Anindirra

Anindirra
Chapter 60



Selepas kepergian Pak Dadang. Anin menutup dan mengunci pintu itu kembali. Ia khawatir Andre akan kembali menemuinya.


Mengambil ponselnya yang berada di atas nakas kamar. Ia duduk di sisi tempat tidur. Jemarinya mulai mengetik pesan singkat ke nomor Dirga melalui aplikasi.


"Mas, maafkan aku. Untuk malam ini, ijinkan aku tidur di sini. Maaf, Mas. Dengan tidak mengurangi kepatuhanku sebagai seorang istri, aku menolak tidak menurutimu untuk ikut pulang bersama Pak Dadang ke hotel. Jangan salahkan Pak Dadang, aku mohon."


Klik.


Pesan terkirim. Tapi masih centang dua. Menandakan belum terbacanya pesan.


Sesampainya di parkiran Botanica Restoran Pak Dadang masih berada di dalam mobil. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Mencari kontak Bayu yang akan di hubunginya.


Sedangkan di dalam restoran. Dengan di dampingi Bayu, Dirga tengah berbincang-bincang dengan clientnya Mr Leon dan asistennya yang berasal dari Negara Eropa.


Sambi menikmati makan malam yang tersaji di meja. Mereka membahas kelanjutan proyek yang sedang di jalankannya. Tepatnya, Dirga sedang menjalin kerjasama, membangun hotel termewah di kota paris.


Bayu ikut mengomentari dengan menambah beberapa poin kesepakatan kerjasama yang akan menguntungkan kedua belah pihak.


Dreetttt...


Di tengah obrolan yang sedang serius. Suara dering ponsel miliknya terdengar mengganggu pembicaraan.


"Maaf tuan-tuan, saya ijin mengangkat telfon dulu." Bayu menjauh dari meja jamuan setelah mengetahui yang menghubunginya Pak Dadang.


"Halo." Bayu menjawab lebih dulu.


Terdengar suara Pak Dadang, memberikan laporan dengan detail kepada Bayu.


"Saat ini saya berada di parkiran Pak Bayu. Saya harus bagaimana?"


"Tunggu sampai saya menyampaikan kepada Tuan Dirga. Saat ini belum bisa di ganggu. Sementara Bapak menunggu, pesanlah makanan ke dalam atas nama Wijaya Group."


Bayu memutus panggilan dan kembali ke meja. Ia belum menyampaikan kabar kepada Dirga. Ia tidak ingin merusak suasana di meja makan. Apa lagi mereka sedang serius membahas kerjasama.


"So, how about we celebrate our deal at the club ?" ( Jadi, bagaimana kalau kita merayakan kesepakatan kita di club? )


Pria bule yang bernama Leon mengajak Dirga untuk minum di club malam ini. Merayakan kesepakatan kerja yang telah di sepakati keduanya.


"Sorry, Mr Leon. I can not." ( Maaf, Mr Leon. Saya tidak bisa )


"Come on Dirga. It’s still too late to go back to the hotel. ( Ayo Dirga. Masih terlalu sore untuk kembali ke hotel. ) saya ingin mengenal gadis asia yang terkenal dengan kecantikannya.


Dirga tersenyum menanggapinya. Selama menjadi pebisnis, Dirga tidak pernah menolak ajakan clientnya. Ia selalu memberikan pelayanan yang terbaik dan tidak pernah mengecewakan. Tapi malam ini hatinya tidak tenang mengingat Anin wanita yang sudah menjadi istrinya.


Hatinya merasa gelisah.


"Baiklah, tapi saya tidak bisa lama tuan-tuan." Dirga bangun dari kursinya.


Suasana bising mulai terdengar saat ke empat pria berjas mahal itu masuk ke dalam club malam yang terkenal di kota Jakarta. Bayu memberikan kartu member kepada pelayan club yang menyambutnya.


Pelayan itu membuka pintu privat room VVIP. Club malam itu sudah sering di kunjungi Dirga saat ia menjamu clientnya dari luar kota ataw dari luar negri. Dia salah satu pelanggan tetap yang terkenal sebagai pebisnis kelas kakap.


Mereka menikmati minuman yang di sediakan oleh pelayan club.


Malam ini, Dirga memesan bir tanpa alkohol untuk dirinya. Dan memasan red wine untuk di nikmati Mr Leon dan asistennya.


Seorang pria yang Dirga kenal sebagai temannya masuk ke dalam ruangan. Dia adalah pemilik club malam ini.


"Hai bro." Ia bertos ria dengan Dirga. Dengan gaya laki-laki


"Apa perlu wanita?" ia menawarkan wanita sebagai penghibur para pria yang ia ketahui sebagai pebisnis.


"Datangkan dua aja. Dirga menjawab."


"Tidak butuh 4?" pria yang bernam Diego itu tersenyum jahil. Ia sangat mengenal karakter Dirga.


"Apa kamu menginginkannya Bay?" Dirga menawari asistenya.


"Tidak tuan. Terimakasih." Bayu lebih memilih meminum cocktail sebagai minumannya.


"Baiklah Tuan-Tuan. Saya pastikan wanita yang saya datangkan tidak akan mengecewakan."


Dua wanita itu menghampiri pria-pria berkantung tebal yang akan di servisnya.


Satu orang wanita memilih duduk di samping Dirga. Sebelum bokongnya jatuh di sofa.


"Aku tidak menginginkanmu!" suara tegas terdengar dingin, membuat si wanita ciut nyalinya.


"Kalian aku pesan untuk menemani clientku." Dengan dagu mengarah ke Mr Leon dan asistennya.


Dengan kecewa, wanita itu mendekati temannya yang sudah berada di pangkuan Mr Leon. Ia duduk dia samping, menemani asistennya.


"Gak dapet yang tampan, lumayanlah gua dapet bule." wanita itu menggerutu dalam hatinya.


Dua pria bule itu asik dengan kesenangannya. Sedangkan Dirga dengan cuek membuang pandangannya sambil menyesap minumannya. Ia mengeluarkan ponsel yang sedari tidak di lihatnya.


"Bay, apa sudah ada kabar dari Pak Dadang?" Dirga bertanya dengan mata fokus ke ponselnya.


"Sudah, Tuan." Bayu merasa ia harus segera memnyampaikan apa yang di sampaikan Pak Dadang.


Dirga mengangkat kepalanya mendengar ucapan Bayu.


"Nona Anin masih di rumahnya Tuan." Bayu menyampaikan sama seperti yang di sampaikan Pak dadang.


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" wajahnya mengeas. Dirga melihat jam Rolex di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 10.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menyampaikan kepada anda saat di restoran. Anda membutuhkan konsentrasi untuk mengambil keputusan."


Dirga mengecek pesan masuk yang di kirimkan Anin. Setelah membaca. Ia langsung menghubungi Pak Dadang.


"Dimana?"


"Saya di parkiran restoran Tuan."


"Jemput saya di club biasanya."


Dengan resah Dirga beberapa kali memijit pangkal hidungnya. Pikirannya sudah tidak berada di club itu. Ia sudah tidak sabar menunggu kedatangan Pak dadang yang akan memjemputnnya.


"Maaf, Mr Leon. Kami tidak bisa menemani anda sampai selesai. Nikmati waktu anda. Soal bayaran sudah di tanggung oleh Tuan Dirga." Bayu mewakili Dirga untuk Bicara.


"Ok, asisten Bayu. Thank you."


Dirga lebih dulu keluar ruangan meninggalkan clientnya yang sedang menikmati minuman dan wanita yang ia bayar untuk menemani.


Setengah berlari Bayu mengejar Dirga menuju parkiran. Mereka berpisah masuk ke dalam mobil masing-masing. Bayu kembai ke apartemennya dan Dirga akan menuju tempat tinggal Anin.


Mobil yang di kendarai Pak Dadang melaju dengan cepat di tengah malam. Tidak ada pertanyaan apapun yang keluar dari mulut Dirga. Pria itu duduk diam di kursi penumpang. Sesekali hanya terdengar helaan napas yang terdengar berat.


Pak Dadang pun diam tidak berani membuka suara, ia fokus dengan kemudinya berharap segera sampai. Ia bisa melihat kekecewaan di wajah Tuannya.


Dirga memikirkan banyak hal. Ia tidak akan membiarkan masalah ini berlarut-larut. Ia ingin memulai kehidupannya dengan Anin tanpa ada gangguan dari siapa pun. Ia tidak akan membiarkan orang dari masalalunya merusak kebahagiaan yang sedang di bangunnya.


Ia akan bertindak tegas kalau memang perlu di lakukan. Ia seorang Dirga keturunan Wijaya. Jika kehidupannya terusik ia bisa lebih kejam dari yang di bayangkan.


"Apa yang membuatmu tidak mau pulang ke hotel, Sayang?"


"Apa karna laki-laki itu?" Dirga bermonolog dalam hatinya.


"Ah sial !! Kenapa aku kecolongan." Dirga nmmengeram kesal.


****


Bersambung ❀️


Terimakasih untuk segala bentuk dukungannya teman-teman πŸ™ saya penulis baru, hanya menyalurkan hobi menulis dengan tidak bermaksud merugikan siapapun. Kalau ada nama tempat dan kejadian yang sama, itu di luar rencana.. Ide itu mengalir begitu saja.


Sekali lagi saya mohon maaf πŸ™


Jangan lupa like-nya yaa πŸ€—