
Anin mengantar suaminya berangkat bekerja sampai depan pintu setelah menemaninya sarapan. Pria itu belum melepas rangkulan tangannya dari pinggan sang istri. Seakan malas untuk berangkat bekerja dan meninggalkan rumah, pria itu semakin merasa nyaman berada di tengah keluarga kecilnya, berkumpul bersama istri dan anaknya.
"Semangat, Papi.." Anin berkali-kali mencium pipi Dirga, berganti mengecup bibirnya. "Kan sudah dapat suntikan vitamin pagi ini."
"Sekarang waktunya mengumpulkan uang yang banyak Mas. Aku ingin berkeliling dunia bersamamu dan anak-anak."
"Kenapa harus mengumpulkan uang? Uangku sudah banyak, kalau kamu mau sekarangpun kita bisa pergi. Aku ingin berbulan madu lagi, dan sepertinya kita harus segera merencanakannya."
"Ya, Mas.. Aku percaya kemampuanmu. Bulan madunya nanti, tunggu Baby Boy dan Alea besar dulu. Sekarang sudah siang dan Mas harus segera berangkat.. Pak Dadang sudah menunggu."
"Kamu belum mengucapkan sesuatu pagi ini." Dirga menagih perjanjian yang telah di sepakati berdua saat berada di Singapura menuju rumah terapi Liam.
Anin tersenyum dan berkata. "Aku milikmu Mas, dan aku akan selamanya berada di sampingmu dan menua bersama." Cup.. Anin kembali mengecup bibir Dirga, dan di sambut dengan ciuman. Tak perduli ada sang supir yang melihat dari dalam mobil, pria posesif itu tak sungkan memesrai belahan jiwanya.
"Aku mencintaimu, Sayang.." ucap Dirga setelah melepas ciumannya. "Jangan lupa kabari aku satu jam sekali.. Kirim video Kakak Alea saat bermain dengan Baby Boy."
Anin melambaikan tangannya, sampai mobil yang membawa suaminya benar-benar hilang dari pandangan.
"Sudah punya anak dua, manjanya malah semakin bertambah.." Alyne berkomentar melihat kelakuan putranya. Yang semakin hari semakin tidak bisa lepas dari istrinya.
"Mommy percaya kamu memiliki kesabaran yang luas mengurusnya, Nak. Dan Mommy sangat berterimakasih, Putra Mommy berada di tangan yang tepat."
"Ya, Mom.." Anin hanya tersenyum menanggapi ucapan Ibu mertuanya.
"Mommy tidak bisa membayangkan repotnya kamu Nak, kalau tidak segera mencari tambahan pengasuh, bayi laki-lakimu bukan hanya satu tapi dua, bersyukurnya Alea sudah bisa mandiri dan ada Lia yang membantu."
Menantu dan mertua itu bicara sambil berjalan ke ruang keluarga di mana Alea tengah bermain bersama Bastian dengan Baby Boy yang masih tertidur lelap di kasur box kecil di atas permadani halus yang di gelar di dekat sofa lebar..
"Dan jangan lupa, setelah 40 hari segera konsultasi dengan Dokter Arum alat kontrasepsi apa yang cocok untukmu, An. Melihat suamimu nempel seperti itu, Ibu jamin kalau Boy akan segera punya adik."
Bu Rahma menimpali, wanita itu ikut bergabung duduk di sofa, di susul Bik Asih dengan membawa minuman dan kudapan.
"Terkecuali, kamu masih mau menambah lagi tanpa ada jeda. Mommy sih senang-senang saja." Alyne tersenyum menanggapinya
"Di tunda dulu Mom, sampai Baby Boy berumur 3 tahun, itupun kalau Mas Dirga mengijinkan." Anin teringat akan ucapan Dirga, yang tidak mengijinkannya Lagi hamil karena tidak sanggup melihat Anin kesakitan. Belum lagi kepanikannya sampai meninggalkannya di dalam kamar dan tidak berpakaian saat membawanya ke rumah sakit.
Mereka duduk bersama bersantai di ruang keluarga. Membicarakan banyak hal, dan membahas lagi persiapan acara aqiqahan yang tidak lama lagi akan di adakan.
Di pos depan.
"Bud, jangan lupa.. Nanti sore antar aku ke rumah Pak Mamat. Lihat kambing." Saat Agus menyebut kambing, ucapannya di arahkan ke wajah Budi.
"Kambingnya jangan kau arahkan ke aku Gus." Budi menoyor kepala Agus.
"Jangan lupa Gus, kamu masih berhutang traktiran sampai Tuan kecil berumur 40 hari." Budi mengingatkan
"Iya.. Iya.. Aku ingat. Kamu mah tega Bud memiskinkan diriku. Mana belum gajian lagi." Agus terus mengerutu
"Kalian berdua itu tidak asik, ada acara traktiran aku tidak di ajak." Kang Soleh menimpali pembicaraan kedua pria itu.
"Kau jangan ikut-ikutan Budi, Lae. Sudah kempas-kempis isi dompetku ini." Agus mengeluarkan tampang memelasnya dengan mengeluarkan dompetnya yang kosong.
"Ada perjanjian apa rupanya? Sampai kau harus mentraktir si Budi?"
"Rahasia Lae.. Kau tidak perlu tau."
Budi hanya tertawa terbahak-bahak melihat tampang kusut Agus.
Kejadian 3 minggu yang lalu.
Saat Agus pulang dari rumah sakit dalam keadaan tidak menggunakan pakain, Agus mengendap-endap jalan di samping rumah menuju pintu belakang. Saat itu Budi sedang berjaga keliling rumah karena tugas malam. Melihat ada gerak-gerik yang mencurigakan, Budi berfikir kalau ada maling masuk ke dalam rumah.
Mengambil karung dan pentungan, Budi mengikutinya dari belakang siap mengeksekusinya. Saat sudah dekat dan siap memasukkannya ke dalam karung Budi terkejut saat mengenali siapa laki-laki yang hanya mengenakan kain segi tiga. Menahan tawa, Budi meletakkan karung dan pentungannya ke lantai dan berganti mengeluarkan ponsel dan memvideokan-nya. Hingga akhirnya Agus menyadari keberadaan Budi yang tengah merekamnya.
Terjadilah sebuah perjanjian. Budi akan mengambilkannya pakaian dan berjanji tak memperlihatkan rekamannya kepada sesama pekerja dengan syarat. Agus harus mentraktirnya sampai Baby Boy berumur genap 40 hari.
"Sudah-sudah.. Ribut saja kau berdua, sekarang kau telfon itu Pak Mamat Gus. Tanyakan, dia ada di rumah jam berapa? Biasanya penjual kambing itu kalau siang masih berada di pasar."
Sedangkan Lia.. pengasuh itu sedang merasakan kebingungan, apakah ia harus menemui pria itu atau tidak. Setelah 2 bulan tidak ada kabar, pria itu menghubunginya kembali. Bahkan setiap hari.
Sudah tiga minggu ini pria itu terus memintanya untuk bertemu. Pria itu ingin menjelaskan kepada Lia siapa dirinya yang sebenarnya. Selama menjalani komunikasinya, pria itu mampu membuat Lia terbuai dan mempercayai ucapannya.
Dan sore ini pria itu mengajak Lia untuk bertemu di salah satu caffe yang sudah pria itu berikan alamatnya.
"Apakah dia oarang baik? Apa orang jahat?" Maya bertanya-tanya sendiri, ia masih merasa ragu, ia takut akan seperti yang biasa di beritakan di televisi. Kenal di salah satu aplikasi dan berakhir dengan tragedi.
Lia merinding membayangkannya. Tapi kalau tidak di temuinya, ia juga merasa penasaran. Ibarat membeli kucing dalam karung, Lia tidak ingin terikat hubungan kalau belum mengenal dan melihat wajahnya.
Tepat jam 4. Pria itu mengajaknya untuk bertemu. Lia memberanikan diri menemui Anin, yang sedang berada di kamar Alea. Wanita itu tengah menidur siangkan putrinya setelah menidurkan Baby Boynya. Mengetuk pintu pelan, berharap ia tidak menganggu tidur Alea.
Lia masuk, setelah megetuk pintu. Dan ia melihat Anin tengah menyelimuti Alea.
"Ada apa Lia? Sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan?"
"Eem.." Lia ragu-ragu saat akan meminta ijin.
"Ada apa? Bicaralah? Kamu butuh sesuatu?" Anin bertanya.
Dengan suara pelan Lia meminta ijin keluar untuk bertemu seseorang jam 4 nanti di salah satu caffe.
"Kamu yakin pria itu tidak akan macam-macam Lia?" Anin meyakinkan.
"Kalau kamu sudah yakin, saya akan mengijinkanmu Lia. Tapi kamu harus tetap hati-hati, jaman sekarng banyak orang jahat berkeliaran di luar."
"Dari obrolan kami selama ini sepertinya di pria baik Nona."
"Dia bahkan mengenal keluarga Wijaya."
"Mengenal keluarga Wijaya? Anin merasa penasaran. Siapa namanya?"
Galiano..
Bersambung ❤️
Maaf ya kesorean.. Ngajuin Maya lama banget. Untuk karya yang kedua ini serasa di per per...?? Hehehe
Kalau mau tau jurus memijat dalam kandang.. Coba dehhh lidahnya di meletin ntar nempel sendiri jurusnya 😂