Anindirra

Anindirra
Chapter 47



Pria itu menawarkan pekerjaan di Cafe miliknya. Ia mendapatkan kabar dari Mira kalau Anin telah mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja.


Selain menawarkan pekerjaan ia juga memberikan posisi sebagai Meneger di Cafe-nya yang baru di bukanya di Bali.


Ini hari ke dua ia berada di desa kemuning. Sebenarnya Bagas dari pagi sudah menawarkankan diri melalui pesan singkat. Akan menemaninya jika Anin ingin keluar untuk sekedar melihat-lihat perkampungan di sini ataw mengunjungi beberapa pariwisata yang cukup menarik di daerah kemuning.


Tetapi Anin belum mengiyakan karna ia masih asik menemani Alea bermain boneka. Setelah lelah bermain tak lama gadis kecil itu tertidur dengan sendirinya.


Dan sedari pagi juga Ia mulai berpikir akan mencari informasi lowongan pekerjaan melalui teman-temannya juga melalui situs di dunia maya. Sampai dimana Adi menghubunginya.


Anin duduk di sisi ranjang, menghadap ke jendela yang terbuka lebar. Ia menimbang-nimbang tawaran kerja yang baru saja Adi tawarkan.


"Kenapa harus di Bali? Aku tidak bisa meninggalkan Alea berdua dengan Ibu di Jakarta." Ia mulai bicara sendiri.


"Tapi tawaran itu cukup menarik."


"An," Bu Rahma masuk ke dalam kamar.


"Ya, Bu." … Anin menoleh ke arah pintu.


Bu Rahma melangkahkan kakinya, berjalan mendekat, ia ikut duduk di sisi tempat tidur di samping Anin.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Dari pagi, Ibu perhatikan sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan?" Bu Rahma menatap Anin dengan penuh selidik.


"Biasanya kamu selalu bercerita kepada Ibu kalau sedang ada masalah. Apa yang memberatkan pikiranmu Nak?"


"Tidak ada apa-apa Bu, Anin baik-baik saja." Anin tersenyum meyakinkan Ibunya.


Kamu anak ibu An, kamu tidak pintar berbohong. Ibu bisa melihatnya dari sorot matamu.


"Bagaimana dengan Dirga?"


"Apa kalian sedang ada masalah? Dari kedatanganmu kemarin, sikapmu tidak seperti biasanya. Sampai harus Alea yang menjawab panggilannya. Apa kalian sedang bertengkar?"


"Bu... Anin, …emm," ia terlihat ragu menyampaikannya.


"Anin sudah mengundurkan diri dari pekerjaan."


"Kenapa? Bukankah dari awal kamu melamar, kamu sangat menginginkan bekerja di perusahaan itu? Perusahaan ternama yang menjadi tujuanmu dalam mengejar karir?"


"Apa karna kamu memiliki masalah dengan Dirga?"


"Ya, Bu. Maaf..." Aniin tertunduk, ia sungguh merasa bersalah kepada ibunya.


Terdengar helaan napas keluar dari mulut Bu Rahma.


"Dengarkan Ibu, Nak. Ibu tidak tau apa masalahmu dengannya hingga kamu memutuskan berhenti bekerja. Tapi alangkah baiknya, jangan mengambil keputusan dalam keadaan hati yang sedang marah. Hasilnya tidak akan baik."


"Kami bertengkar Bu,"


"Lalu?" Bu Rahma bertanya.


"Di-dia... Cemburu. Dia..."


Bu Rahma tersenyum mendengarnya.


"Bukankah cemburu tanda cinta? Kalian bukan anak remaja lagi bukan?"


"Tapi dia belum menyatakan perasaannya kepada Anin. Dia..." Anin terdiam, ia bingung harus memulainya dari mana. Ingin rasanya ia mengakui segala dosa yang membebaninya dan menceritakan yang sebenarnya penyebab pertengkarannya.


"Ibu, paham Nak. Sebagai wanita kita selalu menginginkan kepastian dalam sebuah hubungan." dan awal kepastian itu harus keluar dari mulutnya. Ibu juga pernah mengalaminya." Bu Rahma tertawa pelan.


"Ibu juga pernah muda." ingatannya menerawang mengingat akan sosok Almarhum suaminya.


"Dia lelaki dewasa Nak, mungkin dia menunjukkan rasa cintanya dengan cara berbeda. Bukan dengan mengobral kata, tapi dengan perbuatan."


"Sikapnya, …yang membuat Ibu percaya dan yakin kalau dia menginginkanmu adalah, dia sudah berhasil mengambil hati Alea. Bahkan Alea menyayanginya sama seperti dia menyayangimu. Kita sangat mengerti Alea bukan, selama ini cucu Ibu sangat susah dekat dengan laki-laki yang mencoba mendekatimu."


"Bu..., Seandainya, Anin melakukan kesalahan dan membuat Ibu kecewa... Apakah Ibu mau memaafkan Anin?"


Bu Rahma menatap Anin. Ia tersenyum sambil mengusap kepala yang sedang tertunduk.


"Ceritakanlah..."


"Maafkan, Anin Bu... Maafkan Anin." ia menangis menjatuhkan lutunya di depan Bu Rahma. Bersimpuh menenggelamkan kepala di pangkuan Ibunya.


Bu Rahma mendengarkan tanpa menghakiminya. Sampai akhirnya ia membuka suara.


"Kamu sudah banyak melewati masa-masa sulit Nak, Ibu tau, itu tidak mudah. Tidak banyak yang bisa Ibu lakukan untuk membantumu. Dan kamu memiliki alasan yang kuat sampai kamu melakukannya."


Tangannya tak henti menepuk pelan punggung Anin yang bergetar.


"Perbaikilah selagi masih bisa di perbaiki. Berubahlah karna kesempatan itu selalu ada. Belum terlambat untuk memulai suatu hubungan dengan cara yang baik."


"Cukup jangan mengulanginya lagi."


"Terimakasih, Bu. Maafkan Anin." dengan menenggadahkan kepala menatap Bu Rahma. Dan, ia memeluk Bu Rahma dengan mengusap air mata di pipinya.


Beban di hatinya terlepas. Ketakutan akan kemarahan sang Ibu menghilang.


"Ayah pasti sangat beruntung memiliki Ibu, Ibu memiliki hati yang luas."


"Ibu yang beruntung memiliki ayahmu sebagai pendamping ibu. Kamu tau? Sifatnya sama seperti Dirga. Tidak banyak bicara tapi sikapnya membuat Ibu melayang." Bu Rahma terkekeh dengan menyeka air mata di sudut matanya.


"Ayahmu pria penyayang dan bertanggung jawab. Sampai kecelakaan itu merenggutnya."


"Bu, maaf... Membuat Ibu sedih dan mengingat Ayah."


"Jangan khawatirkan Ibu, An. Ibu baik-baik saja. Yang Ibu inginkan hanya melihatmu dan Alea bahagia."


"Pergilah, keluar mencari udara. Jangan membawa Alea. Udara dingin tidak baik untuk kesehatannya. Nikmati waktumu selama berada di sini. Ibu sedang menunggu kedatangan saudara dari Almarhum pakdemu. Kabarnya siang ini akan datang."


"Kenapa lagi Bu? Apa mereka masih menginginkan kebun teh yang hanya tinggal beberapa petak itu? Apa mereka tidak kasihan dengan Bude Darmi! Kenapa masih mengusiknya? Apa itu yang membuat Bude jatuh sakit?"


"Keterlaluan!" Anin bersungut-sungut.


"Sudah biarkan saja An, Ibu akan mendampingi Budemu menghadapi masalahnya."


*


*


Dirga memutuskan kembali ke Indonesia. Dan ia akan terbang langsung menuju Kota Solo. Setelah hasil ST scan dan pemeriksaan organ tubuh lainnya di nyatakan baik oleh Dokter khusus yang menangani Tuan Bastian.


Hanya kondisi kakinya saja yang belum pulih dan membutuhkan waktu untuk menjalani pemulihan pasca operasi patah tulang yang telah di lakukannya.


Tuan Bastian mengalami insiden kecelakaan saat ia mengendarai MV Agusta F4CC miliknya. Moge dengan harga fantastis itu tergelincir karna mengerem mendadak saat seorang anak tiba-tiba berada di tengah jalan mengejar bola yang terlepas dari tangannya. Kejadian itu terjadi tidak jauh dari Mansion-nya.


Sebenarnya Alyne masih menginginkan keberadaan Dirga berada di Singapura. Tapi ia menyadari bahwa Putranya itu lelaki yang sangat sibuk. Tanggung jawab dan kehadirannya sebagai pemimpin di perusahaan Wijaya Grup sangat penting.


Sebelum pamit Dirga menyempatkan mengejek Tuan Bastian yang sedang duduk di atas kursi roda saat keluar dari ruang Ortopedi.


"Ingat Mom, jangan ijinkan Daddy mengendarai Moge lagi. Apa Mommy mau di repotkan lelaki tua itu lagi?"


"Dasar kau! Pria bodoh! Cepat pergi! Jangan pengaruhi Mommy-mu. Cepat selesaikan urusanmu."


Dirga tertawa puas bisa membuat Daddy-nya kesal.


****


Bersambung ❤️


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya teman-teman 🤗


Jangan lupa simpan ke faporit ❤️


👇


Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, itu hanya kebetulan saja. Tidak di sengaja dan tidak ada maksud apapun. Jadi mohon di maafkan 🙏


Dan jika berkenan folow akun IG aku nih... @non.esee


Terimakasih. Salam sayang 😘