
Membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari Changi Airport menuju Mount Elizabeth Hospital.
Dirga masuk ke sebuah kamar perawatan yang luas dan nyaman dengan fasilitas nomor satu. Di atas brankar Bastian Wijaya tengah terbaring dengan kondisi sudah terpasang Gips di bagian leher dan perban besar berbentuk short leg cast di bagian tungkai kaki.
Lelaki itu baru keluar dari ruang ICU setelah menjalani operasi. Dan baru di pindahkan ke ruang perawatan sekitar 15 menit sebelumnya.
Seorang wanita tua yang masih terlihat cantik dan anggun duduk di sisi tempat tidur menggenggam jari-jari suaminya. Sesekali ia mengusap tangan yang tidak lepas dari genggamannya.
"Mom,"... Suara maskulin Dirga menyapa Mommy Aylne. "
"Dirga,"... Mommy Alyne menengok arah sura yang berasal dari pintu. Melepas jari-jari suaminya Alyne menyambut kedatangan anaknya yang sudah bepuluh-puluh purnama tidak bertemu.
Mommy Alyne memeluk tubuh tinggi tegap itu dengan penuh kerinduan. Entah kapan terahir kalinya ia memeluk tubuh Dirga. Memberi jarak Mommy Alyne menangkup sisi wajah Dirga dengan kedua telapak tangannya.
"Apa harus Daddymu terbaring lemah dulu, baru kamu mau menemui kami?" Dengan suara lembut Alyne memukul lengan Dirga dengan pelan sebagai ungkapan kasih sayang.
Dirga tertawa pelan "Mom,... Aku merindukan mu." Dirga memeluk Mommy Alyne memberi ketenangan kepada wanita tua itu.
"Bagaimana keadaan Daddy?" Dirga mengurai pelukannya dan mendekat ke sisi ranjang tempat tidur.
Nampak Bastian Wijaya masih tertidur karna masih dalam pengaruh obat bius.
"Daddymu mengalami cidera tulang di bagian lututnya. Dan masih harus menjalani pemeriksaan CT scan di bagian kepala." Mommy Alyne menjelaskan.
"Semoga tidak terjadi hal yang buruk dan Deddymu cepat pulih." Mommy Alyne memandang wajah lelaki tua yang terbaring memejamkan mata.
"Jangan di pikirkan Mom, Daddy pasti akan baik-baik saja." Dirga merangkul pundak Aylne dan menenangkannya.
"Ayo,... Mommy pasti lelah." Dirga mengajaknya untuk duduk di sofa besar tidak berada jauh dari tempat tidur.
"Mommy sudah makan? Aku akan pesankan makanan untuk Mommy. Jangan sampai Mommy sakit karna menjaga Daddy."
*
*
Di Bandara Adi Sumarmo. Dari pintu keluar seorang wanita tengah menggeret kopernya setelah mengudara selama 1 jam 15 menit. Anin mengucap syukur tiba dengan selamat.
Sesampainya di lobi ia menghirup Kota Solo yang sudah lama sekali tidak ia kunjungi. "I’m Coming."... Anin merentangkan kedua tangannya.
Belum sempat membuka ponsel untuk memesan taksi online. Seorang lelaki muda menawarkan jasa menggunakan mobil miliknya.
"Mbak butuh taksi? Naik mobil saya saja mbak."
Anin nampak berpikir dan terlihat ragu.
"Ndak usah takut Mbk, di jamin aman." menyadari keraguan di raut wajah wanita muda yang d tawarinya.
"Mbak bisa pegang tanda pengenal saya untuk jaminan." Laki-laki dengan logat jawanya itu terus meyakinkan Anin.
"Betul ya, Mas. Saya di antar dengan selamat dan aman." Anin mulai percaya.
Di lihat dari penampilannya laki-laki itu seperti pekerja kantoran.penampilannya rapih dan wajahnya cukup lumayan.
"InsyAllah, Mbak. Saya antarkan Mbak sampai di tempat dengan selamat tidak berkurang sedikitpun dan dalam keadaan utuh." Sedikit bercanda laki-laki itu tertawa ramah.
"Ya, sudah. Ke Desa Kemuning Ngarogoyoso berapa Mas?" Anin memastika uang yang akan ia keluarkan sebagai alat pembayaran.
Anin sudah duduk di kursi penumpang setelah kesepakatan terjadi di antara keduanya. Dan mobil yang membawanya sudah keluar dari area bandara.
Beberapa saat keheningan terjadi di dalam mobil.
"Nama saya Bagas Mbak.." Laki-laki itu mulai membuka obrolan dengan mengenalkan namanya.
"Oh, iya Mas. Saya Anindirra." Anin membalas ucapan laki-laki yang baru ia ketahui bernama Bagas.
"Sudah lama ya Mbak ndak pulang kampung?" Bagas bertanya
"Kog tau Mas?" Anin mulai merespon. Ia bisa melihat sosok Bagas yang sopan dan ramah.
"Yaa… di dengar dari logatnya. Mbak Dirra sudah hilang logat jawanya."
"Gitu, ya Mas. Eeh, Dirra? Mas sebut nama saya?" Anin mengarahkan telunjuk ke dadanya.
Bagas mengangguk. "Namanya Mbak Aninndirra to? Saya ambil nama belakangnya Mbak. Namanya cantik." Bagas menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Dan secantik orangnya." Bagas mengucapkannya dalam hati
"Ooh..." Anin membentuk bulatan di bibirnya.
"Mas asli Solo?" Anin balik bertanya.
"Iya Mbak. Saya dari Desa Kemuning juga sama seperti tujuan Mbak Dirra."
"Ooo..." Anin mengangguk-anggukkan kepalanya.
Hingga obrolan itu terus berlanjut dan Bagas ternyata asik untuk di ajak ngobrol. Keduanya semakin terlihat akrab saat Anin tau mereka sama-sama dari satu Desa dan ternyata Bagas tetangga Budenya. Rumahnya hanya beberapa meter dari tempat tinggal Budenya.
Anin juga baru mengetahui kalau Bagas ternyata bekerja sebagai PNS di kecamatan. Jika ada waktu senggang ia gunakan untuk mencari penumpang sebagai pekerjaan sampingan. Dan kebetulan hari ini Bagas sedang libur kerja.
"Mbak Dirra sendiri kerja ataw?"
"Saya pengangguran Mas." Anin tersenyum memotong pertanyaan Bagas.
"Saya pulang ke kampung menyusul Ibu dan Putri saya yang sudah beberapa hari berada di sini."
Bagas mendengarkan sambil fokus dengan jalanan.
"Pulangnya ndak sama Suaminya Mbak?"
Anin terdiam saat Bagas bertanya tentang Suami. Dan Bagas bisa melihat perubahan di wajah Anin melalui kaca spion. Raut wajah itu berubah murung.
Pertanyaan Bagas mengingatkan Anin dengan dua laki-laki yang membuatnya kecewa. Membuatnya menangis. Tetapi ia tidak bisa membenci keduanya.
Tidak bisa di hilangkan bahwa Andre sebagai Ayah biologis Alea. Walaupun telah meninggalkan luka yang teramat dalam dengan sebuah perpisahan.
Sedangkan Dirga. Pria yang karna suatu keadaan telah mengikatnya. Pria yang belum lama di kenalnya. Tanpa bisa ia tolak telah masuk ke dalam hatinya sekaligus membuat ia kecewa.
"Alhamdulillah Mbak... Kita sudah masuk Desa Kemuning." Bagas mengalihkan pertanyaannya ketika Anin terdiam dengan pikirannya.
****
Bersambung ❤️