
Karna traumanya akan sebuah penghinatan. Dirga tidak bisa berpikir jernih. Rasa marah dan cemburu lebih menguasainya.
Di perhatikannya sejenak rumah sederhana di hadapannya. Sinar terang menguar dari dalam menandakan si penghuni telah kembali pulang.
Dengan dada bergemuruh. Dirga turun dari mobil. Tannpa mengetuk, ia membuka pintu kayu itu yang tidak terkunci.
"Anindirra!" Ia memanggil nama wanita itu. Ketika langkah kakinya sudah berada dalam ruang tamu.
Baru saja Anin merebahkan tubuh lelahnya. Samar-samar terdengar suara pintu terbuka dan seseorang memanggil namanya. Dahinya mengernyit sambil memasang telinga. Suara itu seperti di kenalnya.
"Mas Dirga?"
Anin bangkit dari tempat tidurnya dan segera keluar kamar untuk menemuinya.
"Mas... Anin menyapa Dirga yang tengah berdiri di ruang tamu.
Ia terkejut ketika mendapati wajah Dirga yang kurang bersahabat. Sorot matanya tajam menatapnya. Wajahnya mengeras menunjukkan kemarahaan.
"Mas... Ada apa?" Anin bertanya. Ia menyadari pria yang di hadapannya saat ini sedang tidak dalam kondisi baik.
Tanpa ia duga tangannya di cekal Pria itu.
"Mas... Ada apa?" Anin masih merasa bingung dengan sikap Dirga.
"Bukannya Mas sedang bertemu client di kantor?" Anin terus bertanya.
"Kenapa? Kamu senang aku tinggalkan di bandara?"
"Maksud Mas apa?" dengan wajah bingungnya Anin bertanya lagi.
"Kamu senang tanganmu di sentuh lelaki lain?" masih dengan menunjukkan wajah tidak sukanya.
"Tangan? Ada apa dengan tanganku Mas?" Anin reflek melihat tangannya yang sedang di cekal oleh Dirga.
"Jangan membodohiku Anindirra!" Dirga meninggikan suaranya.
"A-aku tidak mengerti Mas?"
Apa uang yang aku berikan masih kurang untukmu hah?!! Apa kamu juga tidak bisa setia kepadaku?"
Anin terkesiap mendengar ucapan Dirga.
"Jawab aku Anindirra?!"
Dirga mengeram menatap tajam. Sorot mata elang itu mengeluarkan pancaran kemarahan.
"U-uang? Setia? Ma-maksudnya apa Mas? Aku tidak paham."
Dirga tertawa sinis. Sambil melepaskan cekalannya.
"Jangan pura-pura bodoh. Apa perlu aku jelaskan keberadaanmu di dalam kamar hotel bandara dengan seorang pria!! Apa kamu sudah mengingngatnya dengan baik?!"
"Degg!!"
Anin baru mengerti kemana arah pembicaraan Dirga. Sore tadi saat di bandara ia berada di dalam kamar hotel berdua bersama Andre. Ia mulai paham kenapa Dirga bersikap seperti ini.
"Mas aku bisa jel—" suaranya terputus kala Dirga mendorongnya merapatkannya ke dinding dan mencengkram pundaknya.
"Berapa banyak yang kamu butuhkan? Aku mampu memberimu lebih!! Bahkan isi dunia ini sekalipun!!"
Anin masih terdiam menerima luapan amarah yang di tumpahkan kepadanya. Walau hatinya mulai terasa sakit. Harga dirinya mulai terasa terinjak. Ia sadar memulai hubungan yang masih abu-abu ini dengan cara yang salah. Anin sadar ia menjual tubuhnya semata-mata karna suatu keadaan. Tetapi ia tidak terima jika harus di tuduh menjual diri kepada laki-laki lain.
"Apa aku kurang memuaskanmu? Apa laki-laki itu lebih memiliki segalanya? Jawab aku!"
"Hentikan Mas.!! Kamu menyakitiku!"
"Ayo... Layani aku.!! Aku akan memberikan berapapun yang kamu mau. Dirga menangkup wajah wanita itu agar menghadapnya. Mencium bibirnya dengan kasar, menggigit bibir yang masih tertutup rapat hingga terbuka. Lidahnya menerobos masuk mensesapnya.
"Emm.." Dirga menciumnya dengan penuh napsu ketika telinganya menangkap suara Anin yang menahan sakit di bibirnya seperti suara lenguhan.
Sungguh saat ini dia bukan lagi seorang Dirga yang biasa mencium Anin dengan penuh kelembutan.
Rasa cemburu menumpulkan pikirannya. Rasa tidak terima wanitanya bersama lelaki lain menutup matanya. Hatinya sedang di kuasai amarah. Ketakutannya akan masa lalu akan terulang kembali sedang menyerangnya. Tanpa di sadarai, sikapnya telah menyakiti wanita yang sudah ia cintai.
Melepaskan ciuman. Anin mulai memberontak melepaskan diri. Dengan segala sisa tenaga Anin mendorong dada pria itu hingga terlepas.
Plakkk.
Dengan napas masih memburu Anin menampar pipi pria yang belum lama ini memberikan kebahagiaan kepadanya
"Aku tidak serendah itu Tuan!!"
"Keluar dari rumahku Tuan Dirga!!"
Dengan sorot mata kecewa di iringi air mata yang tumpah. Anin mengusir Dirga agar pergi dari rumahnya.
"Papi.." suara gadis kecil, tiba-tiba melintas di kepalanya. Dirga secepatnya tersadar, kalau ia sudah bertindak jauh dengan menyakiti wanita di hadapannya.
"Alea.." seperti orang linglung ia menyebut lirih namanya. Dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Pergi dari rumahku Tuan Dirga!! Pergi!!"
Anin berteriak dengan berani.
"Ataw aku akan teriak lebih kencang lagi supaya warga berdatangan dan memukulimu! Keluar dari rumahku!"
"Sa-Sayang... Maaf, aku tidak sadar."
"Aku—"
"Keluar! Keluar Tuan!" dengan berderai air mata dan suara melemah Anin meminta Dirga untuk keluar dari rumahnya. Ia tidak ingin melihat pria itu saat ini.
Dirga memilih menuruti keinginan Anin. Ia memilih pergi dari pada harus menyakitinya lebih dalam lagi. Ia akan menunggu waktu yang tepat sampai emosi keduanya mereda.
Ada rasa sakit yang teramat dalam di relung hatinya, ketika langkah kakinya keluar menjauh dari wanita itu. Menghidupkan mesin mobil, melajukan kendaraannya. Meninggalkan rumah sederhana dimana cintanya berada.
Sepanjang jalan tak henti henti-hentinya ia merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengontrol emosinya.
"Bodoh!! Bodoh kamu Dirga!! Kamu sudah menyakitinya." Ia terus mengumpat dirinya sendiri.
Dulu saat Ratna berselingkuh ia memang kecewa dan marah. Tapi hatinya tidak sesakit ini. Ia mampu mengontrolnya. Berbeda dengan saat ini, ia benar benar di landa cemburu, ia tidak terima lelaki lain menyentuhnya.
Rasa sesak menghimpit dadanya. Ingat akan kelakuannya yang sudah membuat mata bening itu menangis. Sorot matanya menumpahkan kekecewaan.
Hari ini entah hari yang menyenangkan ataw hari yang sial baginya. Setelah kebersamaan mereka bertiga saat berada di mall yang membuat hatinya bahagia. Tiba-tiba harus di hadapkan dengan kehadiran Ratna di kantornya. Dan sekarang karena cemburu ia telah menyakiti wanitanya.
"Ohh... Apa yang sudah aku lakukan kepada mu Anindirra." Dirga meraup wajahnya frustasi.
"Maafkan aku, Sayang."
****
Bersambung ❤️
Sorry ya kalo UP nya agak lama.. Ada permintaan revisi dari pihak NT.
Maap kalau tidak berjalan sesuai keinginan pembaca 🙏
Terimakasih atas perhatiannya 🤗