
Baru saja Bayu akan meraih bibir ranum Stella. Dua anak manusia masuk tanpa mengetuk pintu. Hingga membuat wanita itu merasa malu, karna di dapati sedang bercumbu dengan Bayu.
"Haisss.. Kau ini, belum sehari membuka mata. Kau sudah mau berbuat mesum di ruangan ini." dengan entengnya Dirga bicara, tak perduli dengan tampang Bayu yang merasa terganggu.
"Mas.." Anin melototkan mata mendengar ucapan suaminya. Padahal pria itu sama saja, dimana pun, tanpa pandang tempat selalu melakukannya tanpa bisa di tolak.
"Maaf Bay, kami mengganggu." Anin tersenyum sungkan.
"Tidak apa-apa Nona. Selamat atas kehamilannya." Bayu berucap santai, seperti biasanya pria itu sudah sangat hapal dengan kelakuan Dirga.
"Terimaksih uncle Bayu, semoga cepat pulih." ketulusan terpanjar dari wajah ibu hamil itu.
"Bagaimana? Apa masih terasa sakit?" Dirga bertanya dengan memperhatikan perut Bayu yang tertutup perban.
"Sudah lebih baik Tuan, jangan khawatir."
"Aku senang kamu cepat sadar Bay."
"Ya Tuan, aku harus cepat sadar, kalau tidak, akan ada orang yang akan merebut Stellaku." Bayu membalasnya dengan menyindir Dirga
"Merebut? Siapa?" Anin bertanya.
"Tanyakan pada suamimu Nona." seperti menyiram bensin dalam api. Bayu sengaja melakukannya. Dia akan senang melihat Dirga kesal. Kapan lagi aku mengerjaimu Bos.
"Heii!! Kamu itu tidur ! mana bisa mendengar ucapanku?" Dirga keceplosan bicara. Ya ampun aku salah bicara. Ia menatap Anin yang menatapnya tajam.
"Sayang, jangan dengarkan orang yang baru bangun tidur." berbisik ke telinga Anin dengan raut wajah gusar.
Anin memicingkan matanya menatap Dirga penuh curiga. "Awas saja kalau macam-macam denganku! Puasamu akan bertambah sampai lebaran haji!"
"Sayang, jangan bawa-bawa masalah itu. Please, aku hanya milikmu."
"Selain ingin memotong gagakku, ini yang paling menakutkan. 'Berpuasa' Oh tidak!" Dirga bermonolog dalam hatinya.
"Dasar asisten sialan! Bikin masalah saja." Dirga menggerutu sambil menatap tajam Bayu."
Yang di tatap malah tersenyum penuh kemenangan. Dengan balas menatap Dirga.
"Suruh siapa kau menganggu kesenanganku." Bayu ikut bicara dalam hatinya lewat tatapan mata, ia menyampaikan-nya kepada Dirga.
Stella yang tak mengerti arah pembicaraan kedua lelaki itu hanya diam. Rasa malunya belum hilang dengan apa yang terjadi, dan memilih mengupaskan buah untuk Bayu, menghilangkan kecanggungannya.
Tak lama, Bastian dan Alyne datang bersama Mustafa. Anin dan Dirga memilih duduk di sofa. Memberikan ruang untuk ketiganya berinteraksi dengan Bayu.
"Kamu membuat Mommy khawatir Bay, Kenapa seceroboh itu." Alyne memegang tangan Bayu dan mengusapnya dengan sayang.
"Mom, aku sudah lebih baik. Berkat doa Mommy." Bayu menatap wajah wanita yang sudah di anggap Ibunya. Wajah anggun itu terlihat sangat khawatir.
"Dadd." Bayu menyapa Bastian, saat pria itu menepuk pundaknya memberikan kekuatan.
"Ayah." Mustafa mendekat ke sisi pembaringan setelah Bastian menjauh.
"Apa yang harus Ayah lakukan?"
"Tidak ada Yah, semuanya akan berjalan dengan baik. Aku hanya akan meminta restumu, begitupun dengan Daddy dan mommy."
"Baiklah." Mustafa menarik napas. "Ayah percaya kepadamu."
"Stella apa Daddy dan Mommymu sudah kemari?" Alyne bertanya.
"Belum Mom. Mommy memberi kabar sedang bersama Daddy di kantor kepolisian." Stella menjelaskan.
Beralih ke putranya Dirga. "Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Mommy masih rindu dengan kalian." tangan Alyne tak lepas dari perut Anin. wanita yang sebentar lagi akan menjadi oma itu sangat senang saat meraba perut menantunya.
"Tidak bisa Mom. Perusahaan membutuhkanku, apa lagi tidak ada Bayu di sana."
"Bukankah kamu sudah menarik Radit dari anak perusahaan. Bastian menimpali ucapan ibu dan anak itu.
( maaf, di part sebelumnya salah ketik. Radit, menjadi Rendi, karna di barengi menulia karya yang sedang di buat )
"Ya Dadd, dan aku harus masih mengenalkannya ke beberapa client dan para investor. Sejauh ini dia sudah bisa di andalkan."
Obrolan itu berlanjut membahas mengenai perusahan. Bayu yang terduduk di atas tempat tidur pun ikut bergabung membahasnya. Hingga membuat para wanita memisahkan diri.
"Apa dia tidak mengingikan sesuatu? Maksud Mommy, cucu Mommy apa tidak rewel?" Alyne bertanya kepada Anin.
"Tidak Mom, hanya saja Mas Dirga yang harus menjalani Morning sickness."
"Sama seperti Mommy dulu saat mengandung Dirga, Daddymu Bastian yang kerepotan. Tengah malam kami sampai harus mengubungi seorang chef hanya untuk di buatkan soto banjar. Apa sekarang Dirga pun sama?"
"Ya Mom, Mas Dirga sampai ingin mempekerjakan chef, tengah malam saat berada di rumah sakit dia menginginkan kelepon." Anin tersenyum kala mengingatnya. Pria itu merengek meminta kue hijau berbentuk bulat berisikan gula dengan taburan kelapa.
"Ahh... Ternyata mereka berdua sama saja." Alyne ikut tersenyum mendengar cerita Anin.
"Mommy pun menunggu kabar baik darimu Stella. Mommy harap secepatnya."
"Ya Mom..." Stella tersenyum dengan menatap pria yang berada di atas tempat tidur.
*
*
*
Siang ini Dirga kembali ke tanah air. Setelah memastikan Bayu sudah dalam keadaan baik dan tinggal menjalani masa pemulihan. Tetapi mereka harus tetap waspada, karena keberadaan Steven yang masih belum di temukan. Pria itu telah di tetapkan sebagai DPO, daftar pencarian orang.
Tidak sepenuhnya menyerahkan ke pihak kepolisian, Bastian tetap membantu dalam pencarian, tentunya dengan orang-orang terpilih yang Wijaya Grup miliki.
"Mamaaaaa...." Alea berlari menyambut kedatangan Anin dan Dirga saat mendengar suara mobil yang di kendarai pak Dadang telah tiba di halaman.
Gadis mungil itu sudah menunggu saat Anin mengabari Bik Asih akan kepulangannya. Dua hari tidak bertemu membuat gadis mungil itu rindu.
"Alea jangan berlari." Anin ikut menyambut kehadiran putrinya, saat akan mengangkat tubuh Alea dalam gendongan, Dirga sudah memberi peringatan.
"Sayang, jangan mengangkatnya, biarkan aku saja. Ingat ! Kamu sedang hamil."
"Apa adek Bayina nanti kebelatan Pih, kalau Mama gendong Ea?" Gadis kecil itu bertanya saat tubuhnya sudah berada dalam gendongan Dirga.
"Ya girl.. Jadi kakak Alea, tidak boleh di gendong Mama dulu. Ok."
"Ok, Pih."
"Selama Mama tinggal Alea jadi anak pintar kan?"
"Ya Ma, Ea ndak nakal. Ea Cuma lindu Mama cama Papih."
"Mama juga rindu." Anin menciumi wajah imut itu. Mereka duduk bersama di sofa, melepas rindu dan menghilangkan lelah sehabis perjalanan, dengan Alea berada di pangkuan Dirga.
Di ruangan luas dengan TV besar sebagai tempat keluarga yang nyaman saat berkumpul. Tidak hanya di kamar, di ruangan ini pun Dirga memfasilitasi rumah mainan yang cukup besar sebagai ruang bermain Alea.
"Alea, ini sudah Mbak Lia bawakan mainannya." Lia membawa beberapa boneka dari kamar dan di letakkan di rumah bermainnya.
"Pih, Ea mau main cama plincess dulu." Alea turun dari pangkauan sang Papi. Ia memilih bermain dengan mainan dan asik dengan dunianya.
"Kamu lelah, Sayang? Dirga mengusap perut Anin.
"Sedikit Mas."
"Ada yang sakit?"
"Tidak, Mas."
"Ayo, istirahat di kamar." Dirga melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 2 siang.
"Tidurmu di dalam kamar pesawat tadi hanya sebentar." Dirga mengulurkan tangannya agar Anin berdiri.
"Mau aku gendong?"
Anin mengeleng. "Aku ingin jalan, Mas."
"Nona, minumannya?" membawa nampan dengan dua gelas teh hangat, Bik Asih bertanya saat melihat kedua majikannya akan meninggalkan ruang keluarga.
"Tolong bawakan ke kamar ya Bik."
Dirga memilih ke ruang kerjanya, setelah memastikan Anin sudah terpejam, merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menyelimutinya. Wanita hamil itu cepat merasa lelah dan Dirga tidak ingin terjadi hal yang buruk dengan kesehatannya.
"Tidurlah yang nyenyak, Sayang." dengan mengecup keningnya.
****
Bersambung
Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🙏 terimakasih 😘