
Tanpa alas sebagai pengaman, kaki jenjang putih mulus itu menapakkan telapak kakinya di pasir putih bersih di bibir pantai. Angin kencang serta ombak yang bergulung pelan menjadi daya tarik yang indah akan ciptaan Tuhan.
Setelah mempersembahkan cintanya di atas peraduan saat petang menampakkan warna merambah di cakrawala luas. Melewati senja dengan orang terkasih, di suguhkan keindahaan alam yang enak di pandang mata.
Berjalan bersisian saling berpegangan, keduanya berhenti melangkah di hamparan pasir yang basah terdorong sapuan ombak. Pria itu memeluk sang wanita dari belakang, menyaksikan matahari terbenam, kilauan sinarnya memperlihatkan warna jingga yang menawan, pertanda bergantinya siang menjadi malam.
"Aku akan menjadi matahari untukmu, Sayang.." sambil menatap langit yang mulai berubah warna.
"Kenpa memilih menjadi matahari?" tangan kanannya menekuk, memutar kebelakang merengkuh kepala Dirga yang terjatuh di pundaknya.
"Cakrawala bisa berubah, tetapi matahari tidak. Matahari terbit dan terbenam awal dari sesuatu yang indah. Dan kamu seperti seorang Ratu, kamu akan berdiri di tempat yang indah dimana kamu dapat menikmati matahari terbit dan terbenam."
"Aku baru tau kalau kekasih hatiku pandai berpujanga, merangkai kata dengan indah. Aku semakin mencintaimu."
"Aku juga." cup' Dirga mengecup pipi mulus bak pualam.
"Kenapa berubah seromantis ini?"
"Aku memang pria romantis, Sayang. Apa kamu lupa?"
"Baiklah suamiku …kamu selalu menang."
"Berjanjilah selalu. Jangan pernah berpaling dari matahari. Karena kamu berhutang terimakasih kepadanya, karena telah menyinari sepanjang hari.
"Selamanya seumur hidupmu.
Kamu yakin akan selalu menerangi hidupku? Bagaimana saat malam hari?"
"Tidak ada matahari yang bertahan lebih lama dari terbenamnya, ia kan terbit lagi membawa fajar untuk mengakhiri hari yang baik bersamamu."
"Je t'aime toujours Anindirra."
( aku mencintaimu selalu Anindirra ) akan sangat tergila-gila kepadamu."
**
Puas bermain air sampai warna jingga benar-benar hilang di atas cakrawala. Dirga membawa cintanya masuk ke dalam sebuah resto yang berada tidak jauh dari bibir panti. Memilih hidangan laut sebagai makan malam. Keduanya menikmati waktu, sebagai permulaan menjalani bulan madu dadakan.
Menggunakan sumpit yang tersedia di meja, Dirga melilitkan rambut Anin yang berterbangan tertiup angin. Semakin malam semilir angin pantai menambah kesan syahdu di temani taburan bintang di langit.
Satu ekor lobster besar dan menu lainnya tersaji di tengah meja. "Habiskan, Sayang. Baby-ku harus mendapatkan asupan nutrisi yang banyak." Dirga membantu memisahkan daging dari cangkangnya.
Ia menyadari, selama bersama, ia belum banyak memanjakan wanitanya dengan mengunjungi tempat-tempat indah di berbagai negara.
"Selain anak, apa Mas mempunyai impian yang lainnya?" Anin bertanya di sela-sela makannya. Ia membuka mulut menerima suapan daging lobster dari tangan Dirga.
"Aku ingin menghabiskan masa tuaku keliling dunia bersamamu. Dan saat menutup mata aku ingin berada di pangkuanmu."
Anin terdiam mendengar ucapan Dirga yang teakhir. Ia sungguh tidak ingin Dirga mengucap soal kematian. Dan ia tak mau membayangkannya.
"Aku pernah bilang, aku akan meminta akan pergi bersama. Ingat! Matahari terbenam membutuhkan langit yang mendung. Jadi, jangan cob-coba pergi tanpa membawaku."
Dirga mengecup tangan Anin. "Maaf, jangan bersedih, Sayang. Tersenyumlah."
*
*
*
Keesokan harinya. Kabar baik telah di terima seluruh keluarga. Bayu sudah sadar dan telah di pindahkan ke ruang perawatan. Tentunya membuat Stella dan yang lainnya merasa bersyukur dan juga senang.
Stella sedikit menjauh saat para tim Dokter sedang memeriksa luka bekas operasi di perut Bayu. Memastikan keadaannya sudah lebih baik.
"Ste.." Pria itu memanggil, setelah para Dokter selesai dan keluar. Bayu meminta agar wanita itu mendekat dengan isyarat matanya.
Melangkah perlahan Stela duduk di sisi pembaringan menghadap Bayu. Wanita itu tertunduk dengan mengigit bibirnya, ia tidak mampu berucap karena rasa haru bercampur bahagia menjadi satu. Ingin sekali ia menubruk tubuh itu dan memeluknya. Tetapi ia takut akan menyakiti lukanya.
"Kamu tidak ingin memelukku?" Bayu seolah tau isi hati wanita itu. Hatinya begitu rindu.
Tidak menolak dan tanpa berpikir dua kali, Stella langsung membungkukkan punggungnya, ia memeluk pria yang masih terbaring di atas tempat tidur. Ia menyusupkan wajahnya di dada Bayu.
Dengan lembut, tangan itu membelai rambut hingga ke punggung. Menyambut erat pelukan Stella. "Aku merindukanmu Ste. Aku rindu.." suaranya pelan, berbisik di samping telinga.
"Maaf, telah membuatmu banyak mengeluarkan air mata. Jangan menangis lagi Ste.."
"Kamu membuatku takut Bay." Stella menitikkan setetes air dari sudut matanya.
"Aku takut kamu meninggalkanku. Aku takut kamu tidak akan membuka matamu. Aku tidak akan sanggup kehilanganmu."
"Aku belum membawamu ke pelaminan, bagaimana bisa aku meninggalkanmu?" Bayu terkekeh pelan. "Kamu tau, aku pria yang kuat. Dua peluru tidak akan mengalahkanku."
Mengangkat kepala dengan dagu masih di atas dada, Stella menatap dalam mata Bayu dengan jarak dekat. "Jangan melakukan hal bodoh lagi Bay, berjanjilah untuk tidak membahayakan dirimu."
"Sepertinya kamu sangat takut kehilanganku Ste?" tersenyum simpul, Bayu mengusap pipi Stella.
"Aku yakin, kamu lebih takut kehilanganku sampai membahayakan nyawamu." Dengan bibir merucut, Stella masih menatap wajah pria yang dua hari ini di tangisinya.
"Sangat, aku sangat takut kehilanganmu Stella Hugo. Kamu sudah berhasil membuatku menjadi pria tua karna menunggumu, dan aku tidak akan terima saat pria lain akan merebutnya."
"Jadi." Stella masih menatap Bayu.
"Menikahlah denganku Ste. Mari kita menua bersama."
"Apa kamu melamarku Bay? Ternyata bukan hanya Dirga, kamu juga bukan pria romantis saat akan melamar sang wanita untuk di jadikan istrinya." Stella masih teringat cerita Anin saat di bistro, tidak ada momen romatis saat Dirga melamarnya, bahkan dengan sangat mendadak mereka harus menikah sirih malamnya.
Bayu tersenyum mendengar ucapan Stella. "Romantisku bukan di kata-kata Ste. Tapi akan aku tunjukkan dengan cara lain." senyum pria itu bukan senyum biasa. Ada sesuatu yang di rencanakan di otaknya.
"Cara lain?" Stella bertanya.
"Dengan cara apa?"
"Kamu akan tau nanti saat di malam pertama."
Wajah blasteran itu memerah bak tomat segar. Ia paham yang di maksud oleh Bayu. "Kamu sedang sakit, kenapa memikirkan itu. Dasar mesum!"
"Apa lagi yang di pikirkan dua orang dewasa selain itu Ste. Kita bukan anak remaja lagi yang harus melewati masa pacaran. Sudah waktunya kita memproduksi anak yang banyak."
"Mengejar ketertinggalan kita. Kita akan bersaing dengan dua orang yang selalu memamerkan kemesraannya." ~ Dirga
"Bayu!" Stella memukul pelan dadanya, ia tidak menyangka, pria yang baru terbangun dari koma sementara itu, akan bicara sevulgar itu.
Bayu meraih tangan Stella dan menciumnya. "Aku serius Ste. Maukah kamu menikah denganku? Mendampingiku, menjadi istri dari pria yang memiliki nama belakang Lesmana. Hanya anak seorang asisten merangkap supir."
Terharu dan bahagia, itulah yang di rasakan Stella. "Aku mau, aku mau Bay. Aku percaya kamu akan membawa nama Lesmana menjadi nama besar dan di perhitungkan. Aku tidak menuntut apapun, aku hanya ingin kamu berjanji. Kamu akan mencintai wanita tua ini dengan segala ketidaksempurnaan-nya." saling menempelkan kening di kepala, dua insan itu saling menyalurkan rasa yang ada.
"Sepertinya aku pernah mendengar seorang wanita mengucapkan janji, akan mengabulkan segala keinginanku." Bayu bicara setelah melepaskan kecupannya di kening Stella.
"Kamu mendengarnya?!" matanya membulat tidak percaya, Stella tidak menyangka ucapannya saat di mobil ambulance akan terekam di otak Bayu.
"Tidak sekarang. Aku akan memintanya nanti Ste. Kamu hanya harus mempersiapkan dirimu." bukan hanya bibirnya yang tersenyum penuh maksud. Tetapi sorot mata itu mengisyaratkan sesuatu.
"Ishh... Kamu sama saja dengan Dirga."
"Mengerikan..."
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya yaa 🙏 terimakasih 😘