan rambut berwarna blonde itu keluar dari dalam toko dengan menenteng paperbag berisikan gaun tidur model Chemise warna pich.


Wanita dengan penampilan berkelas itu adalah Stella. Tepatnya Stella Hugo. Anak dari Alfred Hugo dan Amanda. Sahabat dari orangtua Dirga.


Ia baru saja menginjakkan kakinya di Negara Indonesia pagi ini. Pesawat yang membawanya dari Changi Airpor menuju Bandar Soekarno Hatta mendarat tepat pukul 9 lewat 45 menit.


Setelah melihat siaran langsung wawancara Dirga yang terhubung dengan salah satu stasiun TV singapore. Ia memutuskan terbang ke Jakarta. Selain urusan bisnis, ia ingin memastikan kebenaran apa yang telah di dengarnya.


Ia masih belum percaya kalau Dirga secapt itu mendapatkan pengganti Ratna. Ia merasa kecolongan dan kalah start. Wanita itu menyukai Dirga dari mulai mereka duduk di bangku SMU.


Sudah 3 hari sebelum keberangkatannya, ia menghubungi nomor kontak Dirga yang ia dapatkan dari Alyne. Jangankan menerima panggilannya, sederet pesan yang ia kirim pun tidak di balas langsung olehnya, tetapi di balas oleh Bayu asistennya.


Saat check-in ia masih menyempatkan mengirim pesan lagi ke nomornya dan tetap Bayu yang membalasnya. Ia meminta di jemput ketika sampai di bandara. Dan ia kecewa, ketika melihat yang menjemputnya bukan Dirga, tetapi pria tua yang mengaku bernama Pak Dadang supir pribadinya.


Untuk menghilangkan rasa kecewanya ia memilih menghabiskan waktunya shopping di mall sebelum ia kembali ke hotel yang telah di siapkan oleh Bayu.


Flashback


Tiga hari sebelumnya, di tengah kesibukannya mengecek beberapa laporan, Dirga mendapatkan panggilan dari nomor kode luar. Tetapi ia mengabaikannya. Tak lama nomor itu mengirimkan pesan singkat melalui aplikasi pesan.


"Ga, It’s me Stella."


"Are you busy?" ( Apakah kamu sibuk )


"Why don’t you pick up my phone?" ( Kenapa kamu tidak mengangkat telfonku? )


"Please. Balas pesanku." dan sederet pesan yang lainnya, hingga membuat Dirga merasa terganggu.


Jika bukan karna mengingat Alfred dan Amanda sebagai sahabat orangtuanya. Tentu ia tidak akan memperdulikannya.


Di saat bersamaan Bayu masuk ke dalam ruangannya.


Ia kembali fokus dengan laporan yang sedang di telitinya.


Bayu membaca isi pesan yang masuk di ponsel Dirga. Dengan tersenyum penuh arti Bayu menyimpan nomor kontak Stella dan membalas pesan melalui ponsel miliknya.


"Dirga sedang tidak bisa di ganggu. Hubungi ke nomor Ini." 'Bayu'


Bayu meletakkan kembali ponsel Dirga di atas meja, ia duduk berhadapan dengan meja sebagai pembatas.


"Apa semuanya sudah di urus Bay?" Menatap Bayu, Dirga mengentikan aktifitasnya.


"Sudah Tuan. Mereka menyanggupi waktu yang kita berikan dengan konsep yang anda inginkan. Beni juga sudah saya kabari."


"Bagaimana dengan pesananku?"


"Siang ini akan di antar."


*


*


*


Dalam perjalanan pulang, Anin lebih banyak diam, tidak seperti saat berangkat tadi yang banyak bertanya tentang Agus supirnya.


"Kita langsung pulang Non?" Agus penjaga keamanan yang merangkap supir itu bertanya melalui kaca spion. Dengan Lia duduk berada di sampingnya.


"Ya Gus, langsung pulang."


"Gus..."


"Ya, Nona..."


"Pak Dadang tadi pagi kemana? Tuan kan berangkat ke luar kota dengan Pak Bayu?"


"Pak dadang di tugaskan Pak Bayu menjemput seseorang di bandara Non."


"Siapa.?"


"Saya kurang tau Nona … mungkin client Tuan."


Tanpa ada yang mengeluarkan suara, Agus kembali fokus ke jalan raya melajukan velfire yang membawa istri Tuannya sampai rumah.


Sudah pukul 7 tetapi Dirga belum juga kembali. Membuka benda pipih itu, mengecek lagi berharap ada balasan pesan atau kabar yang masuk ke dalam ponselnya.


"Kenapa belum ada kabar? Apakah sesibuk itu?" Hatinya tiba-tiba cemas, terselip sedikit rasa curiga. Selain itu, Anin mengkhawatirkan keselamatan Dirga. ia takut terjadi hal buruk menimpamya.


"Tidak biasanya Dirga seperti ini." ia bemonolog. Ia memutuskan menghubunginya. Terdengar suara operator yang menjawabnya, menandakan ponsel si pemilik tidak aktif alias mati.


Kecemasannya semakin bertambah. Beberapa kali ia harus menarik napas lalu membuangnya. Berusaha membuang pikiran buruk dari dalam kepalanya.


Bik Asih masuk setelah mengetuk pintu.


"Nona tidak makan malam? Nanti makanannya keburu dingin."


"Nanti saja Bik, saya belum lapar."


"Mau saya buatkan teh Nona?" atau minuman hangat yang lainnya."


"Ya Bik, teh hangat saja. Terimakasih Bik."


Bik Asih keluar kamar. Pelayan setia itu terbawa tidak tenang, karna Anin belum menyentuh makanan yang sudah di hidangkan di meja.


Entah karna ucapan wanita tadi yang sedikit mempengaruhi pikirannya. Entah juga karna ia sangat mencemaskan keselamtan Dirga. Malam ini hatinya gelisah. Padahal sebelumnya, ia sudah terbiasa menunggu kepulangan Dirga sampai larut malam.


Keluar kamar, ia akan menunggu kedatangan Dirga sambil menonton TV yang berada di ruang tengah tidak jauh dari kamarnya.


Menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, dengan layar LED berukuran besar. Anin mulai memilih-milih acra televisi. Untuk mengalihkan pikiran negatif yang bersarang di kepalanya.


****


Bersambung ❤️


Nunggu up selanjutnya, jangan lupa dukungannya ya 🤗


Like komen hadiah dan votenya aku tunggu 🙏


Terimakasih 😘 Met Weekand