Anindirra

Anindirra
Bonchap 07



Sepasang suami istri tengah beradu mulut di dalam kamar. Memperdebatkan seorang gadis kecil yang selalu di bahas akhir-akhir ini. Hingga membuat sang wanita merasa di abaikan pendapatnya.


"Saat kamu menikah denganku, kamu sudah tau statusku Sin. Aku bukan pria singgle, aku memiliki anak dari wanita lain! Kenapa kamu marah saat aku membahasnya?"


"Selalu saja Alea yang kalian bahas! Aku bosan mendengarnya. Pikiranmu sudah di penuhi oleh anak itu. Bahkan kamu tidak pernah bertanya pendapatku dan apa yang aku inginkan? Apa salah kalau aku merasa terabaikan?"


"Jangan mencari alsan dengan merasa terabaikan Sin. Seolah kamu sedang bersaing dengan wanita lain. Dia hanya anak kecil Sinta. Dan aku rasa sangat wajar jika kami membicarakan-nya. Kami merindukannya."


"Mama sama Papa sudah tua. Mereka ingin bertemu cucunya. Jika kamu memang tidak suka, apa sulitnya diam dan cukup dengarkan saja ucapan Mama."


"Tapi aku tidak mau kalau sampai harus bertemu dengan Anindirra hanya untuk mengemis agar bisa bertemu dengan putrimu."


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Kenapa kamu merasa kamu mengemis? Mama hanya mengajakmu menyambung tali silaturahmi. Memperbaiki hubungan yang buruk selama ini. Mama hanya minta di temani, karena Mama ingin meminta maaf Sinta."


"Orangtuaku sudah tua.. Papa sudah sakit-sakitan. Mereka hanya ingin bertemu cucunya sebelum terlambat. Tapi jika kamu merasa keberatan dan tindakan kami tidak sejalan dengan keinginanmu. Kami tidak akan pernah melibatkanmu. Aku sadar Alea bukanlah anakmu. Alea tidak terlahir dari rahimmu."


"Maaf kalau aku tidak peka." Andre menyambar kunci mobil dan pergi keluar kamar.


"Bu-bukan maksudku seperti itu Ndre." Sinta mencoba menahan kepergian Andre dengan meraih tangannya.. Tetapi langsung di tepis oleh Andre yang merasa kecewa dengan sikap Sinta.


"Ndre.. Kamu mau kemana? Ndree.." Sinta bertanya dengan suara kencang saat Andre tak mengubrisnya.


Pria itu terus berjalan menuruni anak tangga dan keluar meninggalkan rumah. Kalau bukan karena kewajibannya sebagai suami. Enggan rasanya ia pulang ke rumah. Saat bertemu Sinta selalu saja terjadi perdebatan. Entah itu mengenai Alea atau hal sepele lainnya.


Sungguh ia merasa lelah, ia merasa tidak nyaman menjalani rumah tangga dengan Sinta. Sampai kapan akan seperti ini iapun tidak tau. Mengemudikan mobilnya ia memilih bertemu dengan temannya Adi di caffe miliknya.


°°°°°


Sedangkan gadis kecil yang menjadi pembahasan dan bahan pembicaraan Saat ini sedang bergerak lincah di depan layar lebar di ruang keluarga. Alea sedang berjoget mengikuti gerakan Boyband korea idolanya


Dengan mulutnya yang terus bergerak mengikuti lagu yang sedang di bawakan. Gadis kecil itu hapal di luar kepala. Alea sudah mengumpulkan para pekerja untuk ikut bergabung. Kalau sebelumnya Alea membuat heboh saat pagi hari karena lepasnya sang gagak hitam. Tidak untuk hari ini. Kehebohan terjadi saat sore hari.


Agus sang supir kesayangan di buat pusing dengan gerakan yang harus di ikutinya. Beberapa kali pria itu melakukan kesalahan yang harus di ulangnya kembali. Karena rasa sayang yang teramat besar dan ikatan kedekatan para pekerja dengan majikan membuat semuanya tidak mampu menolak.


"Sepelti ini Pak Aguusss... Gelakanna salah itu.." Alea memberi contoh dengan gayanya di tengah suara musik K-pop yang sedang di putar.


"Sudah betul ini Non. Ini sudah sama." Agus meliukkan pinggulnya dengan tangan kiri di pinggang dan tangan kanan menyentuh dagu.


"Iih.. Salah Pak Aguusss.. Jangan di goyang pinggulnaaa.. Tapi di gelakin ke kanan telus ke kili."


"Non hati-hati.. Nanti pinggang Pak Agus tidak bisa balik lagi." Budi menimpali


"Diam kau Bud.. Jangan mengganggu konsentrasiku.. Tuhkaaann.. Aku lupa sampai mana tadi gerakannya."


"Sekalang Pak Budi ajalin Pak Agus.." Alea menarik tangan Budi agar maju ke depan


"Mampus kau!!" Agus berbisik di telinga Budi. Ia merasa puas bukan hanya dia yang harus berjoget. Tapi rekannya juga.


"Telus Pak Budi.. Ya.. Betul.. Betul kaya gitu.. Kakina di angkat dikit.. Jangan di lapetin.. Ikutin Ea yaa.."


"Ayoooo... Mbak Lia juga begelak badana jangan diam aja."


"Pak Asep juga.. Bial seluuu.. Kitakan Boyband.. Jadi halus baleng-baleng dance-na.."


Di susul dengan Anin yang turun ke bawah dengan menggendong Baby Boy yang barus selesai di mandikan. Menggendong Boy dengan posiai di hadapkan ke depan. Hingga kaki Bayi itu bergerak terangkat. Mendengar musik yang memekak telinga.


Ikut meramaikan, Anin ikut menggerakkan tubuhnya di samping Lia dengan tangan kiri mendekap bagian perut Baby Boy dan tangan kanan di bawah kakinya.


Bayi yang sudah berumur 4 bulan itu tampak lucu, seakan mengerti melihat Kakaknya tengah menari bersama para pekerja, Boy tertawa dengan tangan bergerak menggapai ke depan.


Keseruan semakin bertambah saat lagu berpindah ke girlband blackpink.. Para penyanyi dengan body mulus, warna kulit seputih kapas, dengan lekukan pinggang sampai betis bak perosotan taman kanak-kanak itu bergoyang meliukkan tubuhnya dengan seksi. Agus yang mengikuti gaya Lisa hampir saja terjengkang karena tak kuat menahan bobot badan..


Karena kencangnya suara musik yang di putar tak ada satupun yang mendengar suara mobil yang di kendarai Pak Dadang sudah memasuki halaman. Dirga heran mendengar suara musik kencang sampai terdengar hingga keluar.


Pria itu bersandar di dinding dengan melipat tangan. Bibirnya bergerak membentuk senyuman saat melihat sang istri dan anaknya bergoyang menari dengan Baby Boy berada dalam gendongannya. Pak Dadang yang ikut masuk berdiri di belakang Dirga ikut tertawa melihat rekan-rekannya sudah mirip dengan dancer pesorak di lapangan.


Menghabiskan satu lagu, cukup puas buat Dirga menyaksikan Keseruan mereka. Sampai akhirnya, saat berputar kebelakang mereka menyadari kehadiran Bosnya yang berdiri sedari tadi


Mendadak semuanya terdiam bak patung lilin terkecuali Agus dan Alea yang masih belum menyadari kehadiran Dirga.


Pria itu lama-lama semakin lama.. Semakin lincah bergerak dengan Alea sebagai intruktur sesekali melihat layar LED tv yang berukuran 75inch.


"Ssseett... Ssseettt... Gus.. Guuusss.." dengan suara berbisik pelan. Budi terus mengkode agar Agus berhenti.


"Guuuuussss.... "


"Apaan sih Bud..?"


"Ada Tuan Dirga.."


"Siapaaa..?" Agus masih bergerak


A D A T U A N D I R G A


H A H


"Papiii..." Anin tersenyum mendekat, menyambut kedatangan suaminya yang baru di sadarinya.


Masih dengan menggendong Boy, Anin mencium kedua pipi Dirga.


"Maaf Papi.. Boy tidak mendengar suara mobil Papi datang.." mewakili Boy, Anin berbicara seperti anak kecil. Di barengi teriakan suara Alea


"Papii..." Alea berlari menyambut sang Papi. Ia baru menyadari setelah musik di matikan dan semua para pekerja balik kanan bubar... Tanpa komando.


"Karena kamu tidak menyambutku di pintu.. Nanti malam kamu harus di berikan hukuman, Sayang.."


"Aku suka dengan hukumannya.." Anin berbisik di telinga Dirga dengan menjilat kupingnya. Membuat sang gagak mulai berontak. Tidak kuat menunggu malam.


Dan berharap sang putra malam ini tertidur dengan nyenyak.


****


Bersambung ❤️