
Hai. Hai.
Sebelumnya, aku banyak-banyak mengucapakan terimakasih untuk segala bentuk apresiasi dan dukungannya, tanpa kalian apalah aku ini. Author pemula yang masih harus banyak belajar menulis lebih baik lagi. Di sini aku mau menyampaikan maaf, karna tidak semua pesan masuk aku bisa membalasnya. ( karna tidak memiliki admin seperti penulis lainya ) Tetapi jangan kecewa, aku selalu membaca semuanya, tidak ada yang terlewat dan aku meresponnya dengan memberi dukungan 👍👍 terimakasih 🙏
Selamat membaca ❤️
Bu Rahma terdiam mendengar penuturan Dirga. Tanpa ada yang di tutupi, Dirga menjelaskan masalahnya dengan Ratna hingga ia memutuskan menggugat cerai.
Dan saat ini sedang dalam proses di pengadilan.
Ia bahkan tidak menyangka Dirga akan sejujur ini. Pertemuan di rumah ini, ke dua kalinya dari pertama ia mengenal Dirga.
Dengan berani Dirga bicara dengan tenang. Meminta Anin untuk di jadikan istrinya.
"Kamu yakin Nak?" Bu Rahma bertanya kepada anaknya. Menatap lekat putri satu-satunya. Ia tidak menginginkan Anin salah dalam mengambil keputusan dan berahir dengan perceraian kembali.
Anin menoleh Dirga sebentar, meyakinkan kembali pria yang berada di sampingnya.
Dirga meraih jemari Anin dan menggenggamnya. Ia menyakinkan dengan menganggukan kepala.
Keputusannya tidak berubah. Dirga tidak akan menarik kembali ucapannya. Dari awal mengenal Anin hatinya tak tergoyahkan.
"Iya, Bu." tanpa ragu Anin menangguk, merasa yakin dengan pilihannya.
"Bagaimana dengan statusmu Nak? kamu bahkan belum menerima surat resmi dari Andre. Apa tidak akan menjadi masalah?"
"Masalah itu akan secepatnya saya urus Bu, saya sudah meminta pengecara saya untuk mengurus secepatnya setelah saya mengirimkan berkas Anin. Dan juga hak asuh Alea."
"Untuk sementara, sambil menunggu surat-surat siap. Ijinkan kami menikah sirih dulu. Setelah semuanya selesai, saya secepatnya akan meresmikannya menjadi sah secara hukum negara."
"Lalu, bagaimana dengan kedua orangtuamu? Ibu hanya takut, kejadiannya akan terulang lagi. Kamu pasti tau alasan kenapa Anak Ibu di ceraikan. Kami tidak memiliki harta yang bisa di banggakan. Anin sudah banyak melewati masa-masa sulit semenjak Ayahnya berpulang. Bekerja paruh waktu di sebuah restoran demi bisa tetap melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi, tentu dengan di tunjang beasiswa sebagai murid berprestasi."
"Saat SMU ia bahkan rela menghabiskan masa remajanya dengan membantu Ibu berjualan. Begitupun saat kuliah ia tidak malu membawa bungkusan nasi untuk di tawarkan ke teman-temannya yang belum sarapan. Sampai, ia memutuskan menikah di usia muda karna sebuah rayuan, dan di tinggalkan setelah melahirkan Alea. Anin menjadi tulang punggung keluarga. Sampai ia di hadapkan dengan penyakit Alea. Ia samasekali tak pernah mengeluh."
Bu Rahma menceritakan panjang lebar, berharap Dirga tidak akan menyakiti anaknya.
Ketiganya terdiam. Tidak ada yang bersuara. Hanya isak tangis pelan dari Bu Rahma terdengar menyayat hati.
"Saya akan menebus, kesalahan saya Bu, dan saya akan mengganti masa-masa sulit itu dengan kebahagiaan. Saya akan berjuang untuk itu. Menikah sirih sebenarnya bukanlah sebuah pilihan tepat. Itu saya lakukan supaya, agar saya leluasa membawanya kemana saja. Dia bisa mendampingi saya kemanapun saya pergi tanpa beban. Saya akan bertanggungjawab sepenuhnya kepada Anin dan Alea. Dengan menikah sirih sudah menjelaskan status kami sebagai suami istri."
"Tentang orangtua saya, Ibu jangan takut. Saya datang kesini dengan restu keduanya. Mereka bahkan menunggu kabar baik dari saya."
"Maaf, saya mewakili kedua orangtua saya. Meminta maaf atas ketidakhadiran mereka saat ini. Karna kondisi Daddy pasca kecelakaan. Saat ini masih dalam perawatan."
Bu Rahma dan Anin terkejut bersamaan.
"Mas, kenapa tidak cerita dari awal." Anin merasa bersalah, ia tidak mengetahui kesulitan ya Dirga alami.
"Jangan khawtir, Sayang.. tidak apa-apa. Kondisi Daddy sudah membaik." Dirga meyakinkan.
"Maafkan Ibu juga Nak, sampaikan salam untuk keduanya."
"Jadi, apakah Ibu merestui kami?" Dirga menatap wajah Bu Rahma dengan penuh harap.
"Apa, Ibu bisa menolaknya?"
"Jangan! Emm, maksud saya. Jangan menolak, Ibu harus merestui kami."
"Baiklah, kalu kalian sudah begitu yakin. Menikahlah sebelum kalian kembali ke Jakarta."
"Secepat itu Bu?" Anin menatap Bu Rahma tak percaya.
"Iya, lalu apa? Tidak mungkin kalian menundanya. Niat baik harus di segerakan. Bukan begitu Nak Dirga?"
"Iya, Bu. Saya pun ingin secepatnnya."
"Jangan di tunda, banyak godaan." Bu Rahma melirik Anin dengan tesenyum simpul.
"Untuk masalah Alea, kita pikirkan nanti. Ibu belum siap melepasnya. Untuk sementara biarkan dia bersama Ibu dulu."
"Tapi Bu," Anin merasa keberatan. Ia tidak bisa jauh dari Alea.
"Sebentar lagi Alea sudah masuk sekolah kalian boleh membawanya. Terpisah jarak dengannya juga berat untuk Ibu."
"Iya Bu," Anin menurut pasrah. Ia tidak mau egois dengan tidak memikirkan hati Ibunya. Selama ini Alea banyak menghabiskan hari-harinya bersama Bu Rahma. Karna ia harus bekerja.
"Apa Ibu tidak akan kembali ke Jakarta?
"Sepertinya tidak Nak Dirga, masalah ini, belum sempat Ibu bicarakan dengan Anin."
*
*
Anin mengganti Sprei dengan yang baru. Malam ini Dirga memutuskan menginap di sini. Membuka koper milik Dirga, Anin mengambil kaos dan celana santai, menyiapkan dan menaruhnya di tempat tidur. Setelah itu ia membawa jubah handuk, menyusul Dirga yang sedang berada di kamar mandi yang berada di belakang. Kamar yang berdampingan dengan sekat kayu yang biasanya di sebut gebyok. Tidak mungkin memiliki kamar mandi di dalam.
Pria yang terbiasa mandi menggunakan bathup dan shower itu, harus mau mandi dengan air di dalam bak dengan menggunakan gayung. Anin terkikik membayangkan tubuh tinggi itu berada dalam kamar mandi yang ukurannya tidak terlalu besar.
"Suruh siapa memilih tidur disini. Dia-kan, bisa kembali ke hotelnya. Tapi, aku rasa tidak masalah sekali-kali dia harus merasakan hidup seperti manusia lainnya." Dengan handuk melingkar di tangannya, dengan tibuh miring bersandar ke sekat kayu membelakangi pintu kamar mandi.
Dirga yang sudah selesai ke luar dengan hanya membelitkan handuk di pinggangnya. Tangannya yang dingin ia tempelkan di kedua sisi pipi Anin. Membuat wanita itu berteriak kaget.
"Aww!!"... Anin langsung berbalik.
"Mas ngangetin tau! Dasar jail!" Anin cemberut karna benar-benar kaget.
"Itu karna, kamu terlalu serius menggunjingkan-ku. Cup..." Dirga mengecup bibirnya sekilas.
"Mas genit, kalau ada yang lihat gimana?"
"Biarkan saja, aku tidak peduli. Mau lagi?"
Anin mengeleng dengan rona merah di wajahnya.
"Ya ampun! Mas jangan keluar dengan seperti ini." Anin buru-buru memakaikan jubah mandi yang ia bawa ke tubuh tel**jang Dirga. "Di sini bukan kamar mandi pribadi." seperti seorang ibu, yang sedang mengomeli dan memakaikan baju anaknya.
Dirga tersenyum senang mendapatkan perhatian berupa omelan dari Anin.
"Yukk, ganti baju. Ibu sudah menunggu untuk makan malam." sambil menuntunnya masuk, ia mengiring Dirga masuk ke dalam kamar.
Dirga tidak berhenti tersenyum, ia menurut mengikuti langkah Anin.
*
*
Ayam goreng dan sayuran hijau telah tersedia di meja makan. Tidak lupa sambal dan kerupuk sebagai pelengkap. Dengan cekatan Anin melayani Dirga. Seperti layaknya istri melayani suami.
Menaruh nasi beserta lauk ke piring. Gerak geriknya tidak lepas dari pantauan Dirga. Apa yang di lakukan Anin tidak pernah di dapatnya saat bersama Ratna.
"Ayo mas, di makan. Perutmu tidak akan kenyang dengan terus memandangku."
Anin berbisik, mendekatkan wajahnya ke samping Dirga. Tapi masih bisa di dengar oleh Bu Rahma.
"Baiklah, Nyonya. Aku patuh kepadamu."
"Punya Ea mana?" Alea menyodorkan piringnya.
****
Bersambung ❤️
Hari ini satu BAB dulu ya... Besok Insyallah dobel UP deh 😁
Mohon dukungan like, komen, hadiah dan votenya 🤗
Jangan lupa simpan karyaku sebagai faporit ❤️ dalam rak Buku.
Terimakasih... salam sayang 😘