Anindirra

Anindirra
Chapter 119



Rumah terapi itu bukan seperti gedung rumah sakit atau klinik pengobatan pada umumnya. Bukan juga rumah modern ataupun bangunan bertingkat. Rumah terapi itu tampak berbeda, rumah dengan arsitektur tradisional China. Lebih tepatnya rumah tradisional asal China dengan material alami batu dan kayu.


Membuat siapa saja yang datang, pasti akan nyaman. Dengan bergelayut di lengan kokoh sang suami, keduanya Masuk ke dalam melalui pintu kayu bertuliskan Rumah Terapi Ong Liam.


Pasien yang datang dengan berbagai macam keluhan, tidak harus dengan riwayat mental dan penyakit yang sama. Cara pengobatannya pun terkesan santai dan tidak menakutkan. Dari wanita, pria, muda , tua, bahkan anak-anak membaur menjadi satu saling bercengkrama, bercerita dengan di dampingi para terapis yang sudah terpercaya.


Seorang pria dengan setelan Zhongsan berwarna merah ( pakaian adat china ) datang menyambut Dirga.


"Selamat datang Tuan Dirga." Pria itu membungkuk, menyambut dengan ramah.


"Silahkan, Tuan. Dokter Liam sudah menunggu anda di dalam."


"Masuklah duluan Mas, jika di butuhkan aku akan menyusul ke dalam." Anin memberikan ruang kepada Dirga untuk bicara dengan Dokter Liam.


"Aku tidak akan kemana-mana …aku akan menunggu dan duduk di sini." Anin mengerti akan kekhawatiran Dirga.


"Ayok jagoan kamu pasti bisa.." Anin tersenyum memberikan semangat.


"Tunggu aku." Dirga mengecup kening Anin sebelum pergi mengikuti pria berseragam merah itu.


Anin duduk di bangku kayu ukiran dengan meja bulat. Di atas meja telah tersedia satu guci sebagai wadah air putih lengkap dengan cangkir keramiknya. Tersedia untuk tamu yang datang. Anin sungguh sangat menikmati suasana di dalam, rumah ini nampak asri dan menyejukkan.


Saat ia sedang asik memperhatikan setiap sisi dan sudut ruangan. Ia melihat sepasang suami istri dengan rambut yang sepenuhnya telah memutih, dengan kulit yang sudah mengeriput karena usia senjanya. Tetapi tidak menghilangkan sisa-sisa guratan ketampanan dan kecantikan di masa mudanya.


Pasangan itu tengah duduk sama-sama di bangku kayu, tidak jauh dari tempatnya duduk. Dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, sang pria membelai rambut putih beruban sang wanita. Lalu sang pria mengeluarkan sisir kecil model jaman dahulu, dari saku baju kemejanya dengan tangan rentanya.


Anin membayangkan dan berharap, akan seperti itu kelak saat masa tuanya bersama Dirga. Akan selalu bersama, saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi sampai ajal memisahkan.


Baru dua kali menyisir, merapihkan rambut sang wanita, sisir itu terjatuh ke lantai.. Reflek, Anin segera berdiri dan menghampiri kedua pasangan renta itu. Saat ia melihat sang Kakek kesusahan untuk mengambil sisir yang masuk ke bawah meja, yang tanpa sengaja malah terdorong dengan kakinya.


"Biar saya ambilkan Kek." Bertumpu dengan lutut, Anin berjongkok dengan posisi bersujud agar memudahkan tangannya masuk ke kolong meja untuk bisa meraih sisir itu kembali.


"Dapat.." Anin tersenyum senang saat mendapatkan sisir itu kembali.


"Ini Kek.." menjadi kebiasaannya. Anin akan meniup barang yang jatuh ke lantai, sama seperti yang di lakukannya sekarang. Ia meniup sisir itu sebelum di berikannya kepada sang Kakek.


"Terimakasih wo de haizi ( anakku ) duduklah disini bersama kami." sang Nenek bersuara." Anin menurut, ia duduk bergabung bersama.


"Bolehkah saya menyentuh perutmu Nak?" sang Nenek meminta ijin kepada Anin sambil memperhatikan perutnya.


"Ya.." Anin menganggukkan kepalanya dengan tersenyum hangat.


"Dia sangat tampan seperti suamimu." Dengan tangan keriputnya, sang Nenek terus membelai perut Anin. "Dia akan menjadi pemimpin yang pemberani." Anin melebarkan senyuman mendengar ucapan sang Nenek.


"Sepertinya suamimu sangat mencintaimu dan tidak bisa jauh darimu. Dia sama seperti pria tampan ini sewaktu muda." tatapan sang nenek beralih menatap sang kakek dengan membelai wajahnya." keduanya saling menatap dengan sorot mata memuja.


"Siapa namamu Nak?"


"Anindirra.." Anin menjawab pertanyaan sang Kakek.


"Nama yang cantik, mempunyai arti pemberani, kuat dan setia."


"Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa kami ada di rumah ini?" seolah dapat membaca pikiran Anin, sang kakek bicara.


"Hidup tidak harus tentang harta, anak, dan tahta. Hidup hanya membutuhkan cinta dan kasih sayang." seperti pujangga, sang kakek mulai bercerita dengan suara rentanya. Tatapan matanya seakan kembali ke masa-masa mudanya.


"Kita hanya butuh seseorang yang bersedia mencintai kita sepenuh hati. Dan setia mendampingi. Tak perduli hujan badai menghantam, dia akan berdiri kokoh seperti batu karang di tengah gelombang lautan.Tuhan punya hak memberi dan juga mengambil. Manusia tak sempurna seperti tuhan. Tetapi Tuhan menyempurnakan manusia melalui pasangan."


"Tuhan tak menitipkan kami keturunan, tapi memberikan kami kekayaan. Aku sempat di landa ketakutan dan kegelisahan. Butuh proses panjang untuk bisa menerima garis Tuhan. Ternyata bukan obat yang kami butuhkan, tetapi suasana hati yang nyaman."


"Harta akan hilang, anak akan pergi meninggalkan, tahta akan tergantikan. Tetapi pasangan yang setia, dia akan bersedia sehidup semati yang akan selalu mendampingi. Cinta tanpa syarat tidak akan pernah lari, seperti kekasih hatiku ini.." sang Kakek balik menatap sang Nenek dengan mata penuh puja dan cinta.


Anin baru menyadari kehadiran Dokter Liam dan Dirga yang berdiri di belakangnya. Suami dan sang Dokter Liam pun mendengarkan sepenggal cerita tentang kehidupan kedua pasangan senja itu


"Apa Nona, Anin sudah bisa menyimpulkan dari apa yang di sampaikan Tuan Liu dan Nyonya Wei?"


"Penerimaan diri.."


"Ya. Semua akan kembali ke diri kita." Dokter Liam menjelaskan 'Menerima'


"Apa Tuan Liu dan Nyonya Wei pasien Anda Dokter?"


"Tepatnya mereka pasien Baba ( Ayah ) saya Nona. Saat ini, mereka hanya ingin berbagi memberi nasihat ke semua pasien saya yang datang. Tetapi baru kali ini, Tuan Liu menceritakan Kisah cintanya dengan ingatan yang jelas hanya kepada Nona."


"Menjelang sore nanti, asisten pribadi dan supirnya akan menjemput Tuan Liu dan Nyonya Wei. Mereka sahabat kedua orang tua saya, Nona.. Tuhan masih memberikan umur panjang kepada Tuan Liu dan istrinya."


Tuan Liu menatap Dirga sesaat. "Apa yang kau cemaskan Tuan muda? Kamu telah mendapatkan kebahagiaanmu. Yaitu pasanganmu. Hartamu hanya sebagai pelengkap jalanmu."


"Aku doakan kebahagiaan akan selalu menyertaimu. Jika aku boleh meminta, sematkan nama 'YANG' di depan atau belakang nama anakmu kelak. Dia akan seperti matahari yang bersinar terang.


"Terimkasih Akung." Dirga membungkuk hormat, sebagai bentuk penghormatan dan kesopanan dalam budaya China, sebelum ia pamit untuk meninggalkan rumah terapi ini, untuk hari ini ia telah melakukan sesi pertama pemulihannya dengan Dokter Liam.


"Berkunjunglah ke rumah kami Nak." sang Nenek menatap Anin dengan penuh harap.


"Saya tidak berjanji, tetapi jika ada waktu dan kesempatan saya akan datang." Anin mengenggam tangan keriput itu penuh kelembutan


"Saya bisa merasakan, di kehidupan sebelumnya kamu adalah putriku Anindirra."


Dokter Liam menganggukkan kepalanya, meminta Anin agar mengiyakan.


"Ya, aku adalah putrimu."


Banyak pelajaran yang bisa di petik dari cerita singkat pasangan senja itu. Rasa cinta keduanya tidak pudar tergerus waktu dan berubahnya jaman. Ada rasa haru yang Anin rasakan dan tak mampu di ucapkan. Di sepanjang pejalanan, Anin menyandarkan kepalanya di bahu Dirga.


Ia beribu-ribu kali lipat, semakin mencintai pria yang telah memberikan hatinya hingga tak tersisa untuk dirinya. Dengan cara yang berbeda.


Wo ai ni Dirga


****


Bersambung ❤️


Semoga ada cinta dan sayang dari para pembaca untuk penulis receh ini dengan memberikan dukungan 😘😘