
Kesokan harinya tepat pukul 9 para pekerja, Bayu dan Stella terbang ke negara Indonesia. Meninggalkan Anin dan Dirga yang masih harus stay di negara singapura sampai kondisi fisiknya dan psikisnya benar-benar sehat.
Mereka akan pergi berkunjung ke negara Eropa, alih-alih menikmati bulan madu, tetap saja ada hubungannya dengan proyek hotel bintang limanya yang berada di tengah kota paris.
Begitupun dengan Bayu dan Stella, mereka memiih bulan madunya ke Raja Ampat Papua sekalian perjalanan kerja mengontrol pertambangan di tembagapura. Kedua pria itu menggunakan waktu sebaik-baiknya agar bisa di gunakan untuk berlibur sekalian bekerja.
Dengan berat hati, Anin pun harus berpisah sementara waktu dengan Alea, dalam pengawasan Alyne dan Bastian yang memilih tinggal di Indonesia sampai anak menantunya kembali.
Anin dan Dirga melepas orang-orang terdekatny satu persatu mulai naik di tangga pesawat yang telah siap membawa terbang menebus awan, melewati gunung dan samudera.
"Cemoga cepat cembuh Papi.. I love you so much.." ( aku sangat menyayangi kamu ) gadis mungil itu mengecup kedua pipi Dirga dengan mengalungkan kedua tangannya di leher pria yang berjongkok mensejajarkan tingginya.
"I also really love you my little girl."
( aku juga sangat-sangat menyayangi kamu gadis kecilku )
"Ingat pesan Papi. Ok."
"Ok. Papi.."
Anin menciumi seluruh wajah putrinya. Belum berpisah ia sudah merasakan rindu
"Mami, Ea mau cium dedek Bayi juga. Dedek Boy jangan nakal yaa... Jagain Mami.. Kakak Ea pulang dulu. Sampai beltemu kembali... Mmmuaahhhh.." Alea mencium perut Anin berulang-ulang.
Dirga merangkul pundak istrinya dengan di balas Anin merangkul pinggang suaminya, keduanya melambaikan tangan saat pesawat semakin menjauh dan mulai menukik tajam terbang di atas ketinggian.
©©©©
"Agus, punyamu tidak lupa di ikat kan?"
Dengan jailnya, Budi mengingatkan rekannya. Jangan sampai kejadian yang sama terulang kembali.
"Kamu pikir milikku kambing harus di ikat?!" Agus mengerutu sebal
"Anggap saja iya.. Selain mengantisipasi kebocoran, khawatir ia akan rontok karna guncangan."
Disaat dua manusia itu sedang berdebat membahas kambing dan kebocoran. Tiba-tiba pertanyaan gadis kecil membuat penghuni pesawat bagian belakang harus menahan tawa.
"Pak Agus bawa kambing? Mana kambingna? Kog Ea gakk liat?"
"Kambingnya masih di dalam kandang Eaa.. Buat lebaran haji nanti."
Lia dan Bik Asih terkikik mendengar ucapan Budi.
"Lahh.. Anunya Agus buat persiapan kurban donkk?" Lia ikut bicara
"Iya. Habis di potong, lalu di oven biar gak alot." Bik Asih menjawab.
"Gara-gara kamu aku di bully." Agus menjitak kepala Budi yang sedang tertawa.
Sontak semua terdiam saat Alyne menghampiri ke belakang.
"Alea tidak duduk bersama Oma?"
"Di sini saja Oma.. Pak Agus sama Pak Budi lagi celita kambing."
"Kambing ?? Kambing siapa ?" Alyne bertanya.
Maksudnya Agus dan Budi, turun dari pesawat mereka akan membeli sate kambing Nonya Besar." Pak Dadang menengahi agar wanita itu tidak mengetahui pembicaraan yang tengah terjadi.
"Oouuh.. ya, ide yang bagus. Sepertinya pas untuk menu makan malam nanti Bik Asih, sudah lama sekali saya tidak menyantap sate H. Romli langganan kami, Nanti tolong di pesan ya, Daddy Bastian sangat menyukainya."
"Ya, Nyonya Besar, akan saya siapkan."
Bik Asih, Lia , Pak Dadang, Agus, menjitak kepala Budi bersamaan 'Dasar kambing'
Sedangkan Bayu yang mendengarkan pembicaraan para pekerja hanya mengulum senyumnya, sambil sesekali mengecup pelipis wanita yang tengah bersandar manja di dadanya.
"Kamu mengantung Ste?"
"He'em... Semalam kamu membuatku kurang tidur suamiku."
"Buah Cherynya lezat Ste.."
Stella, mencubit perut Bayu karena ucapannya.
"Aww... Sakit Ste.. Jangan di cubit dengan jarimu, tapi dengan bibirmu saja."
"Kamu membuatku malu Bay.. Tapi aku menyukainya." dengan wajah malu-malu, Stella mengecup sudut bibir Bayu.
"Kalau tidak ada hukum yang menjerat, penghuni pesawat ini akan ku lemparkan semua ke daratan Ste."
"Kenapa?"
Di saat para pekerja membahas kambing yang memabukkan, kedua pengantin baru itu membahas buah-buahan yang menyegarkan.
*
*
*
Keluar dari Changi Airport.. Anin dan Dirga melajukan kendaraannya ke Rumah Terapi Ong Liam. Milik Dokter Liam pria keturunan Tionghoa, pria yang juga salah satu teman Bastian dan sudah sejak lama menjadi Dokter keluarga Bastian Wijaya.
Sepanjang perjalanan, Dirga tak melapaskan genggaman tangannya. Ia membawa telapak tangan Anin ke atas pangukannya. Dengan satu tangan memegang kemudi stir.
Aku Mencintaimu ~ Dirgantara
Aku milikmu ~ Anindirra
Keduanya tersenyum saling menatap dengan penuh cinta
Flashback / yang terjadi semalam
Sepasang suami istri itu duduk berhadapan di atas tempat tidur. Mereka harus bicara dari hati ke hati dan menghentikan konflik yang sedang melanda hati.
"Berjanjilah, Mas... Kamu tidak akan mengulanginya lagi, aku tidak mau Mas mengunjungi Club lagi. Terkecuali Mas sedang menjamu client.. Mas, baru boleh menginjakkan kaki di tempat itu, dengan seijinku.."
"Ya, Sayang.. Aku Janji.." Dirga bicara dengan menempelkan hidungnya ke hidung Anin. Sesekali, ia mencuri ciuman walah hanya kecupan.
"Maafkan sikapku yang sudah menggores luka di hatimu. Aku akan membuang sifat burukku, tapi tidak dengan caraku mencintaimu, Anindirra.." berganti posisi, Dirga merebahkan kepalanya di pangkuan Anin dengan wajah menghadap perutnya.
Pria itu melanjutkan kecupannya di perut Anin dengan memasukkan kepalanya ke dalam kaos longgar yang di kenakan. Wanita hamil itu hanya mengunakan kaos kebesaran dan ****** *****.
"Mas, hentikan. Geli.." Anin menarik kepala Dirga agar keluar dari dalam kausnya. Ia tidak konsentrasi bicara kalau pria itu terus menciumi perutnya dengan alasan ingin mencium Babynya.
"Aku sudah memaafkanmu Mas.. Aku tidak bisa merubah posesifmu, aku akan menikmatinya, aku hanya meminta kamu mempercayaiku. Buang rasa takutmu, Mas... Setiap pagi saat bangun tidur, aku akan terus mengulang dan mengingatkanmu kalau aku milikmu.
"Sampai kapanpun aku akan menjadi milikmu." Anin bicara penuh kelembutan, ia terus meyakinkan dengan membelai wajah Dirga.
"Setiap hari, bukan hanya aku.. Tapi kita berdua. Kita akan sama-sama mengucapkan kata Cinta. Sebagai syarat memulai hari indah kita."
"Baik, Nyonya.. Aku menurut."
"Besok sepulang dari bandara. kita harus menemui Dokter Liam."
"Apa harus?" Dirga bertanya dengan menatap wajah Anin dari bawah.
"Ya, harus." Anin menunduk menatap lekat mata Dirga.
"Tapi aku sudah sehat. Jangan menganggapku sakit, Sayang.."
"Mas tidak sakit, aku percaya Mas sangat sehat. Kita hanya harus mencari solusi mengatasi kecemasan yang sewaktu-waktu datang menyerang. Itu saja."
"Aku sudah menerima, bagai mana cara Mas mencintaiku. Karena akupun sama.. Aku tidak akan terima saat ada wanita lain yang mendekatimu. Dan mungkin, aku akan lebih sadis dari yang Mas lakukan." Anin terkikik geli membayangkan apa yang ada di isi kepalanya.
"Apa yang ada di pikiranmu, Sayang? Jangan berpikir macam-macam.." Dirga bangun dari pangkuan dan menatap Anin dengan curiga.
"Tidak macam-macam. Hanya satu macam."
"Apa,?" Dirga sangat penasaran apa yang sedang di rencanakan wanita hamil itu.
Anin memainkan kedua alisnya. sambil melirik ke bawah pangkal paha Dirga.
Dengan reflek, pria itu membekap miliknya dengan kedua tangannya.
"Sayang, jangan membuatku takut. Baru sehari kita bertengkar, kamu berubah menjadi singa betina yang siap membunuh. Jangan mengusik kelangsungan hidupku."
"Tapi gagakmu harus puasa dulu sebagai bentuk hukuman. Biar gak TUMAN.."
( kata reader )
"Haiss... Sampaikan kepada mereka. Jangan sadis-sadis. Nanti mereka yang rugi tidak dapat merasakan yang enak-enak dariku. Mentang-mentang sudah ada Bayu." Pria itu mengerutu.
"Sekarag saja kepalaku sudah pusing, Sayang.." Dirga sudah kembali ke habitatnya. Pria itu akan mendusel dan merengek saat menginginkan sesuatu.
"Kalau pusing, Mas harus minum obat."
"Obat yang di berikan Dokter Liam tidak akan mempan. Sayang.."
****
Bersambung ❤️