Anindirra

Anindirra
Chapter 76



Setelah mengucapkan selamat kepada Dirga. Tangannya di tarik oleh Bayu untuk segera turun dan menjauh dari kedua mempelai. "Lepaskan Bay!" Stella melepas paksa tangannya dari cekalan pria yang selalu membuatnya kesal.


Stella langsung menjauh pergi ke kamar mandi yang berada di belakang ballroom, meninggagalkan Bayu yang masih berdiri menatapnya di tengah keramaian pesta.


Menumpahkan kecewanya dengan menangis, wanita itu merasa kalah sebelum berperang. Ia sudah menunggu Dirga dari semenjak SMU. Ia sungguh menginginkan pria itu.


Stella sampai rela menunggu Dirga selama 7 tahun ketika mengetahui rumah tangganya tidak berjalan dengan baik saat bersama Ratna, dengan harapan ia bisa menggantikan posisinya dan masuk sebagai penyembuh luka hatinya.


Mengandalkan hubungan yang terjalin baik antara kedua orang tuanya, Stella berharap mendapatkan dukungan yang kuat. Ia akan meminta Mama, Papanya melamar Dirga untuknya.


Tetapi sebelum itu semua di jalankan, ia sudah mendengar kabar mengejutkan melalui media elektronik.


Tidak mempercayainya, ia memutuskan terbang ke indonesia, memastikan kabar itu tidak benar. Dan ia yakin kesempatan itu masih ada.


Setelah puas menangis, ia merapihkan kembali riasannya yang sedikit rusak karna airmata.


"Apa yang kurang dariku Ga? Kenapa kamu lebih memilih wanita dari kalangan biasa untuk kamu jadikan Istri? Apa kelebihan wanita itu?" walaupun sulit, ia akan berusaha menerima kenyataan bahwa sedikitpun tidak ada rasa cinta di hati Dirga untuknya.


Stella sadar kalau sudah tidak ada celah untuknya merebut laki-laki itu kembali. Ia bisa melihat rasa cinta yang teramat besar dari sorot mata Dirga saat menatap Anindirra. Dan itu membuatnya sakit.


"Sudah lebih baik?" suara Bayu mengejutkannya, mengusap airmata ia menengok ke arah pintu.


"Im fine.." Stella tersenyum hambar.


Melepaskan jasnya. Bayu memakaikan-nya di pundak, menutup tubuh Stella yang terbuka.


"Butuh pelukan? Aku akan meminjamkan dadaku." Bayu sangat paham apa yang tengah terjadi di hati wanita itu.


Stella menghambur ke dalam pelukan Bayu. Memeluknya dengan erat tanpa kata.


"Aku antar pulang ke hotel tempatmu menginap." Tanpa menunggu persetujuan, Bayu meraih tangan Stella setelah pelukan wanita itu terlepas. Ia membawanya keluar dari pintu samping.


Di perjalanan menuju hotel, keheningan terjadi di dalam mobil. Baik Stella maupun Bayu tidak ada yang bersuara. Hingga mobil yang di kendarainya sampai tepat di depan lobi hotel.


"Aku akan kembali ke Singapore besok pagi." Stella bersuara dengan pelan.


"Aku akan mengantarmu ke bandara." Bayu bicara dengan menatap Stella.


"Ok, aku tunggu." Stella memutus tatapan Bayu.


"Good night … istirahatlah." Bayu kembali melajukankan kendaraannya menuju hotel dimana acara Dirga tengah berlangsung setelah Stella turun dari mobilnya.


Stella masih berdiri di depan lobi. Ia masih menatap kepergian mobil yang di kendarai Bayu sampai benar-benar hilang dari pandanganya.


Tangannya menyentuh dada … ada sesuatu yang berbeda di hatinya dan entah itu apa.


*


*


*


"Sayang... Buka pintunya, biarkan aku membantumu." berulang kali mengetuk pintu tetapi masih belum terbuka.


Di kamar pengantin, bertebaran bunga mawar yang menghiasi ranjang berspreikan warna putih dengan bentuk love. Menambah kesan romantis.


Seorang pria tengah berjuang membujuk istrinya yang masih merajuk akibat ulah seorang wanita.


"Sayang, please … aku bisa jelaskan."


Tidak putus asa, Dirga tatap merayu dan membujuk Anin supaya mau membuka pintunya.


"Dia hanya teman sewaktu SMU tidak lebih." Dirga bicara di balik pintu yang terkunci.


"Kami tidak pernah pacaran, apalagi menjadi sepasang kekasih, hubungan kami hanya sebatas teman dan hubungan baik kedua orangtua. Aku juga tidak menyangka ia akan ke indonesia untuk menemuiku. Dia hanya terobsesi kepadaku sehingga mengaku sebagai kekasihku."


Selesai acara , Anin segera kembali suiteroom yang sudah di siapkan sebagai kamar pengantin. Alea pun sudah tertidur pulas dalam gendongan Lia setelah acara potong kue yang di nanti-nantikan gadis kecil itu.


Sebagai penutup acara, kedua mempelai itu melemparkan bunga untuk para khalayak di lantai bawah untuk bisa di tangkapnya dan bunga itu jatuh ke tangan Bayu asisten sekaligus orang terdekat Dirga.


Sesampainya di dalam kamar, Anin segera masuk kamar mandi untuk membuka kebayanya. Ia juga sedang menghindari Dirga, hatinya masih kesal menyaksikan tubuh suaminya di peluk wanita lain.


"Sayang, buka ya pintunya." menempelkan telinga, ia ingin mendengar apa yang di lakukan istrinya di dalam.


"Aduhhh!... Perutku sakit, Sayang... Rasanya sakit sekali... Tolong aku."


Ceklek. Suara knop pintu kamar mandi terbuka. Tampak wajah khawatir keluar masih dengan pakaian yang belum terlepas.


"Mas, kenapa?" ia bertanya ketika melihat wajah suaminya meringis kesakitan.


Wanita itu merasa bersalah dan cemas, ia langsung memapah tubuh Dirga, membawanya agar duduk di sofa.


"Perutku tiba-tiba sakit, Sayang." dengan memegang perutnya.


Tanpa di sadari Anin, pria itu tersenyum menyeringai, ia merasa berhasil membuat istrinya itu keluar dari persembunyiannya dan menghawatirkannya.


"Apa Mas salah makan saat menjamu tamu? Bukannya tadi baik-baik saja? Aku akan menghubungi pihak hotel untuk di antarkan obat." Anin akan beranjak ke tempat sambungan telfon berada.


"Jangan, Sayang. Tidak perlu." Dirga menahan tangannya.


"Aku hanya butuh kamu, sakitnya pasti akan hilang."


"Apa hubungannya denganku? Aku bukan obat? Anin memicingkan matanya dan mulai mencurigai suaminya.


"Benar, Sayang …tadi itu tiba-tiba perutku sakit." Dirga menampilkan wajah memelasnya.


"Ya sudah, aku siapkan air hangat, setelah itu Mas harus segera istirahat malam ini."


Bagai makan buah simalakama, di makan ibu mati, tak di makan ayah mati. Seperti itulah yang di alami Dirga malam ini. ia berhasil membujuknya keluar tetapi ia gagal mengeksekusinya. Ia di hadapkan dengan dua pilihan jujur atau melanjutkan kebohongan.


Dirga berusaha menahan hasratnya ketika Anin membantu melepaskan seluruh pakaian dan menyuruhnya untuk segera mandi dan istirahat. Wanita itu juga menelfon pihak hotel untuk membawakan minuman hangat dan obat.


Di atas tempat tidur, Dirga memperhatikan gerak gerik istrinya di depan meja rias yang sedang membersihkan sisa-sisa make-up. Berkali-kali ia harus menarik napas kuat-kuat saat wanita itu mulai membuka pakaiannya satu persatu.


Punggung mulus itu seakan sedang mengejeknya, menari-nari di matanya. Belum lagi dua bongkahan yang menantang tegak bak gunung himalaya seputih salju. Beberapa kali ia harus menelan salivanya. Bukan hanya hatinya yang gelisah, tetapi sesuatu yang menempel di bagian tubuhnya sedari tadi ikut gelisah dan sudah mulai memberontak.


Anin sengaja berlama-lama duduk di meja rias dengan melepaskan pakainnya dengan perlahan, sudah seperti di adegan aksi film slow motion. Dengan niat menggoda ia mendramatisasi keadaan.


Ia memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan menyibakkan rambutnya. Ia sadar suaminya itu sedang bersandiwara dan membohonginya. Ia sengaja memancingnya sebagai bentuk hukuman karna sudah membuatnya khawatir dengan berpura-pura sakit.


"Sayang, aku tidak bisa tidur. Kamu kenapa lama sekali?" Pria dewasa itu merengek seperti anak kecil.


"Tidurlah Mas, jangan lupa di minum obatnya. Mas itu sedang sakit perut. Aku tidak mau keadaan Mas semakin parah."


"Jangan menungguku. Aku harus membersihkan tubuhku dulu." dengan menahan senyuman Anin masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya lagi. Meninggalkan pria yang sedang gelisah di atas ranjang pengantin.


****


Bersambung ❤️


Hayoo... Siapa emak-emak rebahan yang semalam gak datang. Aku nunggu lohhh. By Dirga



Mintak MP gak ngasih angpao 😁😁 pisss ✌️✌️aku becanda.


Terimakasih ya untuk semua komen dan segala bentuk dukungannya 🙏😘