
"Haloooo... Papi.."
Seorang gadis kecil, menggemaskan muncul di ambang pintu menyapa dengan tawa manisnya."
"Alea.." Dirga tak menyangka putrinya akan muncul di tengah-tengah rapat yang baru saja akan di mulai."
Gadis itu kecil berjalan berlenggok bak model mendekati kursi dimana sang Papi berada.
"Sayangnya Papi dengan siapa kemari?" Dirga mengulurkan tangan agar putrinya naik ke atas pangkuannya.
"No Papi.. Ea mau duduk di kulsi sendili." gadis mungil itu bertolak pinggang layaknya orang dewasa yang sedang memerintah. Dan ia tersenyum manis saat beralih melihat Bayu.
"Hai uncle Bay.. Ea boleh duduk di sini?" dengan suara merayu menggemaskan Alea bicara, gadis kecil itu menginginkan kursi yang di duduki oleh Bayu.
"Tentu, cantik.." Bayu berdiri meminta Radit dan Siska untuk bergeser ke kanan, berpindah ke kursi kosong.
Baru saja Dirga akan bertanya lagi, dengan siapa Alea datang ke kantornya, suara tangis Bayi memekakkan telinga. Anin masuk ke ruang meeting dengan menggendong Baby Boy. Di ikuti wanita hamil berjalan di belakang.
"Sayang..
"Stee..
Kedua pria penting itu bersamaan berdiri sambil menyebut nama panggilan untuk istri-istrinya. Rapat yang seharusnya sudah berjalan harus tertunda dengan kedatangan anak dan istri para pria nomor satu dan dua itu.
Dirga berjalan menyambut kedatangan Anin. Dengan di iringi suara tangisa Bayi laki-lakinya.
"Boy.. Ini Papi, kenapa menangis jagoan?" Dirga mengambil sang Baby dari gendongan Anin dan menggendong-nya. Seketika Bayi itu langsung terdiam dalam pelukan Papinya.
"Stee.. You Ok?" Bayu pun ikut menyambut kedatangan Stella. Ia cemas takut terjadi hal yang buruk dengan kehamilan istrinya.
"I'm fine.. Hanya Bayimu yang rewel di dalam perutku hari ini. Ia tak berhenti bergerak, sepertinya meminta di usap oleh Daddynya." Stella tersenyum semanis mungkin menatap Bayu. Dan pria jenius itu langsung paham akan situasi dan kondisi.
"Baiklah Stee, sepertinya anak Daddy ingin ikut rapat hari ini menemani Kakak Alea dan Boy." Bayu mengusap perut sang istri. Meminta OB untuk menambah kursi.
Perlakuan Bayu kepada Stella tak lepas dari pantauan sekertaris Misca. Yang sebelumnya sempat mengirimkan pesan dengan alasan pekerjaan.
"Mas, aku keluar dulu.. Aku tidak ingin mengganggu jalannya rapat hari ini." Anin segera keluar, meninggalkan ruang rapat sebelum Dirga mencegahnya.
"Sayang.." Dirga baru tersadar dan tak sempat mencegah kepergian istrinya saat pintu sudah tertutup hanya dengan memberi celah sedikit.
"Baiklah, kita mulai rapat hari ini." Bayu kembali bersuara dengan tangannya yang sesekali mengelus perut sang istri yang duduk di sampingnya.
Sedangkan Boy, Bayi tampan itu terlihat lucu, menggunakan baju kurungnya, kakinya mulai bergerak terangkat saat Dirga meletakkannya, bersandar di perutnya dan dadanya.
"Apa Bayimu tidak bisa di titipkan kepada karyawanmu Ga? Kalau istrimu tidak mampu menjaganya!" Misca akhirnya bersuara, dari tadi wanita itu merasa terganggu, ia tidak nyaman akan kehadiran gadis kecil yang duduk di hadapannya yang terus menatapnya. Begitupun dengan kehadiran Bayi laki-laki yang bersandar di perut Dirga.
Ia merasa ruang rapat itu sudah mirip dengan posyandu. Ia juga cemburu dengan kehadiran dua anak balita itu. Upayanya untuk bisa menarik perhatian Dirga seakan sia-sia
"Bayiku bukan barang sampai harus di titipkan. Kita akan terus melanjutkan rapat hari ini, atau tidak sama sekali." Dirga bicara dengan tegas.
Misca tidak bisa berkomentar lagi, ia juga tidak bisa menutupi rasa kecewanya mendengar jawaban Dirga. Dan kekesalannya bertambah saat mendengar ucapan Alea.
"Jangan cembelut Oma.. Nanti tepet tua. Ayooo... Kita mulai lapat." gadis mungil itu bicara sambil merapihkan poninya.
Ia sungguh tidak terima, saat di panggil dengan sebutan Oma. Dan para staf yang hadir hanya bisa menahan tawa dengan melipat bibirnya.
Begitupun dengan Anin yang mengintip dari balik pintu. Ia harus menutup mulutnya agar tidak tertawa. "Kamu memang putra Dirgantara Boy. Kamu sepertinya sangat menikmati mengikuti rapat siang ini." memastikan semuanya berjalan dengan baik. Anin pergi menuju departemen keuangan dimana ia dulu bekerja. Ia sangat merindukan temannya Dewi. Sebelum rapat berakhir ia akan kembali ke ruangan Dirga.
Dua jam rapat berjalan dengan lancar. Dirga harus menutup rapat yang sudah mendapatkan hasil akhirnya saat melihat putrinya mulai terkantuk di kursi ketika mendengarkan Radit bicara, asisten itu menjelaskan lagi beberapa aturan yang harus di taati oleh kedua perusahaan sampai kata kesepakatan itu terjalin.
Bayu memerintahkan Kepala bagian pemasaran, dan Radit untuk menjamu, menemani makan siang Misca beserta orang-orangnya.
Dirga mengendong Bayinya dengan Alea yang di angkat Bayu menuju ruang kerja Dirga. "Stee, tunggu di ruanganku." pria itu tidak ingin membuat Stella kelelahan.
Dengan rasa kecewa, Misca meninggalkan ruang rapat di ikuti oleh sekertarisnya tanpa bicara. Sungguh sulit untuknya untuk bisa bicara berdua, dan mempunyai kesempatan untuk mendekati Dirga.
Bayu keluar dari ruangan setelah merebahkan Alea di sofa. Dengan Baby Boy yang di tidurkan di strollernya yang Anin tinggalkan di dalam ruang kerja Dirga.
Pria itu segera meraih ponselnya yang ia tinggalkan di atas meja, bukannya tidak peka. Ia sadar istrinya sengaja membawa anak-anak ke kantor karena Misca.
Baru saja akan menekan nomor kontak wanita kesayangannya. Anin sudah muncul dari luar. Dan mendekat ke stroller dimana Baby Boy sedang tertidur pulas begitupun dengan Alea. Putrinya itu tertidur di atas sofa.
Tiba-tiba kedua tangan kokoh melingkar di perut, memeluknya dari belakang. "Kenapa? Hemmmm..." Dirga bertanya dengan merebahkan dagunya di atas pundak sang istri.
"Kamu mencemburuiku, Sayang?"
Anin tidak menjawab pertanyaan suaminya. Ia terdiam, meraskn pelukan Dirga yang semakin erat.
"Aku milikmu, tidak ada wanita yang bisa mengalihkan pandanganku darimu. Apa lagi untuk seorang Misca. Kamu segalanya buatku, Sayang. Kamu dan anak-anaklah prioritasku. Jangan meragukanku. Aku tidak akan pernah bosan mengucapkannya. Kalau hanya kamu wanita yang aku cintai."
Hanya kamu Ibu dari anak-anakku. Kita akan menua bersama selamanya. Sebelum kita berkeliling dunia, aku akan mempersiapkan segalanya untuk Alea dan Boy."
"Tapi kenapa Mas mengiyakan ajakan Misca untuk makan bersama?" Anin jujur dengan prasangkanya.
"Karena aku ingin mengabulkan keinginannya untuk pertama dan terakhir. Akubakan menegaskan kepadanya agar tidak berpikir macam-macam kalau ingin kerjasama ini berlanjut. Aku tidak akan mempertaruhkan keluargaku, Sayang.. Hanya untuk wanita tua." Dirga terkekeh pelan mengingat panggilan Alea kepada Misca.
"Tua? Tapi Misca terlihat cantik dan muda. Semuanya terlihat sempurna?" mengurai pelukan, Anin berbalik menatap Dirga dengan tangan yang Dirga yang kembali memeluk pinggangnya.
"Ya, dia cantik dan terlihat muda. Tapi semuanya palsu. Aku lebih tergoda dengan barang asli yang kamu miliki, Sayang.."
"Palsu? Anin terkejut saat mengetahuinya. Dan sebelum berlanjut ke pertanyaan lainnya Dirga sudah membungkam bibir manis itu dengan ciuman. Ia mel**at bibir Anin dengan mesra. Seandainya tidak ada kedua satpamnya, sudah di pastikan Dirga akan menggarap istrinya, mengulang kembali permainannya dengan sensasi yang berbeda.
****
Bersambung ❤️
Untuk bonchapnya Anin santai yaa.. Aku lebih banyakin up Maya.. Karena banyak yang teriak Maya hehe..