Anindirra

Anindirra
Chapter 27



"Pria itu pernah berkata kalau aku miliknya. Tapi aku menganggap karna ia telah membeliku. Aku tidak berani berharap ibu. Tidak di pungkiri aku merasa nyaman saat bersamanya. Dan saat ini aku merasa ada rindu di hatiku untuknya Bu." Anin hanya bisa bicara dalam hatinya.


"Baiklah, mungkin kamu belum siap menceritakannya sama Ibu. Ibu mengerti Nak. Ibu hanya ingin mengingatkan. Siapapun laki-laki itu? Dia bukan hanya menginginkanmu sebagai Istrinya, tetapi dia juga mau menerima Alea sebagai Anaknya. Ibu tidak mau kamu gagal kedua kalinya An. Ibu juga tidak mau kamu di rendahkan karna status sosial kita. Ibu tidak mau kejadian itu terulang lagi." Bu Rahma memberi wejangan kepada Anin.


Bu Rahma menginggat perceraian Anin dengan Andre 4 tahun yang lalu. Setelah tiga bulan dari kelahiran Alea, Anin harus di hadapkan dengan kenyataan kalau suaminya lebih menuruti keinginan Ibunya dari pada mempertahankan istri dan anaknya.


"Ibu hanya tidak mau kamu kecewa nak."


Bu Rahma memberikan senyum hangatnya kepada Anin.


"Masuklah ke kamarmu, kamu belum bersih-bersih sepulang kerja. Kamu pasti lelah juga lapar kan? Kita makan bersama. Hari ini, Ibu memasak lauk kesukaanmu."


"Iya Bu." Anin beranjak masuk


Bu Rahma memperhatikan punggung Anin yang melangkah masuk ke dalam kamar.


"Ibu berharap kamu mendapat pasangan hidup yang akan memberikan kebahagian lahir dan batin kepadamu Nak." Bu Rahma berucap dengan setetes air mata keluar dari sudut matanya.


*


*


Dirga terbangun dari tidurnya karna merasakan mual di perutnya. Matanya menyapu seluruh ruangan. Penglihatannya mulai terlihat jelas. Ia menyadari sedang berada di kamar hotel miliknya. Otaknya mulai mengingat ketika Bayu memaksanya untuk pulang. Dengan di bantu Supirnya Bayu memapah Dirga yang dalam keadaan mabuk masuk ke dalam mobilnya.


"Sshhh... Ia meringis merasakan kepalanya yang juga ikut berdenyut.


Ia memaksakan bangun dan sedikit berlari ke kamar mandi. Ketika rasa mual itu meronta meminta di keluarkan.


"Hoeekkk... Ia memuntahkan seluruh cairan berwarna merah keunguan ke dalam closet kamar mandi. Setelah cairan keluar semua dari dalam perutnya. Rasa pusing di kepalanya sedikit berkurang.


"Biasanya tubuhku kuat kalau hanya menghabiskan dua botol wine." Dirga bicara sendiri.


"Oh, ya ampun! Aku lupa seharian ini aku tidak mengisi perutku dengan makanan."


Ia duduk menyandarkan punggungnya di sofa mewah berada tidak jauh dari ranjang. Di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul 2 malam. Matanya beralih ke atas nakas. Ada catatan yang di tinggalkan Bayu


 


Tuan.


Saya sudah meminta kepala pelayan hotel untuk menyiapkan air hangat perasan jeruk lemon. Untuk menetralisir alkohol yang ada dalam tubuh tuan. Kapan pun anda bangun. Anda hanya perlu menelfonnya. Saya juga sudah meminta koki restoran di hotel ini untuk menyiapkan makanan. Seharian ini perut anda belum terisi nasi.


Bayu.


Dirga meraih ponselnya yang berada di atas meja. Bukannya menghubungi pelayan hotel. Ia lebih memilih menghubungi Anin. Saat ini ia sangat merindukannya. Bahkan rindunya berkali-kali lipat dari biasanya.


keberadaan Wanita itu mampu merubah moodnya menjadi lebih baik. Kehadiran Wanita itu menjungkir balikkan hidupnya dalam sekejap. Wanita itu mampu membuatnya merasakan jatuh cinta kembali.


"Aku mencintainya."


"Aku merindukannya."


Dirga menelaah hatinya. Menelisik masuk sampai ke relung hati paling dalam. Ia harus meyakinkan sepenggal Nama ( Anindirra ) Sudah mengisi penuh ruang kosong yang selama tujuh tahun ini terbengkalai. Ia tidak mau melakukan kesalahan. Ia ingin mencintai dan balik di cintai dengan tulus. Tanpa adanya alasan. Ia ingin memiliki wanita itu sepenuhnya.


Tanpa ia sadari, rasa cinta, rasa rindu, rasa cemburu, sudah tertanam dalam hatinya. Sikap posessifnya mulai ia tunjukkan.


Tuuutt... Tuuutt... Tuuutt...


Suara dering terdengar nyaring di ujung telfon. Sedari tadi tidak di angkat oleh pemiliknya. "Ahh," ia mendesah resah.


"Kenapa tidak di angkat?" Rasa rindu yang menggebu-gebu mengalahkan logikanya. Menghilangkan kewarasannya. Tidak terlintas dalam pikirannya kalau saat ini sudah tengah malam. Dimana sebagian orang sudah tertidur dengan lepapnya.


Yang ia inginkan saat ini hanya mendengar suaranya. Sedikit mencicil kerinduannya. Berharap suara manja itu terdengar di telinganya. Beralih dari panggilan ia mengirimkan pesan singkat melalui aplikas berwarna hijau.


"Apa kamu tidak mendengar dering ponselmu?" - Dirga


"Kenapa tidurmu lelap sekali?" - Dirga


"Susah sekali menghubungimu?" - Dirga


"Hubungi aku!" - Dirga


Pria itu mengirimkan lebih dari satu pesan kepada wanitanya.


Malam ini pria itu uring-uringan. Berulang kali mendesah kesal. Sudah seperti anak kecil yang tidak mendapat kan gula-gula yang di inginkan dari ibunya. Kelakuannya saat ini tidak menunjukkan pria matang berwajah tampan dengan rahang tegas dan sorot mata tajam seperti elang.


Dirga sudah mirip anak remaja yang galau. Bukan lagi seoarang laki-laki gagah pemilik perusahaan ternama seindonesia raya. Malam ini ia seperti Singa yang kehilangan taringnya. Ia terjatuh di dalamnya kerinduan.


Ia memilih menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur mewahnya. Setelah lelah dengan pikirannya. Hingga… beberapa detik kemudian rasa kantuk datang menyerangnya. Membawa rasa rindu berbalut mimpi indahnya.


****


Bersambung❤️