
Di dalam kamar mandi tepat sepertiga malam. Sepasang pengantin baru yang masih hangat-hangatnya itu, tengah bercinta dengan hasrat yang menggebu belum terpuaskan, hanya dengan satu kali permainan. Bayu kembali menyusuri tubuh Stella yang sudah polos dengan memberinya banyak stempel dari mulai leher, dada, hingga turun ke paha.
Tak sejengkal pun yang terlewat dari sapuan bibirnya. Pria itu tak berhenti mencumbu dengan posisi berdiri. Merapatkan tubuh sang wanita ke dinding kamar mandi.
"Apa masih sakit?" Pria itu bertanya setelah melepaskan pagutan bibirnya dari bibir Stella, tangan turun meraba ke bagian pangkal paha yang mulai basah.
"Se, sedikit perih... Ahh... Bayyy..." Stella menjawab dengan terbata, matanya mulai sayu dengan suara bergetar, ia mendesah saat satu jari Bayu mulai masuk menyentuh miliknya.
"Aku akan membuatnya terbiasa dan menghilangkan rasa perihnya." Bayu bebisik pelan di samping leher Stella. Ia berhasil meyakinkan, membuat wanita itu mengangguk pasrah dengan mengigit bibirnya merasakan jari Bayu yang terus bermain di area sensitifnya.
Pria itu berjongkok dengan kedua lututnya, ia mulai mengganti jari dengan lidahnya, memilin belahan chery yang berwarna pich. Menekannya dengan lidah dan mensesap dengan bibirnya.
Stella sampai harus mencengkram kuat pegangan besi yang menempel di dinding dengan kaki sebagai penopang, merasakan sapuan lidah yang terasa tajam menghunus saat menyentuh almon hingga membuat tubuhnya bergetar.
"Bay stop Bay.... Mmhhh.." Stella mengatupkan bibirnya, yang hampir saja berteriak. Ia ingin membalas perbuatan Bayu yang beberapa kali berhasil membuatnya melayang. Pria itu mengalahkannya sebelum memulai pertempuran yang sesungguhnya.
Melepaskan diri, ia menarik Bayu dari dalam kaca berbentuk kubus, dan mendudukkannya di atas closet. Ia berjongkok dan secepat kilat menyambar komodonya yang sudah menegang dengan mulutnya.
"Ohh... Stee … you drive me crazy Ste."
( kamu membuat gila Ste.. )
"Oh **** ! … ini akan membuatku ketagihan Ste.. Jangan salahkan jika aku akan memintanya terus."
"Kamu nakal Ste... Akkhhhh..." pria itu sudah tidak kuat dengan permainan lolipop yang Stella mainkan.
"Please Ste … mainkan dengan milikmu."
Bayu meminta Stella naik ke atas pangkuannya dengan posisi memunggunginya. Stella melenguh, menjerit pelan saat batang yang mengeras itu seluruhnya terbenam, melesak masuk tak tersisa di antara kedua pahanya. Mulutnya mendesis lirih merasakan sesuatu yang berbeda, ia terus menggoyangkan pinggul dan menekan bok*ngnya di atas batang yang mengobrak abrik miliknya.
Kedua tangan Bayu melingkar berpegangan di kedua bukit kembar yang mengantung dengan memilin put*ngnya dengan ujung jarinya. Dengan bibir yang tak berhenti mengecup kadang berubah mengigit punggung mulus Stella.
"Berbalik Ste.. Bayu meminta wanita itu untuk berbalik menghadapnya, dan membenamkan kembali miliknya. Saat ini bukan lagi punggung yang yang menjadi sasaran, tetapi kedua put*ing yang berubah memerah karena hisapannya.
Bayu mengangkat tubuh Stella bak Koala masih dengan miliknya yang menancap di kem*luan Stella, ia berjalan keluar dari dalam kamar mandi membawanya ke atas ranjang.
Bertumpu dengan kedua lututnya, ia mulai mengerakkan pinggulnya dengan cepat saat sesuatu yang tebenam semakin mengeras dan berdenyut kencang.
"Ste.. Enak Ste.. kamu membuatku tidak mau berhenti Ste.." Bayu terus meracau dengan mulut terbuka, menikmati rasa yang mulai mengumpul menjadi satu.
Saat sesuatu yang di rasakannya akan menyembur keluar, ia berharap dari ribuan spe*ma yang dihasilkan, salah satunya akan berbuah menjadi benih dan berubah menjadi janin di dalam rahim Stella.
Hingga ia mengeram puas, sungguh wanita itu berhasil membawanya menjadi pria sejati. Mengulang malam pertama dengan kenikmatan tiada tara.
Ohh... Stellaku...
*
*
*
Bergerak memiringkan tubuh, ia memandang wajah wanita yang tengah tertidur miring, meringkuk di sampingnya dengan posisi menghadapnya. Wanita hamil itu baru bisa terpejam setelah jam menunjukkan pukul 4 pagi dini hari. Artinya, wanita itu baru tertidur selama 2 jam kerena saat ini, jarum jam baru menunjukkan pukul 6 pagi.
Ia dapat mendengar semuanya semalam, ucapan Anin dan juga ucapan Dokter Liam. Hanya saja, ia tidak mampu membuka mata dan menggerakkan tubuhnya karena suhu panas yang menyerangnya. Belum lagi, merasakan pusing yang hebat di kepalanya.
Mengulurkan tangan, perlahan ia merapihkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Anin. Hatinya seakan terhantam palu senjata Thor yang memiliki kekuatan petir. Terasa meremukkan rongga dadanya.
Ia menyesal telah mengabaikan wanita yang sangat-sangat berarti di hidupnya. Ia sudah membuat wanita itu menangis dan terluka akan sikap dan perbuatannya. Entah kenapa, ia tidak bisa mengontrol emosinya. Rasa takut akan kehilangan menguasai pikirannya, rasa takut akan sebuah penghianatan memicu kemarahannya hingga ia lepas kontrol. Hingga cinta besar yang di berikan wanita itu menutup matanya.
"Maafkan aku, Sayang.." ia bicara pelan dengan suara bergetar menahan sesak di dada. Ia tidak bisa membayangkan kalau wanita yang tengah terpejam itu pergi meninggalkannya. Apa lagi wanita itu telah mengetahui kondisi kesehatannya.
Ia bisa kuat dan sekeras baja menghadapi dan menerjang lawannya. Tetapi ia akan lemah kalau sudah di hadapkan dengan Anindirra. Ia tidak bisa mengurangi setitik pun rasa cintanya untuk wanita yang telah merubah hidupnya.
"Aku mencintamu, Sayang... Sangat mencintaimu.." tangannya membelai pipi di wajah cantiknya. Wajah itu selalu membuatnya rindu.
"Aku siap menerima hukumanku, asal kamu tetap berada di sampingku, kekasihku.." ucapannya terdengar lirih dan menyayat hati.
Setitik air mata jatu dari sudut matanya, sungguh saat ini ia sedang tidak berdaya.
Bersamaan dengan Anin yang juga ikut menitikkan air mata di sudut matanya. Mereka saling berhadapan dengn tubuh miring meringkuk dengan kaki sama-sama menekuk. Anin terbangun saat merasakan pergerakkan di sampingnya. Tidurnya terusik kala tangan kokoh yang biasa merangkulnya, menyentuh helai rambutnya.
Dengan mata masih terpejam ia bisa mendengar semua ucapan Dirga. Hatinya pun ikut teriris sedih, ia kecewa dengan dirinya karena tidak mengetahui kondisi suaminya. Ia pun meraskan bersalah seperti yang sedang di rasakan oleh Dirga. "Maafkan aku Mas, maafkan aku..." Anin berteriak di dalam hatinya. "Selamanya aku akan berada di sisimu. Kamu pria terbaik yang tuhan beri." Anin terus bicara dalam hati dengan mata yang masih terpejam.
Dirga mengusap tetes air mata dengan Ibu jempolnya, ia dapat melihat wanita yang tengah terpejam itu menangis dalam diam. Ia tau, hati wanita itu tengah terluka olehny.
"Katakan? Apa yang harus aku lakukan agar mendapatkan maafmu, Sayang.. Pukul aku, berteriaklah di hadapanku, ungkapkan kekecewaanmu, aku akan menerimanya."
"Aku salah, Sayang … aku salah …tapi jangan diamkan aku. Seperti apa yang sudah aku lakukan kepadamu. Aku sadar itu sangat menyakitkan."
"Aku tidak bisa memutar waktu agar tak melakukan kesalahan. Tapi berikan aku kesempatan untuk tak mengulanginya lagi.."
Dirga terus bicara di hadapan wajah Anin, ia tidak berani memaksa agar wanita itu menjawab dan membuka matanya. Ia memilih menunggu sampai pujaan hatinya kembali menatapnya dengan bola mata indahnya.
Sedangkan Anin, ia menangis bukan karena apa yang sudah pria itu lakukan, ia menangis karena pria itu memendam sendiri sakit yang menyerangnya. Ia menanggung semua beban termasuk masalahnya dengan Andre.
"Kenapa kamu lebih memprioritaskan kenyamananku, kebahagiaanku di atas segalanya? Kamu curang, Mas.. Kamu tidak ingin membuatku bersedih."
"Tapi kamu menanggung kesedihanmu sendiri. Kenapa tak membaginya kepadaku?" Anin berteriak, bertanya dengan diam.
*****
Mampir ke karyaku yang kedua yukkk 🤗 Semoga suka dengan alur ceritany.. Buat selingan sambil nunggu Anindirra UP
Bersambung ❤️