
Pagi ini, Bayu menyempatkan datang ke rumah Dirga. Tepatnya rumah yang pernah di tempati oleh Dirga dan akan ia berikan kepada Ratna mantan istrinya.
Membuka pintu pagar, Agus sebagai satpam rumah membungkuk hormat saat CR-V keluaran terbaru itu melesat masuk dan mengetahui pria yang berada di balik kemudi itu Bayu, tangan kanan Dirga.
"Pagi Pak Bayu." Agus menyapa ramah.
Setelah menutup pintu pagar kembali, ia berlari kecil menghampiri mobil Bayu yang terparki di halaman rumah.
"Pagi Gus." Bayu menjawab setelah ia keluar dari dalam mobil.
"Wah, kebetulan sekali Pak Bayu kesini. Saya dengan Bik Asih sangat menunggu kedatangan Pak Bayu."
"Ada apa Gus? Apa ada masalah?"
"Begini Pak Bayu, ada yang ingin kami bicarakan. Tapi.."
"Bicarakan di ruang kerja saja Gus. Sekalian saya mau mengambil barang-barang Tuan Dirga. Kamu sekalian bantu Lia ya."
"Siap Pak. Laksanakan." dengan semangat 45 Agus yang umurnya masih sekitar 30 tahun mengekor mengikuti Bayu masuk ke dalam rumah.
Mendengar pintu terbuka Bik Asih segera ke depan, melihat siapa yang datang sepagi ini. Tampak senyum cerah dari asisten rumah tangga itu menyambut kedatangan Bayu.
"Selamat datang Pak Bayu." Bik Asih tergopoh-gopoh mendekat. Di susul Lia dari belakang.
Belum sempat Bayu menjawab sapaan BiK Asih. Suara tepukan tangan dari atas tangga membuat mereka yang berada di bawah menengok ke arah datangnya suara.
Prok... Prok... Prok...
"Wah... Wah... Wah... Ada angin apa seorang Bayu Lesmana pagi-pagi sudah berkunjung ke rumahku." dengan langkah gemulai Ratna menuruni anak tanga satu persatu. Ia masih mengunakan baju tidur model slip dres yang menonjolkan lekuk tubuhnya. ia menyapa Bayu dengan tersenyum sinis.
"Anda jangan lupa Ratna Diyanti. Apa harus saya ingatkan? Selagi anda belum menandatangani surat dari pengadilan rumah ini masih milik Tuan Dirga.".
Dengan tenang dan balas senyum mengejek, Bayu menjawab ucapan Ratna.
Ratna mendengus kesal. Wanita itu menunjukkan wajah tidak suka dan permusuhan kepada Bayu. Dengan tangan bersedekap di dada.
Bik Asih, Lia dan Agus yang mendengarkan perdebatan Ratna dan Bayu memilih sedikit menjauh.
"Lia, kemasi barang-barang Tuan Dirga yang berada di dalam ruang kerjanya."
"Baik, Pak." Lia segera menuju tangga ke lantai dua dimana rung kerja Dirga berada di ikuti oleh Agus di belakangnya.
Saat Bayu melewati Ratna hendak berjalan di undakan tangga. Bayu berhenti dan berbalik mendekat ke Ratna.
"Oh, ya. Sepertinya saya harus mengingatkan anda mantan Nyonya. Jika hari ini anda tidak segera menemui Hadi Darma di kantornya. Saya bisa jamin, dalam hitungan jam video syur anda bersama kekasih anda, akan segera tersebar di dunia maya." Bayu meninggalkan Ratna yangg nampak syok dan terkejut.
"Brengsek!!" Ratna berteriak kesal.
"Permisi Nyah." Bik Asih hendak menyusul Lia dan Agus ke lantai dua.
"Mau kemana!? Suara Ratna mengeras.
"Ke atas Nyah. Membantu Lia."
"Siapkan saya sarapan!"
"Sudah saya siapkan Nyah." Bik Asih tetap melangkah ke atas menyusul kedua rekannya.
"Heh!! Kalian sudah berani membangkang rupanya! Dasar pembantu sialan!" dengan berkacak pinggang Ratna berteriak dari bawah tangga. Ia tidak terima para pekerja mengabaikannya.
Lia memasukkan buku-buku ke dalam kotak besar yang tersedia dalam ruangan. Begitupun Agus, ia membantu memasukkan barang-barang milik Dirga yang lainnya.
Tak lama, Bik Asih datang, masuk ke dalam ruangan.
"Pak, bagaiman dengan pakaian Tuan Dirga? Apa mau di masukkan ke dalam koper juga?" Bik Asih bertanya.
"Apa masih ada?" Bayu balik bertanya.
"Sebagian masih ada Pak. Sebagiannya lagi sudah di angkut sama Pak Dadang."
"Ya, masukkan saja."
"Gus, kamu sudah ngomong belum sama Pak Bayu?" Bik Asih berbisik ke telinga Agus.
Mendegar Bik Asih dan Agus berbisik-bisik. Bayu yang sedang merapihkan beberapa alat kerja menatap keduanya.
"Ada apa Bik, Gus?"
"Sana, ngomong atuh Gus." Bik Asih menyenggol lengan Agus.
"Hayuk atuh, sama Bibik juga."
Keduanya mendekat ke hadapan bayu, yang sedang duduk di kursi kerja.
"Begini Pak, saya sama Bik Asih mau ikut Tuan Dirga saja. Selama ini yang menggaji kami juga-kan Tuan Dirga. Kami, sudah tidak betah di sini Pak. Dan kalau Tuan Dirga tidak mau mempekerjakan kami lagi. Saya sama Bik Asih mau berhenti saja, terus pulang kampung. Kami tidak mau ikut Nyonya."
Bayu menatap iba kepada dua orang pekerja yang selama ini setia kepada Dirga. Agus dan Bik Asih tertunduk setelah menyampaikan keinginannya.
"Saya akan bicarakan dengan Tuan dulu. Nanti akan saya beri kabar melalui Pak Dadang. Saat ini saya hanya bisa membawa Lia."
"Terimakasih, Pak Bayu." Bik Asih dan Agus mengucapkannya bersamaan. Mereka tampak lega mendapatkan secercah harapan yang di ucapkan Bayu.
Satu koper berisikan pakaian dan dua kardus besar berisikan buku dan peralatan kerja sudah tersusun rapih dan siap di masukkan ke dalam mobil. Tak ketinggalan Lia pun sudah berkemas setelah semalam mendapatkan kabar dari Bayu.
"Nyonya, saya pamit dulu." menjaga etika, Lia menyempat berpamitan kepada Ratna di ruang makan.
"Pergilah, aku juga tidak membutuhkanmu." dengan mengibaskan tangannya.
*
*
*
Setelah kepergian Bayu. Hatinya mendadak cemas, sesuatu yang baru di sampaikan oleh asisten itu, membuat nyalinya berubah menciut. Antara percaya dan tidak dengan apa yang di dengarnya.
Sebelumnya, hari ini ia berniat akan menemui Dirga di kantornya. Ia mulai bingung harus menemui Dirga ataw menemui pengecara itu. Tetapi ia harus memastikan kebenaran ancaman Bayu. Ia tidak mau menanggung malu kalau pihak Dirga benar-benar memiliki rekaman itu.
"Kenapa dia punya rekamanku bersama Soni? Sialan!!"
Meninggalkan meja makan, Ratna tidak melanjutkan sarapannya. Ia bergegas naik ke lantai atas menuju kamarnya. Berganti pakaian dan merias diri, ia akan menemui Hadi Darma di kantornya.
Mencengram kuat stir mobil. Ia melajukan kendaraannya menuju firma hukum milik Hadi Darma. Sumpah serapah dan segala macam umpatan keluar dari mulutnya selama di perjalanan.
Ia tidak habis pikir kenapa Dirga memiliki rekaman saat ia dan Soni melakukan hubungan badan.
Tanpa Ratna ketahui Dirga sudah lama meretas CCTV yang berada di dalam apartemen Soni. Tentunya dengan campur tangan orang-orang IT kepercayaannya. Dengan nama besarnya, ia mampu melewati orang dalam dan keamanan dari apartemen tersebut.
Sebelum turun dari mobil. Ratna menghubungi Johan sahabatnya.
Sudah dua kali panggilan masih belum ada jawaban. Pastinya ia mengumpat karna kesal.
Ia terus mencoba lagi menghubungi kontaknya. Tidak lama terdengar suara Johan menjawab panggilannya.
"Kemana aja sih lo?! Dari tadi gua telfon gak lo angkat?"
"Sorry. Gua habis briefing. Ada apa lo? pagi-pagi tanduk lo udah keluar."
"Gua ada di depan kantor lo. Gua mau ketemu Hadi Darma. Ada di lantai berapa?"
"Lo udah buat janji?" Johan merasa heran kenapa Ratna tiba-tiba ingin bertemu atasannya.
"Belum!" suaranya Ratna terdengar ketus.
"Lo naik ke lantai 5. Gua tunggu." Johan langsung menutup panggilannya.
"Sialan! Gua belum selesai ngomong udah di tutup duluan."
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungan like, komen, hadiah dan votenya 🙏
Terimakasih atas segala suport dan komennya di kolom komentar 😘