
Bu Rahma sedang berada di dalam kamar anak menantunya. Sosok Ibu itu sedang mengepak pakaian, mempersiapkan apa saja yang akan di bawa ke rumah sakit menjelang persalinan.
Pria itu tak bosan, tak lelah mengintili kemana saja istrinya itu melangkah. Menemaninya dari pagi hingga menjelang petang. Seperti seorang pengawal yang sedang menjaga barang, jangan sampai pecah.
"Mas, istirahatlah.. Aku di kamar tidak akan kemana-mana. Aku hanya ingin membantu ibu mempersiapkan barang bawaan."
"Sayang..., ada para pekerja yang siap membantu Ibu.. Kamu yang seharusnya istirahat, sudah cukup berjalannya." Dirga membawa Anin untuk merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Mas, aku ingin bersandar saja.."
"Ya, Sayangku.."
Cup.. Cup...
Dirga megecup seluruh wajah istrinya.
Bu Rahma yang mendengarkan pembicaraan anak dan menantunya hanya bisa tersenyum menggelengkan kepalanya. Rasa tenang juga senang menjalar di sanubarinya. Rasa haru meluap dalam hatinya saat menyaksikan sikap, perlakuan Dirga kepada putrinya.
Sikap posesif pria itu di anggapnya suatu anugerah yang Tuhan berikan, menginggat dulu saat Anin mengandung Alea, jangankan untuk meminta sebuah usapan di pinggang, pijitan di kaki. Waktu akan menjelang kelahiran pun, Bu Rahma sibuk mencari pertolongan kepada tetangga agar membantunya membawa Anin ke bidan desa.
Tidak ada sosok suami yang menemani, tidak ada sosok suami yang memberikannya kekuatan sampai bayi merah itu terlahir ke dunia, Anin seorang diri berjuang dalam kesakitannya.
Hari ini Bu Rahma menerima, bagaimana Tuhan membalas semua doa-doa yang ia panjatkan di setiap waktunya.
"Terimakasih Tuhan." ucapan tulus penuh syukur terukir indah dari kedua sudut bibirnya. "Suamiku, semoga kamu juga ikut tersenyum, merasakan kebahagiaan, akhirnya kita dapat menyaksikan kebahagian putri dan cucu kita." Bu Rahma bergumam pelan, ucapan yang keluar dari mulutnya ia tujukan untuk almarhum suaminya.
Sebenarnya, Anin sudah mulai merasakan tanda-tanda yang di sampaikan Dokter Arum. Dari mulai kram dan nyeri punggung yang semakin meningkat. Tapi belum merasakan kontraksi mulas di bagian perut. Ia sengaja tidak memberitahukan, ia tidak ingin membuat Dirga semakin panik. Dan juga kalau menurut perkiraan Dokter masih sekitar dua minggu, dan yang di khawatirkan Anin ia mengalami kontraksi palsu.
"Nak, semuanya sudah ibu persiapkan dalam satu tas besar ini. Ibu taruh di dekat lemari agar tak bingung saat akan membawa ke rumah sakit.
"Ya, Bu … terimakasih.."
"Ibu ada di bawah kalau membutuhkan sesuatu."
"Terimkasih Bu." Dirga ikut mengucapkan terimaksih kepada ibu mertuanya.
"Oh iya." Bu Rahma kembali membalikkan badannya. "Kamu masih ingat tanda-tandanya kan?"
"Iya, Bu.. masih.."
Bu Rahma dapat melihat perut Anin yang sudah semakin menurun.
"Sayang, tanda-tanda apa maksudnya?" Dirga bertanya setelah mertuanya itu keluar dari dalam kamar.
"Tanda-tanda mau melahirkan Mas."
"Apa sudah ada tandanya?" Wajah Dirga terlihat menegang.
"Belum, Papi.." Anin mengusap pipi suaminya agar lebih tenang.
"Apa kamu lapar? Aku akan meminta Bik Asih menyiapkannya."
"Tidak Mas, aku belum lapar …aku hanya ingin tidur.. Aku mengantuk."
*
*
*
"Ya sayang, Alea sudah mau jadi kakak.. jadi biarkan Mami sama Papi istirahat dulu ya, Alea mainnya sama Nenek, sama Oma sama Mbak Lia dulu."
"Ya, Nek.." gadis kecil itu menurut dan kembali asik bermain bonekanya di temani Lia pengasuhnya.
"Apa belum ada tanda-tandanya?" Alyne bertanya dan bergabung duduk di ruang keluarga bersama Bu Rahma.
"Belum Jeng.., tapi kalau di lihat dari posis perutnya yang semakin menurun sepertinya tidak akan lama lagi."
"Ya, Tuhan.. Semoga diberikan kelancarkan dan kemudahan."
"Aamiin..." Alyne berucap bersamaan dengan Bu Rahma
Berbeda dengan Bu Rahma untuk yang kedua kalinya. Moment persalinan Anin saat ini, pengalaman yang pertama bagi Alyne dan Bastian. Kedua pasangan senja itu sangat antusias dan sangat menunggu akan datangnya cucu yang Tuhan titipkan melalui rahim seorang wanita bernama Anindirra.
Mengalah demi sang putra, Bastian dan Alyne sempat berharap dari wanita sebelumnya, tetapi Tuhan belum mengabulkan doanya.
"Lia.."
"Ya, Nyonya Besar."
"Bilang ke Bik Asih, siapkan makan malam untuk Tuan dan Nona.. Nanti tolong di bawa ke atas, sekalian kamu bantu ya."
"Baik, Nyonya.." Lia segera ke dapur menemui Bik Asih
Tal lama, Bik Asih datang bertanya.
"Mau di antarkan sekarang atau nanti Nyonya?"
"Sekarang saja Bik, supaya mereka tidak usah turun.. Kasihan Anin harus turun tangga dalam keadaan hamil. Sepertinya rumah ini harus di rombak agar di buatkan lift."
Mengetuk pelan pintu kamar sang Tuan, nampak Anin masih tertidur saat Dirga membukakan pintu. Bik Asih segera meletakkan nampan berisikan makan malam untuk Dirga dan Anin di atas meja sofa dan segera bergegas keluar.
Tak tega membangunkan, karena baru ini istrinya itu terlihat lelap saat tidur, Dirga memilih menunggu sampai Anin bangun dan masuk lagi ke dalam selimut merebahkan lagi tubuhnya di samping sang istri. Ikut terlelap di samping sang istri, karena beberapa hari ini, sebenarnya pria itu juga berkurang jam tidur dan waktu istirahatnya.
Waktu terus berputar, jarum jam terus berpindah dari angka 7 berganti 8, dari 8 berganti lagi ke jam 9, hingga melupakan nasi di atas nampan yang sudah di siapkan sebagai menu makan malam.
Hingga jarum jam berada di posisi lurus di jam 12 malam, wanita hamil itu terbangun karena merasakan sakit di perutnya, merasakan rasa mulas yang tiba-tiba datang menyerang. Anin berusaha duduk dan menyandarkan punggungnya tanpa membangunkan Dirga, ia dapat melihat gurat lelah di wajah suaminya. Tidurnya pun terlihat sangat lelap.
Anin akan benar-benar meyakinkan kalau rasa mulas yang di rasakannya benar karena kontraksi yang sebenarnya. Ia mulai menarik napas panjang, saat rasa sakit datang dan menghilang. Ia mengusap lembut permukaan perutnya dan bicara pelan.
"Anak Mami, mau ajak Mami Papi ke rumah sakit sekarang?"
Saat di ajak bicara, gerakan di dalam perut Anin terlihat lebih tenang tidak sekencang tadi saat mulas menyerang.
"Kasih tanda Mami yang pasti ya.." Anin masih terus mengelus perutnya dan mengajak bicara sang Baby yang selama kehamilannya selalu bergerak aktif, apa lagi saat berinteraksi dengan Dirga. pria itu tidak ada bosannya, selalu mengajaknya bicara di sela-sela waktu yang ada. Layaknya seorang anak yang sudah sangat mengenal suara dan sentuhan sang ayah.
Baby itu akan segera merespon dengan memberikan beberapa benjolan yang menggelembung hingga membuat Anin meringis kegelian saat merasa perutnya tertarik kencang.
10 menit rasa sakit itu menghilang, Anin beranjak turun dari tempat tidurnya. Ia ingin menggerakkan tubuhnya dengan berjalan mengitari ruangan sambil menunggu rasa mulas itu kembali datang sesuai yang di sarankan Dokter Arum kepadanya. Di lihatnya di atas meja, tersedia makanan yang belum tersentuh sama sekali oleh suaminya.
"Kamu pasti belim makan Mas." Anin bicara sambil terus berjalan sesekali menatap ke arah tempat tidur. Hingga sampai di 15 menit berikutnya rasa sakit bercampur mulas itu tiba-tiba kembali datang dan lebih lama dari sebelumnya.
****
Bersambung ❤️
Jempolnya yaa jangan lupa..