Anindirra

Anindirra
Chapter 39



Sebelum datang ke kantor Wijaya grup. Anin mampir ke salah satu BANK swasta dan menarik uang sebanyak yang Dirga kirimkan ke rekeningnya.


Semalaman ia tidak bisa tidur. Anin


sudah memikirkan dan memutuskan keputusannya hari ini. Ia akan mengembalikan uang yang telah di terimanya dan akan mengganti uang pengobatan Alea. Ia harus memutuskan ikatan ini apapun resikonya.


Anin sadar hubungan ini di awali dengan cara yang salah. Ia pun memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan besar yang menjadi impiannya selama ini. Anin menjadi salah satu orang yang beruntung dari sekian banyak pelamar. Karna tidak semua pelamar yang bisa di terima bekerja di perusahaan raksasa itu.


Anin ingin melanjutkan hidupnya tanpa ada bayang-bayang pria yang dengan cepat masuk ke dalam hatinya sekaligus menyakitinya.


Dirga terdiam menatap dua amplop di atas meja kerjanya. Pikirannya buntu perasaannya tidak tenang. Tangannya terulur. Ia lebih memilih amplop tipis berwarna putih yang di dalamnya ada selembar kertas bertuliskan pesan dari wanitanya.


 


****


 


Tuan... Maafkan aku,


Aku harus mengembalikan uang yang Tuan kirimkan ke rekening ku.


Dengan bersungguh-sungguh, aku akan mengganti uang yang sudah terpakai untuk pengobatan putriku. Walau harus dengan cara mencicil.


Maaf, aku tidak mempunyai keberanian untuk mengembalikannya langsung.


Aku merasa malu dan hina, aku tidak pantas berdiri di sisi tuan. Terimakasih untuk waktu yang singkat ini.


Terimakasih untuk kebahagiaan yang tuan berikan untuk putriku.


Maaf kalau aku berharap lebih. Aku lupa menyadari siapa diriku.


Tolong lepaskan ikatan ini. Tolong lepaskan aku ...


Maaf... Anindirra


****


Dirga terhenyak lemas di kursinya. Dadanya sesak bedenyut nyeri. Ia tidak ingin kehilangan wanita yang di cintainya untuk kedua kalinya. Ia tidak akan sanggup. Ia belum sempat mengutarakan isi hatinya. Hingga pertengkaran itu terjadi.


Ponselnya menyala menandakan banyaknya panggilan dan pesan. Salah satunya dari Mommy Alyne. "Mommy?" Dirga menautkankan alisnya. "Ada apa Mommy menghubungi ku?"


Selama berada di ruang meeting ia meninggalkan ponselnya di ruang kerja. Hingga tidak mengetahui ada panggilan dan informasi dari anak buahnya yang belum ia baca. Ia lebih memilih nomor Mommy Alyne dan menghubunginya.


Sayangnya nomor yang di tuju sedang dalam panggilan lain. Menunggu beberapa saat Dirga menghubunginya kembali. Tetapi tetap tidak bisa terhubung nomor masih dalam panggilan lain. Dirga terus mencoba tetap tidak terhubung.


Sebelum sempat mengambil keputusan masalahnya dengan Anin. Dirga harus di hadapkan dengan kabar yang lebih mengejutkan. Bayu masuk menemuinya dan memberi kabar yang baru saja di terimanya. Tuan Bastian masuk rumah sakit karna mengalami kecelakaan.


Dirga mengusap wajahnya prustasi.


"Bay siapkan Pesawat. Aku akan terbang sekarang juga. Kamu handle semua pekerjaan. Atur ulang pertemuanku dengan beberapa client. Kirim pekerjaan melalui Email."


*


*


Seorang wanita tengah duduk di kursi pesawat menuju solo. Ia memutuskan menyusul Ibu dan Alea ke Desa kecil di ujung Kota Solo. Selain rindu Anin juga ingin beristirahat. Sudah lama sekali rasanya ia tidak pergi berlibur sekedar memanjakan tubuhnya dari segala rutinitas.


Saat ini Anin sudah berada di atas awan sama seperti pria yang ia tinggalkan. Hanya selisih dua jam dari waktu keberangkatan. Begitupun dengan Dirga. Ia sedang berada di atas awan menuju Negara Singapura.


Waktu dan tempat yang membedakannya. Tetapi hati keduanya tetap berada dalam satu lingkaran.


"Aku yakin seiring waktu, perasaan ini akan cepat hilang." dan Anin pun tertidur di dalam pesawat. Semalaman ia tidak bisa tidur dan tidak berhenti menangis.


*


*


Dirga terbang menuju Negara Singapura dengan pesawat jet pribadinya. Pikirannya saat ini tidak bisa lepas dari Anin. Terahir kabar yang ia terima sebelum pesawat lepas landas. Ia menyempatkan melihat foto keberadaan Anin di salah satu BANK swasta yang di kirim oleh orang suruhannya.


"Tuan ini minuman anda." seorang pramugari bernama Ana meletakkan minuman di meja yang berada di depan kursinya.


"Apa anda membutuhkan yang lain?" Dengan memberikan senyum terbaiknya ia bertanya.


Sudah ke tiga kalinya Ana ikut terbang untuk melayani Dirga. Dan selama itu juga Dirga sama sekali tidak meliriknya. Biasanya Dirga terbang bersama Bayu sehingga Ana tidak bisa mendekati Dirga. Dan saat ini kesempatan untuknya.


"Anda yakin tidak menginginkan yang lain?" Ana sedikit menggoda


"Cukup. Saya tidak membutuhkan apapun. Pergi! Tinggalkan saya!" wajahnya dingin, rahangnya mengeras, sorot matanya tajam. Dirga mengusirnya dengan suara tegas.


"Ba-baik Tuan. Ana segera pergi dengan ketakutan. Ia baru melihat kemarahan di mata Dirga dan membuatnya merinding.


"Ternyata dia bukan pria yang mudah tergoda. Sial!!" Ana mengumpat.


"Kamu kenapa?" salah satu rekannya bertanya?


"Ti-tidak apa-apa." Ana kaget mendapati rekannya sudah berada di dekatnya.


"Jangan macam-macam dengan Tuan Dirga. Kamu mau di lemparnya keluar dari pesawat ini? Jaga etika mu! Memalukan!"


Rekan kerjanya menegurnya dengan keras.


"Bersiaplah sebentar lagi pesawat akan landing." Rekannya mengingatkannya dan kembali ke galley.


"Iya, maaf." Ana menyesali apa yang sudah ia lakukan.


"Kapok aku!" sambil menyusul rekannya ke galley juga.


Hanya membutuhkan waktu 1 jam 30 menit. Sekitar 894 km. Ahirnya pesawat miliknya landing di Landasan Singapore Changi Airport.


Seorang Supir pribadi Tuan Bastian sudah menunggunya di area kedatangan.


"Selamat siang Tuan Muda." Pria itu membungkuk hormat.


"Bagaimana kabarnya Pak Mus?" Dirga membalasnya dengan bertanya kabar kepada Pria yang menjadi orang kepercayaan Daddy-nya selama belasan tahun.


"Saya baik Tuan Muda." Pak Mus menjawab dengan matanya yang menatap Dirga yang berada di kursi belakang melalui kaca spion.


"Mommy di Rumah Sakit?" Dirga bertanya dengan pandangan menatap ke jendela. Pikirannya belum lepas dari Anin. Ia sudah merindukan Wanita itu.


"Nyonya Alyne berada di rumah sakit sejak tadi pagi Tuan." Pak Mus menjelaskan kepada Dirga.


Membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari Changi Airport menuju Mount Elizabeth Hospital.


****


Bersambung ❤️


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🤗🤗