
Sesuai janjinya, menjelang sore saat matahari mulai terbenam meninggalkan cakrawala. Bayu meninggalkan gedung kantornya untuk menjumpai wanitanya dengan semangat yang luar biasa.
Bahagia dan rindu sudah menjadi satu paket yang mewarnai hati keduanya. Cinta yang sudah tumbuh bersemi dari masa remaja, terbayarkan sudah saat ini. Bagi Bayu, Stella adalah cinta pertama dan terahirnya.
Seberat apapun langkahnya untuk dapat memiliki wanita itu, akan ia perjuangkan. Ia sudah tidak memperdulikan status yang di sandangnya, ia akan membuktikan kalau ia layak dan mampu memeberikan kebahagiaan untuk Stella Hugo.
Di dalam mall area bioskop yang berada di lantai empat, sore menjelang petang itu terlihat ramai dengan para pengunjung. Dua insan yang sedang di mabuk asmara itu, memulai kencan pertamanya dengan menonton film bergendre romantis pilihan Stella.
Tangan kanan Bayu tidak lepas dari tangan Stella, keduanya saling meremat, menyaksikan film yang menampilkan banyak adegan 21 tahun ke atas, membuat keduanya harus membuang napas menahan hasrat yang mulai menganggu.
Stella menyandarkan kepalanya di sisi lengan Bayu, ia terbawa suasana saat pemeran tokoh utama sang pria, meninggalkan wanitanya karna tak mendapatkan restu kedua orang tua. Sangat mirip dengan perjalanan cinta mereka.
"Apa kamu akan meninggalkanku seandainya Daddy menolak hubungan kita?" tiba-tiba Stella bersuara dengan pandangan masih menatap layar berukuran besar.
Ia merasa takut. Hubungan yang baru di mulai dalam hitungan minggu, akan putus begitu saja. Ia tidak bisa membayangkan kalau sampai itu terjadi. Ia harus merasakan kekecewaan untuk kedua kalinya setelah ia mampu membuang Dirga dari dalam hatinya.
"Tidak akan. Aku akan memperjuangkanmu apapun yang akan terjadi Stella Hugo. Bahkan jika ada maut di hadapanku, aku akan menerjangnya. Percayalah, kita akan mendapatkan restu kedua orang tuamu. Jangan di pikirkan, Ok.." Bayu mengecup punggung tangan Stella yang berada dalam genggamannya.
"Aku tidak mau kamu bersedih. Ayo kita keluar. Sepertinya perutku sudah minta di isi kembali." mereka meninggalkan studio yang masih gelap bersama alur cerita yang belum terselesaikan.
Memilih restoran cina yang berada di luar mall untuk makan malam. Keduanya sangat menikmati sup wonton yang lebih di kenal dengan nama sup asam pedas. Sup kaldu yang mampu menggugah selera sebagai makanan pembuka. Di sambung dengan makanan yang lainnya.
Bayu menyadari, dari mulai mereka keluar dari dalam gedung mall. Mobilnya di buntuti oleh mobil lain, sampai sekarang ia sedang menyantap makanan, ia mengetahui ada mata yang sedang mengintainya.
Tetapi Bayu tetaplah Bayu, ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini. yang membedakan, kalau dulu menyangkut soal perusahaan dan saat ini menyangkut urusan cinta. Bayu bersikap tenang, ia tidak ingin membuat Stella ketakutan.
Di sela-sela makannya, Bayu mendapatkan panggilan telfon dari anak buahnya.
"Maaf Ste, aku harus mengangkat telfon." Tetap berada di meja makan, Bayu mendengarkan laporan yang di terimanya.
"Aku akan menemui kalian malam ini." Bayu menjawab sebelum ia memutuskan panggilan.
"Apa ada masalah Bay?" menghentikan makannya, Stella bertanya. Entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Bayu.
"Tidak ada Ste. Hanya masalah kerjaan yang harus aku selesaikan malam ini. Habiskan makanmu, aku akan mengantarmu pulang."
"Aku sudah kenyang. Aku sudah banyak menghabiskan makanan."
Bayu tersenyum sambil mengacak rambutnya, "Kamu harus makan yang banyak, agar tubuhmu tidak terlalu kurus Ste. Jangan takut gemuk, karna aku akan tetap mencintaimu."
*
*
*
Kendaraan milik Bayu memasuki halaman mansion mewah milik keluarga Hugo. Stella terkejut wajahnya berubah pucat saat melihat satu mobil terparkir yang ia ketahui mobil itu milik Steven.
Bayu dapat membaca perubahan di wajah Stella. "Ada apa?"
"Ada Steven di dalam." ia menjawab dengan meremat jemarinya. Ia mulai merasakan ketakutan.
"Hei... Lihat aku." Bayu menyentuh wajah Stella agar menatapnya. "Jangan takut, ada aku Ste, ayo kita masuk."
Melangkah bersisian masuk bersama, kedua insan itu saling menautkan kelima jarinya dan saling menguatkan.
"Stella.." Amanda menyapa lebih dulu, saat melihat kedatangan putrinya brsama seorang pria.
Matanya dapat melihat dengan jelas kedua tangan yang saling menggenggam, begitu juga dengan Tuan Alfred Hugo dan Steven yang tengah duduk di sofa.
Rahang lelaki itu mengeras, melihat tangan Stella dalam genggaman pria lain.
"Selamat malam Nyonya Hugo.." Bayu menyapa dengan ramah.
"Malam Bay, sudah lama kita tidak bertemu." Wanita itu menjawabnya dengan ramah walau di hatinya bertanya-tanya, ada hubungan apa putrinya dengan anak angkat sahabatnya.
"Baiklah, bagaimana kalau kita langsung ke meja makan, hidangan sudah tersedia dari tadi.." Amanda memecah ketegangan yang ada di ruang tamu ini. Wanita tua itu dengan cepat mulai memahami situasi yang ada.
"Aku dan Bayu sudah makan malam Mom." Stella mencoba menolak.
"Stella!!" suara Alfred meninggi saat mendengar ucapan putrinya.
"Temani Steven makan. Daddy akan bicara kepada temanmu."
Stella menatap sendu wajah Bayu dengan mengencangkan cengkraman tangannya. Bayu membalasnya dengan anggukan, mengisyaratkan agar Stella tidak membantah.
Stella menurut walaupun rasanya sangat berat saat genggaman tangan bayu terlepas dari tangannya. Ia seperti ingin berteriak saat pria yang tidak di sukainya ganti memegang tangannya dan menariknya agar menjauh dari Bayu.
"Come on Bab, calon suamimu sudah menunggumu dari tadi." Steven tersenyum manis dan menekan kata calon suami saat berada di tengah-tengah antara Stella dan Bayu. Ia sengaja agar rivalnya dapat mendengar dengan jelas.
Dengan langkah berat yang di paksakan, ia meninggalkan Bayu dan Daddy-nya yang masih berada di ruang tamu.
Perasaannya tidak tenang dan cemas. Ia mengkhawatirkan pria yang sangat di cintainya. Ia takut pria itu akan menyerah dan meninggalkannya. Sungguh ia tidak akan sanggup, jika itu sampai terjadi, ia memilih tidak ingin hidup lagi.
Stella benar-benar frustasi. Belum lama mereka menikmati waktu bersama dengan tertawa bahagia.
"Secepat itukah menghilang? Kalau tau akan seperti ini, aku akan memilih tidak akan pulang ke rumah. Aku akan meminta Bayu membawaku kemana saja." bermonolog dalam hati, Stella hanyut dalam pikirannya."
"Stella... Stella!" Amanda menyadarkan putrinya yang terdiam saat di meja makan.
"Ya Mom." ia menatap wajah wanita yang telah melahirkannya, seakan memohon pertolongan, ia berharap ibunya dapat mengerti dan dapat membantunya.
"Please Mom, Bantu aku." Stella hanya mampu memohon dalam hati. Ia tidak mungkin bicara terang-terangan di hadapan Steven.
"Layani Steven." Amanda mengingatkan putrinya.
"Tidak apa-apa Nyonya Hugo, saya akan mengambilnya sendiri. Saya tidak ingin membuat calon istriku merasa di repotkan." Steven menunjukkan wajah hangat kepada Amanda. Sebisa mungkin ia akan mengambil hati wanita itu.
"Kamu sangat mengerti Nak Steven. Tapi Stella harus mulai belajar melayanimu, sebentar lagi status kalian akan berubah menjadi suami istri."
"Bukan begitu Stella?" Amanda menatap mata putrinya dengan tatapan memerintah. Ia ingin Stella membantu menuangkan makanan ke atas piring Steven.
Dengan senyum kemenangan, Steven menyodorkan piring ke hadapan Stella.
"Aku akan menyukai apa yang calon istriku berikan."
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🙏 terimakasih 🤗😘