Anindirra

Anindirra
Chapter 114



"Mas.. Bangun, Sayang.."


Dengan penuh kelembutan, Anin berusaha menyadarkan suaminya yang terus mengigau dengan suhu badannya yang semakin panas. Ia mengenyampingkan dulu masalah yang terjadi. Ia memangkas habis ego yang membelenggu hatinya. Saat ini, bukan waktunya ia menghakimi suaminya. Pria itu sedang lemah dan mebutuhkannya.


Selain mengompresnya, ia tidak bisa memeriksa tinggi suhu badannya karena tak membawa termometer. Takut terjadi hal yang buruk dengan kondisi Dirga, Anin memutuskan menghubungi Alyne untuk menanyakan dokter keluarga dan memintanya datang ke hotel, tetapi ia urungkan saat melihat jam di layar ponselnya sudah menujukkan pukul 1 lewat 45 menit. Ia tak ingin membuat kedua orang tua itu panik.


Meletakkan ponsel di atas nakas saat ia mendengar ketukan di pintu, pelayan hotel datang mengantarkan minuman hangat dan bubur yang ia pesan.


"Apa masih ada yang di perlukan Nyonya?" pelayan itu bertanya dengan ramah setelah ia menaruh nampan di atas meja sofa.


"Emm.." Anin berpikir sejenak.


"Apa anda tau apotik 24 jam yang terdekat?"


"Ya.. Di seberang jalan ada apotik yang masih buka, tapi anda harus memutar arah dulu Nyonya."


"Oh iya, terimakasih ya.."


Anin lebih memilih menghubungi Pak Dadang untuk memintanya membelikan obat penurun panas.


°°°°°


Keluar dari kamar Dirga, Bayu tak segera masuk ke dalam kamarnya. Ia bersama Pak Dadang turun ke bawah hendak mencari kopi di resto hotel yang standby 24 jam untuk melayani para tamu yang datang menginap. Masuk ke area khusus. Pria itu mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung jaketnya. Ia menawarkan Pak Dadang yang mengambilnya satu batang dan menyulutnya.


Tak lama pelayan resto datang membawakan dan meletakkan 2 cangkir kopi hitam sesuai pesanan. Menghisap tembakau dengan merk terkenal yang terapit di sela jarinya, kedua pria itu asik dengan pikirannya masing-masing.


Menghembuskan gumpalan asap, seakan tengah mengeluarkan beban yang ada.


"Anda tidak kembali ke kamar Pak? Dadang bertanya setelah menghabiskan satu batang rokok.


"Sebentar lagi." Bayu menjawab sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hampir jam 2. Saat ini pikirannya masih di penuhi dengan Dirga.


Saat akan beranjak dari kursinya, Bayu mendengar suara handphone Pak Dadang yang segera di sambut oleh pemiliknya.


"Ya Nona." Pak Dadang mendengarkan apa yang di minta oleh istri Tuannya.


"Baik, Nona.." setelah terputus ia memasukkannya ke dalam saku celana.


"Ada apa Pak? Bayu bertanya


"Nona Anin minta di belikan obat penurun panas di apotik seberang jalan Pak Bayu. Tuan Dirga demam."


"Tidak perlu, saya akan menghubungi Dokter keluarga." membuka ponsel, Bayu segera mencari nomor kontak Dokter Liam dan menghubunginya agar segera datang.


°°°°°


Di kamar, Anin bisa sedikit tenang saat Dirga berhenti mengigau, raut wajah pria itu sudah mulai tenang saat ia meraup kepalanya ke dalam dekapannya, ia menyalurkan ketenangan dalam alam bawah sadarnya agar pria itu tidak gelisah. Ikatan batin yang kuat dari keduanya mampu menjadi obat mujarab.


Dari awal bertemu, cinta keduanya kuat dan tangguh dan Anin meyakini cinta yang kuat akan mampu menjadi landasan suami istri untuk mengatasi segala ujian yang memasuki hubungan, kalau salah satu mengatasinya dengan cara yang salah, tentunya sebagai pasangan harus bisa mengingatkan. Peran ini yang sedang Anin jalani, tugasnya sebagai seorang istri harus bisa membagi cinta sebanyak yang ia bisa.


Seperti bait kata yang pernah ia baca.


' Jangan menunggu orang yang sempurna untuk di cintai. Cintai seseorang dan jadikan ia sempurna dengan kekuatan cintamu – Debasish Mridha '


Dan satu-satunya cara cinta bisa bertahan seumur hidup adalah jika itu tanpa syarat.


°°°°°


Setelah memeriksa Dirga dengan teliti, Dokter Liam memberikan resep obat yang harus di tebus. Selain Dokter umum, ia juga salah satu sikolog yang memiliki rumah terapi dan pengobatan yang di geratiskan untuk umum.


Dirga mengalamai Hipotermia. ( penurunan suhu tubuh secara drastis yang berpotensi berbahaya, penyebabnya yang paling umum adalah terkena paparan dingin atau aktivitas fisik dengan membebankan otak yang ekstreem )


Dan kecemasan ( Anxiety ) penyakit kesehatan mental yang gejalanya berupa cemas berlebihan, khawatir, dan ketakutan, emosi tinggi, Penyebabnya dari kombinasi berbagai hal salah satunya trauma yang pernah di alami dan di pendamnya. Dan di picu oleh kejadian yang mungkin baru saja di alaminya.


Anin, terduduk di sofa.. Ia syok mendengar penuturan sang Dokter, ia tidak menyangka selama ini suaminya memendam penyakit yang tidak pernah ia ungkapkan. Pria itu selalu menunjukkan kalau dirinya kuat dan baik-baik saja. Dan ia baru mengerti akan sikap Dirga selama ini.


Begitupun Bayu, ia terdiam untuk beberpa saat. Pria yang tengah terbaring itu tak pernah mengeluh apapun kepadanya. Keras dan ketegasan yang di tunjukkan Dirga selama ini, mampu menutupi penyakit yang menyerangnya. Ia tak menyangka efek dari pernikahannya yang pertama melemahkan, menggerogoti fisik dan mentalnya.


"Kalau anda ada waktu, bawalah Tuan Dirga berkunjung ke rumah terapi saya. Dan kalau ada apa-apa anda silahkan hubungi saya."


"Terimakasih Dokter." Anin berdiri hendak mengantar sampai pintu. Tetapi Bayu melarangnya.


"Istirahatlah Nona, biarkan saya yang mengantar Dokter Liam."


Berjalan bersisian di lorong hotel dengan Dokter Liam, Bayu membuka obrolan tentang kesehatan Dirga. Sekilas ia menyampaikan apa yang terjadi dengan Dirga ketika Dokter Liam bertanya.


"Apa sudah sangat parah Dok? Tolong katakan kepada saya."


"Jangan khawatir Bay.." Dokter Liam menepuk pundak Bayu.


"Tidak ada kata terlambat untuk menanganinya. Kondisi Tuan Dirga belum sampai ke tahap Depresi. Kalau mendengar riwayat yang anda sampaikan, sebenarnya dia cukup kuat. Jiwanya juga kuat. Ini hanya efek. Dan pastikan Tuan Dirga meminum obatnya dengan teratur."


"Tidak perlu khawatir. Ok." Dokter itu meyakinkan sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.


°°°°°


Bayu masuk kedalam kamarnya dengan tidak membangunkan Stella, wanita itu sedang tertidur lelap dengan lampu yang tak di nyalakan. Membuka pakaian, ia masuk ke dalam kamar mandi, berdiri di bawah shower dengan air hangat yang mengalir, ia mulai membersihkan tubuhnya dari debu dan keringat.


Tanpa di sadarinya, kedua tangan mulus memeluknya dari belakang.


"Kenapa tidak membangunkanku?" suara halus mendayu itu bertanya.


"Ste.." Bayu tersenyum saat mengetahui istrinya ikut menyusul kedalam kamar mandi dengan memeluknya.


"Kamu tidak mengenakan pakaian Ste.."


Bayu bisa merasakan kulit halus yang menempel di belakang punggungnya. Apalagi sesuatu yang kenyal ikut mengesek kulitnya.


"Kamu nakal Ste.." Bayu mematikan kran, agar air dari shower berhenti mengalir.


"Ya, aku memang nakal." Stella mulai mengecup punggung lebar Bayu yang terlihat kokoh menggiurkan.


"Ahh... Ste.." Bayu membalikkan tubuhnya dan merapatkan tubuh Stella ke dinding. Kedua insan itu akan segera memulai permainannya.


Wanita itu terbangun saat mendengar pintu kamar mandi berbunyi. Membuka gaun tidurnya hingga tak menyisakan sehelai kain pun yang membungkus tubuhnya.


Ia membuka pintu dengan pelan dan berjalan mendekat masuk ke dalam ruang kaca transparan.


****


Bersambung ❤️


Semoga besok lolos ya hehehe 🙈🙈


Jempolnya donkkk