Anindirra

Anindirra
Chapter 62



"Dia adalah Ratna Diyanti. Wanita yang aku nikahi 12 tahun yang lalu."


"Dulu, dia wanita yang sempurna di mataku. Selain cantik, dia wanita yang pintar, penuh kelembutan, mandiri dan dewasa. Aku bahkan menentang Daddy dan lebih memilihnya."


"Yang semakin membuatku tersentuh. Dia berasal dari salah satu panti asuhan di Kota Bandung." ‘panti asuhan delima’


"Pertemuan kami terbilang singkat. Kami bertemu di cafe milik sahabatku. Tidak kurang dari 6 bulan aku melamarnya untuk ku jadikan istriku."


"Lima tahun pernikahan, waktu ku, banyak ku habiskan pergi ke luar kota, mengembangkan bisnisku demi impiannya. Sebisaku aku tetap meluangkan waktu untuknya. Tetapi itu tidak cukup untuknya."


"Ratna ingin melihatku sukses. Dengan berjanji setelah lima tahun perkawinan, dia akan siap mengandung anakku. Sampai di hari Aniversary kami yang ke lima tahun."


Cerita itu mengair begitu saja dari mulut Dirga, sampai sebuah penghianatan yang di terima olehnya. Anin menyandarkan kepalanya di pundak Dirga. Ia tidak menyela sampai Dirga berhenti bercerita.


Ia ikut merasakan apa yang di rasakan Dirga saat ini.


"Maafkan aku, sudah menginggatkan kembali masa-masa itu Mas." dengan balas menggenggam tangan Dirga.


"Tidak pa-pa, Sayang... Sudah waktunya kamu mengetahui masa laluku."


"Apa, Mas masih mencintainya?"


"Apa kamu cemburu?" Dirga balik bertanya dengan tersenyum simpul.


"Ishh... Mas ini, aku itu cuma bertanya?"


"Cuma bertanya? Kenapa wajahmu cemberut? Aku tidak perlu menjawabnya. Kamu bisa meraskannya. Aku bukan pria yang pintar merangkai kata hanya untuk memastikan cuma kamu yang aku cintai."


"Pipi putih itu seketika memerah karna malu, mendengar ucapan Dirga.


"Apa aku cantik seperti dia?"


Dirga tergelak tertawa. Mendengar pertanyaan Anin.


"Mas... Kenapa tertawa?" dengan memukul bahunya.


"Aduhh!..." kamu 'KKS' sayang.."


"KKS ? Apa itu"


"Kekerasan kepada suami"


Keduanya tertawa bersamaan. Hingga akhirnya Anin terpaku ketika Dirga merubah raut wajahnya menjadi serius. Pria itu berbalik menatapnya.


"Kamu tidak bisa di samakan dengannya, Sayang... kamu berbeda. Dan kamu wanita special untukku."


Napas hangat menguar di wajahnya saat Dirga mendekatkan wajahnya. Memagut bibir merah segar yang tampak menggoda. Menyesap rasa manis dari bibir tipis yang membuatnya lupa.


Merambat turun, tidak sejengkal pun yang terlewat dari sapuan lembut bibirnya. Meremat sesuatu yang tampak menantang dan menggoda. pucuk itu membuatnya gila.


Sang wanita sudah tidak bisa menahannya. Menggigit bibr, menahan des*han yang akan keluar dari mulutnya.


"Lepaskan, Sayang... Jangan di tahan. Aku menyukai rint**han-mu.


Meliuk di bawah kuasanya, suara lenguhan itu lolos begitu saja. Menambah nafsu yang semakin berhasrat. Aroma tubuh bercampur keringat menjadi sensasi yang berbeda.


Dirga melepas pakaian yang melekat di tubuhnya. Ketika tubuh indah itu sudah lebih dulu polos tanpa sehelai kain yang membungkusnya.


Segala beban. Segala amarah. Segala kecurigaan mereka selesaikan di atas peraduan. Menggapai kenikmatan dengan rasa cinta yang melebihi dari kata-kata.


"Aku mencintaimu Anindirra"


Tubuh kokoh itu menggelepar ambruk dengan napas lepas, saat lahar panas itu menyembur memenuhi rahim wanita yang siap menampung benihnya. Mereka menyelesaikan masalah dengan sangat cantik malam ini.


Wajah merah dengan tubuh berkeringat itu meringkuk lemas di bawah sang penguasa.


"Tidurlah, Sayang..."


...Kamu tidak akan pernah jauh dariku, kemanapun aku pergi kamu selalu ada, karena kamu selalu di hatiku, yang jauh hanya raga kita bukan hati kita....


...Canva...


*


*


*


Sinar terang pagi menerobos masuk ke dalam kamar yang berukuran kecil itu. Mengerjabkan mata, Anin terbangun dari tidurnya. Menatap wajah yang masih tertidur lelap di sampingnya.


Setelah melakukan aktifitas yang melelahkan keduanya tertidur dengan hati yang damai. Melepaskan tangan yang membelit pinggangnya, Anin beranjak bangun. Membuka lemari mengambil jubah handuk untuk membungkus tubuh polosnya.


Masuk kamar mandi yang berada di luar kamar, Anin melakukan ritual mandi, membersihkan sisa-sisa percintaan.


Badanya terasa lengket akibat pertempuran semalam. Dan juga tidak ada AC sebagai penyejuk kamar.


"Mas.. Mas, bangun. Sudah siang."


Mengusap pundak tela*jang itu dengan pelan.


"Pagi, Sayang... Jam berapa ini?" Dirga merentangkan tangannya. Sudah menjadi kebiasaannya. Ia mengulurkan tangan meminta Anin menariknya.


"Ayo, bangun jagon." Anin tersenyum menyambut uluran tangannya.


Membenamkan wajah di perut istrinya, menjadi hobi barunya setelah menikah.


Menjadi kesenangan Anin pula, ia membalas pria manja itu dengan membelai rambut dengan jari-jari lentiknya.


"Dimana kamar mandinya?" Dirga melihat kamar kecil ini tidak memiliki kamar mandi.


"Ada di belakang, samping dapur."


"Aku harus segera mendapatkan tempat tinggal yang layak untuk kita."


"Apa rumah ini menurutmu tidak layak?"


"Bukan begitu maksudku, tapi kita memang harus segera mencari tempat tinggal yang lebih luas. Kegiatan malam akan selalu kita lakukan sebelum tidur." Dan aku membutuhkan kamar mandi yang berada dalam kamar untuk membersihkan diri.


"Kegiatan?" memicingkan mata, Anin bertanya curiga.


"Ya, kita akan selalu bercinta setiap malam." Dirga tersenyum penuh maksud.


"Ya ampun, Tuan pemaksa. Rencanamu membuatku takut."


Anin membuatkan kopi saat Dirga berada di dalam kamar mandi. Meletakkan di atas meja makan. Ia hendak membuka jendela dan pintu, agar udara pagi masuk ke dalam rumah.


"Astaga!!" Anin terkejut saat melihat keberadaan Pak Dadang yang tengah tertidur di dalam mobil dengan kaca terbuka.


Mereka sungguh melupakan keberadaan pria tua itu tadi malam.


"Ada apa?" Dirga mendekat dengan hanya menggunakan handuk sepinggang.


"Pak Dadang Mas." telunjuknya menunjuk ke arah mobil yang terparkir.


Bukannya merasa bersalah, Dirga malah tertawa, memperlihatkan gigi putihnya.


"Aku lupa." dengan santainya ia melangkah masuk ke dalam kamar.


"Sayang, bantu aku memakai pakaian." ia berbalik saat Anin tidak mengikutinya.


"Apa tidak sebaiknya, aku bangunkan dulu Pak Dadang Mas?"


"Nomor satukan aku dulu. Urusi suamimu yang tampan ini."


"Baiklah, Tuan pemaksa." Anin menurut patuh menyusul Dirga ke dalam kamar.


"Mas, tidak ada baju ganti. Ini sudah kotor." Anin menunjukkan kemejanya yang sudah kusut tergeletak di lantai.


"Baju gantiku ada di mobil."


"Apa aku ambilkan dulu?"


"Tidak, aku saja." Dirga tidak mau Anin keluar


"Mas gak pake baju. Gimana kalau di lihat orang. Pagi-pagi, di komplek ini banyak Ibu-ibu yang lewat. Aku juga tidak rela tubuh suamiku di lihat wanita lain."


Dengan wajah cemberut.


Dirga tersenyum senang mendengar uangkapan wanita itu. Ia merasa di miliki dan di inginkan. Memeluk Anin dengan posesif. Membisikan kalimat di telinganya. "Aku milikmu, Sayang..."


"Aku tunggu. Jangan lama." Dirga melepas pelukannya. Merelakan Anin ke depan mengambil pakaiannya.


Tok Tok Tok


Anin mengetuk kaca jendela.


"Pak, Pak Dadang."


Pria itu terbangun. Buru-buru menegakkan kursi yang ia rebahkan.


"Nona Anin. Maaf, saya kesiangan." sambil mengucek matanya.


"Tidak pa-pa, Pak. Saya mau ambil pakaian ganti Mas Dirga. Masuklah ke dalam untuk bersih-bersih Pak, sekalian saya buatkan kopi."


"Baik Nona." dengan menyerahkan stelan baju yang tergantung di kursi belakang.


Di kamar, Anin membantu Dirga memasang kancing kemeja berwarna putih yang menjadi paforitnya.


"Sudah, sudah selesai dan Mas terlihat semakin tampan." mengusap pelan dadanya, setelah dasi bergaris itu tergantung rapih di kerah kemejanya.


"Apa kamu merayuku? Jangan sampai aku membuka kembali pakaianku." tangannya masih membelit pinggang ramping istrinya.


"Jangan macam-macam. Pak Dadang sudah menunggu di depan." dengan mata melotot.


"Oh, ayolah Nyonya, kegiatan pagi lebih menyenangkan bukan?"


"Tidak."


****


Bersambung ❤️


Jangan lupakan like nya yaa 🤗 buat penyemangat kalau komentar tidak sempat.


Dan juga dukungan yang lainnya...


Terimakasih 🙏😘