
Pak Dadang mengawasi setiap Wanita yang berada di dalam gedung bandara. Menyusuri tempat-tempat yang ada, juga toilet wanita, langkahnya segera menuju lobi bandara. Saat ia tidak menemukan Anin di dalam.
Matanya mulai memperhatikan deretan bangku yang berjejer. Berharap salah satu yang mendudukinya wanita yang di carinya. Tangannya tidak lepas dari Handphonenya, berulang kali menghubungi nomor kontak Anin tetapi tidak bisa di hubungi. Hanya jawaban dari operator yang setia menjawabnya.
"Nona Anin kemana ya?" sudah satu jam dia mencari keberadaan Anin tapi belum juga menemukannya.
"Mati aku! Bisa-bisa Tuan memecatku! Kenapa pula aku harus kebelet!" dengan wajah prustasi, ahirnya Pak Dadang memutuskan mengabari Tuannya.
Terdengar suara Dirga yang mengeram kesal di ujung telfon! Saat mengetahui Anin tidak bersama Supirnya. Menghilang dan tidak di ketahui keberadaannya.
"Maaf, tuan. Tadi saya tinggal sebentar ke toilet. Setelah selesai saya tidak menemukan keberadaan Nona Anin." Pak Dadang menjelaskan panjang lebar pertanyaan dari Dirga.
"Apa perlu saya cek CCTV Tuan?"
"Baik Tuan! Saya akan kembali ke kantor."
*
*
Dirga dan Bayu masih berada dalam satu ruangan setelah kepergian Ratna. Ada beberapa hal masih mereka bahas selain urusan pekerjaan.
Baru saja Dirga mememinta Bayu untuk mengosongkan jadwalnya beberapa hari kedepan. Suara dering ponselnya memutus pembicaraan mereka.
Terlihat gurat kemarahan di wajah Dirga saat mendengarkan laporan dari supirnya. Orang yang di percaya dan di tugaskan mengantar Anin pulang dengan selamat.
Dirga mengeram kesal.
"Kenapa bisa terjadi?" Dirga meminta penjelasan Pak Dadang.
Terdengar ada ketakutan dari suara Pak Dadang ketika menjelaskan kejadiannya.
"Biarkan Bayu yang mengurusnya! Kembali saja ke kantor!"
Bayu mendengarkan ucapan Dirga di telfon.
"Ada apa Tuan?" Bayu bisa melihat ada kecemasan di raut wajah Dirga.
"Bay, suruh orang kita yang berada di bandara! Minta rekaman CCTV di lantai tiga terminal tiga. Tidak jauh dari area toilet pria! Secepatnya!!"
Perasaan menyesal di hatinya tengah bersarang saat ini.
"Harusnya aku tidak meninggalkan dia." sambil meraup wajahnya. Berusaha merilekskan pikirannya yang kalut.
Dirga kembali menghubungi nomor kontak Anin tetapi jawaban operator yang di dengarnya. "Ck, kenapa dia mematikan ponselnya?"
Ingatannya mundur beberapa jam kebelakang, ketika dia meninggalkannya. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Anin. Hanya mengangguk dengan sorot matanya yang menyendu.
Rasa tidak tenang berbaur dengan rasa bersalah sedang menyerangnya. Ia sudah membohongi wanita itu. Padahal ia sendiri sangat membenci kebohongan.
Memakai kembali jaketnya. Menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja kerja. Dirga memutuskan untuk mencari Anin di rumahnya.
"Kirimkan rekamannya melalui Email."
Dirga keluar meninggalkan Bayu yang masih berada di ruangannya.
"Dasar bucin." Bayu mencibir.
*
*
Setelah pertemuannya dengan Andre. Moodnya menjadi buruk. Dia ingin diam, ingin sendiri. Dia tidak ingin di ganggu siapapun. Dia hanya ingin pulang, membenamkan diri di tempat tidur. Berharap besok pagi moodnya kembali membaik.
Wajahnya mengarah ke luar jendela yang setengah terbuka, sebelumnya telah meminta ijin kepada sang supir. Anin ingin menikmati semilir angin tanpa AC.
Udara sore terasa sejuk, menjelang matahari terbenam. Sebentar lagi akan berganti petang. Sama seperti hatinya. Yang dari berbunga-bunga berubah menjadi kelabu.
Hatinya saat ini sedang berdenyut nyeri. Tidak ada yang bisa di pikirkannya saat ini. Anin masih terkejut. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Andre. Lelaki yang dengan susah payah ia coba hilangkan dari ingatannya selama 4 tahun dari terakhir ia bertemu.
Dan hari ini ia bertemu kembali dengan tidak di sengaja. Informasi yang dia dapat terakhir kali. Andre meninggalkan Jakarta dan menetap di Surabaya dengan istri barunya.
Ada rasa khawatir jika Andre akan mengambil Alea darinya. Tetapi secara biologis Andre adalah ayahnya. Dia tidak bisa melarang jika pada ahirnya Andre harus bertemu alea.
( Aku ingin bertemu anakku )
Sepenggal kalimat yang mengganggu pikirannya.
"Mbak. Sudah sampai."
Teguran dari Driver membangunkan Anin dari lamunan panjangnya. Dia tersadar sudah sampai halaman rumahnya.
Anin bergegas turun setelah melakukan pembayaran.
"Terimakasih pak."
"Sama sama Mbak." Barang bawaannya jangan sampai ada yang tertinggal.
Tanpa di sadari Anin. Mobil yang di kendarai Andre berhenti tidak jauh dari rumahnya. Dari mulai bandara ternyata Andre mengikutinya. Menunggu sampai taksi online yang di pesannya tiba dan mulai melajukan kendaraannya.
Selama lima menit Andre menunggu di dalam mobil. Mentap punggung Anin sampai hilang di ambang batas pintu.
"Ternyata kamu tinggal disini An, aku akan datang menemuimu kembali."
Setelah memastikan dimana tempat tinggal Anin. Andre membelokkan kembali mobilnya untuk pulang. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk ia kembali menemui Anin. Mobilnya bersalipan dengan mobil Dirga yang baru datang.
Berhenti tepat di pekarangan rumah Anin.
Dirga mematikan mesin mobilnya. Membuka ponsel membaca pesan dari Bayu. Yang menginfokan rekaman CCTV yang di mintanya sudah terkirim.
Jempolnya beralih pindah mengecek Email yang di kirimkan Bayu. Rahangnya mengeras. Giginya bergemeletuk. Melihat rekaman yang menampilkan sesosok wanita yang di ketahuinya adalah Anindira. Bersama seorang lelaki yang tidak di kenalnya. Sepanjang rekaman. Terlihat jelas lengan wanitanya di pegang oleh pria itu. Walau terlihat beberapa kali Anin berusaha melepaskan tangannya.
Mereka berjalan masuk ke dalam ruangan. Yang ia ketahui sebuah kamar hotel di terminal tiga bandara Soekarno-Hatta. Sayangnya rekaman itu hanya sebatas pintu.
"Brengsek! Apa yang kamu lakukan?"
Karna traumanya akan sebuah penghinatan. Dirga tidak bisa berpikir jernih. Rasa marah dan cemburu lebih menguasainya.
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🤗