Anindirra

Anindirra
Chapter 83



Dirga memantau pekerjaannya melalui Email yang di kirim oleh Radit dari rumah sakit. Ia mengambil cuti sampai waktu yang tidak di tentukan. 24 jam pria itu siaga menjaga Anin.


Dengan di bantu Siska sebagai sekretaris Dirga, Radit di tuntut harus bisa menyelesaikan segala urusan di dalam perusahaan.


Dengan tubuh yang juga kurang baik karna efek kehamilan istrinya, Dirga tak semenitpun meninggalkan ruang rawat dimana Anin berada.


Setiap harinya, Pak Dadang dan Bik Asih datang dan pulang untuk membawakan baju ganti dan kebutuhan yang lainnya, karna Anin lebih menyukai makanan yang di buat oleh Bik Asih dari pada makanan rumah sakit yang katanya sesuai standar kesehatan dengan asupan gizi yang pas.


Lia juga turut ikut dengan membawa Alea. Gadis mungil itu melonjak kegirangan saat mengetahui di perut Mamanya akan hadir sesosok bayi yang akan menjadi adiknya. Setiap datang Alea selalu bertanya apakah adiknya sudah bisa keluar atau belum. Ia sudah tidak sabar menunggu, sampai Dokter Arum harus membantu menjelaskannya ketika Alea bertanya.


Dokter Arum bukan hanya merawat Anin, tapi juga harus mengontrol tekanan darah dan memberikan obat mual dan pusing kepada Dirga. Pria itu akan meringkuk dalam satu Bed di bawah ketiak istrinya.


Sebelum waktu menunjukkan pukul 10. Ia belum bisa bangun dari pembaringan. Seperti pagi ini Dirga uring-uringan karna Bik Asih belum datang membawakan makanan pesanannya.


Dari kemarin Dirga menginginkan bakwan dengan bumbu kacang. Gegara korban salah satu food vlogger yang sering muncul di layar kaca.


Sepertinya TV itu jangan pernah di hidupkan.. Batin Anin.


"Sabar Mas, mungkin lagi di perjalanan." Sambil mengacak rambut Dirga karna gemas.


Anin sebenarnya tidak tega melihat Dirga yang harus merasakan morning sickness. Kalau boleh meminta biarlah ia saja yang menjalaninya.


"Tapi aku sudah menginginkannya, Sayang." sambil menghirup aroma ketiak Anin yang menurutnya sangat segar dan membuat pusing di kepalanya menghilang.


"Mas geli..." Anin terkikik tertawa sat Dirga menduselnya tanpa henti.


"Diam, Sayang. Jangan banyak bergerak, jangan membangunkan sesuatu yang sedang aku jinakkan."


"Apa gagaknya akan menurut? Aku khawatir dia akan demo di dalam sangkar." Anin tersenyum mengoda, ia paham apa yang di maksud suaminya.


"Ooh... Jangan menggodaku, Sayang. Kamu sepertinya sangat senang melihatku harus berpuasa sebelum ramadhan.." Pria itu memasang wajah kusut.


"Kamu pasti bisa Mas. Anggap saja latihan, untuk menghadapi nanti setelah melahirkan."


"Memangnya kenapa? Bukankah Babynya sudah keluar?" memiliki gelar S2 tidak membuat pria dewasa itu pintar kalau menyangkut urusan yang satu itu.


"Belum boleh Mas … aku masih dalam masa nifas. Harus menunggu selama 40 hari, itupun kalau aku sudah siap. Kalau aku belum siap, yaah... Mau tidak mau, Mas harus bersabar lagi."


"Bunuh saja aku, Sayang." Dirga semakin uring-uringan.


"Apa kamu tidak menginginkan sesuatu, Sayang?" Dirga bicara setelah beberpa saat terdiam. "Mintalah, bukankah para ibu hamil itu akan selalu meminta yang aneh-aneh kepada suaminya saat ia hamil?"


"Aneh-anehnya sudah di wakilkan olehmu Mas."


"Aku serius, Sayang … aku mau kamu meminta sesuatu."


"Mas yakin akan mengabulkannya?"


"Asal jangan menyuruhku membelah langit menjadi dua. Mengumpulkan bintang di langit dalam satu keranjang dan membawakan bulan untuk Bu Rahma." Dirga mengulum senyum.


"Aku akan mengabulkan yang lainnya.


Ayo katakan."


"Mas benar-benar akan mengabulkannya?"


"Iya.."


"Yakin?"


"Yakin.."


"Aku ingin … Anin mengigit bibirnya, ia ragu mengucapkan-nya.


"Apa?" masih dengan posisi berbaring di samping Anin.


"Aku ingin makan malam romantis dengan Bayu."


"Ayolah Mas, Babymu ingin di manja oleh Uncle Bayu." dengan nada manja Anin mengoda suaminya.


"Tidak!! Tidak boleh, Sayang.." Dirga nampak syok.


"Kan masih ada aku. Apa hebatnya Bayu?" Dirga tampak tak terima.


"Mengejar wanita saja pakai lama." Pria itu tidak sadar saat dirinya mengejar Anin semuanya atas campur tangan Bayu.


"Mintalah yang lain, Sayang..." Dirga menurunkan kepalanya menghadap perut Anin.


"Bilang sama Mami, kalau kamu maunya hanya makan dengan Papi. Nanti akan Papi ajak Mamimu makan di restoran paling mewah di negara manapun, asal jangan sama Uncle Bayu." Dirga mengajak bicara janin yang masih berbentuk gumpalan darah itu bicara.


Anin tidak kuat lama-lama menggoda suaminya, walaupun keinginan itu sedikit ada.


"Baiklah … aku akan meminta yang lain."


"Good Boy... Kamu berhasil merayu Mamimu." Entah karna harapan atau hanya sebagai bentuk spontanitas Dirga merasa janin yang ada di dalam perut Anin Laki-laki.


"Aku ingin memeluk patung kepala Singa yang menjadi icon negara Singapore."


"Oh my goodness my soon."


*


*


*


Bayu mendapatkan kabar kehamilan Anin dengan serangkai kejadiannya. Ia ikut menghawatirkan dan juga ikut merasa senang. Ahirnya yang di nanti-nanti telah datang. Keinginan untuk pulang ke Indonesia harus ia tahan karna ia harus menyelesaikan masalah pribadainya.


Duduk di kursi di balik meja kerjanya, ia teringat ucapan Dirga tentang berkas yang harus di pelajarinya. Ia baru sadar, masalah perusahaan hanyalah sebagai alasan. Pria itu ternyata telah mempersiapkan posisi COO untuknya di perusahaan Wijaya Grup.


Bayu membaca dan meneliti berkas perusahaan milik Steven yang sedang memerlukan dana besar untuk menutup kebocoran bisnis ilegal yang di jalankannya. Dan sasarannya adalah pengusaha batu permata yang sedang di incarnya.


Ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Itulah yang di maksud Dirga. Membongkar sesuatu kejahatan, agar ia bisa masuk dan mendapatkan hasilnya.


Beberapa orang kepercayaannya, sudah turun ke lapangan sedang mengumpulkan bukti-bukti yang akan menjeratnya secara hukum dan akan membuka mata seorang Alfred Hugo.


Di mansion mewah tepatnya hunian para konglomerat di negri Singa.


Dengan hati senang, Stella sedang mempersiapkan menu untuk ia bawa ke kantor dimana Bayu berada. Ia ingin makan siang bersama dengan masakan yang di buatnya.


Rona bahagia menghiasi wajah wanita blasteran Eropa dan melayu itu. Wanita itu berubah menjadi Stella yang baru.


Para maid di dapur tampak terheran-heran dengan apa yang di lakukannya. Mereka tidak pernah melihat Stella sesibuk ini merepotkan diri memasak di dapur tanpa bantuan.


"Apa perlu saya bantu Nona Stella?" salah satu juru masak menawarkan diri.


"Tidak perlu, sebentar lagi selesai." Ia tersenyum menolaknya.


Tuna di grill sebagai pilihan. Nasi dan tumisan brokoli hijau sebagai pelengkap. Selesai memasukkan semuanya ke dalam kotak besar dengan porsi untuk dua orang. Ia akan bersiap berganti pakaian.


Sudah lebih dari lima helai pakaian yang ia hempaskan di atas tempat tidur. Ia bingung harus mengenakan baju apa untuk bertemu Bayu. Serasa kembali menjadi gadis remaja yang sedang merasakan jatuh cinta, hatinya begitu berbunga-bunga, ia ingin tampil sempurna dengan pakaian yang lain dari biasanya ia kenakan.


Kebanyakan isi lemarinya di penuhi pakaian-pakaian seksi. Ia sadar Bayu tidak menyukai ia menggunakan pakain terbuka. Ia teringat saat Bayu melepaskan jasnya hanya untuk menutupi pundaknya yang terbuka saat ia hadir di pesta pernikahaan Dirga.


"Sepertinya aku harus membeli beberapa pakaian untuk mengganti isi lemari." Stella bicara sendiri sambili memperhatikan deretan baju yang tergantung.


Matanya menemukan Shirt Dress model kemeja dengan panjang selutut sebagai pilihannya. Ia merasa pakaian itu cukup tertutup. Wajah blasterannya lebih terlihat cantik Tanpa make-up dengan brand ternama koleksinya.


****


Bersambung ❤️


Jangan lupakan dukunganya ya 🙏 Terimakasih 😘