
Ia mengikuti kemana arah mobil itu melaju. Ia harus mengetahui kemana tujuan Daddy-nya, keluar di tengah malam buta tanpa di temani supir. Siapa orang yang akan di temuinya. Stella terus bertanya-tanya dalam hatinya.
Jarak mobilnya berada tidak jauh di belakang mobil warna silver yang di kendarai Daddy-nya.
Lalu lintas di tengah malam begitu lenggang, membuat kendaraan itu melaju semakin cepat. Stella harus menambah kilometer agar tidak ketinggalan. Sampai mobil silver itu mengarah ke pelabuhan.
"Palabuhan? Untuk apa Daddy kesini?" Stella terus bicara dan bertanya sambil mengatur jarak agar tidak kentara. Mobil silver itu terus masuk, berbelok , lurus, dan berbelok lagi, melewati beberapa peti kemas dan berhenti tidak jauh dari dermaga, dengan arah menghadap kapal feri yang sedang berhenti di tepian.
Mobil silver itu berhenti, terhalang satu peti kemas hingga tidak terlihat dari arah depan. Dan Stella pun memberhentikan mobilnya dengan mengambil jarak.
10 menit , 15 menit hingga 30 menit, tidak terjadi apa-apa di pelabuhan itu. Alfred masih berada di dalam mobilnya, begitupun Stella, ia masih terus menunggu apa yang akan di lakukan Daddy-nya. ia melihat jam di dashboard mobil sudah menunjukkan pukul 1 lewat 45 menit, sudah satu jam ia berada di dalam mobil.
Karna tergesa-gesa ia lupa tidak membawa ponselnya. Ia menguap beberapa kali, rasa kantuk menyerangnya dengan perlahan. Ia membuka bungkus permen yang tesedia di dalam mobil untuk menghalau ngantuknya.
Hingga tepat pukul 2 kurang 3 menit, lima mobil berdatangan dari arah berlawanan. Di suaul dua mobil lagi setelahnya. Membuat mata Stella terbuka dengan sempurna.
Seperti di adegan film mafia yang biasa ia tonton, kejadiannya sama persis. Selain mobil pribadi, ada satu mobil box berkaca hitam pekat full seluruh body.
Lebih dari sepuluh orang, mereka turun dari mobilnya masing-masing dan Stella mengenali salah satu pria dari yang lainnya. "Steven." Stella bergumam.
"Apa yang ia lakukan di sini?"
Entah apa yang mereka bicarakan. Stella masih memantau pergerakannya, sampai beberapa orang mulai menurunkan peti dari atas kapal.
Total 13 peti yang mereka masukkan ke dalam mobil box hitam. Tetapi sebelumnya, Steven memeriksa terlebih dahulu barang yang ada di dalamnya. Ia mencicipi dan menghirupnya, mamastikan barang itu asli. Saat yakin akan keaslian barangnya, ia mengeluarkan 2 tas hitam berisikan uang dari bagasi mobilnya, memberikan satu tas untuk satu orang. Tetapi sebelum tas itu sampai ke tangan si penerima, tiba-tiba.
"Your Bastard Stev!!" Bugg!! Tubuh Steven terdorong ke belakang sebelum ia sempat menghindar. Ia mendapat pukulan dari pria yang di kenalnya.
"Hugo!" Steven terkejut akan kedatangannya.
"Kembalikan uangku!!"
**
Sebelum kedatangan Alfred.
Di dalam mobil silver, pria tua itu sudah di penuhi oleh kemarahan, tangannya mengepal hingga urat-uratnya terlihat menonjol di tangan juga wajahnya. Ia tidak menyangka akan tertipu oleh pria yang di anggapnya istimewa.
Rasa amarah sudah meledak di kepalanya. Ia tidak terima, uang yang ia berikan sebagai bentuk kerjasama pembangunan, di pergunakan untuk bisnis haram. Tanpa pikir panjang ia langsung segera turun, keluar dari dalam mobil.
**
"Give me back my money bastard!!" ( kembalikan uangku bajingan ) untuk kedua kalinya, ia akan memukul lagi wajah pria yang telah menipunya. Sebelum pukulannya mengenai wajahnya. Bruk!! Salah satu anak buah Steven memukul tengkuk Alfred dengan kayu hingga ia terjatuh dengan kedua lutut sebagai penyangga.
"Daddy!!" Stella berlari mendekat, menolong Alfred yang mengerang kesakitan.
"Stella! Pergi dari sini." sambil meraba tengkuknya, ia berusaha tetap sadar. Ia mencemaskan putrinya.
**
Sebelumnya di dalam mobil Stella.
Stella bergetar tidak percaya saat mengetahui transaksi yang Steven lakukan. Ia bingung harus berbuat apa, sedangkan ia tidak bisa menghubungi pihak berwajib termasuk Bayu karna tidak membawa ponsel. Sampai ia menyaksikan Daddy-nya turun dari mobil dan meyerang pria itu tanpa bisa di cegah, kejadian itu terlalu cepat. Tak ingin Daddy-nya terluka parah, ia keluar dari dalam mobil berlari menyusul Daddynya yang terjatuh karna pukulan.
Steven menodongkan senjata ke arah Alfred.
"Kamu tidak perlu tau aku tau dari mana? Kembalikan uangku dan jangan libatkan aku dan putriku dengan bisnis kotormu!!" Alfred mencoba bangkit dan memberontak
"Stop!! Or this hot lead will blow your head off, Sir. ( Berhenti!! Atau timah panas ini akan meledakkan kepalamu, Tuan ) anda sudah terlibat terlalu jauh, dan saya harus menutupnya.
"Cepat selesaikan transaksi ini Tuan Steven. Saya tidak ada waktu!" salah satu pria yang akan menerima uang ikut bicara.
"Calm down Sir, anda akan mendapatkan bagiannya, setelah saya menyelesaikan dua orang ini." Steven memberi kode kepada anak buahnya.
Alfred dan Stella berontak saat di tarik paksa agar masuk ke dalam mobil oleh dua pria berbadan besar.
"Lepaskan brengsek!!" Dagg!! pria yang menyeret Stella terjerembab ketika mendapatkan tendangan di dadanya hingga membuatnya terjatuh.
"Bayu." Stella menyebut nama pria yang menghilang seharian ini. Bersamaan dengan suara sirine polisi dan tembakan peringatan. Keadaan berubah menjadi tidak kondusif, sebagian berhasil di bekuk setelah melakukan perlawanan dengan saling tembak dengan pihak kepolisian, sebagian lagi berhasil kabur termasuk Steven. Tetapi sebelumnya, pria itu mengambil tas hitam yang tergeletak dan berniat membawanya.
Pergerakannya tidak lepas dari pantauan Alfred, pria tua itu mencoba menghalanginya. Saat ia hendak berlari akan merebut tas itu dari tangan Steven.
Dorrr!! Dorr!!
Dua kali suara tembakan membuat Alfred terkejut dan mematung. Seorang pria muda berhasil melindunginya dari timah panas yang melesat dengan cepat keluar dari pistol milik Steven. Pria itu ambruk ke tanah dengan perut bersimbah darah.
"Bayuuuuu!!!!!" Stella berteriak, berlari menghampiri pria yang sudah terkapar dengan segala perjuangannya.
Dengan tangan gemetar dan air mata yang sudah menggenang, Ia mengangkat kepalanya dan merebahkan di pangkuannya. Ia masih kaget dan tidak percaya.
"Bay! Bangun Bay! Stella menepuk-nepuk wajah Bayu yang terlihat pucat.
"Aku mohon, jangan seperti ini, jangan membuatku takut Bay." ia mengoyangkan kembali wajah Bayu, berharap pria itu membuka matanya.
"Kamu berjanji akan selalu berada di sampingku Bay." Stella menangis tergugu sambil merangkul kepalanya.
"Buka matamu Bay! Buka Bay! Lihat aku, Aku tidak suka dengan leluconmu, Atau aku akan marah kepadamu. Bangun Bay! Aku mohon tepati janjimu." Hiks...Hiks...Hiks... Stella bicara sambil menangis. Stella menciumi wajahnya dengan bercucuran airmata. Wanita itu begitu frustasi.
"Dadd lakukan sesuatu!!" Stella kembali berteriak memanggil Daddy-nya yang tampak syok dengan kejadian yang tidak di bayangkannya. Pria tua itu belum tersadar dari keterkejutannya. Tubuhnya ikut ambruk dengan lutut menyentuh tanah.
Tiga orang anak buah Bayu yang datang bersamanya ikut membantu para pihak berwajib membekuk, anak buah Steven dan para petinggi yang menerima suap.
Salah satunya menyadari Bayu terkapar karna tembakan.
"Pak. Pak Bayu." ia terus memanggil dan menekan perut agar tidak mengeluarkan banyak darah.
Mengeluarkan ponsel dari dalam kantung celana ia segera menghubungi ambulance agar segera datang ke tempat kejadian dengan di bantu pria berseragam kepolisian yang datang mendekat dimana Bayu tergeletak.
****
Bersambung ❤️
Semoga likenya tidak terlewat yaa 🤗 mohon dukungan yang lainnya juga teman-teman 🙏 terimakasih 😘