
Efek dari sate kambing semalam, bukan hanya tubuh yang memanas. Tapi sesuatu yang menegang tak bisa di kendalikan. Di saat pasangan muda telah selesai meraih nikmatnya surga dunia di pagi hari, tidak dengan sepasang suami istri senja itu. Bastian, pria tua itu harus extra memutar otak dan merayu Alyne agar mau melayanainya.
"Lyne.. Ayolah Lyne.. Pleaseee.. Sekaliiii saja, aku janji tidak nambah."
"Dadd... Kamu itu benar-benar ya.. Aku kan sudah mengingatkan, Jangan terlalu banyak memakannya. Ini akibatnya!"
Alyne masih tetap bertahan dengan merapatkan selimut di tubuhnya yang masih terlihat segar.
"Tidak banyak Alyne-ku, Sayang …cuma beberapa tusuk."
"Tidak mungkin hanya beberapa tusuk, efeknya separah ini?" Alyne bertanya dengan curiga. "Jujur? Apa yang Daddy makan?" Alyne sudah dalam mood galak
Pria tua itu menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan cengiran miring di sudut bibirnya. "Aku memakan torpedonya."
"Oh, good.!! Kau ini.!" Alyne memukuli Bastian dengan bantal.
"Tidak malu dengan umur.. Sebentar lagi sudah mau tambah cucu, ingat Dad... Cucumu sudah dua."
"Apa hubungannya dengan cucu, Lyne? Aku masih cukup kuat.. Apa harus aku buatkan adik untuk Dirga supaya kamu percaya?"
"Ya, ya.. Aku percaya denganmu pak tua.! Tapi siap-siap saja, Daddy harus sunat untuk kedua kalinya.!"
"Ahh.. Lyne, kau sungguh terlaluhhhh.."
*
*
*
Sedangkan di kamar utama, Dirga baru saja menyelsesaikan santapan paginya, sebelas dua belas dengan Bastian.. Dari mulai jam 4 pagi, pria itu terus melancarkan aksinya, tangannya tak berhenti bergeriliya ke tempat-tempat sensitif milik Anin, hingga wanita itu ahirnya menyerah terbawa geombang.
Setelah membersihkan diri pasangan suami istri itu kembali menggulung tubuhnya ke dalam selimut.
"Mas..," Anin mengeplak tangan yang tak mau berhenti menggerayang.. "Cukup, tidak ada nambah-nambahan. Aku hari ini ingin menemani Alea berenang dan segera sarapan. Aku lapar."
"Maklum, Sayang.. Dua bulan gagakku di anggurkan.. Bukankah semakin besar kehamilan harus sering-sering di jenguk? Aku ini suami siaga dan tanggung jawab, aku sangat patuh perintah Dokter.."
"Itu bukan perintah, Mas.. Tetapi saran.."
Anin beranjak dari tempat tidur, di lihatnya jam sudah pukul 8. Weekand ini Anin dan Dirga sepakat ingin menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga sebelum esok hari suaminya sudah sibuk kembali menjalani rutinitasnya.
Turun ke bawah, Anin melihat Alea tengah menyantap sereal-nya
"Pagi, cantik.." sambil mencium kedua pipinya, sudah menjadi kegiatan yang tak boleh di lewatkan baik Anin maupun Dirga
"Pagi Mami... Papi mana?" Alea bertanya ketika melihat Maminya turun sendiri.
"Papi lagi di kamar mandi, sebentar lagi turun."
Roti tawar dan beberapa pilihan topping selai selalu ready di meja makan, dengan tambahan menu lainnya yang selalu di buat oleh tangan terampil Bik Asih..
"Bik, Mommy dan Daddy belum turun?"
Anin bertanya sambil menuangkan nasi goreng ke atas piringnya.
"Belum, Nona.. Tidak biasanya?" Bik Asih berkomentar. "Apa perlu saya panggilkan Nona?"
"Biarkan Bik, mungkin Mommy sama Daddy sedang ingin bersantai, semalam kita semua tidur larut malam kan?"
"Pagi sayang?" Dirga muncul dengan pakaian santainya dan mengecup kepala sang putri.
"Pagi Papi.."
"Daddy dan Mommy belum turun?"
"Belum, Mas.."
"Ckk.. Jangan bilang kalau pria itu sedang meminta jatahnya."
"Mas.." Anin mengkode ada Alea..
"Mami, Ea mau lenang, tapi di temani Mami sama Papi.."
"Ya, tapi habiskan dulu serealnya.. Mas, mau roti apa nasi goreng?
"Nasi goreng." Dirga menyodorkan piringnya.
"Kapan Bu Rahma tiba di Jakarta, Nak?"
Sepasang suami istri yang baru saja menyelesaikan kegiatannya itu sudah duduk bergabung di meja makan, setelah sebelumnya menyapa anak, cucu, dan menantunya. Tampak wajah cerah melebihi mentari pagi di wajah pria tua itu.
"Siang nanti Mom.. Kami akan menjemput ke bandara."
"Oma cama Opa kog banunna ciang?"
Tiba-tiba pertanyaan gadis kecil itu membuat Bastian tersedak sosis goreng yang baru saja mendarat di mulutnya.
"Mbak Lia, tolong gantikan pakaian Alea."
"Ya, Nona.. Sudah Lia siapkan.."
Kedua pria dan wanita tua itu tampak tersenyum malau-malu.
"Dadd... Ingat encokmu, jangan sampai kumat.." Dirga segera berdiri menyusul istri dan putrinya sambil tertawa..
"Anak kurang ajar, tidak bisa lihat orang tua senang." Bastian menggerutu sambil melempar potongan sosis kepada putranya.
*
*
*
Di tempat lain, tepatnya di sebuah apartemen elit ternama
Bayu sedang mendapatkan jatahnya dengan cara berbeda.. Ia meminta Stella bertanggung jawab akibat semalam, ia di cekoki daging kambing lebih dari sepuluh tusuk sate. Pria itu tak mungkin menggempur istrinya di trimester pertama karena rawan.
"Oh Steeee..." Tubuhnya bergetar saat cairan kental itu tumpah ke atas dada , Bayu menariknya sebelum masuk ke dalam mulut sang wanita.
"Kamu pintar Ste.."
Bayu menghempaskan punggungnya, terlentang lemas di atas tempat tidur. Matanya terpejam masih menikmati rasa yang belum hilang, wanita itu selalu mampu membuatnya melayang dengan permainan yang di mainkan.
Sedangkan Stella langsung berlari ke kamar mandi untuk membasuh mulut, membersihkan dada dan tangannya.
Hingga terdengat suara ketukan beberapa di pintu.
"Ste,, Stella..." suara Amanda terdengar dari luar.
Sebelum Stella membuka pintu, Bayu segera bangun dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Biasanya tidak ada yang mengganggu setelah kegiatan mereka, tetapi saat ini Bayu harus memaklumi karena ada orangtua yang hadir bersama mereka.
"Ya, Mom.." Stella membuka pintu kamar.
"Sudah siang …kamu harus sarapan dan meminum susumu sebelum dingin, Mommy sudah menyiapkannya."
"Ya Mom, sebentar lagi aku keluar.."
Amanda dan Alfred sangat antusias dan bahagia saat mengetahui kehamilan putrinya. Mereka langsung terbang ke Indonesia. Sebagai ibu, Amanda lebih protek dengan kehamilan Stella..
Duduk berempat di meja makan dengan menu sarapan yang telah di buat Amanda.. Roti panggang isi daging kesukaan Stela, mirip roti panggang ala korea ( Gilgeori Toast )
Dan Avocado Toast pesanan Alfred.
"Mom, ini bau.. Aku mual." Stella menjauhkan piring berisikan roti panggang kesukaannya dengan memencet hidungnya.
"Bau?" Amanda mencium roti panggang buatannya yang baru keluar dari Oven dengan aroma yang menggiurkan.
"Padahal kamu sangat menyukai roti panggang buatan Mommy Stella.." wanita yang lebih pengalaman itu mengerti kalau putrinya sedang mengalami masa-masa ngidam dan morning sickness di awal kehamilan.
"Anakku harus sarapan Ste.. Kamu mau makan apa?" Bayu mengelus perut Stella dan bertanya.
"Aku ingin makan bubur ayam di abang-abang bawah, seberang jalan depan apartemen."
"Baiklah, aku akan pesankan.."
"Tidak mau, Bay.. Aku ingin makan di tempatnya." Stella menyandarkan kepala di lengan Bayu dengan manja.
"Aku temani, tapi minum dulu susumu, Ste.. Anak kita harus sehat begitupun Mamanya."
Alfred yang selalu memperhatikan interaksi dan sikap Bayu kepada putrinya yang sangat manja, hatinya begitu terharu.. Ia terkadang bersedih dan menyesali, kala mengingat ia sempat menolak pria yang saat ini, selalu mencurahkan banyak kasih sayang untuk Stella. Ia tidak dapat membayangkan jika sampai Stella menikah dengan Steven dan dalam keadaan hamil.
Amanda mengelus punggng tangan pria tua yang duduk di sampingnya. Ia bisa melihat perubahan wajah, dan meraskan apa yang di rasakan suaminya.
"Kapan kalian akan pindah rumah? Stelah punya anak, kalian membutuh ruang dan tempat yang lebih luas.." Alfred menyempatkan bertanya sebelum anak dan menantunya meninggalkan meja makan turun ke bawah.
"Nanti Dad.." Stella menjawab. "Aku masih menikmati tinggal disini. Kalau sudah saatnya kami akan pindah."
"Apa kalian sudah mencari tempat tinggal yang nyaman?" Amanda bertanya
"Kami akan menempati rumah yang telah di siapkan oleh Dirga Mom. Kami mendapatkan kunci sebuah tempat tinggal tak jauh dari lingkungan tempat tinggal mereka."
Oh.. Syukurlah...
****
Bersambung ❤️
Terimakasih atas segala dukungan dan doanya.. Semoga teman-teman semuanya yang berada di berbagai daerah juga selalu sehat. Aamiin
Semua komen aku baca.. Maaf, aku hanya respon dengan like.. Salah satu bentuk kepedulian dan jawaban dari ku.
I love you to all 😘😘